BULUH PERINDU ASMARA
PAKET BULU PERINDU YANG MELEGENDA
Solusi asmara anda yang kandas,pacar di ambil orang,cinta bertepuk sebelah tangan, dan semua yang berhubungan dengan asmara ..
Bulu Perindu Asli Kalimantan
khasiatnya antara lain..
pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh, cocok untuk pria dan wanita dan mudah di bawa-bawa,cukup di letakkan di saku dompet,dan kopiah atau ikat pinggang,
dan sepasang bulu perindu akan di kirim lengkap bersama tata cara penggunaannya dan cara penyimpanannya.
mahar : Rp.300.000
Bulu Perindu dalam kemasan plastik
petunjuk dan tata cara pemakaian akan di kirimkan lengkap bersama paket
Bulu perindu.
Cara penggunaan bulu perindu tanpa minyak :
1.untuk memikat cewek cukup baca mantranya pada tengah malam sambil membayangkan wanita/pria yang di tuju.
2.Bulu Perindu direndam sebentar saja dalam segelas air, lalu air nya di minum kan ke istri/suami, pacar atau orang lain yang sengaja akan anda lunakkan atau dibuat simpati hatinya.
insyallah akan nurut, marah jadi senang, benci jadi rindu.
3. Bulu Perindu di rendam sebentar dalam bak/ember sekitar 1 menit, lalu airnya disiram atau dipercik kan disekitar tempat usaha (spanduk, toples, meja, kursi, pintu, kaca , jendela, pagar toko dll agar laris.
bisa juga diletak kan dalam Hand phone (dibelakang batere) agar bisnis lewat HP lancar, dan siapa saja yang mendengar suara atau membaca sms dari HP anda secara bawah sadar akan terpengaruh kagum dan terpesona.
petunjuk lengkapnya akan kami berikan setelah anda memesan produk kami
Tentang bulu perindu :
Bulu Perindu berbentuk seperti bulu yang agak keras/kaku berasal dari sarang burung elang yang berada di atas pohon - pohon yang paling tinggi di pedalaman pulau kalimantan.
Di tempat aslinya Bulu Perindu ini berfungsi untuk menjaga anak - anak burung elang supaya betah/kerasan tinggal di sarangnya sehingga terhindar dari bahaya jatuh dari atas pohon tinggi tempat sarangnya.
Ciri - ciri keaslian :
Jika di tetesi / dibasahi air dan di letakkan di atas lantai atau sehelai kertas, maka secara menakjub kan Bulu Perindu tersebut akan menggeliat - geliat laksana seekor cacing.
Sepasang Bulu Perindu jika di dekatkan / dipertemukan ujung - ujungnya, secara ajaib akan berangsur - angsur saling menjauh.
Sekedar informasi kami telah megirimkan bulu perindu sampai ke luar negeri,
dan semua produk bebas ongkos kirim kecuali ke luar negeri kena tambahan biaya 150.000,-
Alkisah seekor induk burung Rajawali/Elang, membuat sarang diatas pohon yg sangat tinggi sekali di Gunung Bondang. Ianya sedang mau beranak, dan tak ingin jika sudah melahirkan kelak, anak2nya pada jatuh dan pergi sebelum masanya dia menjadi besar dan kuat. untuk itulah sang induk Rajawali/Elang perlu satu bentuk "pegangan".
Maka mulailah ia mencari-cari, terbang berputar kesana kemari menyusuri sungai, dengan pandangan matanya yg fokus layaknya memiliki Infra Red. Tampaklah akhirnya dari ketinggian, sebentuk kecil tetumbuhan layaknya cacing. Nampak jelas tetumbuhan itu ada diatas air sungai, dan anehnya malah seolah hidup berenang melawan arus sungai yg deras.
Segera sang induk menukik tajam kebawah dan menangkapnya dengan paruhnya. Kemudian dibawa terbang dan diletakkan di sarangnya.
tenangnya. karena ia sangat meyakini, anak2nya akan terjaga dari pengaruh gaib si Bulu Perindu yg ada pada sarangnya tersebut.
Yg dengan bulu perindu itu, anak2nya pada betah dan tidak nakal untuk meloncat kesana kemari, sangat betah betah banget tinggal di sarangnya.
dengan mengunakan jasa JNE, TIKI DAN POS INDONSIA.
paket akan tiba dalam 3 hari kerja dan paling lambat 7 hari kerja.
Jangan tunggu sampai pacar anda lari diambil orang !!!
Harap juga di pahami tidak semua yang memakai bulu perindu ini berhasil, kita hanya berusaha semampu yang kita perbuat dan semuanya tentulah kembali kepada Allah SWT yang mengabulkan semua keinginan dan tugas kita adalah berikhtiar sesuai dengan kemampuan kita.
Tuesday, August 24, 2010
40 TAHUN DIKAWINKAN DENGAN BATU NISAN
Kisah ini dialami oleh seorang wanita yang sengaja di samarkan dengan nama Nyai Kedasih. Sesuai dengan permintaan si penutur kisah, alamat serta jadidiri yang bersangkutan menjadi rahasia kami....
Walau usianya sudah di ambang 70 tahun, garis-garis kecantikan masih tersirat di wajahnya yang bersih. Rambutnya telah memutih, namun pendengarannya masih sangat baik. Kulitnya yang penuh kerut juga masih terawat dengan baik. Sesekali dia masih bisa melenggak-lenggok tubuhnya yang ringkih untuk menari Jaipong.
Orang-orang yang tinggal di kampung lereng gunung itu mengenalnya dengan nama Nyai Kedasih. Dia tinggal di rumahnya yang sederhana namun berhalaman cukup luas dan asri. Ditemani oleh Encih, wanita 40-an tahun.
Encih, mungkin satu-satunya orang yang masih bisa merekam dengan jelas kehidupan Nyai Kedasih di masa lalu. Maklumlah, sejak kecil Encih memang sudah ikut dengan Nyai Kedasih. Bahkan, Encih sudah diangkat sebagai anak. Dari perkawinannya dengan Atta, Encih memiliki sepasang anak, putra dan putri yang keduanya juga telah menikah dan berputra. Mereka tinggal tak jauh dari rumah itu.
"Saya tidak tahu siapa orang tua saya yang sebenarnya. Sejak kecil saya sudah ikut Emak (Nyai Kedasih). Kemana saja Emak mentas, saya pasti ikut," cerita Encih.
Dari raut wajahnya, memang tak ada kemiripan sama sekali antara kedua wanita ini. Nyai Kedasih berwajah khas wanita priangan, dengan paras sedikit bulat dan berkulit bersih. Tapi Encih kelihatan lebih hitam, wajahnya pun tampak lebih keras. Jadi jelas kedua wanita itu sama sekali tak memiliki pertalian darah.
"Emak mengangkat Encih sebagai anak waktu usianya masih sepuluh tahun. Dia ini anak salah seorang nayaga di Grup Sinar Pasundan, tempat dulu Emak bergabung," tambah Nyai Kedasih.
Hubungan antara Nyai Kedasih dan Encih mungkin hanya sebagian kecil dari sisi menarik perjalanan hidup wanita yang masih memiliki suara merdu saat menyanyikan Tembang Cianjuran itu. Ada hal lain yang jauh lebih menarik, yakni sisi kehidupan Nyai Kedasih dalam hubungannya dengan dunia yang dulu digelitinya. Sinden Jaipong!
"Emak ini dulunya adalah seorang primadona di Grup Sinar Pasundan," bibir tua itu bergetar. Lalu, matanya yang cekung memandang jauh ke depan, dengan sorot menerawang. Dia tengah berusaha mengumpulkan segenap memori masa lalunya. Kepada Misteri, Nyai Kedasih menuturkan kisah hidupnya, seperti yang terekam berikut ini...:
Aku terlahir dari keluarga seniman. Ibuku seorang sinden, dan ayahku seorang penabuh beduk yang cukup andal. Jadi, kloplah darah seni bumi Prahyangan mengalir dalam tubuhku. Wajar saja jika kemudian aku menjadi pandai menari dan menyanyi. Banyak orang yang terpesona melihat tarianku, dan banyak pula yang mengagumi merdunya suaraku.
Namun, bukan hanya kedua modal itu yang membuatku kemudian menjadi primadona. Sebagai seorang sinden, kepandaian menari dan kemerduan suara memang modal mutlak, tapi jauh lebih penting adalah penampilan fisik. Aku merasa sangat beruntung, sebab ketiga modal itu sama-sama ada pada diriku. Bahkan, kecantikanku yang nyaris sempurna, sungguh merupakan karunia Tuhan yang sangat besar bagi diriku.
Banyak pria yang tergila-gila padaku, karena kecantikan dan kemolekan tubuhku. Mereka rela mengorbankan apa saja asal bisa mendekati diriku. Bahkan tak sedikit para juragan kaya, termasuk pejabat ketika itu yang berusaha menyuntingku. Rata-rata mereka ingin menjadikan diriku sebagai isteri muda, atau isteri simpanan.
Sebagai wanita normal, tentu saja aku keberatan menyandang status sebagai isteri muda ataupun isteri simpanan. Apalagi ketika itu aku sedang jatuh cinta pada Sumantri, seorang guru SD yang masih berstatus bujangan.
Dengan kehadiranku, Grup Sinar Pasundan tempat aku biasa nyinden kian terkenal. Hampir di sepanjang musim grup ini tak pernah sepi order manggung. Begitu terkenalnya aku sampai-sampai dalam sekali mentas bisa mendapatkan uang sawer dalam jumlah sangat besar, bahkan terkadang jauh lebih besar dari nilai kontrak panggilan. Bila aku manggung, pria berjubel ingin melihat kecantikan dan lenggak-lenggok tubuhku yang aduhai. Begitu besarnya minat kaum pria atas diriku, sampai-sampai kerap kali terjadi perkelahian di antara mereka. Bahkan tak jarang hingga mengorbankan nyawa.
Ketenaran dan potensiku akhirnya dimanfaatkan oleh kedua orang tuaku, terutama ibuku yang tergolong kemaruk harta. Ibukulah yang selalu mendorong agar aku bisa menangguk keuntungan dari banyaknya pria hidung belang yang ingin menyuntingku. Dalam istilah Sunda, ibu ingin menjadikanku sebagai wanita yang pandai ngeret.
Kehidupan yang bergelimang uang dan pujian akhirnya memang membuatku lupa daratan. Aku pun larut dalam gaya hidup sesuai dengan keinginan ibuku. Banyak pria yang akhirnya patah hati, setelah mengorbankan uang relatif banyak untuk sekedar menyentuh tubuhku.
Karena mabuk akan dunia yang glamour ini, akhirnya akupun melupakan Sumantri, guru miskin itu. Apalagi kemudian Sumantri dipindahtugaskan ke daerah Lampung, sehingga kami pun tak mungkin bisa bersama lagi.
Cinta, rupanya memang menjadi sesuatu yang tidak berarti bagiku. Mungkin hal ini terjadi karena aku bosan dengan ungkapan cinta yang dikatakan oleh begitu banyak lelaki. Aku menganggap semuanya hanya angin lalu, dan aku menganggap cinta itu tak pernah ada.
"Jangan berikan cintamu pada mereka, berikan saja tubuhmu!" Begitu yang selalu diajarkan ibuku. Mungkin sesuatu yang tidak normal, tapi menjadi normal bagi kami ketika itu.
Kenyataannya, memang demikianlah kehidupan para pesinden yang betul-betul dituntut untuk bisa memanfaatkan tubuh dan kecantikannya demi mendapatkan limpahan materi. Bahkan untuk tujuan ini, ibu tak jarang membawaku ke dukun-dukun untuk dipasangi susuk. Entah berapa banyak susuk yang tertanam di tubuhku. Mulai di wajah, bibir, hingga pinggul. Semua dilakukan agar aku senantiasa tampil menarik dan penuh daya pukau.
Namun, hidup bak roda pedati, kadang di atas, kadang di bawah. Begitulah kenyataan yang akhirnya terjadi pada diriku.
Di suatu malam yang dingin, ketika aku tengah bertabur uang dan pujian dalam suatu pementasan, sebuah tragedi berlangsung dengan sangat perih. Segerombolan garong telah membantai ibu dan ayahku, hingga nyawa mereka terenggut. Ketika itu, ibu dan ayahku memang tidak ikut rombongan Grup Sinar Pasundan. Mereka memilih tinggal di rumah kami yang lumayan besar dan mewah untuk ukuran ketika itu. Pas tengah malam, gerombolan garong itu masuk. Mereka merampok harta kami dan membinsakan kedua orang tuaku.
Untunglah waktu itu sebagian uang dari hasil mentas dan ngeret lelaki hidung belang sudah kubelikan sawah dan kebun, sehingga aku tidak benar-benar jatuh miskin. Sementara perhiasan bernilai jutaan rupiah, uang dan barang-barang berharga lainnya habis dijarah para garong.
Kepergian kedua orang tuaku dan ludesnya harta bendaku membuatku sangat terpukul. Kehidupanku pun mulai terasa limbung. Sialnya, di tengah keadaan seperti ini tiba-tiba datang Juragan Jaja Subarja yang menuntutku agar segera menikah dengannya.
"Pokoknya, kita harus segera melaksanakan pernikahan kita, Nyai. Bukankah aku sudah mengatur segalanya dengan almarhum kedua orang tua Nyai!" kata Juragan Jaja Subarja.
Aku benar-benar terkejut mendengar tuntutan itu. Bagaimana mungkin aku sudi menikah dengan bandot tua yang sudah memiliki dua orang isteri itu?
"Saya tidak mengerti bagaimana maksud Juragan!" ujarku.
Lelaki yang terkanal paling kaya di daerah Banjar Patroman ketika itu, tampak sangat kesal dengan jawabanku. Namun dia masih berusaha sabar.
"Begini, Nyai! Seminggu sebelum kedua orang tuamu meninggal dibunuh para garong itu, aku sudah melamarmu kepada mereka. Bahkan aku sudah memenuhi tuntutan yang diajukan oleh ibumu. Dan sesuai petunjuk ayah dan ibumu, rencananya hari Senin depan kita menikah."
Rasanya aku seperti disambar petir mendengar penjelas itu. "Bagaimana mungkin aku harus menikah dengan juragan, sedangkan aku tak pernah tahu dengan urusan itu," sergahku.
"Saya tidak mau tahu soal itu, Nyai! Yang penting lamaran saya sudah diterima, dan kita harus segera menikah. Titik!" suara Juragan Jaja Subarja meninggi.
Namun, akupun tak kalah sengit membalasnya. "Urusan lamar melamar itu adalah urusan ayah dan ibuku. Mereka tak pernah membicarakannya denganku. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan Juragan."
Jaja Subarja menatapku dengan tajam. "Jangan main-main denganku, Nyai! Aku tidak suka dicurangi!" ancamnya.
"Siapa yang mencurangi Juragan. Aku? Huh…aku tidak pernah serendah itu, Juragan!" balasku. Sebagai wanita yang sering menghadapi banyak potongan lelaki, aku memang tidak bisa digertak. Apalagi merasa takut.
Juragan Jaja menggebrak meja. "Kalau kau tidak bersedia menikah denganku baiklah. Tapi kumohon kembalikan lima ratus gram emas dan sepuluh juta rupiah uang yang telah kuberikan kepada ibumu," katanya dengan suara keras.
Hampir saja aku melompat mendengarnya. Bukan karena takut pada suara Jaja Subarja yang keras seperti harimau mengaum itu, tapi aku terkejut pada jumlah barang yang dia sebutkan. 500 gram emas ditambah 10 juta rupiah uang kontan? Sungguh suatu jumlah yang besar saat itu. Bagaimana mungkin aku mengembalikannya? Lagi pula, aku tak pernah tahu menahu dengan harta kekayaan itu.
"Dengar, Juragan! Aku tak pernah tahu menahu dengan harta Juragan itu. Aku tidak pernah melihat apalagi menerimanya walau sepeserpun. Jadi keputusan saya tetap, saya tidak mungkin mau menikah dengan juragan. Titik!" Aku tak kalah sengit membalasnya. Ibuku memang selalu mengajarkan bahwa lelaki tak selamanya harus dihadapi dengan kelembutan.
"Baik, Nyai! Baik!" Subarja bangkit dari tempat duduknya. "Kalau kau tetap bersikukuh dengan pendirianmu, aku relakan semua harta benda milikku itu. Tapi ingat satu hal, Nyai! Kau tidak sudi menjadi isteriku, tapi akupun tidak sudi kau diperisteri oleh lelaki lain. Camkan itu!"
Juragan Subarja pergi meninggalkanku dengan ancaman yang penuh dendam. Namun, aku menganggapnya hanya angin lalu. Bukankah lelaki yang ditolak keinginannya selalu saja berbuat kalap? Ah, mereka memang selalu seperti anak kecil! Pikirku ketika itu.
***
Jaja Subarja rupanya tak main-main dengan ancamannya. Setidaknya hal ini baru kurasakan setelah dua minggu peristiwa pertengkaran itu. Di suatu malam, aku bermimpi ada yang menaburkan garam di atas kepalaku. Rasanya panas luar biasa. Aku menjerit-jerit kepanasan, dan terjaga dari tidurku. Aneh, saat terjaga aku melihat ada ratusan, bahkan mungkin ribuan kutu di atas bantal yang aku tiduri. Tentu saja aku menjerit-jerit ketakutan. Mak Tonah, pembantuku ketika itu datang menolong. Dia pun sama ketakutan seperti diriku demi melihat kutu-kutu itu.
Beberaja jam setelah peristiwa ini, aku merasakan kulit kepalaku terasa panas dan gatal. Aku coba membersihkannya dengan cara keramas, tapi gatal-gatal itu tetap saja tak pernah hilang. Aku menggaruknya. Anehnya, semakin digaruk rasa gatal itu semakin menjadi-jadi. Aku begitu tersiksa karenanya.
Karena gatal-gatal yang luar biasa itu, akhirnya muncul koreng-koreng kecil bernanah di kulit kepalaku. Akibatnya bila malam tiba aku benar-benar tersiksa. Digaruk salah, tidak digaruk pun salah.
Begitu dahsyatnya rasa gatal itu, sehingga aku tak kuat menahan untuk tidak menggaruknya. Aku terus saja menggaruknya, hingga akhirnya kepalaku tidak saja dipenuhi oleh luka-luka kecil bernanah, namun rambutku yang indah pun mulai berguguran. Anehnya, setiap helai rambutku tercerabat, maka di akarnya akan terlihat kutu-kutu yang berlompatan. Menjijikan!
Dalam waktu kurang dari satu bulan, mahkotaku yang indah berubah meranggas, bahkan sangat menjijikan karena dipenuhi dengan koreng-koreng. Akibat dari semua ini, tentu saja aku tak bisa menjalankan aktivitasku sebagai seoranmg sinden. Bahkan, aku lebih senang mengurung diri di dalam kamar. Hal ini kulakukan karena aku benar-benar merasa minder bila harus bertemu dengan orang lain.
Celakanya lagi, akibat kurang tidur dan tersiksa oleh penyakit anehku, tubuhku yang dulu singset dan seksi berubah sangat kurus. Wajahku yang cantik dan segar berubah layu dan pucat. Dan yang lebih menyakitkan lagi, rambut hitam mayangku yang dulu indah kini telah punah seperti hutan yang terbakar. Ringkasnya, aku sama sekali tak menarik lagi. Bahkan mungkin banyak orang yang takut melihatku.
Sejak mengalami penyakit aneh ini, nama Nyai Kedasih pun lambat laun hilang dari dunia kesenian jaipong. Selama itu pula aku terus berusaha menyembuhkan penyakitku, hingga tak terasa waktu dua tahun pun berlalu. Mungkin, tak terhitung berapa banyaknya uang yang aku habiskan untuk menyembuhkan penyakitku. Namun syukurlah, ketika hampir putus asa akhirnya penyakitku dapat disembuhkan setelah aku berobat kepada seorang dukun di daerah Jampang Surade. Sang dukun menyebut guna-guna yang dikirim kepadaku dengan nama Reuncang Tinil. Konon, ilmu teluh ini bisa membuat korbannya botak dan tubuhnya kurus kering, seperti burung Tinil (sejenis bangau yang berkepala botak dan tinggi kurus-Pen).
***
Setelah berhasil sembuh dari penyakit aneh itu, aku memang mulai mengalami kehidupan yang sehat. Kendati demikian, penampilan fisikku tetap saja tak sepenuhnya sempurna. Untuk mengembalikan rambutku agar seperti dulu lagi tentu saja bukan hal yang gampang. Bahkan, untuk mengembalikan kondisi tubuhku saja, sungguh merupakan hal yang tidak mudah. Aku tetap saja kurus kering, dengan rambut yang tumbuh jarang-jarang.
Betapa menyedihkan keadaanku. Untunglah ada Encih, anak angkatku yang selalu menemaniku dalam suka dan duka.
Dua tahun setelah kesembuhanku, aku kembali mengidap penyakit yang tak kalah aneh. Hanya gara-gara kemasukan galagasi (Semacam serangga kecil-Pen) tiba-tiba mataku jadi buta.
Sore itu, aku baru saja membersihkan halaman belakang rumahku. Saat hendak masuk ke dapur, tiba-tiba ada galagasi yang menyambar mataku. Setelah itu, mataku terasa sangat gatal. Karena terus kuucek-ucek, mataku akhirnya jadi merah dan bengkak. Malamnya, mataku malah seperti tertusuk-tusuk jarum. Dan keesokan harinya penglihatanku menjadi kabur. Bahkan, dua hari setelah itu aku benar-benar tak bisa melihat.
Menyadari apa yang terjadi pada diriku sebagai suatu penyakit yang sangat aneh, maka akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali ke Jampang Surade. Aku kembali diobati oleh paranormal yang dulu mengobati sakit aneh pada kepalaku. Syukurlah aku kembali sembuh setelah si dukun berhasil mengeluarkan beberapa bijih besi yang telah berkarat dari dalam kelopak mataku.
Setelah dua serangan penyakit aneh pada diriku yang berhasil aku sembuhkan, tanpa aku sadari sebenarnya sesuatu yang bersifat gaib lainnya juga tengah menyerangku. Yang satu ini sama sekali tidak menimbulkan sakit pada tubuhku, melainkan sakit pada mentalku. Betapa tidak, diam-diam aku mulai benci kepada semua pria. Aku merasa tak membutuhkan mereka, bahkan tak merasa bergairah dengan mereka.
Semula hal ini kuanggap biasa saja. Ya, mungkin saja karena aku memang telah bosan dengan mereka, atau memang karena sebab biasa lainnya. Namun lambat laun aku merasa aneh juga, sebab aku berubah sangat dingin. Ini kusadari ketika Sumantri, bekas kekasihku dulu datang kepadaku. Saat itu Sumantri berstatus sebagai seorang duda, karena cerai mati dengan isterinya.
"Aku bermaksud merajut kembali hubungan cinta kita, Dasih!" kata Sumantri.
Tapi, aku menanggapinya dengan dingin. Bahkan, aku sama sekali tak bergairah ketika Sumantri mencium bibirku. Padahal, aku paling terangsang bila berciuman bibir dengan seorang pria.
Hingga menginjak usia 37 tahun aku tetap memilih hidup sendiri. Celakanya, bersamaan itu juga aku berubah menjadi wanita yang malas berdandan. Pokoknya aku sama sekali tak tertarik untuk menggoda pria dengan penampilanku.
Memasuki usia 38 tahun, aku mulai gelisah dengan diriku sendiri. Mengapa aku enggan menikah? Pertanyaan ini mulai menghantuiku. Dengan sawah dan kebun cukup luas yang masih kumiliki, ditambah dengan penampilanku yang masih tetap cantik di usia menjelang kepala 4, sebenarnya bukan hal yang sulit bagiku unjtuk menggaet seorang pria. Namun aneh, aku benar-benar tidak bergairah dengan mereka.
Karena penasaran akhirnya aku kembali ke Jampang Surade untuk mendapatkan terawangan akan diriku yang sebenarnya. Sang dukun yang mengobatiku terkejut dengan hasil terawangannya.
"Rasanya sulit bagi Nyai untuk bisa menikah," kata si Dukun.
"Memangnya ada apa dengan diri saya, Pak?"
"Terus terang, Nyai sebenarnya telah dinikahkan. Hanya saja, Nyai dinikahkan dengan batu nisan!"
Penjelasan sang Dukun membuatku sangat terkejut, dan sulit mempercayainya.
"Bagaimana mungkin hal itu terjadi, Pak?" tanyaku, penasaran.
"Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Nyai! Hal yang kau alami merupakan hal yang telah sering kali terjadi. Namanya Gantung Jodoh atau Gantung Waris. Caranya bisa bermacam-macam. Ada yang dinikahkan dengan pohon, dengan binatang, bahkan ada juga yang dinikahkan dengan batu nisan seperti yang dialami Nyai," jelas si Dukun.
"Saya mohon, bebaskanlah teluh itu, Pak!" pintaku, setengah menghiba.
"Sulit sekali, Nyai!" jawab si Dukun. “Teluh itu bisa dibebaskan tapi nyawa Nyai yang menjadi gantinya. Maksudnya, kalau teluh itu saya cabut, maka secara tidak langsung saya juga mencabut nyawa Nyai. Maafkan saya, kali ini saya tidak bisa menolong."
Aku terdiam. Duniaku serasa gelap. Tapi, aku tak bisa begitu saja menerima nasib.
Sekitar sebulan setelah menemui dukun itu, aku memutuskan menikahi Seman, salah seorang bujang sawahku. Pernikahan kami berlangsung sederhana, dan Seman yang masih perjaka usia 20-an itu nampaknya tidak merasa risih dengan pernikahan itu. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Saat menikmati malam pengantin Seman tiba-tiba kalap. Dia seperti sangat ketakutan. Entah apa yang menyebabkannya. Yang benar-benar aneh, sejak kejadian ini Seman menjadi sinting.
Dua tahun kemudian Seman meninggal karena terjun ke dalam sumur tua di belakang rumahku tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.
Sejak kejadian ini aku tak pernah bermimpi lagi untuk menikah. Yang kuingat hanya satu, ucapan Juragan Jaja Subarja beberapa tahun silam: "…Kau tidak sudi menjadi isteriku, tapi akupun tidak sudi kau diperisteri oleh lelaki lain."
Ya, aku yakin Subarja-lah yang menjadi dalang dari semua kejadian mistis yang aku alami. Rupanya, lelaki itu benar-benar sakit hatiku padaku, dan ingin membuatku menderita seumur hidup. Semoga saja tuhan mengampuni dosa-dosanya….
***
Nyai Kedasih menyusut air mata yang jatuh di atas wajahnya yang tua. Tapi, ini bukan tangisan sedih atau pun penyesalan. Dia mengaku merasa sangat bersyukur, sebab semua peritiwa itu membuat dirinya lebih bertakwa kepada Tuhan. Padahal, ketika muda dulu dirinya sangat jauh dari menyembah Tuhan.
Meski usianya sudah semakin udzur, namun menurut penuturan Encih, emaknya itu tak pernah menderita sakit. "Sakit kepala saja bahkan tidak pernah!" tegasnya.
Yang terasa unik sekaligus menyentuh, hampir sepanjang tahun Nyai Kedasih selalu berpuasa, kecuali pada hari-hari yang diharamkan menurut ajaran agama Islam. Dengan puasa, nenek yang masih bisa menaiki bukit ini mengaku merasa lebih sehat, baik jiwa maupun raganya.
Sang primadona panggung kini mengisi hari-hari tuanya dengan kedaimaian. Dia tak pernah merasa dendam kepada orang yang telah merekayasa nasibnya hingga selama 40 tahun jodohnya menggantung karena dinikahkan dengan batu nisan.
Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.
AKIBAT GUNA-GUNA SUAMIKU JADI GENDERUWO
Karena cintanya tak terbalas, si pemuda mengirim guna-guna dengan cara menginjak-injak Al Qur'an di kuburan. Apa yang terjadi? Guna-guna ini menyerang pasangan pengantin baru Wahyu Hidayat dan Eni Nuraeni. Di saat sang suami hendak menyentuhnya, Eni Nuraeni melihat tampang Wahyu berubah jadi genderuwo...
Kesaksian aneh ini di peroleh dari pasangan suami-isteri muda Wahyu Hidayat dan Eni Nuraeni di Sukabumi, Jabar. Akibat pengaruh guna-guna, mahligai rumah tangga yang mereka cita-citakan nyaris saja karam tanpa pelabuhan terakhir.
Di hari pesta perkawinan, Eni Nuraeni mendadak lari meninggalkan kursi pelaminan sambil menjerit-jerit ketakutan. Semua tamu undangan dibuat kebingungan, sementara Wahyu Hidayat tercekam ketidakmengertian atas sikap isterinya yang mendadak sangat ketakutan melihat dirinya. Lantas, apa yang sesungguhnya terjadi?
"Waktu itu, aku tidak melihat Kang Wahyu yang berada di sisiku. Tapi yang kulihat adalah sosok pria menyeramkan. Wajahnya ditumbuhi bulu yang sangat lebat, mata besar merah menyala, begitupun mulutnya nampak sangat merah seperti baru menghisap darah. Karena itulah aku lari sambil menjerit-jerit ketakutan," Eni Nuraeni menceritakan pengalamannya kepada Penulis beberapa pekan silam.
Ketika itu, Wahyu tentu saja tak menyadari perubahan yang telah terjadi terhadap dirinya. Ya, dia tak tahu apa yang jadi penyebab sehingga di mata sang isteri tampangnya berubah jadi sosok pria menyeramkan yang wujudnya sangat mirip genderuwo.
"Waktu itu, saya benar-benar bingung dan tak mengerti apa yang telah terjadi. Banyak orang yang menganggap Eni hanya berhalusinasi atau kerasukan makhluk halus, sehingga dia berubah kalap. Tapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu," cerita Wahyu, menambahkan kesaksian yang dituturkan isterinya.
Benar kata Wahyu, persoalannya memang tidak sesederhana seperti yang diduga oleh banyak orang. Eni Nuraeni bukan sekedar berhalusinasi atau kerasukan makhluk halus. Dia kalap karena melihat tampang suaminya yang berubah jadi genderuwo akibat pengaruh kekuatan guna-guna. Ilmu hitam ini dikirim oleh seorang pemuda bernama Danang (bukan nama sebenarnya-Pen) yang jatuh cinta berat kepadanya, namun Eni menolaknya sebab dia lebih mencintai Wahyu Hidayat.
Kisah nyata Wahyu, Danang dan Eni, sungguh merupakan segi tiga cinta yang sangat menarik, sekaligus penuh daya cekam. Bagaimanakah kisah tersebut terjalin? Berikut ini rekaman kesaksian Wahyu Hidayat dan Eni Nuraeni selengkapnya…:
Hanya selang sehari setelah akad nikah yang digelar di sebuah masjid yang ada di lingkungan tempat tinggal keluarga mempelai wanita, pesta pernikahan antara Wahyu Hidayat dan Eni Nuraeni pun akhirnya digelar dengan sangat meriah. Upacara penyambutan mempelai pria yang dilakukan dengan adat Sunda juga berjalan lancar, penuh haru dan kebahagiaan. Setelah syair-syair tradisi Sunda dilantunkan, maka mempelai pria dan wanita dipertemukan. Bak raja dan ratu, mereka kemudian dikawal menuju ke pelaminan yang telah ditata sedemikian rupa, sehingga terlihat sangat indah.
Segalanya memang tampak meriah, penuh keceriaan. Irama degung yang mengalun syahdu mengiringi langkah dua sejoli itu menuju pelaminan. Semua mata memandang kagum ke arah mereka. Para remaja putra dan putri menatap dengan perasaan iri. Ah, betapa sempurnanya kecantikan Eni Nuraeni hari itu. Tubuhnya yang tinggi semampai tampak begitu serasi dalam balutan busana pengantin ala Sunda. Lelaki di sebelahnya juga begitu tampan dan sangat sepadan dengannya. Pokoknya, mereka benar-benar pasangan yang sangat serasi.
Irama degung terus mengalun syahdu, dan pasangan pengantin pun telah tiba di sisi pelaminan. Tibalah saatnya upacara Adat Sungkeman, yakni mempelai wanita diharuskan mencium ujung kaki mempelai lelaki, dan setelah itu mempelai lelaki mengajaknya berdiri lalu mencium kening mempelai wanita.
Selama beberapa waktu sepertinya semua akan berjalan dengan lancar. Dengan gerakan yang sangat anggun, Eni Nuraeni merundukkan badannya lalu mencium ujung kaki Wahyu yang telah resmi menjadi suaminya, sebagai tanda bahwa dia siap berbakti. Suasana sesaat berubah hening dalam iringan merdu irama degung. Namun, keheningan ini kemudian berubah mencekam ketika Eni Nuraeni mendadak lari meninggalkan pelaminan sambil berteriak-teriak ketakutan. Dia menabrak orang-orang yang menghalangi langkahnya, sebelum akhirnya dia bersembunyi di dalam kamar pengantin.
"Tidaaak…pergi…pergi…pergiii…!?" demikian jerit mempelai wanita hanya sesaat setelah mempelai pria membimbingnya untuk berdiri dan siap mencium keningnya sebagai tanda kasih sayang yang tulus. Setelah itu, dia terus lari bagai kesetanan, sehingga membuat suasana yang syahdu berubah jadi mencekam. Bahkan, Wahyu Hidayat sempat terjatuh karena Eni mendorongnya sebelum lari meninggalkannya.
Mengapa pengantin wanita berbuat seperti itu terhadap pengantin pria? Bukankah mereka saling mencintai? Kebingungan ini dirasakan oleh semua orang yang hadir, terutama keluarga dari kedua belah pihak. Namun, keluarga Eni-lah yang paling bingung, sekaligus malu atas kejadian ini.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu, Nak? Kenapa kamu mendadak jadi ketakutan melihat suamimu, bukankah kamu mencintainya?" tanya Hajjah Rohimah, Ibunda Eni.
Sambil berusaha menghentikan tangisnya, Eni menjawab, "Saya takut, Bu! Yang tadi itu bukan Kang Wahyu."
“Kalau bukan Wahyu suamimu, lalu dia itu siapa?” desak Hajjah Rohimah dengan suara yang sabar.
“Aku nggak tahu, Bu. Tapi, aku lihat yang tadi benar-benar bukan Kang Wahyu suamiku. Dia itu makhluk yang sangat menyeramkan. Hih, wajahnya seperti genderuwo!” jelas Eni diselingi sedu-sedan tangisnya.
Hajjah Rohimah dan beberapa ibu lainnya yang ada dalam kamar itu saling pandang antara satu dengan yang lainnya. Mereka tentu saja heran dan tak habis pikir mendengar penjelasan Eni Nuraeni. Mengapa Eni mengaku melihat pria dengan wajah menyeramkan, padahal yang mereka lihat di pelaminan sana jelas-jelas adalah Wahyu Hidayat yang gagah dan tampan?
"Ya, sudahlah! Mungkin kamu kelelahan saja, Nak!" ucap Hajjah Rohimah, coba menetralisir suasana. Dengan berbisik dia lalu meminta tolong salah seorang dari kaum perempuan paruh baya yang ada di kamar itu untuk menghadirkan Wahyu. Tak berapa lama kemudian, sang mempelai pria telah ada di ruangan itu.
"Coba kau lihat. Ini Wahyu suamimu, bukan?" kata Hajjah Rohimah kepada putrinya.
Eni mengangkat wajahnya, lalu memandang Wahyu yang berdiri di hadapannya. Herannya, kali ini dia tidak ketakutan lagi. Bahkan, begitu melihat Wahyu dia langsung bangkit dan menubruknya. Tangisnya pun kemudian mengembang dalam pelukan lelaki ini.
"Maafkan Eni, Kang! Tadi itu, Eni benar-benar nggak lihat Kang Wahyu, tapi Eni lihat sosok makhluk menyeramkan itu," rengek ini dalam tangisnya.
Semua yang hadir menarik nafas lega. Termasuk Haji Nursaid, ayahnya Eni. Juga Haji Ahmad Satiri, ayahnya Wahyu. Bahkan, kedua orang tua ini kemudian saling berbisik dan coba menyimpulkan apa yang sesungguhnya telah terjadi terhadapi diri Eni. Ya, mereka menduga bahwa Eni kelelahan, sehingga berhalusinasi yang macam-macam.
Halusinasi? Ternyata tidak sesederhana itu. Buktinya, keanehan itu kembali terjadi hanya selang beberapa jam kemudian. Tepatnya setelah pesta pernikahan itu usai, dan pasangan pengantin telah bersiap menikmati malam pertamanya.
Ya, malam itu sekitar pukul 23.30 WIB. Suasana rumah sohibul bait telah sepi, sebab para tamu telah pulang ke rumahnya masing-masing. Kesempatan ini sungguh sangat dinantikan oleh Wahyu Hidayat. Sebagai pria normal, dia pasti sudah tak sabaran ingin menikmati kehangatan tubuh wanita yang sangat dicintainya. Dengan sebuah isyarat kedipan mata, dia mengajak Eni untuk meninggalkan arena pentas organ tunggal yang digelar di halaman rumah Haji Nuarsaid yang memang sangat luas. Eni sendiri cukup mengerti dengan keinginan suaminya, sebab sesungguhnya dia pun sangat ingin merasakan bagaimana sebenarnya malam pertama itu. Sebagai remaja dari keluarga terhormat dan teguh mengemban ajaran agama, selama berpacaran mereka memang sangat membatasi hubungan. Sentuhan yang mereka lakukan paling-paling hanya sebetas saling meremas tangan.
Sebagai sejoli yang telah lama memendam hasrat birahi, begitu tiba di dalam kamar mereka langsung berpagut dengan penuh gelora. Nyaris, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka, kecuali desah dan rintih kenikmatan, serta deru nafas mereka yang saling memburu dengan cepat. Satu demi satu busana ditanggalkan, sehingga tak ada batas lagi di antara mereka.
Namun, keindahan sorgawi itu mendadak berubah jadi neraka. Ketika Wahyu bermaksud melaksanakan tugas pertamanya sebagai suami, persisnya ketika dengan lutut gemetar dan darah mendidih dia siap melakukan penetrasi malam pertama, mendadak Eni memperlakukannya dengan sangat kasar. Dengan sekuat tenaga Eni menendang perutnya. Buk! Wahyu mengaduh kesakitan. Tubuhnya hampir jatuh terjerembab dari atas kasur berseprai merah jambu. Sementara, sambil menjerit-jerit ketakutan Eni berlari ke sudut kamar.
"Tidaaak…pergi…pergi…pergiii…!?" teriak Eni dengan air mata yang langsung menganak sungai di atas wajahnya yang cantik kemayu.
"Kenapa, Eni? Ada apa…apa yang terjadi? geragap Wahyu, penuh ketidakmengertian.
Kemesraan yang telah mereka rajut musnah dalam seketika. Di luar kamar orang-orang terdengar menggedor-gedor pintu, sambil berteriak-teriak menanyakan apa yang telah terjadi….
***
"Malam pertama kami gagal, sebab aku lihat waktu itu wujud Kang Wahyu benar-benar berubah menjadi genderuwo yang sangat menyeramkan," kenang Eni.
"Kejadian ini hampir saja berakibat fatal, sebab keluarga saya mendapat malu besar akibat perlakukan Eni terhadap diri saya di malam pertama itu. Untung, saya bisa memberikan pengertian kepada mereka, terutama kepada ayah saya yang memang temperamental itu," tambah Wahyu.
"Sialnya, kejadian aneh di malam pertama itu terulang juga di malam-malam berikutnya. Setiap kali Kang Wahyu berniat melakukan tugasnya sebagai suami, maka saya selalu melihat wujud dan tampangnya berubah menjadi makhluk mengerikan itu," sela Eni Nuraeni.
Dengan nada kecut, Wahyu pun ikut menegaskan, "Karena kejadian tersebut terus berulang, akibatnya ayah saya meminta agar saya segera menceraikan Eni. Waktu itu, ayah saya sudah sampai pada suatu kesimpulan bahwa Eni gadis yang kurang waras."
"Untungnya, Kang Wahyu tidak mengikuti saran itu. Dia malah mengajak saya berobat atau berkonsultasi kepada beberapa orang paranormal dan kyai, sebab Kang Wahyu mulai yakin kalau apa yang terjadi dengan diri saya itu memang diakibatkan oleh sesuatu yang tidak wajar," timpal Eni sambil bergayut manja di atas bahu suaminya yang bidang.
***
Wahyu memang begitu mencintai Eni, karena itu dia lebih percaya pada dirinya sendiri, ketimbang pendapat ayahnya yang mengatakan kalau Eni gadis yang kurang waras. Bahkan, Wahyu meyakini ada sesuatu kekuatan yang mempengarui syaraf Eni, sehingga setiap kali akan disetubuhinya maka Eni akan melihat wujud dan tampang dirinya berubah menyeramkan seperti genderuwo.
Setelah sampai pada keyakinan tersebut, Wahyu akhirnya mengajak Eni berobat kepada beberapa orang kyai dan paranormal. Sayangnya, usahanya ini tidak membawa hasil. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Kyai Abdul Munir di Lebak, Banten, yang memberinya petunjuk bahwa keanehan yang diderita oleh Eni itu hanya mungkin bisa sembuh di tangan seorang pemuda yang rajin membaca dan menelaah kitab-kitab Ilmu Hikmah. Tapi, siapakah pemuda yang dimaksud?
"Kalau berjodoh, Nak Wahyu pasti akan segera menemukannya." Demikian pesan Kyai Abdul Munir.
Wahyu dan Eni coba meyakini kebenaran pesan orang tua yang sangat terkenal dengan kemustajaban perkataannya itu. Karenanya, mereka tak lagi berusaha mendatangi orang-orang pintar lainnya. Walau mereka memendam penderitaan yang sangat berat, sebab sebagai pasangan suami isteri namun tak bisa melakukan hubungan intim, tapi mereka berusaha untuk tetap bersabar. Wahyu pun tak mau memaksakan hasratnya, sebab hal ini bisa membuat isterinya berubah sangat histerius. Ya, bila Wahyu berusaha mengintimi isterinya, maka Eni selalu melihat Wahyu berubah menjadi sosok monster yang sangat menyeramkan itu.
Dengan cinta, halangan sebesar apapun akan bisa dilalui. Kebenaran fatwa ini sungguh sangat mengena untuk menggambarkan akhir dari penderitaan yang dialami oleh pasangan Wahyu dan Eni.
Ceritanya, suatu hari Wahyu mampir di rumah Faturahman, sahabatnya sejak sama-sama di SMA. Ketika itu, mereka pun berbincang banyak hal. Salah satunya yang paling seru adalah cerita tentang hubungan cinta antara Fatur dengan Rianti, cewek yang sejak dulu jadi idolanya, tapi sayangnya tak pernah mau menerima cinta Fatur.
"Sekarang, sehari saja nggak ketemu aku, Rianti itu pasti bisa pusing tujuh keliling!" cerita Fatur, antusias.
"Bukannya dulu dia paling sebel sama kamu?" sergah Wahyu yang tahu benar sahabatnya ini tidak pernah bisa mendekati Rianti, apalagi sampai berhasil merebut cintanya.
"Itu dulu, sekarang keadaan sudah berbalik 180 derajat!"
"Memangnya kamu apakan dia? Kamu pelet? Ah, nonsens. Pasti dia habis patah hati, makanya Rianti mau menerima kamu. Ya, mungkin sekedar pelarian. Jadi, jangan geer dulu deh. Paling-paling juga kamu cuma jadi ban serep, setelah dia dapat ganti, kamu pasti ditendang."
Fatur malah tersenyum simpul. Dia menghilang sebentar, kemudian balik sambil menunjukkan sebuah ikat pinggang kepada Wahyu. "Terus terang, Rianti berubah cinta berat sama aku karena kekuatan gaib benda ini," katanya sambil memarkan ikat pinggang tadi..
"Ikat pinggang ini?" belalak Wahyu.
"Ini bukan ikat pinggang sembarangan, Sobat! Namanya Sabuk Pengasihan," jelas Fatur.
Mungkin karena sudah berjodoh sesuai dengan pesan Kyai Abdul Munir, Wahyu tiba-tiba merasa sangat tertarik dengan apa yang disebut sebagai Sabuk Pengasihan itu. Karena itu akhirnya dia bertanya banyak hal berkenaan dengan piranti mistis tersebut. Dia pun lebih terpesona lagi setelah mendengar cerita bahwa dengan Sabuk Pengasihan itu Fatur dapat memiliki cinta Rianti hanya dalam waktu 2 minggu.
"Sekarang, Rianti nggak bisa lepas dari aku. Malahan, dia mulai sering meminta keseriusanku untuk menikahinya," tandas Fatur sambil cengengesan. Melihat lawan bicaranya yang malah bengong, dia pun segera bertanya, "He, kamu kenapa?"
Wahyu menghela nafas berat, coba menekan perasaan. "Kau tahu masalah yang aku hadapi dengan isteriku. Kalau kau tidak keberatan, tolong antar aku ke tempat paranormal muda yang kau sebut bernama Saipudin itu. Ya, mana tahu dia pemuda yang dimaksudkan oleh Kyai Abdul Munir, seperti yang aku ceritaka ke kamu tempo hari," cetusnya.
Fatur tak keberatan menemani kawannya yang tengah dirundung masalah itu berkunjung ke kediaman Saipudin di Jakarta. Esok harinya, merekapun berangkat ke Jakarta dengan mengendarai Honda Jazz milik Wahyu. Sesampainya di kediaman Saipudin, paranormal muda ini langsung melakukan terawangan gaib setelah lebih dulu mendengar permasalahan yang dihadapi oleh Wahyu dan isterinya.
Menurut paranormal muda yang banyak menelaah dan mendalami berbagai kitab Ilmu Hikmah ini, keanehan yang menimpa diri Eni Nuraeni jelas sekali disebabkan oleh adanya kekuatan gaib semacam guna-guna. Menurut Saipudin, guna-guna tersebut dilakukan oleh seorang pemuda yang mencintai Eni, dengan cara menginjak-injak Al Qur’an sambil bersumpah bahwa Wahyu, pemuda yang menikahi Nuraeni, takkan bisa menyentuh kesucian gadis yang dicintainya.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi, Pak?" tanya Wahyu sambil memandang takzim pada Saipudin yang meskipun usianya masih relatif muda, namun sudah sedemikian dalam pengetahuannya, khususnya dalam hal ilmu gaib.
"Itu sangat mungkin, Pak Wahyu. Ketahuilah, untuk mengguna-gunai seseorang itu sebenarnya tidak perlu memakai bantuan dukun atau paranormal aliran hitam. Siapapun bisa melakukannya asal berani menanggung resikonya. Caranya, ya seperti yang dilakukan oleh lelaki yang mendendam kepada isteri Anda itu. Dia bersumpah dengan menginjak-injak Al Qur’an di kuburan, dengan sumpah yang menghendaki agar Anda tidak bisa bisa menyentuh kesucian gadis yang juga dicintainya. Karena setan-setan mendengarnya, maka mereka membantu mewujudkan sumpah lelaki ini. Makanya tak heran kalau hubungan rumah tangga Anda jadi terganggu,” jelas Saipudin, panjang lebar.
"Tapi, siapa pemuda itu, Pak?" desak Wahyu, penasaran.
Saipudin tersenyum simpul. "Saya tak mau mendahului Yang Maha Kuasa. Tapi kalau Allah ridho pada usaha yang kita lakukan, pasti Dia akan menunjukkan tanda-tandanya. Insya Allah, saya akan membatu mendoakannya," jawabnya, diplomatis.
Dengan pesan agar jangan sampai diketahui Eni Nuraeni, Saipudin akhirnya memberikan Sabuk Pengasihan kepada Wahyu, seraya berpesan agar piranti mistis itu selalu digunakannya….
***
Sambil menarik nafas lega, Wahyu berkisah, "Setelah memakai Sabuk Pengasihan itu, Eni memang semakin menyayangi saya. Bahkan dua minggu setelah itu, saat kami mencoba untuk melakukan hubungan intim, maka keajaiban yang tidak kami duga sebelumnya berlangsung. Ya, Eni mau menerima saya. Dia tak lagi melihat saya berubah jadi monster menakutkan itu. Selanjutnya, tentu Anda tahu apa yang terjadi.”
Setelah tersipu-sipu, Eni ikut menambahkan cerita suaminya, "Tapi pagi harinya kami mendengar kabar yang sangat mengejutkan. Kang Danang mengalami kecelakaan di puncak. Mobilnya masuk jurang, dan dia tewas dalam kecelakaan tersebut."
Siapakah Danang? Dia adalah pemuda yang pernah melamar Eni, namun Eni menolaknya karena dia telah menjatuhkan cintanya pada Wahyu Hidayat. Lantas, apakah Danang yang telah melakukan guna-guna itu?
"Menurut cerita Sumaryoto, salah seorang sehabat dekat Danang, tiga hari sebelum kami menikah, Danang memang pernah bersumpah di kuburan sambil menginjak-injak Al Qur’an. Sumpah ini dilakukan pas tengah malam. Ya, mungkin itulah yang dimaksudkan oleh Pak Saipudin. Saya kagum karena beliau bisa menerawang dengan sempurna," cerita Wahyu sembil memeluk isterinya.
Kini, mereka telah bahagia. Bahkan, Eni Nuraeni sudah telat tiga bulan. Walau dia tahu cintanya bertambah berat kepada Wahyu gara-gara Sabuk Pengasihan pemberian Saipudin, namun dia tak pernah merasa kecewa. Malahan, Eni meyakini hal ini sebagai karunia Tuhan untuk kebahagiaan mereka.
TUJUH TAHUN DALAM CENGKRAMAN SANTET POLONG

penulis : FEKRI JULIANSYAH
Kisah ini dialami oleh seorang wanita berinisial FN. Tujuh tahun lamanya dia dalam pengaruh ilmu hitam dari Tanah Karo ini. Tercatat sembilan belas orang pintar dan kyai, pernah berjuang untuk mengeluarkan tiga makhluk gaib yang bersemayam dalam tubuhnya. Penderitaan yang berkepanjangan tersebut, akhirnya berakhir setelah dia berumahtangga….
Kisah ini, bermula saat kepindahanku dan keluarga ke lingkungan Pondok Batuan, Kel. Tanjung Sari, Kec. Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara. Peristiwa ini terjadi delapan tahun lalu. Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP, tepatnya di SMPN 41 Medan. Di sekolah, aku dipercaya sebagai sekretaris OSIS. Maklum saja, aku memang sangat hobi berorganisasi.
Sekitar dua minggu tingal di Tanjung Sari, aku berkenalan dengan Kak Daning, tetanggaku, yang kemudian menjadi saudara angkatku. Waktu itu, dia sudah duduk di bangku kelas 2 SMU.
Suatu ketika, Kak Daning mengajakku bergabung di Remaja Masjid di lingkungan kami, yaitu Ikatan Remaja Masjid (IRMA) Al Ikhlas. Ajakan ini tak mampu kutolak. Malam Rabu itu, aku resmi menjadi anggota IRMA di kampungku. Aku pun berkenalan dengan sesama teman yang bergabung di organisasi ini.
Sudah menjadi tradisi bagi anak-anak yang bergabung di IRMA. Jika ada anak perempuan yang baru menjadi anggota, maka tak jarang anak laki-laki berusaha merebut hatinya. Termasuk pula aku. Baru saja menjadi anggota IRMA, malam itu aku diantar oleh banyak anak laki-laki. Jadilah aku layaknya kembang desa. Tiap pulang dari masjid, anak laki-laki banyak yang mencoba mencari perhatianku dengan mengantarku pulang ke rumah. Namun, tak sedikitpun aku menggubris mereka.
Di antara sekian banyak anak laki-laki yang mencoba mengambil hatiku, ada seorang pemuda yang sebut saja dengan inisial WN. Ternyata, diam-diam WN memendam rasa cinta kepadaku.
WN memang anak orang terpandang di tempat tinggalku. Ayahnya seorang mantan pejabat di salah satu intansi pemerintah. Tapi yang disayangkan, Ibu WN yang sudah bertitel haji diisyukan bersekutu dengan jin. Ibu WN yang akrab disapa Bu Haji ini kebetulan teman pengajian mamaku.
Setidaknya ada empat kali WN melayangkan surat cintanya kepadaku. Aku pun kaget bukan kepalang. Dia yang sepatutnya menjadi abang bagiku, karena usianya jauh lebih tua, ternyata memiliki maksud lain. Aku pun menolaknya mentah-mentah. Bukan saja karena aku tak menyukainya, tetapi usiaku pun masih terbilang bau kencur. Ya, waktu itu aku baru 15 tahun.
Rupanya, keganderungan WN padaku diketahui oleh ibunya. Suatu hari, sang ibu mengirimkan makanan berupa gulai ikan kakap ke rumahku. Mulanya, tak ada perasaan curiga sedikitpun dari kami sekeluarga. Kami juga tidak menaruh curiga ketika Ibu WN berulang kali mengirimkan hantaran makanan ke rumahku.
Anehnya, seminggu setelah hantaran makanan keluarga WN yang terakhir, aku justru menjadi teringat dan selalu membayangkan pemuda yang semula kubenci itu. Entah bagaimana awalnya, perasaanku selalu saja ingin bertemu dengannya.
Seminggu kemudian, WN menyatakan perasaannya lagi kepadaku melalui sepucuk surat. Kali ini, aku tak kuasa menolaknya. Sejak saat itu, WN sering menghubungiku. Bahkan hampir tiap malam dia menelponku.
Untuk menerima telpon dari WN, aku harus sembunyi-sembunyi. Aku pun terpaksa tidur di kamar belakang agar dapat menerima setiap panggilan telpon darinya.
Karena cintaku pada WN, belajar ku pun akhirnya mulai terganggu. Kedua orangtuaku tidak mengetahui apa yang sedang menimpaku. Saat kelulusan, prestasiku benar-benar jatuh. Biasanya rangking pertama, sekarang mendadak jatuh ke peringkat tiga.
Mama pun curiga. Dia berusaha mencari tahu penyebabnya. Apalagi mama sangat berharap aku bisa diterima di sekolah favorit di kota ini, yaitu SMUN 1 Medan. Aku pun menceritakan perasaanku kepada mama. Mendengar pengakuanku, mama sangat terkejut, dan menentang keras.
Sejak saat itu telepon genggam diambilnya. Aku pun seperti dipingit, tidak boleh keluar rumah. Sementara itu, lambat laun WN dan ibunya tahu dengan sikap kedua orang tuaku. Karena kenyataan ini, Ibunya WN nampaknya menaruh dendam kesumat.
Suatu hari, melalui perentaraan salah seorang temannya, WN menyampaikan pesan yang berisi memutuskan hubungan antara kami berdua. Mendengar keputusannya yang tiba-tiba, aku terkejut bukan kepalang. Hatiku benar-benar hancur. Aneh, memang! Padahal, hubungan kami saat itu hanya seperti cinta monyet. Tapi kenapa saat itu aku seperti tengah kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku. Aku selalu teringat WN. Parahya lagi, aku mulai terbiasa meninggalkan sholat. Aku juga mulai kehilangan gairah hidup.
Semua keluargaku, termasuk Kak Daning, kakak angkatku yang mengajakku bergabung ke IRMA, merasa heran dengan keadaanku yang jauh berubah. Karena curiga, papa dan mama membawaku ke orang pintar di kawasan Polonia, Meda. Menurut paranormal tersebut, aku terkena pelet. Setelah meminum air putih yang diberikannya, keadaanku berangsur-angsur membaik. Aku pun dapat melupakan WN.
Tanpa disangka dan dinyana, pada saat perayaan ulang tahunku yang ke-17 WN muncul sebagai tamu tak diundang. Dia memberikan kue ulang tahun untukku. Begitu juga dengan ibunya WN. Dia memberi hadiah berupa bahan kain dan satu gelang perak.
Karena takut terjadi sesuatu, semua pemberian itu tidak kusentuh sedikitpun. Kue pemerian WN mama berikan kepada orang lain. Sedangkan bahan kain untuk membuat baju serta gelang tersebut, dibakar oleh mama dan papaku.
Setahun kemudian, tepatnya saat aku duduk di kelas tiga SMU, aku sudah akrab dengan RK, seorang siswa yang merupakan personil band di sekolahku. Perasaan cinta remaja pun tumbuh secara alamiah. Mungkin karena itu, aku pun semakin bersemangat dan termotivasi belajar.
Sama sekali tak kuduga, rupanya hubunganku dengan RK tercium oleh ibunya WN. Wanita yang akrab di sapa Bu Haji ini agaknya kembali membuat ulah dengan dibantu para dukunnya. Efeknya, aku pun sering jatuh pingsang di sekolah. Tak terhitung lagi betapa seringnya aku mengalami hal ini. Aku bahkan pernah dibawa pihak sekolah ke salah satu rumah sakit di kota Medan untuk diperiksa kondisi kesehatanku. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan aku tidak terkena penyakit apa-apa.
Karena kejadian ini, mama kembali mengajakku ke tempat Pak Harahap, paranormal yang dulu menyembuhkan penyakitku. Orang pintar ini bilang, aku kembali terkena pelet. Menurut dia, pelet itu berawal dari makanan, pakaian, juga benda-benda lainnya yang aku terima dari si pengirim pelet. Syukur Alhamdulillah Pak Harahap kembali menyembuhkanku.
Setamat SMA, aku pun berpisah dengan RK, sebab dia melanjutkan kuliah di UGM, Yogya. Aku sendiri diterima di salah satu Universitas Negeri di kota lain yang masih dekat dengan kotaku.
Menginjak semester 2, aku mulai kerasukan lagi. Berawal, pada suatu malam, aku seperti melihat sosok kuntilanak yang sedang berjalan di depan kamarku. Esok paginya, aku menemukan kotoran manusia persis di sebelah jendela kamarku. Nampaknya, ada yang sengaja mengirimkannya.
Jam dua siang, aku kembali kerasukan. Seketika itu, pikiranku tertuju pada sosok WN. Anehnya, menurut cerita keluarga, saat tak sadarkan diri, aku mengeluarkan suara tawa seperti laiknya ketawanya kuntilanak. Bahkan, aku juga terkadang berbicara dalam bahasa China.
Beberapa hari selanjutnya, aku pun bertingkah seperti seperti laiknya seekor ular. Memang, dalam pandanganku, aku melihat seekor berwarna hijau dan panjang.
Tak hanya itu, di saat yang lain, aku juga mengeluarkan suara Begu Ganjang, hantu khas Tanah Karo. Menakutkan sekali.
Sejak saat itu, hari-hariku ditemani kerasukan makhluk halus. Aku sempat divonis salah satu anggota keluargaku menderita sakit syaraf.
Sampai suatu hari setelah Idul Fitri, saat bersilaturahmi ke rumah nenekku di bilangan Tanjung Mulia, Belawan, Medan, aku kembali diganggu makhluk-makhluk gaib tersebut. Untunglah Mbahku punya pegangan ilmu gaib. Saat keluargaku turun dari mobil, aku justru tidak bisa keluar dari mobil, apalagi berjalan. Sepertinya, makhluk-makhluk gaib itu tahu kalau aku akan singgah di rumah orang yang berilmu.
Papa terpaksa menggendongku. Anehnya, tatkala memasuki rumah Mbah, menurut cerita keluargaku, mendadak saja aku tertawa cekikikan mirip kuntilanak. Mbah yang sepertinya faham dengan keadaanku, berusaha melakukan komunikasi dengan makhluk yang bersemayam dalam tubuhku. Beginilah cerita yang dituturkan mama padaku:
“Kenapa kamu begitu?” tanya Mbah.
Aku pun meronta-ronta seperti sedang kesakitan. Mbah pun melanjutkan pertanyaannya. “Siapa yang melakukan perbuatan terkutuk ini?”
Sang makhluk gaib pun menjawab singkat, “Bu Haji!”
“Darimana asalmu?” tanya Mbah.
Dengan tegas, makhluk itu menjawab, “Aku datang dari Tanah Karo!”
“Apa maksudmu?” tanya Mbahku lagi sambil matanya melotot.
“Aku akan menghancurka hidupnya! Aku dendam, makanya jadi perempuan jangan sombong!” jelas sang makhluk, jujur.
“Dia tidak mau menerima cinta anakmu?” Mbah pun kembali mengorek keterangan darinya. “Lalu kau ini siapa?” tanya Mbah pula.
“Aku Begu Ganjang, suruhan Bu Haji!” jawabku dengan lantang.
Mendengar dialog Mbah dengan makhluk yang merasuki tubuhku, mama, papa dan keluarga benar-benar terkejut. Mama menangis. Pantaslah, apa yang mama dan papa curiga selama ini, bahwa Bu Haji-lah biang keladinya.
Mbah dengan paksa mengeluarkan makhluk tersebut dengan sebilah keris keramat miliknya. Sang Begu Ganjang dan kuntilanak dalam tubuhku pun menjerit keras. Sejurus kemudian, mereka pun pergi dari jasadku walau hanya utnuk beberapa lamasaja....
Sialnya, di tengah perjalanan pulang dari rumah Mbah, aku kerasukan lagi. Setelah menelepon Mbah, beliau menyarankan agar aku dibawa ke tempat Buya, seorang guru ngaji di daerah Polonia. Buya berusaha mengeluarkan makhluk-makhluk itu lagi. Ketika ditanya oleh Buya, lagi-lagi jawabnya sama, yakni Bu Haji.
Setelah diobati oleh Buya, akupun pingsan sampai keesokan harinya. Buya memberiku sebuah cincin untuk pegangan.
Karena masih dalam suasana lebaran, keesokan hariya aku kembali diajak bersilaturahmi ke tempat keluarga mama di Diski, Binjai.
Siang hari yang terik itu, tepatnya pas azan Dzuhur, aku kerasukan lagi. Aku kembali diobati oleh orang pintar di sekitar tempat tinggal saudara mamaku. Aku disuruh mandi kembang besoknya, serta menyediakan benang tujuh warna dan kembang tujuh rupa. Benang tersebut kemudian dirajah sang dukun perempuan itu, untuk diletakkan di pinggangku.
“Benang tersebut tidak boleh dibuka atau dilepaskan sebelum kau menikah,” suruh sang nenek. Dia juga mengingatkan, jika keluarga Bu Haji memberikan makanan atau apapun, maka jangan sekali-kali diterima.
Setelah diobati sang nenek, aku memang sembuh. Selepas liburan panjang, aku pun kembali ke kota tempatku kuliah.
Ringkasan cerita, menjelang semester empat, ada seorang laki-laki yang suka padaku. Namanya sebut saja dengan inisial HF.
Tatkala HF menyatakan perasaannya kepadaku, beberapa waktu kemudian, aku mulai kerasukan lagi. Bahkan, saat HF mengunjungiku di rumah Tante Erni, tempatku tinggal di kota itu, entah syetan apa yang merasukiku, tibat-iba aku mengusir HF.
Sampai akhirnya, aku kembali diobati oleh orang pintar. Kali ini, yang mengobatiku adalah Bu IT, seorang ibu dari teman kuliahku yang kebetulan biasa mengobati orang-orang kerasukan. Bu IT menyuruh keluargaku membuka tali benang yang ada di pinggangku, berikut cincin yang diberikan Buya tempo hari. Alasannya, benda-benda tersebut justru mengikat makhluk-makhluk halus sehingga tetap berada di tubuhku.
Malangnya, setelah kedua benda bertuah itu dilepaskan dari tubuhku, justru penyakitku semakin parah. Aku malah kerasukan lagi selama lebih dari satu minggu. Selama itu pula, ada sembilan orang pintar yang mencoba mengobatiku dengan berbagai macam cara yang tidak masuk akal. Salag satunya menyuruhku merangkak seperti binatang.
Sampai akhirnya, Tante Erni menemukan orang pintar di pedalaman hutan yang jauh dari kota. Orang tersebut menyuruh mamaku mengambil kopi pahit, bawang putih dan daun kelor untuk dimandikan di sekujur tubuhku. Pada saat mengobatiku, orang tua ini mendapat serangan bertubi-tubi dari makhluk jahat yang bersemayam di tubuhku.
Atas saran orangtua ini, mama dan papa diperintahkan untuk berdzikir semalam suntuk membantu pengobatanku. Katanya, kalau mendengar bisikan atau sesuatu yang aneh jangan dihiraukan agar pengobatanku berhasil.
Diceritakan, sekitar pukul dua dinihari, mama dan papa mendengar suara letupan diatas atap rumah. Namun mereka tetap berdzikir. Seiring dengan suara letupan tadi, orang tua yang mengobatiku juga mendapat hantaman sehingga dadanya mendadak sakit.
Besoknya, orang tua tersebut mencari benang tujuh warna. Dia juga menyiapkan bunga macan kerah, bunga tujuh rupa dan daun jengkol. Semua digunakan untuk memandikanku.
Syukur Alhamdulillah, setelah pengobatan ini aku dapat kembali menjalankan aktivitasku sehari-hari.
Sekitar lima bulan kemudian, aku berkenalan dengan seorang calon dokter berinisial FS. Begitu gembiranya aku tatkala dia berniat melamarku. Namun, saat FS mau lamaranku, maka begitu banyak halangan yang menghadang hingga orangtuaku tidak mengijinkan hubunganku dengan FS.
Karena kecewa aku histeris hingga aku jatuh pingsan. Tekanan darahku hanya di angka 40. Hal ini membuat semua dokter yang merawatku terkejut. Mereka sangat tidak menyangka dengan tekanan darah yang sangat rendah itu aku masih bisa bertahan hidup, bahkan kemudian sehat kembali.
Kejadian aneh terus saja menimpaku. Saat aku menjadi panitia OSPEK di kampus, aku kembali kerasukan. Aku dibawa pulang ke rumah oleh teman-temanku. Di rumah, selama tiga hari berturut-turut aku terus kerasukan. Keluargaku kembali memanggil orang pintar yang berada di pedalaman yang pernah mengobatiku beberapa waktu lalu.
Namun, kali ini tak berhasil membuatku sembuh. Karena itulah aku kemudian diobati oleh Ustadz AP namun juga tak kunjung sembuh.
Di Medan, aku juga sempat diobati oleh Pak Sabirin yang tinggal dibilangan Tanjung Sari. Oleh Pak Sabirin, aku dimandikan dengan bunga kembang macan kerah selama tiga hari berturut-turut. Setelah ritual pun digelar. Pak Sabirin mencoba mengeluarkan makhluk jahat yang bersemayam di tubuhku. Makhluk yang telah mendarah daging tersebut yang pertama berupa siluman ular. Mama dan papa turut menyaksikan proses penarikan makhluk itu.
Tiga hari kemudian, aku kembali diobati Pak Sabirin. Malam terakhir, setelah mandi, orang tuaku diperintahkan untuk menjagaku agar aku tidak disetubuhi oleh Begu Ganjang.
Di malam terakhir ini, antara sadar dengan tidak, tiba-tiba pandanganku gelap. Sepertinya ada yang mau menindihku. Astaghfirrullah! Aku melihat makhluk yang sangat menakutkan. Tubuhnya hitam berbulu, dan dia berusaha menindihku. Aku pun menjerit. “Jangan!”
Teriakanku ini membuat cemas papa dan mama. Mereka segera membacakan ayat Qursyi berulang-ulang untuk melindungiku. Hingga akupun terjaga, dan tidak tidur sampai pagi.
Esok paginya, kami datang ke tempat Pak Sabirin. Ritual pengusiran Begu Ganjang pun digelar. Sang Begu mencoba melawan Pak Sabirini.
“Aku tidak mau pergi! Karena aku telah diberi makan oleh majikanku,” tolak sang makhluk.
“Siapa majikanmu?” tanya Pak Sabirin.
“Aku sudah berjanji dengan Bu Haji, kalau aku pergi dari tubuh anak ini, maka aku akan mati! Tetapi, sebaliknya, jika aku bertahan dalam tubuh anak ini, maka dia tidak akan bertahan hidup lama,” lata Begu Ganjang seolah-olah dia Tuhan.
Tiba-tiba suaraku mendadak berubah menjadi seorang perempuan. Menurut cerita mama, itu suara kuntilanak yang memakai tubuhku.
“Sebenarnya aku kasihan dengan anak ini. Hidupnya terombang-ambing bahkan terancam mati! Jodohnya tertutup! Inilah perjanjian kami dengan majikan kami.”
Mendengar pengakuan dua makhluk tak kasat mata ini, Pak Sabirin tertawa seolah mengejek mereka. “Banyak kali cakap kau ini!” katanya dengan logat Medan. “Cepatlah kau pigi, atau aku keluarkan kau dengan paksa!”
Begu Ganjang pun berontak dan mengultimatum, “Aku tidak akan keluar! Aku selamanya akan ada dalam tubuh anak ini!”
Mendengar ancaman tersebut, Pak Sabirin pun menyangkal, “Makhluk bodoh! Sebentar lagi majikanmu akan jatuh miskin dan melarat akibat perbuatannya sendiri. Dan kau tidak akan diberi makan lagi olehnya. Dan santet yang ada di tubuh anak ini akan kukembalikan padanya.”
Akhirnya, Pak Sabirin berhasil mengeluarkan dua makluk tersebut. Alhamdulillah, aku pun kembali pulih. Aku dapat mengikuti ritual mandi kembang selama tiga hari. Hari keempat, aku kembali datang ke tempat Pak Sabirin untuk mencabut pengaruh santet.
“Bu Haji menggunakan media foto anak ini dan sebuah boneka kecil,” jelas Pak Sabirin kepadaku, mama, juga papa.
“Santet apa gerangan yang melanda puteri saya?” tanya mamaku.
Pak Sabirin menjelaskan dengan rinci, “Inilah yang namanya Santet Polong. Makhluk-makhluk ini memang sudah mendarah daging dalam tubuh anak ibu. Kalau pun nantinya sembuh, dia rentan kena santet, pelet dan sejenisnya. Kecuali pagar dirinya cukup, rajin sholat dan meminta perlindungan kepada Allah SWT.”
Singkat cerita, seperti kata pepatah: “Barang siapa yang menanam, maka dialah yang akan menuai hasilnya.” Sekecil biji zarahpun perbuatan manusia, niscaya Allah SWT akan membalasnya. Itulah kenyataan yang terjadi kemudian. Bu Haji, kini hidupnya melarat. Banyak sekali musibah yang menimpa keluarganya. Kabarnya, Bu Haji pun sering jatuh sakit.
Itulah pembalasan dari Allah SWT terhadap manusia yang mendzalimi sesamanya, bahkan melakukan perjanjian dan bersekutu kepada iblis. Semoga kita semua dapat bercermin dari kejadian ini.
Dan kini, saat menuturukan kisah ini, Alhamdulillah, aku telah menjalani hidup berumah tangga. Aku menikah di penghujung 2007 lalu. Dengan demikian, tepat tujuh tahun aku dalam nestapa akibat kekuatan setan Santet Polong.
Suamiku adalah seorang ustadz. Dia senantiasa membimbingku untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT. Kami pun tengah berbahagia menanti kelahiran sang buah hati. Dengan sholat dan banyak membaca Al-Qur’an, semua hambatan gaib yang menimpa diriku, Alhamdulillah sudah dapat kulalui dengan selamat.
Sunday, August 22, 2010
pelet Alis dan Bayangan
MANTRANYA :
Minyakku madu Fatimah
Sarungnya roh ihwani
Baginda Ali legin Rina
Memandang suami Fatimah
Dia terpandang keesokkan setengah hari sejajar miring
Tidak dapat terpisah sama aku
Takala takanang kasih
Kasih kau sama aku
Berkat Laillaha illallah.
Hancurlah imanmu
Hancurlah hatimu.
Catatan :
* Diwajibkan mengawali dengan membaca Bismillah sebelum membaca mantra
* Memakai minyak dengan mengoleskan minyak tersebut kealis anda sendiri.
* Diniatkan keorang yang dituju.
* Setelah membaca mantranya, usahakan dapat menyentuh bayangan orang
yang dituju, dengan cara menginjak bayanganya.
SELAMAT MENCOBA...
pelet Tiup Bahu
|
Mantranya :
Muhammad kasih Muhammad sayang Runduk kasih runduk sayang Runduk si Anu kepadaku Runduk sekalian umat Nabi Muhammad SAW Berkat Laillaha illallah.
Catatan : * Diwajibkan mengawali dengan membaca Bismillah sebelum membaca mantra * Setelah mantra dibaca tiupkan kebahu orang yang dituju. * Pada kata bergaris bawah si Anu , sebutkan nama orang yg dituju.! * Pastikan usaha anda ini tidak diketahui oleh siapapun.
SELAMAT MENCOBA....
|
Puter Giling Sukma
dan buka pada pukul 6 sore pada hari minggu. Selama puasa tidak bo-
leh tidur.
* Mantra dibaca 33x usai maghrib pada hari saptu dan minggu.
* Pada malam hari, pusatkan pikiran pada orang yang dituju.
* Mantranya :
"Ajiku pengasih puter giling sukma, tak jaluk guro kuasamu jabang
bayine........................... elingo lan senengono lahir batin marang aku
seneng(3x) kesemsem(3x) lahir batin marang...............(PEMOHON)
uber aku(3x), kersaning gusti".
* Catatan :
-> Baris kosong titik (................) pada jabang bayine diatas, disebutkan
nama orang yang dituju.
-> Baris kosong titik (................) pada lahir batin marang .......(PEMO
HON) disebutkan nama anda sendiri.
Asmara Menyan Putih
* Petigeni 1 hari 1 malam
* Selama puasa dan petigeni, mantra dibaca 13x pada tengah malam sambil
membayangkan wajah orang yang dituju dan disertai dengan membakar
menyan putih.
* Adapun mantra yang dibaca
:
"Bismillah, niat ingsun ngadeg ana ing tengahing jagat, dudu jagat sipate
alam jagat, turuning urip ajiku si menyan putih, apa kuasane siro ingsun
kongkon, lebokna lebune badan, badane sijabang bayine ........................
kumpulna karo aku obahna rasane, teka madep weruh ing uripku,
Ya ALLAH, Ya Muhammad".
* Catatan :
Baris kosong pada titik (................) diatas, disebutkan nama orang yang
dituju