Penulis : HJ. FATHMAH
Kisah mistis yang amat tragis ini terjadi pada bulan Juli 2005 silam. Awalnya, adik bungsuku yang bernama Liya menderita sakit perut yang terlampau hebat, sampai-sampai membuatnya sangat menderita. Dari peristiwa inilah kemudian suatu kemuskilan terjadi. Ya, sebuah benda berupa keris keluar dari kepala Liya. Kejadian ini tentu saja membuat gempar masyarakat di sekitar tempat tinggal keluargaku....
Haru saya akui, keluargaku memang tergolong sangat mapan, khususnya dalam materi. Dapatlah dikatakan kalau keluargakulah yang paling kaya di sekitar lingkungan tempat tinggal kami. Di samping itu, secara pendidikan formal keluargaku terbilang di atas rata-rata.
Karena status pendidikan formal itulah tang tentunya membuat kami sekeluarga sulit percaya dengan adanya hal-hal yang berupa fenomena gaib maupun mistis lainnya. Pokoknya, di mata kami sekeluraga hal-hal semacam itu tak pernah ada ada, bahkan omong kosong belaka. Sampai peristiwa aneh itupun menimpa adikku, Liya.
Aku masih ingat perisis, hari itu Liya baru saja diterima di sebuah perusahaan swasta yang memperoduksi jenis makanan ringan. Karena gelar keserjanaan yang dimilikinya, Liya ditempatkan sebagai kepala di bagian marketing. Liya yang punya semangat untuk mandiri itu nampak sangat senang dengan pekerjaannya ini. Meskipun ibu sebenarnya kurang senang kalau dia bekerja. Sebab ibu maunya anak bungsunya ini terus di rumah sebagai anak mami tersayang. Tapi kedewasaan membuat Liya menentukan pilihan lain. Walau bagaimanapun dia tak ma uterus hidup di bawah ketiak orang tua.
Beberapa bulan lamanya bekerja, Liya nampaknya cukup matang. Dia mulai menjadi wanita karir penuh optimisme. Sifatnya yang supel membuat temannya banyak yang suka. Bahkan, mereka sangat terbantu dengan kinerja Liya yang sangat efisien.
Namun, sekitar setahun bekerja mendung suram mulai menggayuti kehidupan Liya, meski dia sendiri tidak menyadari kenyataan ini. Awalnya, pada tanggal 17 Agustus 2003, seluruh staf karyawan maupun karyawati berbaris rapih dalam apel akbar memperingati HUT RI ke-58 tahun. Tidak ketinggalan pula Pak Marwan selalu Direktur Utama. Hari itu juga diumumkan bahwa jabatan Direktur Utama telah dipindahtangankan kepada Anton, anak Pak Marwan yang tertua.
Dalam upacara peringatan HUT RI sekaligus pengumuan direktur baru itu kebetulan Liya terpilih sebagai pengibar bendera merah putih bersama dua orang temannya. Tanpa sepengathuan dirinya, saat penarikan sang merah putih dilaksanakan mata Pak Marwan tak hentinya menatap wajah Liya yang wajahnya merona terkena sinar mentari. Liya, adikku bungsuku ini memang terbilang gadis yang cantik, bahkan dialah yang paling cantik di antara saudara-saydara perempuannya yang lain.
Rupanya, tatapan Pak Marwan hari itu bukanlah tatapan mata biasa. Namun, ada perasaan lain di hati Pak Marwan. Ya, dia menaruh hati pada Liya yang usianya terpaut sangat jauh dengan dirinya. Bahkan, hari itu seusai upacara, Pak Marwan tak langsung pulang, melainkan berbaur dengan seluruh karyawannya. Ini tentu saja taktiknya untuk mendekati Liya.
Tanpa diketahui oleh siapapun, rupanya sejak pandangan pertama dengan gadis berwajah oval bernama Liya, Pak Marwan telah jatuh cinta lagi. Bahkan, sejak upacara HUT RI itu dia jadi sering hadir di kantor. Kasak-kusuk sesama karyawan semakin merebak, pasalnya meraka tahu betul akan sifat Pak Marwan yang sangat senang dengan daun muda.
Menurut isu yang beredar dan sempat singgah di telinga Liya, walau usianya telah menginjak kepala lima, namun Pak Marwan ini masih hiper seks. Bahkan, nafsunya itu kadang tidak dapat terbendung. Sudah jadi rahasia umu pula, siapapun gadis yang tercolek oleh tangan Pak Marwan, maka dia akan menurut segala ucapannya. Ya, mungkin karena Pak Marwan memang royal memberi uang kepada gadis-gadis yang disukainya.
Dengan tabiatnya yang negative ini, seluruh karyawsan menngecap Pak Marwan sebagai playboy, donyuan, bandot tua, atau apa saja. Kabadrnya, dia sudah bergonta ganti pasangan daun muda sebanyak 19 kali.
Seiring dengan seringnya Pak Marwan datang ke kantor, membuat para karyawan maupun karyawati bertanya-tanya. Siapa gerangan korban yang sedang diincarnya saat itu. Lambat laun terkuaklah sudah rahasia ini. Dengan gaya ekspos dirinya yang berlebihan, ternyata si bandot tua ini selalu mendekati kepala bagian marketing. Siapakah lagi kalau bukan Liya, adikku yang berlesung pipit indah itu.
Pak Marwan dengan seribu taktiknya terus berusaha mendekati Liya. Sementara itu, tanpa menaruh prasangka buruk sedikitpun, kedekatan seorang pemimpin dengan dirinya, malah membuat Liya amatlah tersanjung. Bukan karena penampilan Pak Marwan yang sangat elegan, namun tutur katanya yang sangat lembut mengingatkan Liya kepada sosok ayah kami yang telah lama berpulang ke pangkuan Illahi.
Kian hari mereka berdua kian akrab. Bahkan seiring waktu berjalan, Pak Marwan sudah mulai terang-terangan mengajak Liya makan bersama di luaran. Liya yang masih polos, tentu saja tak curiga yang macam-macam. Padahal, bersamaan dengan itu teman-teman sekantornya sangat prihatin melihat kedekatan Liya dan Pak Marwan. Beberapa dari mereka menasehati Liya agar tidak terlalu dekat dengan Pak Marwan. Apalagi Liya tergolong pegawai baru yang belum paham betul akan sifat Pak Marwan sesungguhnya.
Liya memang seorang yang selalu berpikiran positif. Baginya, sangatlah mustahil punya seseorang yang berumur 30 tahun lebih tua dari dirinya bisa jatuh cinta kepada gadis belia. Pak Marwan itu di mata Lia tak lebih dari sosok ayah yang sangat mengayominya. Dia sendiri merasa mustahil bisa jatuh hati kepada Pak Marwan, kendati baiknya bagaikan Dewa. Lagi pula, hati Liya ketika itu memang sudah tertambat pada seseorang pemuda tampan bernama Arifin. Lagi pula, mereka berdua sudah bertunangan 1 tahun yang lalu.
Pada bulan September 2004, Pak Marwan datang ke rumah Liya, yang tentu saja adalah rumah keluarga kami. Tanpa kami sangka, dia datang sambil membawa cinderamata berupa seperangkat perhiasan emas yang tentu saja berharga sangat mahal. Ketika itu, dengan cara yang penuh percaya diri dia menyampaikan niatnya yang ingin meminang Liya sebagai isterinya. Pernyataan Pak Marwan yang bernada optimistis ini tentu saja bagaikan petir di siang bolong. Terutama sekali bagi Liya. Dia sangat kaget bukan kepalang. tDia sama sekali tak menyangka kalau seorang seperti Pak Marwan yang selama ini dianggapnya selalu mengayomi bak orang tua sendiri ternyata berikeinginan untuk menikahinya. Ini benar-benar gila! Beruntung sekali hari itu Liya berani mengambil sikap untuk menolak pinangan itu.
Akibat penolakan Liya, Pak Marwan jelas sangat kecewa. Mukanya yang masih kelihatan tampan di usia kepala lima itu kelihatan merah padam. Dia pergi setelah berpamitan dengan cara yang teramat dingin. Mungkin, dia tak menyangka kalau kebaikan sikap Liya selama ini tak lebih sebagai kebaikan sikap karyawan kepada bossnya. Ya, tak lebih dari itu.
Sejak kejadian itu pula Liya memutuskan berhenti bekerja. Dia tak pernah lagi masuk kantor. Karena batinnya yang terpukul, dia selalu mengurung diri di dalam kamar. Mungkin juga Liya malu kepada ibu dan saudara-saudaranya yang lain.
Selama beberapa hari Liya lebih senang mengurung diri di dalam kamar. Hal ini tentu saja membuat kami sekeluarga merasa gelisah, terutama ibu yang memang sangat memanjakan Liya.
"Apakau kau sakit, Nak?" Tanya ibu ketika mendapatkan Liya di kamarnya.
Bukannya menjawab pertanyaan ibu, Liya malah memeluk ibu sambil tak hentinya menangis.
ìSudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Toh sekarang kamu sudah bebas dari Pak Marwan, bossmu itu. Yang panting, Ibu minta kamu berhenti bekerja dari perusahaan itu. Ibu takut sesuatu akan terjadi denganmu. Ibu sangat menyayangimu, Nak!î bujuk ibu.
Ada perasaan lega di hati Liya. Dan dia memang sudah memutuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan milik Pak Marwan, walau gajinya sudah cukup lumayan.
Melihat keadaan Liya sudah kembali pulih, ibu menelpon keluarga Arifin untuk segera datang. Arifin dan kedua orang tuanya memang datang memenuhi undangan ibu. Hari itu akhirnya diputuskan untuk mempercepat pernikahan antara Liya dan Arifin.
Pada tanggal 14 April 2005, lewat resepsi pernikahan yang sangat meriah, Liya dan Arifin akhirnya resmi menjadi suami isteri. Hadir dalam pesta meraih itu para sanak famili dari kedua belah pihak. Juga para kerabat serta teman Liya sewaktu bekerja di kantor dulu. Semua mata terkagum-kagum melihat pasangan pengantin yang sangat serasi. Mempelai wanitanya cantik bagai dewi, sedangkan membelai pria sangat tampan bagaikan pangeran.
Rumah tangga Liya dan Arifin begitu harmonis. Namun, selang dua bulan dari perkawinan mereka, keharomisan itu hancur dengan adanya campur tangan seorang durjana yang ingin memetik bunga.
Pada suatu hari, tanpa diduga sedikitpun oleh Liya, Pak Marwan datang bertamu ke rumah Liya dan Arifin. Dengan permohonan maaf yang sangat mendalam sebab tak sempat menghadiri resepsi pernikahan mereka, karena di saat yang sama dia masih berada di luar negeri, Pak Marwan mengutarakan penyesalannya itu. Sikapnya yang begitu santon dan kebapakkan membuat Arifin dan Liya tak menaruh curiga sedikitpun dengan maksud busuk yang ada dalam hati bandot tua yang sakit itu.
Setelah siangnya menerima kedatangan Pak Marwan, malam harinya, tepatnya sekitar pukul 01 dinihari, Liya mendadak muntah-muntah. Suhu badannya mendadak panas. Liya juga mengaku perutnya sangat sakit. Malam itu juga Liya langsung dilarikan ke rumah sakit Pertamina, Cirebon.
Tiga hari menjalani perawatan medis, dan dari hasil pemeriksaan dokter, Liya didiagnosis tak terjangkiti suatu penyakit apapun. Lalu, mengapa tiba-tiba suhu badannya begitu tinggi, dan Liya begitu menderita dengan sakit perutnya?
Setelah kejadian hari itu, Liya memang kian terpuruk. Penyakitnya yang aneh itu tak kunjung sembuh. Karena kami penasaran, dengan dibantu relasi bisnisnya, ibu akhirnya membawa Liya berobat ke rumah sakit elite di Hongkong, bahkan diteruskan ke Taiwan, Singapura, bahkan terakhir di Australia.
Hampir satu bulan lamanya Liya menjalani rawat-inap di berbagai rumah sakit elite tersebut. Namun hasilnya tetap nihil. Para doctor yang mendiagnosisnya tak menemukan titik terang dari penyakit yang diderita oleh Liya. Liyapun akhirnya dibawa pulang kembali, setelah biaya dengan jumlah relatif besar kami habiskan untuk ongkos pengobatan yang sia-sia itu.
Hari-hari berikutnya, keadaan Liya semakin buruk lagi. Dia tak lagi mampu mengontrol dirinya sendiri. Dia sering tertawa dan menjerit-jerit sendiri. Bahkan, dia juga kerap menangis sendiri dengan begitu sedihnya. Ya, adikku yang cantik itu telah terganggu jiwanya. Namun yang aneh, bila bicara seorang diri, dari ocehannya dia selalu menyebut-nyebut nama Nyai Kunti dan Pak Marwan.
Keadaan Liya memang sudah sangat parah. Bahkan yang membuat malu keluarga, hamper setiap pukul 01 malam seolah ada kekuatan magis yang mempangaruhinya. Ya, pada jam itu Liya selalu berlari keluar rumah sambil menyebut-nyebut nama Pak Marwan. Akibat suara Liya yang begitu lantang, masyarakat setempat merasa terganggu dengan ulah Liya yang selalu bikin ribut di malam hari. Bahkan tak jarang ada beberapa orang tetangga yang membantu untuk menangkap Liya ketikat dia membuat onar di jalanan.
Kami sekeluarga, terutama ibu, merasa sangat shock dengan prilaku anak bungsunya yang berubah senewen itu. Bahkan, hatinya sangat terpukul karena Liya sudah tak mengenal keluarga, ibu, maupun suaminya sendiri.
Kebenaran memang sealu tampil mengalahkan kejahatan, meskipun kerap kali agak terlambat datang. Arifin baru sadar akan kejadian satu bulan yang lalu tentang nasih goreng yang dimakan bersama pak Marwan. Ya, dalam kunjungannya hari itu, Pak Marwan memang membawa tiga porsi nasi goring spesial, yang katanya nasi gorong ini adalah kesukaan Liya waktu mereka sering makan bersama dulu. Tanpa rasa curiga, hari itu Arifin dan Liya menyantap nasi goreng pemberian Pak Marwan.
Lantas, apakah ada sesuatu di dalam nasi goreng itu?
Entahlah! Yang pasti, demi mendengar cerita menantunya dengan perasaan geram, ibu langsung melabrak Pak Marwan di rumahnya. Sialnya beberapa kali ke rumah Pak Marwan, namun pintu pagar rumah selalu terkunci rapat dari luar.
Karena kesal, ibu pernah mencak-mencak di depan rumah Pak Marwan yang megah itu, sebagai suatu pelampiasan emosi yang kian memuncak. Akiabtnya, para tetangga yang dekat dengan rumah itu berdatangan karena suara ibu yang keras. Lalu, dengan lantang ibu membeberkan kekejaman Pak Marwan terhadap Liya di hadapan masyarakat sekitar rumah Pak Marwan.
Akhirnya, dari salah seorang tetangga yang sebut saja bernama Ibu Ani, ibuku mendapatkan kisah masa lalu Pak Marwan yang cukup kelam. Menurut Ibu Ani, dahulunya Pak Marwan itu seorang yang baik. Namun, karena suatu kesulitan ekonomi yang membuatnya sangat terpuruk, Pak Marwan akhirnya nekad menempuh jalan sesat. Bersama isteri pertamanya dia mengambil jalan pintas bersekutu dan menikah dengan iblis berna Nyi Kunti.
Sejak saat itu, kehidupan Pak Marwan berubah sanga mapan. Namun dampaknya sungguh sangat mengerikan. Pak Marwan menjadi hiper seks, dan selalu mencari korban untuk selalu dinikahinya.
Bila yang dituju menolaknya, Pak Marwan tak segan-segan mengguna-gunainya sampai mati. Menurut Ibu Ani, sudah banyak korban di tangan Pak Marwan hingga seluruh masyarakat di sekitar tempat tinggalnya tak berani untuk mendekatinya.
ìMenurut saya, cobalah ibu mencari orang pintar, agar anak ibu bisa selamat. Sebab katanya, siapapun yang terkena guna-guna dari Pak Marwan mereka tak bisa terselamatkan,î ungkap Ibu Ani.
Mendengar cerita dari Ibu Ani ini, sikap kami sekeluarga berubah 180 derajat. Bila sebelumnya kami memandang nonsens dengan dunia supranatural, kini kami mulai memburu orang pintar untuk kesembuhan Liya.
Alhamdulillah, dengan bantuan kenalan dan tetangga kami bisa mendapatkan alamat beberapa tabib dan paranormal. Satu demi satu mereka kami undang ke rumah. Namun anehnya, setiap mereka datang, maka para tabib dan paranormal itu selalu dilabrak Liya, seolah dia enggan untuk diobati. Akibatnya, mereka angkat tangan, tak mampu mengobati Liya.
Namun, kami tak menyerah begitu saja. Terlebih para kerabat, tetangga, rekan bisnis, maupun relasi lainnya juga tak keberatan untuk terus membantu mencari orang pintar yang dapat menyembuhkan penyakit Liya.
Namun, keadaan Liya semakin tak terkendali. Entah siapa yang bersemayam di dalam tubuhnya. Setiap akan diobati, Liya lebih dulu tahu. Dia juga berkata dengan suara yang mirip kakek-kakek maupun nenek-nenek. Anehnya lagi, setiap dibacakan ayat suci Al-Qur'an, Liya hanya tertawa meledek.
Dari catatanku, sudah 42 orang pintar dikerahkan, baik dari ujung timur sampai ujung barat Pulau Jawa. Namun, Liya tetap saja belum berubah. Bahkan, beberapa orang pintar sempat terluka akibat diserang Liya yang semakin ganas.
Karena semua usaha selalu gagal, akhirnya seluruh keluarga dikumpulkan. Dengan wajah kecewa, letih dan putus asa, ibu mengutuk palu sebagai tanda menyerah. Semua keluarga disuruh pasrah dan berdoa di rumah masing-masing.
Aku dan suamiku suamiku pun hanya bisa pasrah. Sampai suatu hari, saat dalam perjalanan pulang dari rumah ibu setelah menjenguk Liya, kami mampir di sebuah minimarket yang ada di jalan Bahagia, Cirebon.
Karena keletihan, membuatku malas ikut ke minimarket tersebut. Aku memilih menunggu di mobil bersama anakku, Laela. Sambil menunggu suami datang, kucoba rileks dengan membaca koran dan majalah yang berjejer rapi di lokasi parkir.
Dari salah satu yang kubaca aku sangat tertarik dengan majalah Misteri. Di situ terpampang jelas semua paranormal yang memiliki keunggulan ilmu, tentunya. Setelah kubaca majalah itu, kubuka berlang kali dan ternyata ada satu paranormal yang membuatku sangat tertarik.
Dengan semangat baru yang kini tumbuh, setelah suamiku datang aku langsung menyodorkan majalah Misteri kepadanya. Atas kesepakatan bersama kami berdua langsung menuju paranormal yang tertera di majalah tersebut. Setelah bertanya ke sana-sini, akhirnya kami temukan juga alamat paranormal itu.
Setelah bertemu paranormal dimaksud, suamiku langsung memperjelas tentang keadaan yang dialami Liya. Setelah merenung sejenak, sang paranormal beranjak pergi ke sebuah kamar. Kurang lebih 20 menit dia kembali lagi dengan membawa sebotol air mineral.
"Bolehkah aku melihat adikmu saat ini?" kata sang paranormal.
Ringkas cerita, dengan senang hati aku dan suamiku mengantarkan si paranormal ke rumah ibuku. Sesampainya di sana, dengan tenang paranomal tersebut mendekati Liya yang sedang mengoceh tak karuan. Dan, tanpa diduga sebelumnya, Liya membalikkan tubuh dan langsung melancarkan pukulan ke si paranormal.
Tanpa bisa dihindari, pukulan itu dengan telak mengenai dada si paranormal. Dia pun tersurut mundur dengan disertai darah segar keluar dari mulutnya. Namun, dia sepertinya tidak ingin menyerah. Sambil duduk bersila si paranormal membuka tutup botol air mineral yang dibawanya dari rumah.
Dengan membaca sebuah mantera, paranormal tersebut berdiri kembali dan menyiramkan air mineral tersebut ke tubuh Liya. Aneh, secara spontan Liya menjerit histeris. Bersamaan dengan itu dari kepala Liya keluarlah sebuah keris hitam dengan panjang sekitar 35 cm.
Sungguh tidak masuk akal. Seketika itu juga Liya langsung roboh tak sadarkan diri. Sementara itu, dengan sigap paranormal tersebut mengambil keris yang tergeletak di samping kepala Liya. Dengan terlebih dahulu membaca sebuah mantera, keris itupun dia masuk ke dalam wadah kain hitam yang telah dipersiapkannya lalu dibawanya pulang.
Yang tak kalah aneh, dua jam setelah kejadian itu, Liya benar-benar sembuh total.
Esok harinya, kami sekeluarga mendengar kabar dari teman Liya sewaktu bekerja, yang menyebutkan bahwa tadi malam Pak Marwan meninggal dunia secara mendadak dengan batok kepala berlubang. Nauzdubillah minzalk!
Begitulah kisah mistis yang dialami langsung oleh keluargaku. Kini, Liya sudah sehat dan menjalani kehidupan normal bersama Arifin, suaminya. Semoga kisahnya yang pahit ini tak menimpa orang lain.
BULUH PERINDU ASMARA
PAKET BULU PERINDU YANG MELEGENDA
Solusi asmara anda yang kandas,pacar di ambil orang,cinta bertepuk sebelah tangan, dan semua yang berhubungan dengan asmara ..
Bulu Perindu Asli Kalimantan
khasiatnya antara lain..
pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh, cocok untuk pria dan wanita dan mudah di bawa-bawa,cukup di letakkan di saku dompet,dan kopiah atau ikat pinggang,
dan sepasang bulu perindu akan di kirim lengkap bersama tata cara penggunaannya dan cara penyimpanannya.
mahar : Rp.300.000
Bulu Perindu dalam kemasan plastik
petunjuk dan tata cara pemakaian akan di kirimkan lengkap bersama paket
Bulu perindu.
Cara penggunaan bulu perindu tanpa minyak :
1.untuk memikat cewek cukup baca mantranya pada tengah malam sambil membayangkan wanita/pria yang di tuju.
2.Bulu Perindu direndam sebentar saja dalam segelas air, lalu air nya di minum kan ke istri/suami, pacar atau orang lain yang sengaja akan anda lunakkan atau dibuat simpati hatinya.
insyallah akan nurut, marah jadi senang, benci jadi rindu.
3. Bulu Perindu di rendam sebentar dalam bak/ember sekitar 1 menit, lalu airnya disiram atau dipercik kan disekitar tempat usaha (spanduk, toples, meja, kursi, pintu, kaca , jendela, pagar toko dll agar laris.
bisa juga diletak kan dalam Hand phone (dibelakang batere) agar bisnis lewat HP lancar, dan siapa saja yang mendengar suara atau membaca sms dari HP anda secara bawah sadar akan terpengaruh kagum dan terpesona.
petunjuk lengkapnya akan kami berikan setelah anda memesan produk kami
Tentang bulu perindu :
Bulu Perindu berbentuk seperti bulu yang agak keras/kaku berasal dari sarang burung elang yang berada di atas pohon - pohon yang paling tinggi di pedalaman pulau kalimantan.
Di tempat aslinya Bulu Perindu ini berfungsi untuk menjaga anak - anak burung elang supaya betah/kerasan tinggal di sarangnya sehingga terhindar dari bahaya jatuh dari atas pohon tinggi tempat sarangnya.
Ciri - ciri keaslian :
Jika di tetesi / dibasahi air dan di letakkan di atas lantai atau sehelai kertas, maka secara menakjub kan Bulu Perindu tersebut akan menggeliat - geliat laksana seekor cacing.
Sepasang Bulu Perindu jika di dekatkan / dipertemukan ujung - ujungnya, secara ajaib akan berangsur - angsur saling menjauh.
Sekedar informasi kami telah megirimkan bulu perindu sampai ke luar negeri,
dan semua produk bebas ongkos kirim kecuali ke luar negeri kena tambahan biaya 150.000,-
UNTUK PEMESANAN DAN KONSULTASI kirim ke email : serius.blogger@gmail.com (khusus yang serius) atau melalui ponsel 082362939492,untuk transfer mahar ke rek BNI cabang MEDAN atas nama WALUYO No rek 0224430064
kami telah mengirimkan ke barbagai pelosok tanah air dan ke negeri tetangga seperti malaysia dan brunei.
BULU PERINDU
Alkisah seekor induk burung Rajawali/Elang, membuat sarang diatas pohon yg sangat tinggi sekali di Gunung Bondang. Ianya sedang mau beranak, dan tak ingin jika sudah melahirkan kelak, anak2nya pada jatuh dan pergi sebelum masanya dia menjadi besar dan kuat. untuk itulah sang induk Rajawali/Elang perlu satu bentuk "pegangan".
Maka mulailah ia mencari-cari, terbang berputar kesana kemari menyusuri sungai, dengan pandangan matanya yg fokus layaknya memiliki Infra Red. Tampaklah akhirnya dari ketinggian, sebentuk kecil tetumbuhan layaknya cacing. Nampak jelas tetumbuhan itu ada diatas air sungai, dan anehnya malah seolah hidup berenang melawan arus sungai yg deras.
Segera sang induk menukik tajam kebawah dan menangkapnya dengan paruhnya. Kemudian dibawa terbang dan diletakkan di sarangnya.
Tidak lama kemudian, melahirkanlah ia dengan bahagia, ada beberapa anak rupanya yg telah ia lahirkan. ketika anak2nya lapar dan perlu makanan, pergilah sang induk burung dengan
tenangnya. karena ia sangat meyakini, anak2nya akan terjaga dari pengaruh gaib si Bulu Perindu yg ada pada sarangnya tersebut.
Yg dengan bulu perindu itu, anak2nya pada betah dan tidak nakal untuk meloncat kesana kemari, sangat betah betah banget tinggal di sarangnya.
tenangnya. karena ia sangat meyakini, anak2nya akan terjaga dari pengaruh gaib si Bulu Perindu yg ada pada sarangnya tersebut.
Yg dengan bulu perindu itu, anak2nya pada betah dan tidak nakal untuk meloncat kesana kemari, sangat betah betah banget tinggal di sarangnya.
Sampai saatnya si anak burung dewasa. Mulailah latihan2 mengarungi angkasa. yang karena semangat terbangnya, si anak burung jadi lupa untuk segera pulang.
Namun Sang induk burung sudah begitu yakin. Cukup dengan memegang Bulu Perindu pd sarang tersebut, kemudian ia membaca mantera berupa siulan dan jeritan tajam, maka dipastikan semua anak2nya yg pergi terbang jauh, semuanya terpanggil dan tidak ada yg bisa melawan, semuanya datang kembali..
dengan mengunakan jasa JNE, TIKI DAN POS INDONSIA.
paket akan tiba dalam 3 hari kerja dan paling lambat 7 hari kerja.
Jangan tunggu sampai pacar anda lari diambil orang !!!
Harap juga di pahami tidak semua yang memakai bulu perindu ini berhasil, kita hanya berusaha semampu yang kita perbuat dan semuanya tentulah kembali kepada Allah SWT yang mengabulkan semua keinginan dan tugas kita adalah berikhtiar sesuai dengan kemampuan kita.
Wednesday, August 25, 2010
AKIBAT SANTET RUMPUT RAWA NANAH KENTAL KELUAR DARI VAGINA
Penulis : DHANY
Di wilayah Kec. Sumber, Kab. Cirebon, beberapa waktu lalu sempat gempar. Penduduk di pantai utara Jawa Barat itu gempar lantaran ada salah seorang warga disana yang mengalami peristiwa sangat mistis....
Selain aneh, peristiwa tersebut sangat menyedihkan sekaligus menyakitkan. Siapapun yang menyaksikannya, pasti menitikkan air mata, dan tak sanggup membayangkan betapa beratnya penderitaan yang dijalaninya.
Seorang isteri juraga rotan, kedapatan mengalami penyakit yang susah untuk dideteksi secara medis. Dokter yang didatangkan bukan saja dari Cirebon, bahkan ada yang sengaja didatangkan dari Bandung maupun Jakarta. Namun, hasilnya sangat tidak memuaskan. Alat vital wanita paruh baya itu tetap mengeluarkan nanah kental tiap tengah malam hingga siang bolong.
Akibatnya, alat vital yang mestinya jadi mahkota kebanggan wanita dan digandrungi pria itu, terpaksa tidak berharga sama sekali. Bau yang keluar benar-benar busuk. Bahkan baunya menyebar dalam radius belasan meter.
Terdorong rasa penasaran yang teramat kuat, suatu malam Penulis secara diam-diam menyambangi rumah megah yang mulai tak terurus itu. Rumah yang berada tidak jauh dari jalan raya itu memang terlihat muram kehilangan nilai artistiknya. Selain cat temboknya sudah mengelupas disana-sini, plafon yang terbuat dari kenwoods juga sudah jebol di beberapa bagian. Di halaman depan maupun halaman serambi, rumput sudah membelukar.
Begitu pula sebagian ranting pohon belimbing bangkok sudah menerobos ke lubang ventilasi jendela. Pernak-perniknya juga sudah terpatah-patah dan banyak yang rontok, juga tidak ada lagi perabotan luks di dalamnya.
Ternyata, selain dikarenakan bangkrutnya bisnis rotan sebagai imbas peraturan pemerintah tentang syarat-syarat ekspor rontan ke luar negeri, sisa modal yang ada tersedot juga buat ikhtiar pengobatan sang isteri. Kini, suami-isteri tanpa keturunan itu hidup dari utang disana-sini, sehingga tak mampu lagi untuk beli cat tembok.
Ketika Penulis tiba di rumah megah namun kumuh itu, si wanita malang sudah dalam proses pemulihan. Nanah kentalnya sudah tidak keluar lagi dan tak tercium bau busuk dari balik pakaian yang dikenakan.
Namun, tubuh Ny. Ratinah, 45 tahun, sangat menyedihkan. Tubuh yang dulu padat berisi itu kini layaknya sosok jerangkong hidup. Ya, hanya menyisakan tulang terbungkus kulit. Kecantikan wajahnya seperti yang tampak pada foto di figura samping buffet, sudah tak tersisa sama sekali. Tulang-tulang pipinya bertonjolan dengan tatapan mata sangat menyedihkan. Wajah itu masih menyimpan sisa-sisa penderitaan teramat pahit selama hampir dua tahun. Sebuah rentang waktu sangat menjemukan serta membuat alas berubah gelap.
Yang patut untuk dijadikan pelajaran, di tengah situasi sulit yang berlarut-larut, Ratinah tetap tabah bahkan sangat pasrah. Tak pernah terlintas sekalipun dalam benaknya untuk menempuh jalan pintas yang sesat.
Sebagai mantan santri dari salah sebuah pesantren puteri terkemuka di Kabupaten Cirebon, Ratinah yakin sekali kalau penderitaan yang dialaminya itu bakal mendapatkan pahala dari Allah SWT yang bakal dipetik di akherat kelak. Sehingga, ketika diminta menceritakan kembali kesengsaraannya sebagai korban santet, Ratinah berkali-kali menolak. Tapi, setelah dipastikan bakal dijaga kerahasiaan identitas diri dan keluarganya serta identigas orang yang berbuat jahat padatnya, Ratinah maupun Imron, 47 tahun, sang suami, berangsur-angsur memahaminya dan bersedia untuk mem-flashback sampai kepada hal-hal kecil yang pernah dialaminya.
"Sedikitpun tak menyangka, di era yang serba modern ini, ternyata masih ada orang yang menggunakan santet untuk mencelakai sesama manusia," Ratinah memulai kisahnya.
Penderitaan yang dialaminya selama hampir dua tahun ini, sangat sulit untuk digambarkan. Dia yakin, semenjak terlahir di alam fana ini sampai umurnya yang sudah kepala empat, belum pernah mengalami penderitaan seberat itu.
Penyakit aneh yang disebabkan serangan santet itu, berawal dari usaha rotan yang dilakoni Imron. Memang, wilayah kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, sudah lebih dari dua dasawarsa dinobatkan sebagai sentra bisnis rotan terbesar di Jawa Barat. Dan Imron adalah salah seorang pengusaha rotan yang cukup diperhitungkan.
Sejak era tahun 1990-an, perusahaan rotan milik Imron sudah merekrut lima karyawan tetap, dan sepuluh karyawan magang. Mereka bekerja mulai pagi hingga menjelang waktu Isya. Modal awal dia peroleh dari perbankan, dan secara bertahap, mengurangi pinjaman modal perbankan itu sampai akhirnya tinggal landas sekitar tahun 1995.
Dengan seratus persen modal sendiri, secara otomatis, laba bersih yang diraup per bulannya jauh lebih besar, karena tidak ada kewajiban buat bayar bunga bank. Seiring itu pula, jumlah karyawan tetap bertambah setiap periodiknya.
Mekanisme usaha yang diterapkan Imron sangat sederhana. Menetapkan status karyawan pun sangat ringkas, dimulai dari karyawan lepas dan karyawan tetap. Karyawan magang yang sudah bekerja dalam rentang waktu tertentu, dianggap punya dedikasi tinggi serta loyalitasnya terhadap perusahaan sangat kental, maka secara otomatis direkrut menjadi karyawan tetap.
Karyawan tetap itupun, bagi yang berdedikasi tinggi dan loyalitasnya kental, akan dinaikan statusnya ke bagian pemasaran. Tiap-tiap kenaikkan status ini berkaitan sekali dengan nilai upah dan tunjangan serta fasilitas lainnya.
Sam, 40 tahun, di mata Imron punya nilai lebih dibanding karyawan tetap lainnya. Pria beranak dua asal Jatibarang, Indramaya ini tercatat sebagai karyawan tetap yang punya masa kerja paling lama.
Disamping itu, Sam punya dedikasi tinggi serta sangat loyal, ditambah pendidikan formalnya yang lumayan bagus yaitu diploma tiga. Dikarenakan sudah memenuhi seluruh komponen yang disyaratkan, sejak 1995, Sam dinaikkan statusnya menjadi karyawan bagian pemasaran bersama-sama dua karyawan bagian pemasaran yang sudah lebih dulu ada yaitu Iwan, 46 tahun, dan Jajang, 42 tahun.
Mulai triwulan pertama, Sam kebagian tugas mengawal pengiriman rotan hingga ke pengepul besar atau perusahaan eksportir di Jakarta. Tugas tersebut terus dirolling secara periodik. Iwan bertugas mengurus surat-surat berkaitan proses ekspor ke Eropa, sedangkan Jajang bertugas juru tagih ke pihak perusahaan eksportir.
"Sampai tahun kedua, saya merasa sangat puas dengan cara kerja Sam dan dua karyawan pemasaran lainnya. Tapi bertepatan dengan meletusnya reformasi dalam upaya menurunkan Soeharto sebagai presiden, sedikit demi sedikit ada suara-suara sumbang yang masuk ke telinga. Suara sumbang itu tertuju kepada kinerja Sam," kenang Imron.
Pada awalnya, suara-suara sumbang itu hanya dianggap sentimen biasa di lingkungan sesama karyawan. Apalagi suara sumbang yang paling santer justru ditiupkan Jajang yang notabene rival Sam.
Jajang mengaku kepada Imron, suatu waktu pernah "menjebak" Imron. Dalam perjalanan ke Jakarta, setibanya di Jatibarang secara disengaja Jajang membelokkan Toyota Kijang yang dikemudikannya memasuki sebuah gang dan berhenti di depan rumah besar yang baru selesai dibangun.
Sambil tetap duduk dibalik kemudi dan hanya sedikit menurunkan kaca jendela kemudi di sampingnya, Jajang menjelaskan kepada Imron kalau rumah besar itu milik Sam. Padahal rumahnya yang dulu berada di pinggir tanggul sungai Cimanuk.
Meski sudah menyaksikan dengan mata sendiri, namun Imron berusaha untuk tetap berbaik sangka. Dalam pikirannya, mungkin Sam mampu membangun rumah sebesar itu berkat kemampuannya mengatur gaji yang diterima dari perusahaan. Atau mungkin, uangnya sebagian didapat dari menjual tanah warisan. Imron tidak pernah tahu apakah Sam punya warisan atau tidak, yang dia tahu Sam adalah karyawan bagian pemasaran yang ulet dan lincah.
Pada saat yang lain, pagi-pagi sekali Iwan sudah mengetuk pintu rumah Imron. Dengan tingkah yang gelisah dan tegang, Iwam menyampaikan laporan kepada bosnya. Sudah dua kali pengiriman, Sam melaporkan kepada Iwan kalau kendaraannya dijarah massa di Jakarta.
Secara kebetulan, dari tahun 1997 hingga 1998, pemberitaan media audiovisual dilaporkan aksi kerusuhan disertai penjarahan oleh ribuan massa di Jakarta. Atas dasar itulah Imron tidak terlalu memikirkan laporan Iwan mengenai Sam. Di mata Imron, sampai saat itu Sam masih dianggap bersih.
Bukan itu saja, setiap saat Iwan mengeluhkan terjadinya ketidak-cocokan antara faktur penerimaan dari petugas checker di perusahaan eksportir di Jakarta dengan data tonase yang tertera dalam surat jalan dari karyawan bagian produksi di perusahaan Imron.
Laporan Iwan kali ini cukup menyita perhatian Imron. Apalagi karyawan bagian produksi yang melakukan penimbangan sebelum dinaikkan ke atas truk bersikeras mencantumkan angka pada surat jalan sesuai dengan tonasenya.
Namun muncul dalam pemikiran Imron, tentang adanya konspirasi atau tepatnya persengkongkolan antara karyawan bagian produksi dengan Iwan dalam upaya menggulingkan Sam.
Kali inipun Sam masih tetap bersih di mata Imron. Tapi ibarat pepatah kuno, sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat pasti jatuh juga. Demikianlah yang terjadi pada diri Sam.
"Di akhir tahun 1999, tanpa diduga, datang seorang tamu mengaku karyawan perusahaan eksportir rotan dari Jakarta," kata Imron.
Karyawan yang namanya dirahasiakan itu, tanpa basa-basi lagi mengajak Imron untuk kerjasama usaha rotan untuk tujuan Amerika Serikat. Harga yang ditawarkannya sedikit lebih tinggi dari harga yang sudah disepakati dalam kontrak kerja sama atau MoU dengan perusahaan eksportir rotan yang sudah bermitra.
Bagi Imron harga yang lebih tinggi bukan sesuatu yang mengejutkan. Sesuai strategi bisnis, hal itu sangat layak dilakukan. Tapi, setelah kerjasama berlangsung, harga yang ditetapkan bisa saja lebih rendah dari harga yang ditetapkan eksportir yang dulu.
Tetapi ketika mendengar ucapan karyawan itu berikutnya, seperti ada tamparan keras pada wajah Imron. Sebab, orang itu menyatakan sudah ada kecocokan dengan kualitas rotan dari perusahaan Imron.
"Dari mana dia tahu kualitas rotan saya, kenal saja belum," kenang Imron.
Berusaha tidak menunjukkan sikap curiga, Imron terus mengorek informasi dari tamunya itu. Ternyata, sudah dua tahun lebih Sam mengirim rotan ke perusahaan ekspotir tersebut, biarpun jumlahnya sangat terbatas. Kecuali pernah dua kali mengirim secara penuh masing-masing satu truk. Penjelasan itu sudah lebih dari cukup bagi Imron untuk menilai Sam.
Setelah tamunya pulang ke Jakarta dengan sangat kecewa, Imron memanggil sopir perusahaan beserta Iwan. Kedua karyawan itu diminta datang ke ruang serambi rumah Imron yang megah itu.
Pada awalnya sopir itu bersikeras menolak tuduhan itu. Tapi, setelah Imron menyebutkan nama perusahaan eksportir berikut alamat gudangnya, sang sopir mengakuinya dengan wajah lemas. Dia merasa telah diperalat oleh Sam dan memohon agar tidak dipecat dari pekerjaannya sebagai sopir perusahaan.
Imron memang tidak memecat sang sopir, dan yang dipecat dengan tidak hormat tidak lain adalah Sam. Tanpa banyak komentar, Sam menerima surat pemecatan berikut uang pesangon yang lumayan besar dari bossnya.
Tahun berikutnya, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang tentang Pengaturan Ekspor Rotan ke luar negeri. Yang intinya melarang ekspor rotan berupa bahan mentah. Dengan keluarnya peraturan itu, satu demi satu perusahaan rotan di Kabupaten Cirebon maupun di Kota Cirebon bertumbangan, termasuk perusahaan rotan milik Imron.
Hanya berselang satu tahun setelah resmi perusahaan rotan Imaron mengalami kelesuan, Ratinah juga mengalami serangan penyakit yang sangat aneh. Pada awalnya dipastikan hanya penyakit turun bero atau peranakan turun. Namun upaya melalui sistem pijat oleh beberapa paraji (dukun beranak) tidak membuahkan hasil.
Selanjutnya timbul rasa gatal di sekitar mulut vagina. Selama seminggu, rasa gatal itu terus menyiksa. Serangan gatal itu datang dan pergi mirip hantu.
Terkadang, serangan gatal itu datang di saat dia berada di pasar atau di tengah-tengah pertemuaan dengan anggota keluarganya. Akibatnya Ratinah sering dibuat malu, lantaran dia mesti tergesa-gesa menerobos pintu kamar mandi untuk menggaruk bagian sensitif pada organ kewanitaannya itu.
Serangan gatal itupun sempat hilang selama satu bulan lebih. Hal itu membuat lega batin Ratinah. Namun, satu bulan berikutnya, datang serangan sakit yang sangat ganjil. Bagian dalam alat vitalnya serasa seperti ditusuki ribuan jarum kecil.
Makin lama kondisinya makin memburuk. Bahkan dari alat vital Ratinah mulai keluar nanah kental disertai menyebarnya bau busuk. Setelah itu, setiap hari yang dikerjakan Ratinah hanya berbaring di atas kasur. Nafsu makannya turun secara dratis. Akibatnya, tubuh yang semula montok dan sintal, secara cepat berubah kurus sampai akhirnya tidak ubahnya kerangka yang terbungkus kulit.
Selama sakit aneh itu, sanak keluarga maupun bekas karyawan yang merasa simpati, sangat jarang yang berani memasuki kamar tidurnya. Mereka memilih duduk di ruang tamu, lantaran tak tahan dengan bau busuk dari alat vital Ratinah. Dari ruang tamu pun, bau busuk itu sudah tercium bahkan hingga ke serambi luar rumah.
Hanya seorang diri Ratinah merasakan deraan sakit luar biasa di kamar tidurnya. Berbagai upaya penyembuhan selalu nihil. Baik melalui jalur medis maupun jalur alternatif memanfaatkan kalangan supranaturalis.
Sejumlah paranormal sudah didatangkan. Terapi yang dilakukan paranormal sudah dijalani, namun pada ujungnya menyerah sambil menyarankan supaya mengundang dokter kandungan karena penyakit itu termasuk penyakit dhohir.
Saran para paranormal itu hanya dijawab dengan anggukan kepala. Pasalnya, sebelum paranormal memberi saran, sudah lebih dari lima dokter ahli kandungan lokal maupun dari kota besar yang didatangkan, tapi tidak membuahkan hasil.
Untuk ikhtiar pengobatan yang tanpa hasil itu, ternyata telah meludeskan segalanya. Dua hektare sawah berikut ladang telah dijual. Menyusul perabotan di dalam rumah berikut perhiasan serta tabungan di bank. Ketika sudah tak punya apa-apa lagi, Ratinah maupun Imron memilih untuk berpasrah diri kepada Allah SWT.
Memasuki duapuluh bulan kemudian, ketika Ratinah sudah berada antara hidup dan mati, serta kondisi bangunan rumah yang kumuh tidak terurus, Imron dalam mimpinya bertemu seorang laki-laki renta mengenakan pakaian ala para sunan di era Wali Songo.
Laki-laki dengan raut muka memancarkan aura putih itu, menyarankan untuk laku tirakat di salah sebuah tempat keramat di wilayah Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon.
Tanpa banyak pertimbangan, saran laki-laki yang berpenampilan ala sunan dari mimpinya itu langsung dijalani. Tempat yang dituju itu, ternyata salah sebuah petilasan Ki Kuwu Sangkan sewaktu menjalankan laku tirakat beberapa abad silam.
Satu minggu sudah berlalu, dan Imron belum mendapatkan petunjuk apapun dalam tirakatnya. Tanpa pernah merasa putus asa, laku tirakatnya terus dilanjutkan hingga memasuki hari keempat puluh.
Pada malam keempat puluh satu, antara sadar dan tidak, di depan lutut Imron yang sedang berzikir seperti tersaji adegan drama yang teramat mencekam. Laki-laki yang pernah hadir dalam mimpinya itu, sedang menginjak dada laki-laki berpenampilan jawara. Laki-laki dengan mengenakan blangkon, baju kampret dan celana komprang warna hitam, dalam keadaan terlentang tak berdaya.
Menyaksikan adegan klimaks sebuah pertarungan itu, membuat Imron ternganga tanpa suara. Lantas, laki-laki ala sunan itu menanyakan identitas dan berbagai hal terhadap laki-laki jawara di bawah telapak kaki kanannya itu.
Dengan nada sangat ketakutan serta menderita, laki-laki itu menyebutkan jatidirinya. Ternyata dia makhluk alam gaib dengan digelari Pangeran Santet. Pangeran Santet itupun mengaku kalau selama duapuluh bulan ini terus menyiksa Ratinah dengan menggunakan ilmu Santet Rumput Rawa andalannya.
Pangeran Santet menuturkan proses serangan ilmu santetnya. Dimana rumput berlugut dari tengah rawa di sekitar pesisir Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon secara rutin dimasukkan secara gaib ke dalam rahim Ratinah. Karena itulah, dari alat vital Ratinah keluar nanah kental diiringi bau sangat busuk.
Atas desakan laki-laki ala sunan, sang Pangeran Santet bersedia menarik kembali ilmu santetnya dari raga Ratinah hingga sembuh seperti sediakala. Yang sangat mengejutkan, makhluk halus aliran hitam itu menyebutkan identitas orang yang telah memperalatnya untuk menyiksa Ratinah. Siapa lagi kalau bukan Sam.
Mendengar nama Sam disebut-sebut, tanpa sadar emosi Imron langsung memuncak. Sebelum Imron kalap dan histeris, laki-laki ala sunan itu mengangkat kakinya dari dada Pangeran Santet sekaligus menyuruh makhluk aliran hitam itu supaya pulang kembali ke asalnya.
Sepeninggalnya Pangeran Santet, laki-laki ala sunan itupun menyampaikan petuah bahwa apapun yang dia dengar tidak boleh dijadikan alat untuk membalas dendam.
Siapapun yang menanam pasti dia yang bakal memetik buahnya. Karena petuah itulah, Imron memilih pasrah. Terlebih lagi, secara menakjubkan, penyakit menjijikan itu sudah meninggalkan alat vital isterinya.
Di wilayah Kec. Sumber, Kab. Cirebon, beberapa waktu lalu sempat gempar. Penduduk di pantai utara Jawa Barat itu gempar lantaran ada salah seorang warga disana yang mengalami peristiwa sangat mistis....
Selain aneh, peristiwa tersebut sangat menyedihkan sekaligus menyakitkan. Siapapun yang menyaksikannya, pasti menitikkan air mata, dan tak sanggup membayangkan betapa beratnya penderitaan yang dijalaninya.
Seorang isteri juraga rotan, kedapatan mengalami penyakit yang susah untuk dideteksi secara medis. Dokter yang didatangkan bukan saja dari Cirebon, bahkan ada yang sengaja didatangkan dari Bandung maupun Jakarta. Namun, hasilnya sangat tidak memuaskan. Alat vital wanita paruh baya itu tetap mengeluarkan nanah kental tiap tengah malam hingga siang bolong.
Akibatnya, alat vital yang mestinya jadi mahkota kebanggan wanita dan digandrungi pria itu, terpaksa tidak berharga sama sekali. Bau yang keluar benar-benar busuk. Bahkan baunya menyebar dalam radius belasan meter.
Terdorong rasa penasaran yang teramat kuat, suatu malam Penulis secara diam-diam menyambangi rumah megah yang mulai tak terurus itu. Rumah yang berada tidak jauh dari jalan raya itu memang terlihat muram kehilangan nilai artistiknya. Selain cat temboknya sudah mengelupas disana-sini, plafon yang terbuat dari kenwoods juga sudah jebol di beberapa bagian. Di halaman depan maupun halaman serambi, rumput sudah membelukar.
Begitu pula sebagian ranting pohon belimbing bangkok sudah menerobos ke lubang ventilasi jendela. Pernak-perniknya juga sudah terpatah-patah dan banyak yang rontok, juga tidak ada lagi perabotan luks di dalamnya.
Ternyata, selain dikarenakan bangkrutnya bisnis rotan sebagai imbas peraturan pemerintah tentang syarat-syarat ekspor rontan ke luar negeri, sisa modal yang ada tersedot juga buat ikhtiar pengobatan sang isteri. Kini, suami-isteri tanpa keturunan itu hidup dari utang disana-sini, sehingga tak mampu lagi untuk beli cat tembok.
Ketika Penulis tiba di rumah megah namun kumuh itu, si wanita malang sudah dalam proses pemulihan. Nanah kentalnya sudah tidak keluar lagi dan tak tercium bau busuk dari balik pakaian yang dikenakan.
Namun, tubuh Ny. Ratinah, 45 tahun, sangat menyedihkan. Tubuh yang dulu padat berisi itu kini layaknya sosok jerangkong hidup. Ya, hanya menyisakan tulang terbungkus kulit. Kecantikan wajahnya seperti yang tampak pada foto di figura samping buffet, sudah tak tersisa sama sekali. Tulang-tulang pipinya bertonjolan dengan tatapan mata sangat menyedihkan. Wajah itu masih menyimpan sisa-sisa penderitaan teramat pahit selama hampir dua tahun. Sebuah rentang waktu sangat menjemukan serta membuat alas berubah gelap.
Yang patut untuk dijadikan pelajaran, di tengah situasi sulit yang berlarut-larut, Ratinah tetap tabah bahkan sangat pasrah. Tak pernah terlintas sekalipun dalam benaknya untuk menempuh jalan pintas yang sesat.
Sebagai mantan santri dari salah sebuah pesantren puteri terkemuka di Kabupaten Cirebon, Ratinah yakin sekali kalau penderitaan yang dialaminya itu bakal mendapatkan pahala dari Allah SWT yang bakal dipetik di akherat kelak. Sehingga, ketika diminta menceritakan kembali kesengsaraannya sebagai korban santet, Ratinah berkali-kali menolak. Tapi, setelah dipastikan bakal dijaga kerahasiaan identitas diri dan keluarganya serta identigas orang yang berbuat jahat padatnya, Ratinah maupun Imron, 47 tahun, sang suami, berangsur-angsur memahaminya dan bersedia untuk mem-flashback sampai kepada hal-hal kecil yang pernah dialaminya.
"Sedikitpun tak menyangka, di era yang serba modern ini, ternyata masih ada orang yang menggunakan santet untuk mencelakai sesama manusia," Ratinah memulai kisahnya.
Penderitaan yang dialaminya selama hampir dua tahun ini, sangat sulit untuk digambarkan. Dia yakin, semenjak terlahir di alam fana ini sampai umurnya yang sudah kepala empat, belum pernah mengalami penderitaan seberat itu.
Penyakit aneh yang disebabkan serangan santet itu, berawal dari usaha rotan yang dilakoni Imron. Memang, wilayah kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, sudah lebih dari dua dasawarsa dinobatkan sebagai sentra bisnis rotan terbesar di Jawa Barat. Dan Imron adalah salah seorang pengusaha rotan yang cukup diperhitungkan.
Sejak era tahun 1990-an, perusahaan rotan milik Imron sudah merekrut lima karyawan tetap, dan sepuluh karyawan magang. Mereka bekerja mulai pagi hingga menjelang waktu Isya. Modal awal dia peroleh dari perbankan, dan secara bertahap, mengurangi pinjaman modal perbankan itu sampai akhirnya tinggal landas sekitar tahun 1995.
Dengan seratus persen modal sendiri, secara otomatis, laba bersih yang diraup per bulannya jauh lebih besar, karena tidak ada kewajiban buat bayar bunga bank. Seiring itu pula, jumlah karyawan tetap bertambah setiap periodiknya.
Mekanisme usaha yang diterapkan Imron sangat sederhana. Menetapkan status karyawan pun sangat ringkas, dimulai dari karyawan lepas dan karyawan tetap. Karyawan magang yang sudah bekerja dalam rentang waktu tertentu, dianggap punya dedikasi tinggi serta loyalitasnya terhadap perusahaan sangat kental, maka secara otomatis direkrut menjadi karyawan tetap.
Karyawan tetap itupun, bagi yang berdedikasi tinggi dan loyalitasnya kental, akan dinaikan statusnya ke bagian pemasaran. Tiap-tiap kenaikkan status ini berkaitan sekali dengan nilai upah dan tunjangan serta fasilitas lainnya.
Sam, 40 tahun, di mata Imron punya nilai lebih dibanding karyawan tetap lainnya. Pria beranak dua asal Jatibarang, Indramaya ini tercatat sebagai karyawan tetap yang punya masa kerja paling lama.
Disamping itu, Sam punya dedikasi tinggi serta sangat loyal, ditambah pendidikan formalnya yang lumayan bagus yaitu diploma tiga. Dikarenakan sudah memenuhi seluruh komponen yang disyaratkan, sejak 1995, Sam dinaikkan statusnya menjadi karyawan bagian pemasaran bersama-sama dua karyawan bagian pemasaran yang sudah lebih dulu ada yaitu Iwan, 46 tahun, dan Jajang, 42 tahun.
Mulai triwulan pertama, Sam kebagian tugas mengawal pengiriman rotan hingga ke pengepul besar atau perusahaan eksportir di Jakarta. Tugas tersebut terus dirolling secara periodik. Iwan bertugas mengurus surat-surat berkaitan proses ekspor ke Eropa, sedangkan Jajang bertugas juru tagih ke pihak perusahaan eksportir.
"Sampai tahun kedua, saya merasa sangat puas dengan cara kerja Sam dan dua karyawan pemasaran lainnya. Tapi bertepatan dengan meletusnya reformasi dalam upaya menurunkan Soeharto sebagai presiden, sedikit demi sedikit ada suara-suara sumbang yang masuk ke telinga. Suara sumbang itu tertuju kepada kinerja Sam," kenang Imron.
Pada awalnya, suara-suara sumbang itu hanya dianggap sentimen biasa di lingkungan sesama karyawan. Apalagi suara sumbang yang paling santer justru ditiupkan Jajang yang notabene rival Sam.
Jajang mengaku kepada Imron, suatu waktu pernah "menjebak" Imron. Dalam perjalanan ke Jakarta, setibanya di Jatibarang secara disengaja Jajang membelokkan Toyota Kijang yang dikemudikannya memasuki sebuah gang dan berhenti di depan rumah besar yang baru selesai dibangun.
Sambil tetap duduk dibalik kemudi dan hanya sedikit menurunkan kaca jendela kemudi di sampingnya, Jajang menjelaskan kepada Imron kalau rumah besar itu milik Sam. Padahal rumahnya yang dulu berada di pinggir tanggul sungai Cimanuk.
Meski sudah menyaksikan dengan mata sendiri, namun Imron berusaha untuk tetap berbaik sangka. Dalam pikirannya, mungkin Sam mampu membangun rumah sebesar itu berkat kemampuannya mengatur gaji yang diterima dari perusahaan. Atau mungkin, uangnya sebagian didapat dari menjual tanah warisan. Imron tidak pernah tahu apakah Sam punya warisan atau tidak, yang dia tahu Sam adalah karyawan bagian pemasaran yang ulet dan lincah.
Pada saat yang lain, pagi-pagi sekali Iwan sudah mengetuk pintu rumah Imron. Dengan tingkah yang gelisah dan tegang, Iwam menyampaikan laporan kepada bosnya. Sudah dua kali pengiriman, Sam melaporkan kepada Iwan kalau kendaraannya dijarah massa di Jakarta.
Secara kebetulan, dari tahun 1997 hingga 1998, pemberitaan media audiovisual dilaporkan aksi kerusuhan disertai penjarahan oleh ribuan massa di Jakarta. Atas dasar itulah Imron tidak terlalu memikirkan laporan Iwan mengenai Sam. Di mata Imron, sampai saat itu Sam masih dianggap bersih.
Bukan itu saja, setiap saat Iwan mengeluhkan terjadinya ketidak-cocokan antara faktur penerimaan dari petugas checker di perusahaan eksportir di Jakarta dengan data tonase yang tertera dalam surat jalan dari karyawan bagian produksi di perusahaan Imron.
Laporan Iwan kali ini cukup menyita perhatian Imron. Apalagi karyawan bagian produksi yang melakukan penimbangan sebelum dinaikkan ke atas truk bersikeras mencantumkan angka pada surat jalan sesuai dengan tonasenya.
Namun muncul dalam pemikiran Imron, tentang adanya konspirasi atau tepatnya persengkongkolan antara karyawan bagian produksi dengan Iwan dalam upaya menggulingkan Sam.
Kali inipun Sam masih tetap bersih di mata Imron. Tapi ibarat pepatah kuno, sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat pasti jatuh juga. Demikianlah yang terjadi pada diri Sam.
"Di akhir tahun 1999, tanpa diduga, datang seorang tamu mengaku karyawan perusahaan eksportir rotan dari Jakarta," kata Imron.
Karyawan yang namanya dirahasiakan itu, tanpa basa-basi lagi mengajak Imron untuk kerjasama usaha rotan untuk tujuan Amerika Serikat. Harga yang ditawarkannya sedikit lebih tinggi dari harga yang sudah disepakati dalam kontrak kerja sama atau MoU dengan perusahaan eksportir rotan yang sudah bermitra.
Bagi Imron harga yang lebih tinggi bukan sesuatu yang mengejutkan. Sesuai strategi bisnis, hal itu sangat layak dilakukan. Tapi, setelah kerjasama berlangsung, harga yang ditetapkan bisa saja lebih rendah dari harga yang ditetapkan eksportir yang dulu.
Tetapi ketika mendengar ucapan karyawan itu berikutnya, seperti ada tamparan keras pada wajah Imron. Sebab, orang itu menyatakan sudah ada kecocokan dengan kualitas rotan dari perusahaan Imron.
"Dari mana dia tahu kualitas rotan saya, kenal saja belum," kenang Imron.
Berusaha tidak menunjukkan sikap curiga, Imron terus mengorek informasi dari tamunya itu. Ternyata, sudah dua tahun lebih Sam mengirim rotan ke perusahaan ekspotir tersebut, biarpun jumlahnya sangat terbatas. Kecuali pernah dua kali mengirim secara penuh masing-masing satu truk. Penjelasan itu sudah lebih dari cukup bagi Imron untuk menilai Sam.
Setelah tamunya pulang ke Jakarta dengan sangat kecewa, Imron memanggil sopir perusahaan beserta Iwan. Kedua karyawan itu diminta datang ke ruang serambi rumah Imron yang megah itu.
Pada awalnya sopir itu bersikeras menolak tuduhan itu. Tapi, setelah Imron menyebutkan nama perusahaan eksportir berikut alamat gudangnya, sang sopir mengakuinya dengan wajah lemas. Dia merasa telah diperalat oleh Sam dan memohon agar tidak dipecat dari pekerjaannya sebagai sopir perusahaan.
Imron memang tidak memecat sang sopir, dan yang dipecat dengan tidak hormat tidak lain adalah Sam. Tanpa banyak komentar, Sam menerima surat pemecatan berikut uang pesangon yang lumayan besar dari bossnya.
Tahun berikutnya, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang tentang Pengaturan Ekspor Rotan ke luar negeri. Yang intinya melarang ekspor rotan berupa bahan mentah. Dengan keluarnya peraturan itu, satu demi satu perusahaan rotan di Kabupaten Cirebon maupun di Kota Cirebon bertumbangan, termasuk perusahaan rotan milik Imron.
Hanya berselang satu tahun setelah resmi perusahaan rotan Imaron mengalami kelesuan, Ratinah juga mengalami serangan penyakit yang sangat aneh. Pada awalnya dipastikan hanya penyakit turun bero atau peranakan turun. Namun upaya melalui sistem pijat oleh beberapa paraji (dukun beranak) tidak membuahkan hasil.
Selanjutnya timbul rasa gatal di sekitar mulut vagina. Selama seminggu, rasa gatal itu terus menyiksa. Serangan gatal itu datang dan pergi mirip hantu.
Terkadang, serangan gatal itu datang di saat dia berada di pasar atau di tengah-tengah pertemuaan dengan anggota keluarganya. Akibatnya Ratinah sering dibuat malu, lantaran dia mesti tergesa-gesa menerobos pintu kamar mandi untuk menggaruk bagian sensitif pada organ kewanitaannya itu.
Serangan gatal itupun sempat hilang selama satu bulan lebih. Hal itu membuat lega batin Ratinah. Namun, satu bulan berikutnya, datang serangan sakit yang sangat ganjil. Bagian dalam alat vitalnya serasa seperti ditusuki ribuan jarum kecil.
Makin lama kondisinya makin memburuk. Bahkan dari alat vital Ratinah mulai keluar nanah kental disertai menyebarnya bau busuk. Setelah itu, setiap hari yang dikerjakan Ratinah hanya berbaring di atas kasur. Nafsu makannya turun secara dratis. Akibatnya, tubuh yang semula montok dan sintal, secara cepat berubah kurus sampai akhirnya tidak ubahnya kerangka yang terbungkus kulit.
Selama sakit aneh itu, sanak keluarga maupun bekas karyawan yang merasa simpati, sangat jarang yang berani memasuki kamar tidurnya. Mereka memilih duduk di ruang tamu, lantaran tak tahan dengan bau busuk dari alat vital Ratinah. Dari ruang tamu pun, bau busuk itu sudah tercium bahkan hingga ke serambi luar rumah.
Hanya seorang diri Ratinah merasakan deraan sakit luar biasa di kamar tidurnya. Berbagai upaya penyembuhan selalu nihil. Baik melalui jalur medis maupun jalur alternatif memanfaatkan kalangan supranaturalis.
Sejumlah paranormal sudah didatangkan. Terapi yang dilakukan paranormal sudah dijalani, namun pada ujungnya menyerah sambil menyarankan supaya mengundang dokter kandungan karena penyakit itu termasuk penyakit dhohir.
Saran para paranormal itu hanya dijawab dengan anggukan kepala. Pasalnya, sebelum paranormal memberi saran, sudah lebih dari lima dokter ahli kandungan lokal maupun dari kota besar yang didatangkan, tapi tidak membuahkan hasil.
Untuk ikhtiar pengobatan yang tanpa hasil itu, ternyata telah meludeskan segalanya. Dua hektare sawah berikut ladang telah dijual. Menyusul perabotan di dalam rumah berikut perhiasan serta tabungan di bank. Ketika sudah tak punya apa-apa lagi, Ratinah maupun Imron memilih untuk berpasrah diri kepada Allah SWT.
Memasuki duapuluh bulan kemudian, ketika Ratinah sudah berada antara hidup dan mati, serta kondisi bangunan rumah yang kumuh tidak terurus, Imron dalam mimpinya bertemu seorang laki-laki renta mengenakan pakaian ala para sunan di era Wali Songo.
Laki-laki dengan raut muka memancarkan aura putih itu, menyarankan untuk laku tirakat di salah sebuah tempat keramat di wilayah Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon.
Tanpa banyak pertimbangan, saran laki-laki yang berpenampilan ala sunan dari mimpinya itu langsung dijalani. Tempat yang dituju itu, ternyata salah sebuah petilasan Ki Kuwu Sangkan sewaktu menjalankan laku tirakat beberapa abad silam.
Satu minggu sudah berlalu, dan Imron belum mendapatkan petunjuk apapun dalam tirakatnya. Tanpa pernah merasa putus asa, laku tirakatnya terus dilanjutkan hingga memasuki hari keempat puluh.
Pada malam keempat puluh satu, antara sadar dan tidak, di depan lutut Imron yang sedang berzikir seperti tersaji adegan drama yang teramat mencekam. Laki-laki yang pernah hadir dalam mimpinya itu, sedang menginjak dada laki-laki berpenampilan jawara. Laki-laki dengan mengenakan blangkon, baju kampret dan celana komprang warna hitam, dalam keadaan terlentang tak berdaya.
Menyaksikan adegan klimaks sebuah pertarungan itu, membuat Imron ternganga tanpa suara. Lantas, laki-laki ala sunan itu menanyakan identitas dan berbagai hal terhadap laki-laki jawara di bawah telapak kaki kanannya itu.
Dengan nada sangat ketakutan serta menderita, laki-laki itu menyebutkan jatidirinya. Ternyata dia makhluk alam gaib dengan digelari Pangeran Santet. Pangeran Santet itupun mengaku kalau selama duapuluh bulan ini terus menyiksa Ratinah dengan menggunakan ilmu Santet Rumput Rawa andalannya.
Pangeran Santet menuturkan proses serangan ilmu santetnya. Dimana rumput berlugut dari tengah rawa di sekitar pesisir Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon secara rutin dimasukkan secara gaib ke dalam rahim Ratinah. Karena itulah, dari alat vital Ratinah keluar nanah kental diiringi bau sangat busuk.
Atas desakan laki-laki ala sunan, sang Pangeran Santet bersedia menarik kembali ilmu santetnya dari raga Ratinah hingga sembuh seperti sediakala. Yang sangat mengejutkan, makhluk halus aliran hitam itu menyebutkan identitas orang yang telah memperalatnya untuk menyiksa Ratinah. Siapa lagi kalau bukan Sam.
Mendengar nama Sam disebut-sebut, tanpa sadar emosi Imron langsung memuncak. Sebelum Imron kalap dan histeris, laki-laki ala sunan itu mengangkat kakinya dari dada Pangeran Santet sekaligus menyuruh makhluk aliran hitam itu supaya pulang kembali ke asalnya.
Sepeninggalnya Pangeran Santet, laki-laki ala sunan itupun menyampaikan petuah bahwa apapun yang dia dengar tidak boleh dijadikan alat untuk membalas dendam.
Siapapun yang menanam pasti dia yang bakal memetik buahnya. Karena petuah itulah, Imron memilih pasrah. Terlebih lagi, secara menakjubkan, penyakit menjijikan itu sudah meninggalkan alat vital isterinya.
AKIBAT MAKAMNYA DIGANGGU JIN KAFIR, ARWAH MERTUAKU GENTAYANGAN
Penulis : M. IQBAL
Kisah mistis ini dialami oleh seorang pengusaha Showbiz Jakarta, sebutlah MN, yang hingga saat ini masih keliling Indonesia dan Malaysia dalam menjalankan roda usahanya di bidang entertainment....
Jantungku bergetar hebat tatkala kulihat sosok Bunda di bandara Hang Nadim, Batam, 16 Oktober 2005, pukul 10.45 WIB. Kemeja hijau, tutup kepala hijau muda, celana jin hitam ketat dan tas traveling bag louis vitton warna coklat di pundaknya. “Bunda...Bunda!” teriakku kepadanya, sambil bergegas menuju ke arahnya di pelataran bandara.
Bunda seperti tidak mendengar teriakanku. Kakinya yang lincah dengan cepat melangkah dan memasuki taksi warna biru dan terus melaju ke arah Nagoya. Aku memperkeras teriakanku, tapi Bunda dan sopir taksi itu tak bergeming, bahkan dengan cepat melesat keluar areal bandara Hang Nadim.
Aku segera menaiki taksi yang lain. Sayang, supir taksi yang kunaiki sudah berumur. Pria berkulit hitam dan berkeriput di bagian leher itu tak mampu mengejar taksi dengan nomor polisi BM 3344 AH yang ditumpangi Bunda. Ah, untunglah aku masih sempat melihat dan mencatat nomor ini. Kalau tidak, pastilah aku tak pernah bisa tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan Bunda.
Dengan berbekal nomor itu, aku menghubungi pool taksi yang dinaiki Bunda. Kepada petugas pool aku menanyakan identitas diri sopir taksi yang dinaiki Bunda. Ternyata taksi itu dikemudikan oleh seorang bernama Amir Syarifudin, warga Pasar Jodoh.
Ringkas cerita, oleh pihak manajemen taksi aku dipertemukan dengan Amir Syarifudin. Kudesak pria muda ini dengan ragam pertanyaan, intinya adalah di mana perempuan yang kumaksud sebagai Bunda itu diantarkannya.
“Di Nagoya Plaza, Pak!” Aku Pak Amir Syarifudin. Dia lalu menceritakan, saat di taksi Bunda tak bicara sepatah katapun, kecuali menyebut Nagoya Plaza. Setelah itu dia memberi uang Rp 100 ribu dan tidak minta kembalian. Padahal ongkos taksi hanya 45 ribu ruopiah. Jadi 55 ribu rupiah kelebihannya.
“Biasa, setelah mendrop penumpang ke tujuannya, saya segera jalan dan mencari penumpang lainnya!” Tambah Amir, pendek.
Setelah bertemu dengan Pak Amir, aku menuju Nagoya Plaza. Aku naik semua lantai dan memasuki semua ruang berikut counter yang ada. Tapi tak satupun tanda-tanda menunjukkan keberadaan Bunda di situ. Ribuan manusia yang ada di pusat perbelanjaan, tak nampak seujung kuku pun sosok Bunda di kerumunan itu.
Dengan lemas aku kembali ke tujuan utamaku. Aku segera menuju hotel La Paz di Bukit Kermunting. Pukul 17 petang aku akan meeting dengan panitia Sowbiz Jamz yang akan mengelar atraksi Hard Rock Grup Spectrum dari Negeri Jiran, Malaysia.
Sesampianya di La Paz kamar 5113 panthouse aku merebahkan diri dan melamunkan Bunda.
Bunda adalah mertuaku yang meninggal dunia pada l7 April 2005 lalu. Karena ada permintaan khusus, minta dimakamkan di Kuala Tual, Tanjungpinang, Riau Kepulauan. Sesuai dengan permintaannya, Bunda disemayamkan di pemakaman keluarga di Tual, 18 April 2005.
Tanggal 20 April pukul 19.30 malam, ada kabar buruk dari Tanjungpinang yang menyebut bahwa orang sekampung geger karena banyak yang mengaku berpapasan dengan Bunda. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Yang pasti, banyak yang menganggap kalau Bunda hidup lagi dan membuat geger kota kecil Kuala Tual.
Waktu itu Erni, mantan isteriku, segera menelpon dan meminta aku datang. Walau kami sudah bercerai sejak tahun 2001, hubungan kami masih sangat baik. Apalagi aku punya dua anak dari perkawinanku selama 10 tahun dengan Erni.
“Apa mungkin orang yang sudah mati hidup lagi, Bang? Masak beberapa saudara di Tual memberi tahu bahwa Bunda hidup lagi dan bergentayangan keliling kota. Malah warga bilang Bunda menjadi hantu. Benarkah hal begituan ada Bang?” Kata Erni dengan bertubi-tubi.
"Entahlah! Tapi aku rasa itu sangat mustahil," jawabku sambil menggeleng lemah.
Aku memang buta sama sekali dengan hal-hal yang berbau gaib. Untuk itu aku tak mampu memberi jawaban dan keterangan yang berarti guna memuaskan hati mantanku itu. Tapi yang jelas aku pernah mendengar sejak kecil bahwa ada orang mati yang hidup lagi dan menjadi hantu. Biasanya, mayat yang jadi hantu itu adalah mayat penjahat, pembunuh dan manusia yang punya superdosa dunia. Itulah hal yang kukatakan pada Erni.
“Tapi Bunda kan orang baik. Dia punya rasa kasih sayang yang besar sesama manusia. Jiwa sosialnya sangat tinggi dan gemar membantu orang-orang yang berada dalam kesulitan. Jangankan pada keluarga, pada orang lainpun Bunda sangat baik. Bahkan, sholatnya pun rajin sekali. Sembahyangnya, jika tidak lagi berhalangan, Bunda melakukan rutin lima waktu dan rajin sekali sembahyang sunnah. Bunda sangat mencintai keluarganya, tetangga dan teman-temannya di organisasi Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia IWAPI. Lantas, bagaimana mungkin arwahnya bisa gentayangan?" Sesal Erni dengan sorot mata menerawang jauh.
Seperti pandangan Erni tentang Bunda, aku pun tak begitu yakin Bunda arwahnya gentayangan. Soso yang mirip Bunda itu, pikirku, pastilah bukan arwah Bunda yang sebenarnya. Bisa saja setan yang meniru-niru Bunda, dengan maksud ingin menebar fitnah. Karena kemiripan itu, maka warga Tual mengira itu adalah Bunda. Lalu mereka mengatakan bahwa arwah Bunda gentayangan dan menjadi hantu.
Ah, aneh sekali, memang! Kusarankan pada Erni agar tidak terganggu dengan isyu yang amat musykil itu. Anggaplah cerita itu sebagai sebuah halusinasi atau hayalan yang tak pernah menjadi kenyataan. Bahkan katakanlah hal itu sebagai isapan jempol belaka.
Erni mengangguk. Erni mulai merasa tenang dan siap mental menghadapi isyu aneh dan irasional itu. Sejak itu Erni lebih berbesar hati, lebih taktis menanggai cerita demi cerita yang sampai di kupingnya. Tapi diam-diam, Erni selalu mengadakan pengajian warga kompleks di lingkungan tempat tinggalnya dan meminta ibu-ibu anggota pengajian mendoakan almarhumah ibunya dan membacakan surat Al Fatihah agar arwahnya di terima secara layak di sisi Allah dan menjadi salah seorang penghuni surga.
Hari ke hari, bulan ke bulan terus berlalu. Selain pikiran Erni mulai menjadi tenang, suara-suara miring tentang arwah Bunda yang gentayangan pun perlahan tapi pasti mulai memudar.
Bahkan, warga yang menyebarkan isu pertama kali di Tual tentang Bunda jadi hantu, meninggal dunia karena kecelakaan boat dan diduga pula arwahnya penasaran karena proses kematiannya yang mendadak dan tidak wajar. Fitnah, zalim, sombong, lalim, nyinyir dan pelit, itulah prilaku yang kemudian memungkinkan warga bernama Hartati itu menjadi sebab cerita mirinya setelah kematiannya . Arwahnya konon penasaran dan bergentayangan, bahkan kerap menakut-nakuti warga.
Tetapi soal arwah-arwah yang gentayangan ini, aku sama sekali sulit mempercayainya. Bukankah seorang yang telah mati putus hubungannya dengan dunia tempat kita hidup....?
***
Saat lamunanku melayang kepada Erni dan Bunda, tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. Keras sekali, sehingga membuat detak jantungku menjadi lebih cepat. Aku segera beranjak dan membuka pintu. Di sana berdiri seorang yang wajahnya tak asing lagi bagiku. Kuperhatikan sosok itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Sepatu lancip warga hitam berornamen berlian, celana jin ketat hitam, kemeja hijau dan tutup kepala hijau muda dengan tas Louis Vitton warnah coklat.
Bunda! Ya, itulah Bunda yang sedang menjadi lamunanku. Bunda berdiri kaku di hadapanku. Karena sulit percaya, mulutku tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Namun yang pasti, kulihat wajah Bunda nampak pucat dan matanya sangat kosong menatap ke mataku. Jantungku makin berdetak hebat dan tubuhku terasa “mati” seketika.
Takut! Ya, aku memang takut. Bahkan perasan ini bergelayut hebat dalam benakku manakala aku sadar kalau Bunda sudah lama tiada. Lalu, siapa yang berdiri di hadapanku ini?
Batinku bergejolak dan tengkukku merinding dengan keringat dingin yang mulai mengucur. Bayangkanku jauh pada Erni di Tual sana. Ya, bayangan itu sekali-kali berpindah pada warga Tual yang heboh dengan cerita kebangkitan arwah Bunda. Apa yang diramaikan orang, yang dipergunjingkan orang selama ini di Tual, mungkinkah benar adanya. Ya, Bunda benar-benar hidup lagi dan berada di depanku. Apa yang kuragukan, apa yang kusangsikan selama ini, ternyata berbeda. Bunda benar-benar ada dan kuyakini dia menjadi seperti apa yang orang Tual sebut.
Dengan sisa-sisa keberanianku, aku berusaha mengucapkan sesuatu pada Bunda. "A...apa kabar, Bunda? Mari, si...slakan masuk!" Demikian patahan kalimat yang mulncur gemetar dari mulutku.
Namun, Bunda tidak begeming. Jangankan berkata-kata, bergerak barang sejengkal pun tidak dilakukannya untukku. Dalam waktu sepersekian detik setelah sapaan terakhirku, Bunda malah menghilang seperti angin. Persis bagaikan spiritus dilalap api.
“Bunda, Bunda!” panggilku. Tapi Bunda tak nampak lagi. Dari ujung ke ujung lorong aku telusuri, Bunda tak ada di situ.
Jantungku makin bergetar hebat. Nyaliku makin ciut dan rasa takut semakin bergelayut, membuncah dahsyat dalam batinku. Aku segera masuk kamar dan menelpon ke front office. Aku minta supaya ada seorang security yang naik ke kamarku. Aku mau menceritakan apa yang kulihat dan rasa takut yang kualami.
Sebelum security datang, karena rasa takut yang teramat besar, aku jadi kepingin kencing. Tapi ada perasaan aman karena security sebentar lagi datang ke kamarku. Aku bergegas ke kamar mandi dan membuka pintu. Jantungku kembali berguncang hebat. Bunda berdiri di kamar mandi menghadap ke arahku. Kali ini aku berlari keluar dan meninggalkan kamar. Security bertemu aku di depan lift. Aku segera menarik tangannya dan menunjukkan keberadaan Bunda di kamar mandi.
Tapi sayang, Bunda tak ada lagi di kamar mandi. Security geleng kepala setelah kuceritakan keadaan yang kulihat tadi kepadanya.
“Maaf, mungkin bapak berhalusinasi tentang apa yang Bapak lihat. Tidak mungkin ada orang di kamar mandi, sebab pintu-pintu kamar do hotel ini selalu terkunci!” Paparnya dengan tegas.
Hari itu juga aku pindah kamar. Aku minta kamar lain dan minta ditemani seorang angota panitia setempat.
Setelah pertemuan sore, aku besama salah seorang anggota panitia yang mengawalku naik lagi ke kamar. Setelah membka pintu, anehnya bayangan Bunda ada lagi di kamar baruku. Dia duduk di sofa sambil memegang kipas batik warna coklat miliknya dulu. Pengawalku juga melihat sosok Bunda di sofa itu. Aku disuruhnya duduk dekat dia dan dia memintaku menyampaikan pesannya kepada anak-anaknya. Bunda minta dikubur ulang dan makamnya dibersihkan dari gangguan jin.
Setelah berpesan, Bunda menghilang entah ke mana. Setelah itu Bunda tak nampak lagi hingga acara showbiz selesai. Namun walau Bunda tidak ada, batinku tetap terguncang karena seumur hidup bari kali itu aku bertemu dengan orang mati yang hidup kembali.
Kusampaikan amanat Bunda kepada keluarganya. Setelah anak-anak Bunda sepakat, termasuk Erni, mantan istriku untuk membersihkan makam dan mengubur ulang, kami berangkat ke Tanjungpinang dari Jakarta. Bersama kami seorang ahli pengusir jin yang siap menyempurnakan pemakaman dan mengusir jin-jin jahat yang mengganggu arwah Bunda. Menurut si paranormal, jin-jin yang menghuni kuburan itu adalah jin yang suka mengganggu orang-orang mati agar arwahnya gentayangan.
“Jadi, arwah manusia yang gentayangan itu tidak selamanya orang jahat dan penghuni neraka yang ditolak alam barzah. Orang baik pun, bahkan ulama besar pun, bisa gentayangan arwahnya bila makamnya dihuni oleh jin-jin kafir yang jahat!” Jelas Ustadz Komarudin, ulama yang membersihakn makam Bunda.
Tahulah kami bahwa kasus arwah Bunda yang gentayangan, bukanlah gossip atau dongeng isapan jempol. Hal tersebut rupanya benar-benar nyata dan ada. Arwah Bunda benar-benar bergentayangan dan menjadi momok yang menakut-nakuti warga, termasuk aku, mantan menantunya.
Kami semua akhirnya percaya bahwa hal-hal gaib itu ada dan Allah terkadang menunjukkan seesuatu yang gaib itu dapat kasat mata dan berinteraksi dengan manusia yang hidup.
Kisah mistis ini dialami oleh seorang pengusaha Showbiz Jakarta, sebutlah MN, yang hingga saat ini masih keliling Indonesia dan Malaysia dalam menjalankan roda usahanya di bidang entertainment....
Jantungku bergetar hebat tatkala kulihat sosok Bunda di bandara Hang Nadim, Batam, 16 Oktober 2005, pukul 10.45 WIB. Kemeja hijau, tutup kepala hijau muda, celana jin hitam ketat dan tas traveling bag louis vitton warna coklat di pundaknya. “Bunda...Bunda!” teriakku kepadanya, sambil bergegas menuju ke arahnya di pelataran bandara.
Bunda seperti tidak mendengar teriakanku. Kakinya yang lincah dengan cepat melangkah dan memasuki taksi warna biru dan terus melaju ke arah Nagoya. Aku memperkeras teriakanku, tapi Bunda dan sopir taksi itu tak bergeming, bahkan dengan cepat melesat keluar areal bandara Hang Nadim.
Aku segera menaiki taksi yang lain. Sayang, supir taksi yang kunaiki sudah berumur. Pria berkulit hitam dan berkeriput di bagian leher itu tak mampu mengejar taksi dengan nomor polisi BM 3344 AH yang ditumpangi Bunda. Ah, untunglah aku masih sempat melihat dan mencatat nomor ini. Kalau tidak, pastilah aku tak pernah bisa tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan Bunda.
Dengan berbekal nomor itu, aku menghubungi pool taksi yang dinaiki Bunda. Kepada petugas pool aku menanyakan identitas diri sopir taksi yang dinaiki Bunda. Ternyata taksi itu dikemudikan oleh seorang bernama Amir Syarifudin, warga Pasar Jodoh.
Ringkas cerita, oleh pihak manajemen taksi aku dipertemukan dengan Amir Syarifudin. Kudesak pria muda ini dengan ragam pertanyaan, intinya adalah di mana perempuan yang kumaksud sebagai Bunda itu diantarkannya.
“Di Nagoya Plaza, Pak!” Aku Pak Amir Syarifudin. Dia lalu menceritakan, saat di taksi Bunda tak bicara sepatah katapun, kecuali menyebut Nagoya Plaza. Setelah itu dia memberi uang Rp 100 ribu dan tidak minta kembalian. Padahal ongkos taksi hanya 45 ribu ruopiah. Jadi 55 ribu rupiah kelebihannya.
“Biasa, setelah mendrop penumpang ke tujuannya, saya segera jalan dan mencari penumpang lainnya!” Tambah Amir, pendek.
Setelah bertemu dengan Pak Amir, aku menuju Nagoya Plaza. Aku naik semua lantai dan memasuki semua ruang berikut counter yang ada. Tapi tak satupun tanda-tanda menunjukkan keberadaan Bunda di situ. Ribuan manusia yang ada di pusat perbelanjaan, tak nampak seujung kuku pun sosok Bunda di kerumunan itu.
Dengan lemas aku kembali ke tujuan utamaku. Aku segera menuju hotel La Paz di Bukit Kermunting. Pukul 17 petang aku akan meeting dengan panitia Sowbiz Jamz yang akan mengelar atraksi Hard Rock Grup Spectrum dari Negeri Jiran, Malaysia.
Sesampianya di La Paz kamar 5113 panthouse aku merebahkan diri dan melamunkan Bunda.
Bunda adalah mertuaku yang meninggal dunia pada l7 April 2005 lalu. Karena ada permintaan khusus, minta dimakamkan di Kuala Tual, Tanjungpinang, Riau Kepulauan. Sesuai dengan permintaannya, Bunda disemayamkan di pemakaman keluarga di Tual, 18 April 2005.
Tanggal 20 April pukul 19.30 malam, ada kabar buruk dari Tanjungpinang yang menyebut bahwa orang sekampung geger karena banyak yang mengaku berpapasan dengan Bunda. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Yang pasti, banyak yang menganggap kalau Bunda hidup lagi dan membuat geger kota kecil Kuala Tual.
Waktu itu Erni, mantan isteriku, segera menelpon dan meminta aku datang. Walau kami sudah bercerai sejak tahun 2001, hubungan kami masih sangat baik. Apalagi aku punya dua anak dari perkawinanku selama 10 tahun dengan Erni.
“Apa mungkin orang yang sudah mati hidup lagi, Bang? Masak beberapa saudara di Tual memberi tahu bahwa Bunda hidup lagi dan bergentayangan keliling kota. Malah warga bilang Bunda menjadi hantu. Benarkah hal begituan ada Bang?” Kata Erni dengan bertubi-tubi.
"Entahlah! Tapi aku rasa itu sangat mustahil," jawabku sambil menggeleng lemah.
Aku memang buta sama sekali dengan hal-hal yang berbau gaib. Untuk itu aku tak mampu memberi jawaban dan keterangan yang berarti guna memuaskan hati mantanku itu. Tapi yang jelas aku pernah mendengar sejak kecil bahwa ada orang mati yang hidup lagi dan menjadi hantu. Biasanya, mayat yang jadi hantu itu adalah mayat penjahat, pembunuh dan manusia yang punya superdosa dunia. Itulah hal yang kukatakan pada Erni.
“Tapi Bunda kan orang baik. Dia punya rasa kasih sayang yang besar sesama manusia. Jiwa sosialnya sangat tinggi dan gemar membantu orang-orang yang berada dalam kesulitan. Jangankan pada keluarga, pada orang lainpun Bunda sangat baik. Bahkan, sholatnya pun rajin sekali. Sembahyangnya, jika tidak lagi berhalangan, Bunda melakukan rutin lima waktu dan rajin sekali sembahyang sunnah. Bunda sangat mencintai keluarganya, tetangga dan teman-temannya di organisasi Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia IWAPI. Lantas, bagaimana mungkin arwahnya bisa gentayangan?" Sesal Erni dengan sorot mata menerawang jauh.
Seperti pandangan Erni tentang Bunda, aku pun tak begitu yakin Bunda arwahnya gentayangan. Soso yang mirip Bunda itu, pikirku, pastilah bukan arwah Bunda yang sebenarnya. Bisa saja setan yang meniru-niru Bunda, dengan maksud ingin menebar fitnah. Karena kemiripan itu, maka warga Tual mengira itu adalah Bunda. Lalu mereka mengatakan bahwa arwah Bunda gentayangan dan menjadi hantu.
Ah, aneh sekali, memang! Kusarankan pada Erni agar tidak terganggu dengan isyu yang amat musykil itu. Anggaplah cerita itu sebagai sebuah halusinasi atau hayalan yang tak pernah menjadi kenyataan. Bahkan katakanlah hal itu sebagai isapan jempol belaka.
Erni mengangguk. Erni mulai merasa tenang dan siap mental menghadapi isyu aneh dan irasional itu. Sejak itu Erni lebih berbesar hati, lebih taktis menanggai cerita demi cerita yang sampai di kupingnya. Tapi diam-diam, Erni selalu mengadakan pengajian warga kompleks di lingkungan tempat tinggalnya dan meminta ibu-ibu anggota pengajian mendoakan almarhumah ibunya dan membacakan surat Al Fatihah agar arwahnya di terima secara layak di sisi Allah dan menjadi salah seorang penghuni surga.
Hari ke hari, bulan ke bulan terus berlalu. Selain pikiran Erni mulai menjadi tenang, suara-suara miring tentang arwah Bunda yang gentayangan pun perlahan tapi pasti mulai memudar.
Bahkan, warga yang menyebarkan isu pertama kali di Tual tentang Bunda jadi hantu, meninggal dunia karena kecelakaan boat dan diduga pula arwahnya penasaran karena proses kematiannya yang mendadak dan tidak wajar. Fitnah, zalim, sombong, lalim, nyinyir dan pelit, itulah prilaku yang kemudian memungkinkan warga bernama Hartati itu menjadi sebab cerita mirinya setelah kematiannya . Arwahnya konon penasaran dan bergentayangan, bahkan kerap menakut-nakuti warga.
Tetapi soal arwah-arwah yang gentayangan ini, aku sama sekali sulit mempercayainya. Bukankah seorang yang telah mati putus hubungannya dengan dunia tempat kita hidup....?
***
Saat lamunanku melayang kepada Erni dan Bunda, tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. Keras sekali, sehingga membuat detak jantungku menjadi lebih cepat. Aku segera beranjak dan membuka pintu. Di sana berdiri seorang yang wajahnya tak asing lagi bagiku. Kuperhatikan sosok itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Sepatu lancip warga hitam berornamen berlian, celana jin ketat hitam, kemeja hijau dan tutup kepala hijau muda dengan tas Louis Vitton warnah coklat.
Bunda! Ya, itulah Bunda yang sedang menjadi lamunanku. Bunda berdiri kaku di hadapanku. Karena sulit percaya, mulutku tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Namun yang pasti, kulihat wajah Bunda nampak pucat dan matanya sangat kosong menatap ke mataku. Jantungku makin berdetak hebat dan tubuhku terasa “mati” seketika.
Takut! Ya, aku memang takut. Bahkan perasan ini bergelayut hebat dalam benakku manakala aku sadar kalau Bunda sudah lama tiada. Lalu, siapa yang berdiri di hadapanku ini?
Batinku bergejolak dan tengkukku merinding dengan keringat dingin yang mulai mengucur. Bayangkanku jauh pada Erni di Tual sana. Ya, bayangan itu sekali-kali berpindah pada warga Tual yang heboh dengan cerita kebangkitan arwah Bunda. Apa yang diramaikan orang, yang dipergunjingkan orang selama ini di Tual, mungkinkah benar adanya. Ya, Bunda benar-benar hidup lagi dan berada di depanku. Apa yang kuragukan, apa yang kusangsikan selama ini, ternyata berbeda. Bunda benar-benar ada dan kuyakini dia menjadi seperti apa yang orang Tual sebut.
Dengan sisa-sisa keberanianku, aku berusaha mengucapkan sesuatu pada Bunda. "A...apa kabar, Bunda? Mari, si...slakan masuk!" Demikian patahan kalimat yang mulncur gemetar dari mulutku.
Namun, Bunda tidak begeming. Jangankan berkata-kata, bergerak barang sejengkal pun tidak dilakukannya untukku. Dalam waktu sepersekian detik setelah sapaan terakhirku, Bunda malah menghilang seperti angin. Persis bagaikan spiritus dilalap api.
“Bunda, Bunda!” panggilku. Tapi Bunda tak nampak lagi. Dari ujung ke ujung lorong aku telusuri, Bunda tak ada di situ.
Jantungku makin bergetar hebat. Nyaliku makin ciut dan rasa takut semakin bergelayut, membuncah dahsyat dalam batinku. Aku segera masuk kamar dan menelpon ke front office. Aku minta supaya ada seorang security yang naik ke kamarku. Aku mau menceritakan apa yang kulihat dan rasa takut yang kualami.
Sebelum security datang, karena rasa takut yang teramat besar, aku jadi kepingin kencing. Tapi ada perasaan aman karena security sebentar lagi datang ke kamarku. Aku bergegas ke kamar mandi dan membuka pintu. Jantungku kembali berguncang hebat. Bunda berdiri di kamar mandi menghadap ke arahku. Kali ini aku berlari keluar dan meninggalkan kamar. Security bertemu aku di depan lift. Aku segera menarik tangannya dan menunjukkan keberadaan Bunda di kamar mandi.
Tapi sayang, Bunda tak ada lagi di kamar mandi. Security geleng kepala setelah kuceritakan keadaan yang kulihat tadi kepadanya.
“Maaf, mungkin bapak berhalusinasi tentang apa yang Bapak lihat. Tidak mungkin ada orang di kamar mandi, sebab pintu-pintu kamar do hotel ini selalu terkunci!” Paparnya dengan tegas.
Hari itu juga aku pindah kamar. Aku minta kamar lain dan minta ditemani seorang angota panitia setempat.
Setelah pertemuan sore, aku besama salah seorang anggota panitia yang mengawalku naik lagi ke kamar. Setelah membka pintu, anehnya bayangan Bunda ada lagi di kamar baruku. Dia duduk di sofa sambil memegang kipas batik warna coklat miliknya dulu. Pengawalku juga melihat sosok Bunda di sofa itu. Aku disuruhnya duduk dekat dia dan dia memintaku menyampaikan pesannya kepada anak-anaknya. Bunda minta dikubur ulang dan makamnya dibersihkan dari gangguan jin.
Setelah berpesan, Bunda menghilang entah ke mana. Setelah itu Bunda tak nampak lagi hingga acara showbiz selesai. Namun walau Bunda tidak ada, batinku tetap terguncang karena seumur hidup bari kali itu aku bertemu dengan orang mati yang hidup kembali.
Kusampaikan amanat Bunda kepada keluarganya. Setelah anak-anak Bunda sepakat, termasuk Erni, mantan istriku untuk membersihkan makam dan mengubur ulang, kami berangkat ke Tanjungpinang dari Jakarta. Bersama kami seorang ahli pengusir jin yang siap menyempurnakan pemakaman dan mengusir jin-jin jahat yang mengganggu arwah Bunda. Menurut si paranormal, jin-jin yang menghuni kuburan itu adalah jin yang suka mengganggu orang-orang mati agar arwahnya gentayangan.
“Jadi, arwah manusia yang gentayangan itu tidak selamanya orang jahat dan penghuni neraka yang ditolak alam barzah. Orang baik pun, bahkan ulama besar pun, bisa gentayangan arwahnya bila makamnya dihuni oleh jin-jin kafir yang jahat!” Jelas Ustadz Komarudin, ulama yang membersihakn makam Bunda.
Tahulah kami bahwa kasus arwah Bunda yang gentayangan, bukanlah gossip atau dongeng isapan jempol. Hal tersebut rupanya benar-benar nyata dan ada. Arwah Bunda benar-benar bergentayangan dan menjadi momok yang menakut-nakuti warga, termasuk aku, mantan menantunya.
Kami semua akhirnya percaya bahwa hal-hal gaib itu ada dan Allah terkadang menunjukkan seesuatu yang gaib itu dapat kasat mata dan berinteraksi dengan manusia yang hidup.
AKIBAT ILMU SANTET BURUNG, BIKIN SAKIT GIGI WARGA SEKAMPUNG
Penulis : YUSMADANI ART
Kisah ini dialami oleh banyak warga Desa Blang Preh, Kec. Seunagan Timur, Kab. Nagan Raya, NAD. Dituturkan oleh Mudin, salah seorang warga yang kerap menderita sakit gigi. Berikut ini petikan kisah mistis yang berhasil direkam....
Suatu pagi November 2005, saat musim durian. Penulis sengaja pergi ke Desa Blang Preh. Maksudnya sekedar untuk membeli durian murah pada warga desa. Lumayanlah, dibanding harga di pasar Kota Jeurum memang jauh berbeda. Dengan uang Rp 10.000 bisa dapat tiga buah dan lumayan besar. Jika beli dikota paling dapat 2 buah. Hitung-hitung buat menghemat sedikit. Toh, tempat tinggal Penulis dengan Desa Blang Preh tidak terlalu jauh, cuma 2 km saja.
Saat itu, Penulis baru saja tiba di jalan kaki bukit desa yang menuju ke atas, dimana kebun durian warga desa banyak terdapat di sana. Kebun durian yang diwariskan turun-temurun ini, jika sudah musimnya banyak dikunjungi warga desa lain.
Setelah mendaki jalan ke bukit itu, Penulis berpapasan dengan Mudin, wara asli Desa Blang Preh. Karena capek, Penulis duduk dipinggir jurang, tepatnya di bawah pohon durian yang lumayan rindang namun buahnya sudah agak jarang.
Mudin pun ikut menemani. Sambil menyulut rokok kretek, Mudin dan Penulis mengobrol kesana kemari. Sampai akhirnya terkuaklah kisah yang rada nyeleneh ini..
Kisahnya, sejak beberapa tahun lalu. saat Darurat Militer pertama diterapkan di bumi Aceh, puluhan warga Desa Blang Preh baik tua muda, serta anak-anak didera penyakit sakit gigi. Anehnya, jika seorang warga mulai sakit gigi, pasti besoknya akan ada yang lain lagi yang menderita sakit yang sama.
"Begitulah kejadiannya, hingga setengah warga desa mengidap sakit gigi dalam waktu hampir bersamaan," ujar Mudin.
Penulis tak percaya dengan kisah yang dituturkan Mudin. Namun dia memperlihatkan seluruh gigi depannya pada copot semua, padahal usia Mudin masih 25 tahun.
Tak sampai disitu, Mudin juga menyebutkan puluhan nama lainnya yang bernasib sama seperti dirinya. Diantara nama-nama tersebut, ada beberapa gadis desa yang cantik-cantik, yang kemudian juga harus rela kehilangan gigi depannya. Dikatakan, kenyataan aneh ini terjadi karena ilmu hitam yang disebut Santet Burung.
Waktu itu, santet ini sengaja ditebarkan oleh seorang dukun pemuja Ilmu Burung Tujuh. Namanya SA, kakek berusia sekitar 65 tahun ini memang dalangnya.
Rumahnya terletak diatas bukit di Desa Blang Preh. Kerjaannya tidak ada, hanya sebagai buruh tani biasa. Dengan profesi dukunnya, dia paling ditakuti warga. Soalnya SA dikenal jahat. Sedikit saja punya masalah dengannya, lawannya bisa dibuat sakit berat dalam semalam. Bahkan banyak diantaranya yang meninggal dunia.
Strategi dukun SA menyebarkan penyakit sakit gigi massal ini bukan tanpa asalan. Maksudnya, si penderita sakit gigi ini tentu akan datang berobat padanya. Dengan demikian, dia bisa panen uang atau barang, sebab si pasien yang berobat padanya tentu membawa buah tangan baik berupa rokok maupun barang lainnya. Bayangkan jika ada 20-30 orang yang berobat padanya dalam sehari, sudah tentu banyak pemasukannya.
Tak hanya warga Desa Blang Preh saja, warga tiga desa sekitar juga mengalami hal serupa. Terkadang tidak berupa sakit gigi, tetapi berupa penyakit aneh lainnya. Namun, warga enggan berobat pada dukun SA. Alasannya, jika sembuh pasti bulan depan kambuh lagi. Ini karena si dukun SA menerapkan sistem mata rantai pengobatan terhadap si pasien agar pemasukan uang rokoknya tidak pernah putus.
Penasaran dengan sosok dukun SA ini, Penulis minta pada Mudin untuk diperkenalkan dengannya. Dengan wajah ketakutan, Mudin minta pada Penulis agar tidak menyebut atau mengatakan sesuatu tentang dia. Karena SA pasti tahu apa yang sedang dibicarakan, meski dia ada di rumah maupun tempat lain. Penulis tersenyum geli mendengar penuturan ini, Mudin pun keheranan
"Lho, kenapa mesti takut padanya? Dia manusia juga sama seperti kita, yang perlu kita takutkan itu cuma satu Allah SWT!" ujar Misteri.
Mendengar ini, Mudin pun timbul keberaniannya. Berdalih untuk menemani Penulis mencari durian. Mudin mengajak jalan-jalan hampir di seluruh kampung. Akhirnya sampai juga di sebuah rumah kecil berdinding papan yang sudah lapuk.
Dari dalam keluar seorang lelaki tua berwajah pucat, rambut ubanan, baju sedikit kotor. Penulis mengucapkan salam. "Assalammu'alaikum.!" Namun, bapak itu tidak menjawabnya, malah memalingkan muka kearah lain. Mudin mencubit lengan Penulis sambil berbisik kalau dialah si dukun SA.
Tahu dialah dalang santet, Penulis mengajaknya ngobrol. Namun, dia mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Tak heran pula, jika terlihat dia sering bicara sendiri. Seakan sedang bicara dengan jin pemujaannya. Tak jelas memang, sesekali terdengar ditelinga Penulis dia berujar, "Tidak apa-apa....kamu diam saja!" Penulispun tak tahu maksud dari ocehannya itu.
Masih menurut Mudin, jika si dukun SA sudah mulai keliling desa, maka itu pertanda akan ada penyakit massal. Hal ini sudah sering kali dia lihat bersama warga desa lainnya.
Kisah ini dialami oleh banyak warga Desa Blang Preh, Kec. Seunagan Timur, Kab. Nagan Raya, NAD. Dituturkan oleh Mudin, salah seorang warga yang kerap menderita sakit gigi. Berikut ini petikan kisah mistis yang berhasil direkam....
Suatu pagi November 2005, saat musim durian. Penulis sengaja pergi ke Desa Blang Preh. Maksudnya sekedar untuk membeli durian murah pada warga desa. Lumayanlah, dibanding harga di pasar Kota Jeurum memang jauh berbeda. Dengan uang Rp 10.000 bisa dapat tiga buah dan lumayan besar. Jika beli dikota paling dapat 2 buah. Hitung-hitung buat menghemat sedikit. Toh, tempat tinggal Penulis dengan Desa Blang Preh tidak terlalu jauh, cuma 2 km saja.
Saat itu, Penulis baru saja tiba di jalan kaki bukit desa yang menuju ke atas, dimana kebun durian warga desa banyak terdapat di sana. Kebun durian yang diwariskan turun-temurun ini, jika sudah musimnya banyak dikunjungi warga desa lain.
Setelah mendaki jalan ke bukit itu, Penulis berpapasan dengan Mudin, wara asli Desa Blang Preh. Karena capek, Penulis duduk dipinggir jurang, tepatnya di bawah pohon durian yang lumayan rindang namun buahnya sudah agak jarang.
Mudin pun ikut menemani. Sambil menyulut rokok kretek, Mudin dan Penulis mengobrol kesana kemari. Sampai akhirnya terkuaklah kisah yang rada nyeleneh ini..
Kisahnya, sejak beberapa tahun lalu. saat Darurat Militer pertama diterapkan di bumi Aceh, puluhan warga Desa Blang Preh baik tua muda, serta anak-anak didera penyakit sakit gigi. Anehnya, jika seorang warga mulai sakit gigi, pasti besoknya akan ada yang lain lagi yang menderita sakit yang sama.
"Begitulah kejadiannya, hingga setengah warga desa mengidap sakit gigi dalam waktu hampir bersamaan," ujar Mudin.
Penulis tak percaya dengan kisah yang dituturkan Mudin. Namun dia memperlihatkan seluruh gigi depannya pada copot semua, padahal usia Mudin masih 25 tahun.
Tak sampai disitu, Mudin juga menyebutkan puluhan nama lainnya yang bernasib sama seperti dirinya. Diantara nama-nama tersebut, ada beberapa gadis desa yang cantik-cantik, yang kemudian juga harus rela kehilangan gigi depannya. Dikatakan, kenyataan aneh ini terjadi karena ilmu hitam yang disebut Santet Burung.
Waktu itu, santet ini sengaja ditebarkan oleh seorang dukun pemuja Ilmu Burung Tujuh. Namanya SA, kakek berusia sekitar 65 tahun ini memang dalangnya.
Rumahnya terletak diatas bukit di Desa Blang Preh. Kerjaannya tidak ada, hanya sebagai buruh tani biasa. Dengan profesi dukunnya, dia paling ditakuti warga. Soalnya SA dikenal jahat. Sedikit saja punya masalah dengannya, lawannya bisa dibuat sakit berat dalam semalam. Bahkan banyak diantaranya yang meninggal dunia.
Strategi dukun SA menyebarkan penyakit sakit gigi massal ini bukan tanpa asalan. Maksudnya, si penderita sakit gigi ini tentu akan datang berobat padanya. Dengan demikian, dia bisa panen uang atau barang, sebab si pasien yang berobat padanya tentu membawa buah tangan baik berupa rokok maupun barang lainnya. Bayangkan jika ada 20-30 orang yang berobat padanya dalam sehari, sudah tentu banyak pemasukannya.
Tak hanya warga Desa Blang Preh saja, warga tiga desa sekitar juga mengalami hal serupa. Terkadang tidak berupa sakit gigi, tetapi berupa penyakit aneh lainnya. Namun, warga enggan berobat pada dukun SA. Alasannya, jika sembuh pasti bulan depan kambuh lagi. Ini karena si dukun SA menerapkan sistem mata rantai pengobatan terhadap si pasien agar pemasukan uang rokoknya tidak pernah putus.
Penasaran dengan sosok dukun SA ini, Penulis minta pada Mudin untuk diperkenalkan dengannya. Dengan wajah ketakutan, Mudin minta pada Penulis agar tidak menyebut atau mengatakan sesuatu tentang dia. Karena SA pasti tahu apa yang sedang dibicarakan, meski dia ada di rumah maupun tempat lain. Penulis tersenyum geli mendengar penuturan ini, Mudin pun keheranan
"Lho, kenapa mesti takut padanya? Dia manusia juga sama seperti kita, yang perlu kita takutkan itu cuma satu Allah SWT!" ujar Misteri.
Mendengar ini, Mudin pun timbul keberaniannya. Berdalih untuk menemani Penulis mencari durian. Mudin mengajak jalan-jalan hampir di seluruh kampung. Akhirnya sampai juga di sebuah rumah kecil berdinding papan yang sudah lapuk.
Dari dalam keluar seorang lelaki tua berwajah pucat, rambut ubanan, baju sedikit kotor. Penulis mengucapkan salam. "Assalammu'alaikum.!" Namun, bapak itu tidak menjawabnya, malah memalingkan muka kearah lain. Mudin mencubit lengan Penulis sambil berbisik kalau dialah si dukun SA.
Tahu dialah dalang santet, Penulis mengajaknya ngobrol. Namun, dia mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Tak heran pula, jika terlihat dia sering bicara sendiri. Seakan sedang bicara dengan jin pemujaannya. Tak jelas memang, sesekali terdengar ditelinga Penulis dia berujar, "Tidak apa-apa....kamu diam saja!" Penulispun tak tahu maksud dari ocehannya itu.
Masih menurut Mudin, jika si dukun SA sudah mulai keliling desa, maka itu pertanda akan ada penyakit massal. Hal ini sudah sering kali dia lihat bersama warga desa lainnya.
AKIBAT ILMU PANJANG UMUR SULIT MENYONGSONG AJAL
Penulis : BENNY ROSANO
Kisah mistis ini dialami oleh seorang nenek renta berusia 77 tahun. Akibat kekuatan Ilmu Panjang Umur yang bersarang dalam tubuhnya, dia sulit menyongsong ajal. Bahkan, dua kali dinyatakan mati, namun hidup kembali....
Janda seorang veteran itu terbaring di atas kasur empuk bersprai kain putih. Sudah cukup lama dia terbaring lemang di ruang perawatan sebuah rumah sakit milik pemerintah daerah itu. Suhu tubuhnya yang kurung kering di atas normal. Bahkan jauh dari kewajaran. Ya, sejak pertama kali masuk opname, suhu itu belum juga menurun.
Kondisi tubuhnya yang sangat lemah dan kurus kering membuatnya nyaris seperti mayat hidup. Jangankan untuk berjalan, berdiri tegak bertumpu di atas kedua belah kakinya saja tak mampu lagi dilakukan.
Penanganan secara medis yang telah dilakukan dokter ahli dan spesialis di rumah sakit itu hampir tak memberikan efek apa pun. Memang, sejak awal ditemukan gejala penyakit komplikasi, yang sesungguhnya disebabkan oleh faktor usia belaka.
Maunah, demikian orang memanggilnya. Setelah tiga hari keluarganya memutuskan membawanya pulang dari rumah sakit, nenek berusia 77 tahun ini penyakitnya bertambah gawat. Namun, dia menolak untuk kembali rawat inap di rumah sakit. Dia lebih menghendaki untuk beristirahat di rumahnya sendiri, dan dirawat oleh sanak familinya yang berada di tanah kelahirannya.
Atas permintaannya, diboyonglah Maunah ke tempat yang dimaksud, yakni ke kampung halamannya. Namun, setelah sebulan lamanya berada di desa ini, kondisi Maunah semakin memprihatinkan. Bahkan keadaannya semakin lama semakin mengkhawatirkan. Saluran pernafasan yang terganggu oleh suatu cairan, membuat Maunah sulit untuk menghirup dan menghembuskan nafas. Walau demikian, keinginan untuk terus hidup sangat besar. Ini terbukti dengan masuknya beberapa obat dan beberapa sendok makanan berupa bubur ke dalam mulutnya, meski dia harus susah payah melakukan hal ini.
Hingga sampailah pada suatu malam. Maunah dinyatakan koma. Hembusan nafasnya yang mengeluarkan bunyi mirip orang mendengkur itu menambah kecemasan keluarga. Yang lebih panik lagi, ketika suara nafasnya yang sangat jelas, tiba-tiba hilang dari pendengaran. Bahkan tubuh renta ini yang selalu panas mendadak berubah dingin. Terutama di telapak tangan dan kakinya. Apakah Maunah telah pergi menghadap Illahi?
Untuk meyakinkan keadaannya, seorang kerabat memegang denyut nadinya. Astaga! Tak ada lagi tanda-tanda detak jantung dan nadinya. Mendapatkan keadaan ini, tak pelak, isak tangis memecah keheningan menjelang malam itu.
Berita dukapun tersebar ke warga sekitar. Namun keanehan terjadi dengan tiba-tiba. Setelah hampir setengah jam Maunah dinyatakan meninggal, dengan tubuh rentanya yang terbujur kaku dan telah diselimuti kain batik, seperti layaknya orang yang telah menjadi mayat, namun tiba-tiba saja suara nafasnya terdengar kembali.
Keadaan yang di luar kelajiman ini tentu saja membuat orang-orang yang tengah bertakziah dibuat terheran-heran. Mereka sulit percaya, mengapa nenek yang telah meninggal itu tiba-tiba kembali terdengar tarikan nafasnya? Ringkasnya, nenek yang berusia lanjut itu hidup lagi.
Berita ini amat menggemparkan warga. Nenek Maunah benar-benar hidup kembali. Bahkan setelah satu hari peristiwa tersebut, dalam Maunah kondisi yang masih lemah, si nenek membisikkan sesuatu di telinga Rumini, anak perempuannya yang paling tua. Rupanya, Maunah ingin menceritakan apa yang telah dialaminya. Bahwa peristiwa yang menimpa dirinya.
"Aku belum mati, Rum?" Dia bertanya dengan suara serak. Rumini hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Ya, aku memang belum mati...." Lanjut Maunah sambil kemudian menceritakan bahwa ketika orang-orang menganggapnya telah mati, dia sendiri merasa telah didatangi oleh kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal. Mereka mengajaknya pergi. Namun aneh, selama perjalanan tersebut Maunah selalu berada dibelakang mereka. Bahkan sepertinya dia memang sengaja ditinggalkannya.
Karena merasa lelah, Maunah meminta kepada kedua orang tuanya untuk beristirahat, tapi permohonannya ditolak oleh mereka.
"Nak, kuatkanlah dirimu! Sebentar lagi kita akan mencapai tempat tujuan," kata ayahnya.
"Tapi aku benar-benar tak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan ini, Pak! Sebenarnya kita akan pergi kemana?" Tanya Maunah.
"Lho, bukankah kau ingin pergi ke suatu tempat dimana kedamaian itu berada?" Kembali ayahnya berkata.
"Iya, tapi di mana tempatnya?" Protes Maunah.
"Itu, tempat yang dimaksud sudah terlihat, Nal!" Sahut Ibunya sembari menunjuk ke sebuah bukit. Anehnya, di bukit tersebut terdapat cahaya terang benderang dengan warna yang didominasi oleh warna orange dan violet.
Maunah amat terpesona melihat keindahan bukit itu. Namun ketika dia mencoba bangkit, sekujur tubuhnya lemas tak bertenaga. "Maafkan saya, sepertinya saya tak kuat lagi berjalan. Apalagi untuk menaiki bukit tersebut," lirih Maunah.
"Ooo...kalau begitu kamu belum siap. Ya sudah, kamu tetap disitu nanti Bapak dan Ibumu akan kembali menjemputmu," tutur sang ayah.
Karena tak sanggup lagi meneruskan perjalanan, Maunah yang pada saat itu duduk di bawah sebuah pohon, tiba-tiba tak sadarkan diri. Seiring dengan itu pula maka lenyaplah kedua orang tuanya. Namun, setelah siuman, Maunah dikejutkan dengan sehelai kain batik yang menyelimuti sekujur tubunya.
Keterkejutannya berlanjut dengan suara ayat-ayat suci yang dibacakan oleh orang-orang yang berada di samping kiri kanan tubuhnya.
Maunah yang terbujur kaku, karena merasa penasaran, meski dalam keadaan yang masih lemah, dengan pelan mengangkat tangannya untuk menyibakkan kain yang menutupi wajahnya. Hal ini, sudah barang tentu membuat keterkejutan orang-orang yang ada pada malam itu.
Setelah peristiwa mati suri tersebut kondisi Maunah memang tidak berubah membaik. Kesehatannya malah semakin mengkhawatirkan. Bahkan lebih parah dari sakitnya terdahlu.
Beberapa ahli medis dan orang pintar yang sempat didatangkan guna penyembuhan sang nenek, tak ada satupun yang membuahkan hasil. Semua keluarga gelisah dan prihatin. Namun melihat usia Maunah yang sudah sangat ujur, mereka sebenarnya telah bersiap untuk menerima kenyataan yang terburuk sekalipun. Ya, andai Tuhan menghendaki kematian Maunah, hal tersebut sudah sewajarnya karena memang usianya yang sudah sedemikian sepuh.
Namun, sang ajal sepertinya masih enggan mendekat. Maunah yang terbujur kaku itu masih tetap terdengar suara tarikan nafasnya. Akan tetapi keadaannya sudah sangat buruk. Jangankan untuk menelan sesuap makanan, untuk menelan air pun harus susah payah. Bahkan untuk bernafas, menghirup dan menghembuskan udara, dia hanya bisa melakukannya dengan satu cara, yakni hanya melalui mulutnya yang menganga.
Sampailah pada suatu hari, sudah tak terlihat ada lagi tanda-tanda kehidupan pada diri Maunah. Nafasnya terhenti, demikian juga dengan denyut nadinya. Ditambah lagi, badannya yang terasa dingin dan beku bagaikan segumpal es. Semua kenyataan ini cukup untuk meyakini bahwa Maunah, untuk kali ini memang benar-benar sudah meninggal.
Kendati demikian, salah seorang kerabat dekatnya yang sepertinya mengerti tentang ilmu gaib, meminta agar kematian si nenek jangan disebarluaskan terlebih dahulu. Dia khawatir peristiwa serupa akan terulang kembali.
Memang, kekhawatiran itu kembali terjadi. Setelah 30 menit berlalu, tiba-tiba dadanya terlihat suatu gerakan nafas, yang menandakan adanya kehidupan. Bahkan tak dinyana, mata Maunah sedikit demi sedikit terbuka kembali. Bahkan keanehan terjadi. Saluran pernafasannya yang selama ini terganggu, tiba-tiba seperti telah sembuh. Ya, Maunah dapat menghirup dan menghembuskan nafasnya dengan leluasa, tanpa disertai suara seperti dengkuran.
Bahkan tak hanya itu. Lepas satu jam setelah sadar, Maunah minta dibuatkan bubur ayam. Semua yang hadir dibuat keheranan, sebab selera makanannya sudah sangat baik. Sedikit demi sedikit makanan berupa bubur itu masuk ke dalam perutnya.
Melihat perkembangan yang drastis ini, keluarga menganggap bahwa Maunah telah mendapat mukjizat. Meski merasa aneh, tak urung hal ini membuat keluarga merasa lega dan membawa kebahagian tersendiri.
Begitulah kehendak Tuhan. Tak ada satupun manusia yang tahu apa yang telah direncanakanNya. Setelah kurang lebih dua hari kondisinya membaik, Maunah kembali tak sadarkan diri. Bahkan kali ini benar-benar koma. Matanya terpejam rapat, bahkan organ tubuhnya sepertinya tak ada lagi yang berfungsi. Namun, tarikan nafasnya masih ada meski nampak sangat jarang. Inilah yang menyebabkan keyakinan bahwa Maunah memang belum mati.
Ketika dibisikan asma Allah dan diperdengarkan bacaan Istigfar di telinganya agar dia mengikutinya, Maunah sama sekali tak meresponnya. Berdasarkan pemeriksaan dokter yang sengaja didatangkan, dinyatakan bahwa Maunah tinggal menunggu waktunya.
Mendengar pernyataan dokter, keluarga Maunah menerimanya dengan lapang dada. Mereka telah ikhlas melepaskannya. Namun yang membuat keluarga merasa aneh, setelah berhari-hari koma, tanda-tanda kehidupan itu sepertinya tetap ada. Ya, dada Maunah sesekali masih tampak turun naik, sebagai tanda dia masih hidup. Ya, Maunah sepertinya sulit menyongsong ajal.
Akhirnya muncul dugaan bahwa sulitnya Maunah menyongsong ajal adalah disebabkan oleh suatu kekuatan gaib yang dimilikinya. Oleh sebab itulah keluarga si nenek akhirnya meminta pertolongan pada seorang Kyai yang cukup ternama.
Saat prosesi pengobatan, ada sesuatu yang aneh terjadi. Maunah yang sudah 4 hari koma dalam keadaan koma, tiba-tiba mulut dan matanya terbuka. Hal ini terjadi setelah wajahnya dibasuh dengan segelas air putih yang telah diberi doa oleh Kyai.
Lebih aneh lagi, kemudian terjadilah dialog singkat antara Maunah dan Kyai. "Bicaralah yang jujur pada saya, Mak! Apakah Mak Maunah pernah berhubungan dengan ilmu gaib, misalnya pemasangan susuk atau sejenisnya, atau mungkin suatu ilmu tersendiri?" Tanya Kyai.
"Aku belum pernah berhubungan sama sekali dengan ilmu-ilmu seperti itu, Nak Kyai!" Jawab Maunah dengan suara berat.
"Emak jangan bohong! Coba ingat-ingat kembali. Barangkali Emak lupa!" Kembali sang Kyai berucap.
Entah benar-benar terlupa karena kondisinya yang sudah renta atau karena disebabkan oleh kondisinya yang sedang sakit, walau terus didesak Maunah tak mengakui dirinya pernah berhubungan dengan ilmu-ilmu gaib.
Namun sang berdesarkan deteksi gaib yang dilakukan Kyai, ternyata di dalam raga Maunah ditemukan suatu kekuatan gaib yang melekat sudah berpuluh-puluh tahun lama. Dengan kebijakannya, Pak Kyai tak ingin mempermasalahkan hal ini.
"Mak Maunah, semua keluarga telah mengikhlaskan Emak untuk pergi. Jadi segeralah menghadap Tuhan," lirih Kyai sembari meminumkan segelas air putih.
Setelah segelas air putih menempel pada bibir Maunah dan mengalir ketenggorokannya, Kyai tersebut berkata, "Nah Mak Maunah, sekarang milik Emak sudah berada digelas ini."
Mustajab! Beberapa detik kemudian, Maunah menghembuskan nafas terakhirnya. Dan untuk kali ini, dia benar-benar telah pergi setelah tersiksa dan berjuang melawan penyakitnya.
Usia ketujuh hari wafat Maunah, keluarganya membicarakan perihal hal gaib yang dimiliki oleh si nenek. Berdasarkan data yang dihimpun dari seluruh famili, disimpulkan bahwa Maunah pernah mengamalkan suatu amalan yang konon amalan tersebut berkhasiat untuk menambah awet muda dan panjang umur. Mungkin, amalan inilah yang membuat nenek renta itu sulit menyongsong ajalnya.
Kisah mistis ini dialami oleh seorang nenek renta berusia 77 tahun. Akibat kekuatan Ilmu Panjang Umur yang bersarang dalam tubuhnya, dia sulit menyongsong ajal. Bahkan, dua kali dinyatakan mati, namun hidup kembali....
Janda seorang veteran itu terbaring di atas kasur empuk bersprai kain putih. Sudah cukup lama dia terbaring lemang di ruang perawatan sebuah rumah sakit milik pemerintah daerah itu. Suhu tubuhnya yang kurung kering di atas normal. Bahkan jauh dari kewajaran. Ya, sejak pertama kali masuk opname, suhu itu belum juga menurun.
Kondisi tubuhnya yang sangat lemah dan kurus kering membuatnya nyaris seperti mayat hidup. Jangankan untuk berjalan, berdiri tegak bertumpu di atas kedua belah kakinya saja tak mampu lagi dilakukan.
Penanganan secara medis yang telah dilakukan dokter ahli dan spesialis di rumah sakit itu hampir tak memberikan efek apa pun. Memang, sejak awal ditemukan gejala penyakit komplikasi, yang sesungguhnya disebabkan oleh faktor usia belaka.
Maunah, demikian orang memanggilnya. Setelah tiga hari keluarganya memutuskan membawanya pulang dari rumah sakit, nenek berusia 77 tahun ini penyakitnya bertambah gawat. Namun, dia menolak untuk kembali rawat inap di rumah sakit. Dia lebih menghendaki untuk beristirahat di rumahnya sendiri, dan dirawat oleh sanak familinya yang berada di tanah kelahirannya.
Atas permintaannya, diboyonglah Maunah ke tempat yang dimaksud, yakni ke kampung halamannya. Namun, setelah sebulan lamanya berada di desa ini, kondisi Maunah semakin memprihatinkan. Bahkan keadaannya semakin lama semakin mengkhawatirkan. Saluran pernafasan yang terganggu oleh suatu cairan, membuat Maunah sulit untuk menghirup dan menghembuskan nafas. Walau demikian, keinginan untuk terus hidup sangat besar. Ini terbukti dengan masuknya beberapa obat dan beberapa sendok makanan berupa bubur ke dalam mulutnya, meski dia harus susah payah melakukan hal ini.
Hingga sampailah pada suatu malam. Maunah dinyatakan koma. Hembusan nafasnya yang mengeluarkan bunyi mirip orang mendengkur itu menambah kecemasan keluarga. Yang lebih panik lagi, ketika suara nafasnya yang sangat jelas, tiba-tiba hilang dari pendengaran. Bahkan tubuh renta ini yang selalu panas mendadak berubah dingin. Terutama di telapak tangan dan kakinya. Apakah Maunah telah pergi menghadap Illahi?
Untuk meyakinkan keadaannya, seorang kerabat memegang denyut nadinya. Astaga! Tak ada lagi tanda-tanda detak jantung dan nadinya. Mendapatkan keadaan ini, tak pelak, isak tangis memecah keheningan menjelang malam itu.
Berita dukapun tersebar ke warga sekitar. Namun keanehan terjadi dengan tiba-tiba. Setelah hampir setengah jam Maunah dinyatakan meninggal, dengan tubuh rentanya yang terbujur kaku dan telah diselimuti kain batik, seperti layaknya orang yang telah menjadi mayat, namun tiba-tiba saja suara nafasnya terdengar kembali.
Keadaan yang di luar kelajiman ini tentu saja membuat orang-orang yang tengah bertakziah dibuat terheran-heran. Mereka sulit percaya, mengapa nenek yang telah meninggal itu tiba-tiba kembali terdengar tarikan nafasnya? Ringkasnya, nenek yang berusia lanjut itu hidup lagi.
Berita ini amat menggemparkan warga. Nenek Maunah benar-benar hidup kembali. Bahkan setelah satu hari peristiwa tersebut, dalam Maunah kondisi yang masih lemah, si nenek membisikkan sesuatu di telinga Rumini, anak perempuannya yang paling tua. Rupanya, Maunah ingin menceritakan apa yang telah dialaminya. Bahwa peristiwa yang menimpa dirinya.
"Aku belum mati, Rum?" Dia bertanya dengan suara serak. Rumini hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Ya, aku memang belum mati...." Lanjut Maunah sambil kemudian menceritakan bahwa ketika orang-orang menganggapnya telah mati, dia sendiri merasa telah didatangi oleh kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal. Mereka mengajaknya pergi. Namun aneh, selama perjalanan tersebut Maunah selalu berada dibelakang mereka. Bahkan sepertinya dia memang sengaja ditinggalkannya.
Karena merasa lelah, Maunah meminta kepada kedua orang tuanya untuk beristirahat, tapi permohonannya ditolak oleh mereka.
"Nak, kuatkanlah dirimu! Sebentar lagi kita akan mencapai tempat tujuan," kata ayahnya.
"Tapi aku benar-benar tak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan ini, Pak! Sebenarnya kita akan pergi kemana?" Tanya Maunah.
"Lho, bukankah kau ingin pergi ke suatu tempat dimana kedamaian itu berada?" Kembali ayahnya berkata.
"Iya, tapi di mana tempatnya?" Protes Maunah.
"Itu, tempat yang dimaksud sudah terlihat, Nal!" Sahut Ibunya sembari menunjuk ke sebuah bukit. Anehnya, di bukit tersebut terdapat cahaya terang benderang dengan warna yang didominasi oleh warna orange dan violet.
Maunah amat terpesona melihat keindahan bukit itu. Namun ketika dia mencoba bangkit, sekujur tubuhnya lemas tak bertenaga. "Maafkan saya, sepertinya saya tak kuat lagi berjalan. Apalagi untuk menaiki bukit tersebut," lirih Maunah.
"Ooo...kalau begitu kamu belum siap. Ya sudah, kamu tetap disitu nanti Bapak dan Ibumu akan kembali menjemputmu," tutur sang ayah.
Karena tak sanggup lagi meneruskan perjalanan, Maunah yang pada saat itu duduk di bawah sebuah pohon, tiba-tiba tak sadarkan diri. Seiring dengan itu pula maka lenyaplah kedua orang tuanya. Namun, setelah siuman, Maunah dikejutkan dengan sehelai kain batik yang menyelimuti sekujur tubunya.
Keterkejutannya berlanjut dengan suara ayat-ayat suci yang dibacakan oleh orang-orang yang berada di samping kiri kanan tubuhnya.
Maunah yang terbujur kaku, karena merasa penasaran, meski dalam keadaan yang masih lemah, dengan pelan mengangkat tangannya untuk menyibakkan kain yang menutupi wajahnya. Hal ini, sudah barang tentu membuat keterkejutan orang-orang yang ada pada malam itu.
Setelah peristiwa mati suri tersebut kondisi Maunah memang tidak berubah membaik. Kesehatannya malah semakin mengkhawatirkan. Bahkan lebih parah dari sakitnya terdahlu.
Beberapa ahli medis dan orang pintar yang sempat didatangkan guna penyembuhan sang nenek, tak ada satupun yang membuahkan hasil. Semua keluarga gelisah dan prihatin. Namun melihat usia Maunah yang sudah sangat ujur, mereka sebenarnya telah bersiap untuk menerima kenyataan yang terburuk sekalipun. Ya, andai Tuhan menghendaki kematian Maunah, hal tersebut sudah sewajarnya karena memang usianya yang sudah sedemikian sepuh.
Namun, sang ajal sepertinya masih enggan mendekat. Maunah yang terbujur kaku itu masih tetap terdengar suara tarikan nafasnya. Akan tetapi keadaannya sudah sangat buruk. Jangankan untuk menelan sesuap makanan, untuk menelan air pun harus susah payah. Bahkan untuk bernafas, menghirup dan menghembuskan udara, dia hanya bisa melakukannya dengan satu cara, yakni hanya melalui mulutnya yang menganga.
Sampailah pada suatu hari, sudah tak terlihat ada lagi tanda-tanda kehidupan pada diri Maunah. Nafasnya terhenti, demikian juga dengan denyut nadinya. Ditambah lagi, badannya yang terasa dingin dan beku bagaikan segumpal es. Semua kenyataan ini cukup untuk meyakini bahwa Maunah, untuk kali ini memang benar-benar sudah meninggal.
Kendati demikian, salah seorang kerabat dekatnya yang sepertinya mengerti tentang ilmu gaib, meminta agar kematian si nenek jangan disebarluaskan terlebih dahulu. Dia khawatir peristiwa serupa akan terulang kembali.
Memang, kekhawatiran itu kembali terjadi. Setelah 30 menit berlalu, tiba-tiba dadanya terlihat suatu gerakan nafas, yang menandakan adanya kehidupan. Bahkan tak dinyana, mata Maunah sedikit demi sedikit terbuka kembali. Bahkan keanehan terjadi. Saluran pernafasannya yang selama ini terganggu, tiba-tiba seperti telah sembuh. Ya, Maunah dapat menghirup dan menghembuskan nafasnya dengan leluasa, tanpa disertai suara seperti dengkuran.
Bahkan tak hanya itu. Lepas satu jam setelah sadar, Maunah minta dibuatkan bubur ayam. Semua yang hadir dibuat keheranan, sebab selera makanannya sudah sangat baik. Sedikit demi sedikit makanan berupa bubur itu masuk ke dalam perutnya.
Melihat perkembangan yang drastis ini, keluarga menganggap bahwa Maunah telah mendapat mukjizat. Meski merasa aneh, tak urung hal ini membuat keluarga merasa lega dan membawa kebahagian tersendiri.
Begitulah kehendak Tuhan. Tak ada satupun manusia yang tahu apa yang telah direncanakanNya. Setelah kurang lebih dua hari kondisinya membaik, Maunah kembali tak sadarkan diri. Bahkan kali ini benar-benar koma. Matanya terpejam rapat, bahkan organ tubuhnya sepertinya tak ada lagi yang berfungsi. Namun, tarikan nafasnya masih ada meski nampak sangat jarang. Inilah yang menyebabkan keyakinan bahwa Maunah memang belum mati.
Ketika dibisikan asma Allah dan diperdengarkan bacaan Istigfar di telinganya agar dia mengikutinya, Maunah sama sekali tak meresponnya. Berdasarkan pemeriksaan dokter yang sengaja didatangkan, dinyatakan bahwa Maunah tinggal menunggu waktunya.
Mendengar pernyataan dokter, keluarga Maunah menerimanya dengan lapang dada. Mereka telah ikhlas melepaskannya. Namun yang membuat keluarga merasa aneh, setelah berhari-hari koma, tanda-tanda kehidupan itu sepertinya tetap ada. Ya, dada Maunah sesekali masih tampak turun naik, sebagai tanda dia masih hidup. Ya, Maunah sepertinya sulit menyongsong ajal.
Akhirnya muncul dugaan bahwa sulitnya Maunah menyongsong ajal adalah disebabkan oleh suatu kekuatan gaib yang dimilikinya. Oleh sebab itulah keluarga si nenek akhirnya meminta pertolongan pada seorang Kyai yang cukup ternama.
Saat prosesi pengobatan, ada sesuatu yang aneh terjadi. Maunah yang sudah 4 hari koma dalam keadaan koma, tiba-tiba mulut dan matanya terbuka. Hal ini terjadi setelah wajahnya dibasuh dengan segelas air putih yang telah diberi doa oleh Kyai.
Lebih aneh lagi, kemudian terjadilah dialog singkat antara Maunah dan Kyai. "Bicaralah yang jujur pada saya, Mak! Apakah Mak Maunah pernah berhubungan dengan ilmu gaib, misalnya pemasangan susuk atau sejenisnya, atau mungkin suatu ilmu tersendiri?" Tanya Kyai.
"Aku belum pernah berhubungan sama sekali dengan ilmu-ilmu seperti itu, Nak Kyai!" Jawab Maunah dengan suara berat.
"Emak jangan bohong! Coba ingat-ingat kembali. Barangkali Emak lupa!" Kembali sang Kyai berucap.
Entah benar-benar terlupa karena kondisinya yang sudah renta atau karena disebabkan oleh kondisinya yang sedang sakit, walau terus didesak Maunah tak mengakui dirinya pernah berhubungan dengan ilmu-ilmu gaib.
Namun sang berdesarkan deteksi gaib yang dilakukan Kyai, ternyata di dalam raga Maunah ditemukan suatu kekuatan gaib yang melekat sudah berpuluh-puluh tahun lama. Dengan kebijakannya, Pak Kyai tak ingin mempermasalahkan hal ini.
"Mak Maunah, semua keluarga telah mengikhlaskan Emak untuk pergi. Jadi segeralah menghadap Tuhan," lirih Kyai sembari meminumkan segelas air putih.
Setelah segelas air putih menempel pada bibir Maunah dan mengalir ketenggorokannya, Kyai tersebut berkata, "Nah Mak Maunah, sekarang milik Emak sudah berada digelas ini."
Mustajab! Beberapa detik kemudian, Maunah menghembuskan nafas terakhirnya. Dan untuk kali ini, dia benar-benar telah pergi setelah tersiksa dan berjuang melawan penyakitnya.
Usia ketujuh hari wafat Maunah, keluarganya membicarakan perihal hal gaib yang dimiliki oleh si nenek. Berdasarkan data yang dihimpun dari seluruh famili, disimpulkan bahwa Maunah pernah mengamalkan suatu amalan yang konon amalan tersebut berkhasiat untuk menambah awet muda dan panjang umur. Mungkin, amalan inilah yang membuat nenek renta itu sulit menyongsong ajalnya.
AKIBAT GUNA-GUNA AKU JATUH KE DALAM PELUKAN SEORANG JANDA
Penulis : SATYA PERWIRA
Ratnawati, janda cantik asal Yogya itu telah menghambakan dirinya untuk ilmu sesat. Lewat prosesi gaib dia bisa dengan mudah memperdaya pria, dan menguras hartanya. Kisah mistis berikut ini adalah kesaksian salah seorang korban, seorang pengusaha muda di Jakarta....
Di bawah cuaca yang cerah, lembayung senja tampak begitu indah menampakkan dirinya. Senja yang memesona telah membawaku ke Yogyakarta. Kedatanganku ini adalah untuk satu acara meeting dalam rangka kerjasama agrobisnis dengan rekan di kota nan sejuk ini.
Sebelum mampir ke hotel, aku menyempatkan diri singgah di sebuah swalayan untuk membeli dasi, sebab tadi sewaktu berangkat dari Jakarta aku lupa membawanya.
Aku memarkirkan kendaraanku dan bergegas masuk ke dalam swalayan itu. Aku berbaur bersama pengunjung yang lainnya. Tak kuduga sebelumnya, di saat aku sedang memilih-milih dasi kulihat disampingku seorang wanita yang sangat menarik perhatianku. Dari penampilannya terkesan wanita berumur sekitar kepaa tiga itu sangat anggun, berkulit putih mulus, tingginya sekitar 160 cm, rambut lurus sebahu, hidung mancung. Ah, sepertinya dia memang dari kalangan berada. Ini setidaknya terlihat dari cara merawat tubuhnya. Dia begitu bening!
Demi melihatnya, seketika darahku mendesir. Melihat kecantikannya, mengingatkanku pada seoranga artis sinetron yang sangat terkenal. Pandanganku pun sungguh terpesona melihat bidadari berada di sisiku. Aku berupaya menarik perhatiannya. Dalam satu kesempatan aku menegur dengan harap-harap cemas, khawatir tidak dibalas.
"Selamat siang! Ada sesuatu yang akan dibeli?" cetusku. Demi Tuhan! Aku tidak tahu apakah kalimatku ini tepat atau tidak.
Bidadari itu tersenyum ramah. Bahkan di luar dugaan dia menyambut sapaanku dengan tak kalah ramah.
"Ya, aku mencari parfum! Kau sendiri?"
Aku seperti mimpi mendengar suaranya. Serasa begitu indah, namun membuat dadaku semakin bergetar.
Keakraban lalu terbina dalam waktu singkat itu. Dia bertanya tentang keperluanku datang ke Yogya. Aku menjawab bahwa aku akan mengikuti sebuah meeting nanti malam.
"O...rupanya aku baru berkenalan dengan orang penting," candanya sambil tersenyum menawan.
"Ah, tidak! Hanya bisnis kecil-kecilan," ujarku sambil menebar senyum.
Dalam perkenalan singkat itu dia memberikan alamat tempat tinggalnya padaku. Dan aku berjanji selesai acara meeting akan mengunjunginya.
"Jangan sampai nggak datang, ya. Aku menunggumu!" katanya sebelum kami berpisah.
Aneh, sesampainya di hotel, bayangan wanita itu tidak pernah sirna dari kepalaku. Ya, bayangan seraut wajah cantik itu selalu menari-nari dalam pelupuk mataku. Aku seperti lelaki ingusan yang baru mengenal wanita cantik. Padahal, sudah begitu banyak wanita cantik yang kukenal, bahkan kuajak kencan. Dan aku ini termasuk tipe laki-laki yang cepat melupakan wanita. Sudah berapa banyak wanita yang telah kurengkuh, serta tak terhitung wanita yang mengucapkan kata-kata sayang dan mengusapku dengan belai mesra. Mereka hanya sekilas hadir dan setelahnya akan hilang lenyap begitu saja. Tapi, untuk yang satu ini, sungguh benar-benar berbeda. Dia selalu hadir dan hadir di benakku, mengisi rongga-rongga pikiranku. Sepertinya, ada sesuatu yang sangat istimewa pada diri wanita itu.
Lantas, apa keistimewaannya? Apakah karena dia begitu cantik? Ah, tidak juga. Di Jakarta, wanita cantik seperti dirinya, bahkan yang lebih, juga banyak yang kukenal. Lalu, apa yang membuatku begitu terpesona? Aku sendiri bingung memikirkannya. Tapi demi Tuhan, aku begitu merindukan ingin bertemu dengannya.
Hingga acara pertemuan bisnis itu usai, tidak ada satupun materi yang masuk ke dalam pikiranku. Justru yang muncul dalam benakku adalah kerinduan ingin jumpa dengan gadis yang dari kartu namanya kekutahui bernama Ratnawati itu.
Malam itu, setelah meeting bisnis nan hampa itu berakhir, kuturuti keinginanku untuk mendatangi kediamannya. Tak terlalu sulit untuk mencarinya. Sesampainya aku di sana terlihat Ratnawati sedang duduk di teras rumahnya. Di bawah sinar cahaya lampu dia terkejut melihat kedatanganku.
"Wah, tak kusangka kau betul-betul memenuhi janjimu. Padahal, aku sudah hampir putus asa menunggumu!" bibir mungilnya bergetar menggairahkan.
Singkat cerita, malam itu aku jadi begitu akrab dengannya. Aku juga lalu mengetahui statusnya yang sudah menjanda. Menurut penuturan Ratnawati, sejak bercerai dengan suaminya 2 tahun silam dia memilih hidup mandiri, menjadi ibu sekaligus menjadi ayah bagi kedua putranya. Dia menjalani hari-harinya penuh dengan perjuangan. Keuletannya membuka usaha katering, membuat kehidupannya kian mapan dan mandiri.
Hatiku seperti dituntun sesuatu tenaga gaib yang penuh dengan sukacita, ketika dia mengutarakan keinginannya untuk mengembangkan usahanya. Dengan tanpa pikir panjang lagi aku memberi alternatif untuk pinjam dana ke bank. Awalnya dia menyetujui usulku dan minta diambilkan formulirnya, namun yang terjadi kemudian sungguh berbeda. Dia meminta pinjaman dariku. Gilanya, aku begitu mudah menjanjikan akan memberi pinjaman dengan jumlah cukup lumayan itu.
Malam itu, jika saja aku tidak ke rumahnya, tak mungkin aku merengkuh kemesraan darinya. Dengan penuh gairah aku memeluk wanita yang baru kukenal itu. Keinginan bercumbu dengannya serasa begitu menggila. Aku lupa akan janji yang aku ucapkan di hadapan isteriku saat sebelum berangkat bahwa aku tak akan "macam-macam" di Yogya.
Nyatanya, malam itu aku memang seperti larut dengan pesona wajah yang cantik yang baru kukenal siang tadi itu. Dan, aku terbang dalam pelukan tubuh sintal beraroma harum semerbak....
***
Perkenalanku dengan Ratnawati sungguh suatu pengalaman yang indah, namun terasa aneh. Mengapa kukatan aneh? Sebab sejak mengenalnya, aku kerap kali merasa seperti telah kehilangan diriku, yang kelak kuketahui bahwa aku memang terpenjara dalam dimensi gaib. Sejak mengenalnya, dalam keseharian dan kesibukan aku selalu didera oleh kerinduan yang hadir sepanjang waktu. Aku seperti merasakan wajah wanita itu senantiasa hadir dan mendorongku untuk segera datang mengunjunginya.
Akibatnya, sejak mengenal Ratnawati aku menjadi sering bolak-balik Jakarta-Yogya, hanya untuk menemui wanita yang kurindukan. Kepada Hanna, isteriku, aku tentu saja beralasan mengurusi kegiatan bisnis. Aku merasa telah menang, sebab nyatanya Hanna memang sangat mudah kubohongi.
Hingga tiba pada suatu malam, ketika langit amat cerah, bulan tampak bulat sempurna di antara taburan binatang gemintang. Aku datang ke Yogya. Waktu itu puncak malam Sabtu, udara dingin November merembes membasahi arus darahku. Di sudut remang, bibirku menyapu bibirnya, melumatnya dengan penuh gairah. Lidahnya yang panas membakar jagad kelaki-lakianku. Sedetik kemudian, waktu tiba-tiba seakan padam, malam mendadak membara, panas mengelupas mulus tubuhnya, bagian tubuhku seperti memasuki ruang tanpa cahaya, aku terkapar tak berdaya di bawah gaun tidur halus, diiringi irama sunyi nyanyi serangga menghias malam. Malam itu aku dan Ratna menghabiskan rindu dengan permainan asmara yang seharusnya tidak kami lakukan. Tapi, kami telah dipenjara oleh birahi, sehingga kami lupa akan batas-batas kewajaran.
Namun, apa yang kemudian terjadi sejak hubungan intim itu berlangsung? Tanpa kusadari, sejak saaat itu aku kian terpenjara oleh kekuatan gaib yang terus menderaku. Sebagai bukti, pikiran dan langkahku selalu mengajak kepadanya, sementara aku semakin lupa pada isteri dan anak-anakku. Wajah dan kecerian mereka telah hilang lenyap tiada bekas di hatiku. Meski aku hadir di tengah-tengah mereka, namun kehadiranku bagaikan kapas yang melayang, terasa hampa tidak ada denyut kehidupan. Ya, isteri dan anak-anak yang selama ini begitu aku cintai, kita tidak berarti apa-apa bagiku. Yang ada dalam kesadaranku hanyalah Ratnawati. Ya, bila aku berada di sisi Ratna, roh kehidupan mulai menyala, gairah hidup kembali mengaliri aliran darahku. Di sana aku menemukan pelabuhan hatiku.
Secara diam-diam, sepak terjangku yang telah berubah rupanya diamati oleh isteriku. Karakterku yang berubah mengundang dia untuk datang ke seorang sahabat untuk minta pendapat. Lewat Imron, sahabatku, isteriku mendapat informasi aneh yang mengatakan bahwa ternyata aku telah terbelenggu oleh kekuatan gaib yang tidak terlihat secara kasat mata. Benarkah?
"Sadarlah, Mas Pras! Aku tahu kau begitu mencinta wanita itu. Tapi cintamu itu bukan yang sewajarnya," geragap Hanna, isteriku, suatu malam ketika kami bertengkar.
"Wanita yang mana? Aku tidak segila itu. Kau jangan berpikir yang macam-macam, ya!" sergahku.
"Aku tidak mengada-ada, Mas! Aku tahu belakangan kaus ering bolak-balik ke Yogya bukan untuk urusan bisnis. Tapi, kau melampiaskan nafsumu dengan wanita itu, bukan?"
Dadaku panas terbakar mendengar omongan Hanna yang begitu menusuk itu. Untunglah aku bisa menahannya. Malahan, aku membalasnya dengan tak kalah pedas.
"Aku memang mencintai wanita itu. Lantas kau mau apa? Mau cerai? Okey, secepatnya kita urus!"
Hanna menangis sesunggukan. "Bukan itu yang kuinginkan, Mas. Walau bagaimanapun aku tak ingin rumahtangga kita hancur. Sadarlah, wanita itu bukan apa-apa bagimu. Menurut Imron, kau telah diguna-gunai oleh wanita itu."
"Guna-guna? Ah, persetan!" aku tetap bersikukuh menepis dugaannya.
Namun, tanpa sepengathuan Hanna, aku temui Imron, sekaligus untuk mendampratnya. Tapi Imron mengajakku untuk membuktikan ucapannya.
"Supaya kau tidak marah-marah, baiklah mari sama-sama kita buktikan bahwa perempuan bernama Ratna itu telah mengguna-gunaimu," kata Imron, tenang sekali.
"Bagaimana caranya?" tantangku.
"Ajaklah aku ke rumah Ratna!" jawab Imron.
"Baiklah kalau begitu. Tapi ingat, kalau sampai tak terbukti, aku akan segera menikahi perempuan itu," tantangku.
Di tengah rasa penasaranku, kuajak Imron ke rumah Ratna. Sebelum sampai di rumahnya Imron telah menetralisir efek gaib yang ada dalam pikiranku, yang selama ini telah menggerakkan naluri batinku dengan perasaan jiwa garis kesadaran.
Senja membuka tabir yang melukiskan tentang jati diri Ratnawati sebenarnya. Dia yang mempesona, dia yang kupuja selama ini, dia yang nyaris meluluhlantakan rumah tanggaku, ternyata hanya fatamorgana yang membiuskan pandanganku, mata yang polos, jiwa yang tidak terkonsentrasi telah menyita pada satu sosok yang penuh dengan polesan magis. Sebab, begitu dipandang, terlihat pada dirinya satu jiwa menjadi dua sikap yang membuatnya bisa tampil berbeda. Di satu sisi wajahnya begitu cemerlang, di lain sisi ada juga kekuatan gaib yang menarik sukmaku untuk selalu ingat padanya.
Imron hanya tersenyum melihat keterpanaanku. Dia berbisik kepadaku, "Bagaimana kalau kubuka jati dirinya di hadapanmu?"
Aku hanya mengangguk.
Selanjutnya Imron mulai meneropong hal-hal yang terkait dengan dunia mistik pada diri Ratna, mulai dari susuk yang dipasang di sekitar wajahnya, sampai Pelet Penarik Sukma yang dicampur dalam air minum sebagai media, yang selama ini selalu kureguk. Bahkan Imron menyinggung tentang guru spiritual Ratna yang ada di daerah pesisir Selatan.
Ratna tertunduk malu setelah Imron menelanjangi jati dirinya. Lama dia terdiam. Lalu dari kedua kelopak matanya keluar tetesan air bening. Dengan sendu dia bercerita tentang dirinya.
"Kejadiannya sudah lama sekali. Ya, mungkin pengaruh lingkungan yang serba glamour mengakibatkan berdampak pada angan-anganku yang terlalu tinggi. Aku selalu mendambakan kemewahan dan tumpukan harta. Aku ingin mendapatkannya tanpa harus kerja. Akhirnya aku menempuh jalan pintas dengan mendatangi orang pintar dan belajar seperangkat ilmu magis darinya."
Begitulah cerita Ratna. Dia mengaku dari petualangnnya selama ini telah banyak laki-laki yang dijeratnya, dam sudah banyak pula harta benda yang terkumpul, hingga akhirnya dia berkenalan denganku, yang kemudian mampu membuka tabir kehidupannya.
Dengan wajah menyesal Ratna berjanji akan menghilangkan prilakunya yang buruk, apalagi kalau aku bersedia menjadi suaminya, untuk membimbingnya ke jalan yang benar. Aku hanya tersenyum getir mendapat tawaran itu, mengingat pikiranku seketika terbayang pada anak-anak dan isteriku.
Itulah kisah asmara gaib yang aku alami. Meski Ratnawati nyaris menghancurkan hidupku, namun aku selalu berdoa semoga Ratna mendapat jodoh dalam waktu yang tidak terlalu lama. Doaku memang terkabul. Beberapa bulan yang silam, aku mendapat SMS darinya yang mengabarkan bahwa dia sudah menikah dengan seorang duda. Aku balik mengirim SMS dengan kalimat: "Pegang teguh janjimu sampai akhir nanti. Selamat menempuh hidup baru, kekasih."
Ratna membelasnya: "Thx, doakan aku selalu setia dengan janjiku. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali."
Tapi, aku tak pernah berharap lagi untuk bertemu dengannya. Biarlah semua ini menjadi sejarah hidupku...
Ratnawati, janda cantik asal Yogya itu telah menghambakan dirinya untuk ilmu sesat. Lewat prosesi gaib dia bisa dengan mudah memperdaya pria, dan menguras hartanya. Kisah mistis berikut ini adalah kesaksian salah seorang korban, seorang pengusaha muda di Jakarta....
Di bawah cuaca yang cerah, lembayung senja tampak begitu indah menampakkan dirinya. Senja yang memesona telah membawaku ke Yogyakarta. Kedatanganku ini adalah untuk satu acara meeting dalam rangka kerjasama agrobisnis dengan rekan di kota nan sejuk ini.
Sebelum mampir ke hotel, aku menyempatkan diri singgah di sebuah swalayan untuk membeli dasi, sebab tadi sewaktu berangkat dari Jakarta aku lupa membawanya.
Aku memarkirkan kendaraanku dan bergegas masuk ke dalam swalayan itu. Aku berbaur bersama pengunjung yang lainnya. Tak kuduga sebelumnya, di saat aku sedang memilih-milih dasi kulihat disampingku seorang wanita yang sangat menarik perhatianku. Dari penampilannya terkesan wanita berumur sekitar kepaa tiga itu sangat anggun, berkulit putih mulus, tingginya sekitar 160 cm, rambut lurus sebahu, hidung mancung. Ah, sepertinya dia memang dari kalangan berada. Ini setidaknya terlihat dari cara merawat tubuhnya. Dia begitu bening!
Demi melihatnya, seketika darahku mendesir. Melihat kecantikannya, mengingatkanku pada seoranga artis sinetron yang sangat terkenal. Pandanganku pun sungguh terpesona melihat bidadari berada di sisiku. Aku berupaya menarik perhatiannya. Dalam satu kesempatan aku menegur dengan harap-harap cemas, khawatir tidak dibalas.
"Selamat siang! Ada sesuatu yang akan dibeli?" cetusku. Demi Tuhan! Aku tidak tahu apakah kalimatku ini tepat atau tidak.
Bidadari itu tersenyum ramah. Bahkan di luar dugaan dia menyambut sapaanku dengan tak kalah ramah.
"Ya, aku mencari parfum! Kau sendiri?"
Aku seperti mimpi mendengar suaranya. Serasa begitu indah, namun membuat dadaku semakin bergetar.
Keakraban lalu terbina dalam waktu singkat itu. Dia bertanya tentang keperluanku datang ke Yogya. Aku menjawab bahwa aku akan mengikuti sebuah meeting nanti malam.
"O...rupanya aku baru berkenalan dengan orang penting," candanya sambil tersenyum menawan.
"Ah, tidak! Hanya bisnis kecil-kecilan," ujarku sambil menebar senyum.
Dalam perkenalan singkat itu dia memberikan alamat tempat tinggalnya padaku. Dan aku berjanji selesai acara meeting akan mengunjunginya.
"Jangan sampai nggak datang, ya. Aku menunggumu!" katanya sebelum kami berpisah.
Aneh, sesampainya di hotel, bayangan wanita itu tidak pernah sirna dari kepalaku. Ya, bayangan seraut wajah cantik itu selalu menari-nari dalam pelupuk mataku. Aku seperti lelaki ingusan yang baru mengenal wanita cantik. Padahal, sudah begitu banyak wanita cantik yang kukenal, bahkan kuajak kencan. Dan aku ini termasuk tipe laki-laki yang cepat melupakan wanita. Sudah berapa banyak wanita yang telah kurengkuh, serta tak terhitung wanita yang mengucapkan kata-kata sayang dan mengusapku dengan belai mesra. Mereka hanya sekilas hadir dan setelahnya akan hilang lenyap begitu saja. Tapi, untuk yang satu ini, sungguh benar-benar berbeda. Dia selalu hadir dan hadir di benakku, mengisi rongga-rongga pikiranku. Sepertinya, ada sesuatu yang sangat istimewa pada diri wanita itu.
Lantas, apa keistimewaannya? Apakah karena dia begitu cantik? Ah, tidak juga. Di Jakarta, wanita cantik seperti dirinya, bahkan yang lebih, juga banyak yang kukenal. Lalu, apa yang membuatku begitu terpesona? Aku sendiri bingung memikirkannya. Tapi demi Tuhan, aku begitu merindukan ingin bertemu dengannya.
Hingga acara pertemuan bisnis itu usai, tidak ada satupun materi yang masuk ke dalam pikiranku. Justru yang muncul dalam benakku adalah kerinduan ingin jumpa dengan gadis yang dari kartu namanya kekutahui bernama Ratnawati itu.
Malam itu, setelah meeting bisnis nan hampa itu berakhir, kuturuti keinginanku untuk mendatangi kediamannya. Tak terlalu sulit untuk mencarinya. Sesampainya aku di sana terlihat Ratnawati sedang duduk di teras rumahnya. Di bawah sinar cahaya lampu dia terkejut melihat kedatanganku.
"Wah, tak kusangka kau betul-betul memenuhi janjimu. Padahal, aku sudah hampir putus asa menunggumu!" bibir mungilnya bergetar menggairahkan.
Singkat cerita, malam itu aku jadi begitu akrab dengannya. Aku juga lalu mengetahui statusnya yang sudah menjanda. Menurut penuturan Ratnawati, sejak bercerai dengan suaminya 2 tahun silam dia memilih hidup mandiri, menjadi ibu sekaligus menjadi ayah bagi kedua putranya. Dia menjalani hari-harinya penuh dengan perjuangan. Keuletannya membuka usaha katering, membuat kehidupannya kian mapan dan mandiri.
Hatiku seperti dituntun sesuatu tenaga gaib yang penuh dengan sukacita, ketika dia mengutarakan keinginannya untuk mengembangkan usahanya. Dengan tanpa pikir panjang lagi aku memberi alternatif untuk pinjam dana ke bank. Awalnya dia menyetujui usulku dan minta diambilkan formulirnya, namun yang terjadi kemudian sungguh berbeda. Dia meminta pinjaman dariku. Gilanya, aku begitu mudah menjanjikan akan memberi pinjaman dengan jumlah cukup lumayan itu.
Malam itu, jika saja aku tidak ke rumahnya, tak mungkin aku merengkuh kemesraan darinya. Dengan penuh gairah aku memeluk wanita yang baru kukenal itu. Keinginan bercumbu dengannya serasa begitu menggila. Aku lupa akan janji yang aku ucapkan di hadapan isteriku saat sebelum berangkat bahwa aku tak akan "macam-macam" di Yogya.
Nyatanya, malam itu aku memang seperti larut dengan pesona wajah yang cantik yang baru kukenal siang tadi itu. Dan, aku terbang dalam pelukan tubuh sintal beraroma harum semerbak....
***
Perkenalanku dengan Ratnawati sungguh suatu pengalaman yang indah, namun terasa aneh. Mengapa kukatan aneh? Sebab sejak mengenalnya, aku kerap kali merasa seperti telah kehilangan diriku, yang kelak kuketahui bahwa aku memang terpenjara dalam dimensi gaib. Sejak mengenalnya, dalam keseharian dan kesibukan aku selalu didera oleh kerinduan yang hadir sepanjang waktu. Aku seperti merasakan wajah wanita itu senantiasa hadir dan mendorongku untuk segera datang mengunjunginya.
Akibatnya, sejak mengenal Ratnawati aku menjadi sering bolak-balik Jakarta-Yogya, hanya untuk menemui wanita yang kurindukan. Kepada Hanna, isteriku, aku tentu saja beralasan mengurusi kegiatan bisnis. Aku merasa telah menang, sebab nyatanya Hanna memang sangat mudah kubohongi.
Hingga tiba pada suatu malam, ketika langit amat cerah, bulan tampak bulat sempurna di antara taburan binatang gemintang. Aku datang ke Yogya. Waktu itu puncak malam Sabtu, udara dingin November merembes membasahi arus darahku. Di sudut remang, bibirku menyapu bibirnya, melumatnya dengan penuh gairah. Lidahnya yang panas membakar jagad kelaki-lakianku. Sedetik kemudian, waktu tiba-tiba seakan padam, malam mendadak membara, panas mengelupas mulus tubuhnya, bagian tubuhku seperti memasuki ruang tanpa cahaya, aku terkapar tak berdaya di bawah gaun tidur halus, diiringi irama sunyi nyanyi serangga menghias malam. Malam itu aku dan Ratna menghabiskan rindu dengan permainan asmara yang seharusnya tidak kami lakukan. Tapi, kami telah dipenjara oleh birahi, sehingga kami lupa akan batas-batas kewajaran.
Namun, apa yang kemudian terjadi sejak hubungan intim itu berlangsung? Tanpa kusadari, sejak saaat itu aku kian terpenjara oleh kekuatan gaib yang terus menderaku. Sebagai bukti, pikiran dan langkahku selalu mengajak kepadanya, sementara aku semakin lupa pada isteri dan anak-anakku. Wajah dan kecerian mereka telah hilang lenyap tiada bekas di hatiku. Meski aku hadir di tengah-tengah mereka, namun kehadiranku bagaikan kapas yang melayang, terasa hampa tidak ada denyut kehidupan. Ya, isteri dan anak-anak yang selama ini begitu aku cintai, kita tidak berarti apa-apa bagiku. Yang ada dalam kesadaranku hanyalah Ratnawati. Ya, bila aku berada di sisi Ratna, roh kehidupan mulai menyala, gairah hidup kembali mengaliri aliran darahku. Di sana aku menemukan pelabuhan hatiku.
Secara diam-diam, sepak terjangku yang telah berubah rupanya diamati oleh isteriku. Karakterku yang berubah mengundang dia untuk datang ke seorang sahabat untuk minta pendapat. Lewat Imron, sahabatku, isteriku mendapat informasi aneh yang mengatakan bahwa ternyata aku telah terbelenggu oleh kekuatan gaib yang tidak terlihat secara kasat mata. Benarkah?
"Sadarlah, Mas Pras! Aku tahu kau begitu mencinta wanita itu. Tapi cintamu itu bukan yang sewajarnya," geragap Hanna, isteriku, suatu malam ketika kami bertengkar.
"Wanita yang mana? Aku tidak segila itu. Kau jangan berpikir yang macam-macam, ya!" sergahku.
"Aku tidak mengada-ada, Mas! Aku tahu belakangan kaus ering bolak-balik ke Yogya bukan untuk urusan bisnis. Tapi, kau melampiaskan nafsumu dengan wanita itu, bukan?"
Dadaku panas terbakar mendengar omongan Hanna yang begitu menusuk itu. Untunglah aku bisa menahannya. Malahan, aku membalasnya dengan tak kalah pedas.
"Aku memang mencintai wanita itu. Lantas kau mau apa? Mau cerai? Okey, secepatnya kita urus!"
Hanna menangis sesunggukan. "Bukan itu yang kuinginkan, Mas. Walau bagaimanapun aku tak ingin rumahtangga kita hancur. Sadarlah, wanita itu bukan apa-apa bagimu. Menurut Imron, kau telah diguna-gunai oleh wanita itu."
"Guna-guna? Ah, persetan!" aku tetap bersikukuh menepis dugaannya.
Namun, tanpa sepengathuan Hanna, aku temui Imron, sekaligus untuk mendampratnya. Tapi Imron mengajakku untuk membuktikan ucapannya.
"Supaya kau tidak marah-marah, baiklah mari sama-sama kita buktikan bahwa perempuan bernama Ratna itu telah mengguna-gunaimu," kata Imron, tenang sekali.
"Bagaimana caranya?" tantangku.
"Ajaklah aku ke rumah Ratna!" jawab Imron.
"Baiklah kalau begitu. Tapi ingat, kalau sampai tak terbukti, aku akan segera menikahi perempuan itu," tantangku.
Di tengah rasa penasaranku, kuajak Imron ke rumah Ratna. Sebelum sampai di rumahnya Imron telah menetralisir efek gaib yang ada dalam pikiranku, yang selama ini telah menggerakkan naluri batinku dengan perasaan jiwa garis kesadaran.
Senja membuka tabir yang melukiskan tentang jati diri Ratnawati sebenarnya. Dia yang mempesona, dia yang kupuja selama ini, dia yang nyaris meluluhlantakan rumah tanggaku, ternyata hanya fatamorgana yang membiuskan pandanganku, mata yang polos, jiwa yang tidak terkonsentrasi telah menyita pada satu sosok yang penuh dengan polesan magis. Sebab, begitu dipandang, terlihat pada dirinya satu jiwa menjadi dua sikap yang membuatnya bisa tampil berbeda. Di satu sisi wajahnya begitu cemerlang, di lain sisi ada juga kekuatan gaib yang menarik sukmaku untuk selalu ingat padanya.
Imron hanya tersenyum melihat keterpanaanku. Dia berbisik kepadaku, "Bagaimana kalau kubuka jati dirinya di hadapanmu?"
Aku hanya mengangguk.
Selanjutnya Imron mulai meneropong hal-hal yang terkait dengan dunia mistik pada diri Ratna, mulai dari susuk yang dipasang di sekitar wajahnya, sampai Pelet Penarik Sukma yang dicampur dalam air minum sebagai media, yang selama ini selalu kureguk. Bahkan Imron menyinggung tentang guru spiritual Ratna yang ada di daerah pesisir Selatan.
Ratna tertunduk malu setelah Imron menelanjangi jati dirinya. Lama dia terdiam. Lalu dari kedua kelopak matanya keluar tetesan air bening. Dengan sendu dia bercerita tentang dirinya.
"Kejadiannya sudah lama sekali. Ya, mungkin pengaruh lingkungan yang serba glamour mengakibatkan berdampak pada angan-anganku yang terlalu tinggi. Aku selalu mendambakan kemewahan dan tumpukan harta. Aku ingin mendapatkannya tanpa harus kerja. Akhirnya aku menempuh jalan pintas dengan mendatangi orang pintar dan belajar seperangkat ilmu magis darinya."
Begitulah cerita Ratna. Dia mengaku dari petualangnnya selama ini telah banyak laki-laki yang dijeratnya, dam sudah banyak pula harta benda yang terkumpul, hingga akhirnya dia berkenalan denganku, yang kemudian mampu membuka tabir kehidupannya.
Dengan wajah menyesal Ratna berjanji akan menghilangkan prilakunya yang buruk, apalagi kalau aku bersedia menjadi suaminya, untuk membimbingnya ke jalan yang benar. Aku hanya tersenyum getir mendapat tawaran itu, mengingat pikiranku seketika terbayang pada anak-anak dan isteriku.
Itulah kisah asmara gaib yang aku alami. Meski Ratnawati nyaris menghancurkan hidupku, namun aku selalu berdoa semoga Ratna mendapat jodoh dalam waktu yang tidak terlalu lama. Doaku memang terkabul. Beberapa bulan yang silam, aku mendapat SMS darinya yang mengabarkan bahwa dia sudah menikah dengan seorang duda. Aku balik mengirim SMS dengan kalimat: "Pegang teguh janjimu sampai akhir nanti. Selamat menempuh hidup baru, kekasih."
Ratna membelasnya: "Thx, doakan aku selalu setia dengan janjiku. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali."
Tapi, aku tak pernah berharap lagi untuk bertemu dengannya. Biarlah semua ini menjadi sejarah hidupku...
AKIBAT BERSEKUTU DENGAN GENDRUWO PEMAKAN KAKI MANUSIA
Penulis : ITONG R. HARIADI
Setelah mengadakan ritual, Husni mendapatkan kaki raja jin. Kaki inilah yang menuntunnya menemukan sekotak harta karun, hingga membuatnya kaya raya. Namun, karena Husni tidak bisa memenuhi janjinya, maka nyawanya sendiri yang harus menjadi tumbal. Bagaimana kisah mistis selengkapnya? Mulyono, salah seorang kerabat dekat Husni, menuturkan rentetan peristiwa mistis itu ….
Malam itu, lebih dari empat jam lamanya Husni duduk bersila di bawah pohon beringin tua yang terletak di bagian barat tempat pemakaman umum (TPU) Desa Ranca Kalong. Asap dupa dan kemenyan yang dibakar masih terlihat mengepul, menyebarkan aroma menyengat ke seantero tempat itu.
Keadaan begitu sunyi. Suara jangkrik dan belalang yang saling bersahutan menambah keseraman suasana. Terlebih dahulu lolongan anjing di kejauhan sesekali terdengar melengking, bagai jerit malaikat kematian.
Gerimis turun renyai-renyai, sementara udara semakin dingin menggigit tulang sum-sum. Namun, seolah tidak lagi merasakan dinginnya udara yang menusuk tulang, mulut Husni terus saja terlihat berkomat-kamit membaca mantera-mantera yang diperolehnya dari Ki Ireng Legono, dukun sakti aliran hitam yang bermukim di Bukit Tengkorak. Bunyi mantera yang dibaca itu sesekali terdengar lirih, namun tak jarang pula terdengar keras. Sesekali pula disertai getaran tubuh Husni yang begitu keras, bagai orang menggigil terserang demam. Dan bersamaan dengan getaran tubuhnya, asap tebal langsung mengepul dari dalam pendupaan yang terletak di hadapan Husni.
Saat jarum jam tepat menunjukkan pukul setengah dua dinihari sesuatu yang aneh mendadak terjadi. Bersamaan dengan mengepulnya asap dan getaran tubuh Husni yang semakin menghebat, maka keluarlah seberkas cahaya kemerahan dari dalam pendupaan itu. Cahaya aneh ini menembus kepulan asap kemenyan yang melayang-layang di udara. Selanjutnya, setelah cahaya kemerahan itu mulai memudar, muncullah sosok mahkluk tinggi besar dengan wajah yang menyeramkan. Makhluk ini berdiri tegak persis di hadapan Husni.
Kedua mata mahkluk itu berwarna merah menyala, sementara dua pasang gigi taring yang berukuran besar tampak menyembul di antara sela-sela mulutnya yang semarah darah itu. Noda-noda merah seperti bekas darah memang terlihat menghiasi sepasang gigi taring itu. Suara geramannya terdengar sangat menyeramkan, bahkan nyaris menghentikan alirah darah di sekujur tubuh Husni.
“Grrrr...! Siapa kau hai manusia? Berani sekali kau mengganggu istirahatku. Apa yang kau inginkan dariku?” tanya mahkluk yang tak lain adalah gendruwo penguasa pohon beringin tua yang ada di areal pemakaman tua itu.
“A...ampun, Mbah. S…sa…sa…saya Hus…Husni, Mbah. S…saya mau minta bantuan, Mbah,” ucap Pak Husni dengan mulut dan tubuh gemetar. Begitu takutnya dia hingga suaranya hamper saja tak bisa melewati kerongkongannya.
“Bantuan apa yang kau butuhkan, hai manusia?” tanya mahkluk itu lagi.
“Saya ingin jadi orang kaya, Mbah. Kata Ki Ireng Legono, Mbah bisa menolong saya untuk menjadi kaya,” jawab laki-laki setengah baya itu.
Gendruwo itu tidak segera menjawab. Mahkluk menyeramkan itu hanya tertawa terbahak-bahak dengan suara yang memekakkan telinga, sambil memamerkan deretan gigi taringnya yang menyeramkan. “Ha...ha...ha...ha...ha...!” suara tawa itu terdengar menggema, dan seakan membuat bumi bergetar.
Melihat hal ini Husni hanya bisa tertunduk sambil berusaha menekan perasaannya. Ketakutan semakin hebat menyelimuti hatinya, hingga keringat dingin tanpa terasa mengalir deras membasahi seluruh tubuhnya. Namun karena keinginannya untuk bisa segera menjadi orang kaya begitu kuat dalam hatinya, lelaki bertubuh sedang ini pun memberanikan diri untuk kembali bertanya pada gendruwo itu.
“Ba...bagaimana, Mbah? Apa betul Mbah bisa membantu saya menjadi orang kaya?” suara Husni terdengar gemetarm seperti juga tubuhnya yang gemetaran seperti terserang demam.
“Itu soal mudah, yang penting kau bisa menyediakan kesukaanku,” jawab sang gendruwo dengan suara yang lebih ramah.
“Apa sajakah itu, Mbah?” tanya Husni lagi.
“Setiap malam Jumat kamu harus selalu menyediakan kemenyan, kembang telon, serta candu. Letakkan benda-benda itu tepat di bawah pohon beringin ini. Ingat, harus kau letakkan tepat pada tengah malam. Kalau kamu bisa memenuhinya semua kesukaanku itu, maka kamu akan aku beri ini….” ucap si gendruwo sembari menunjukkan sebuah potongan kaki berukuran kecil yang terbuat dari emas.
Husni terkejut dan langsung keheranan mendapatkan benda mirip sepotong kaki yang terbuat dari emas itu. Dia merasa ragu, apakah mungkin benda kecil itu akan mampu merubahnya menjadi orang yang kaya raya? Lantas, bagaimana caranya?
“Dengan benda ini kamu akan bisa jadi kaya raya. Karena benda ini akan selalu menuntunmu ke berbagai tempat yang memungkinkan kamu bisa mendapatkan banyak uang,” lanjut si genderuwo seolah mengetahui keraguan dalam hati calon budaknya.
“Benda apa itu, Mbah. Lalu, apakah syaratnya memang cuma itu?” Tanya Husni lagi.
Genderuwo itu kembali menggeram. “Benda itu namanya Kaki Jin. Hanya itu yang bisa kuberi tahu. Ingat, disamping permintaanku tadi, tiap tiga purnama sekali kamu harus menyediakan sepotong kaki kiri manusia sebagai pelengkap syarat yang harus kamu sediakan pada tiap malam Jumat. Kamu bebas mencari kaki siapa saja yang akan kamu persembahkan. Kamu bisa mencurinya dari makam ataupun membunuh orang secara langsung dan mengambil kakinya. Yang penting benda itu harus ada pada waktu yang ditentukan. Karena kalau tidak, maka kakimu sendiri yang akan jadi gantinya,” jelasnya.
Mendengar penjelasan itu Husni terdiam beberapa saat lamanya. Sepertinya dia merasa ragu untuk memenuhi permintaah si genderuwo yang amat menyeramkan baginya. Ya, bagaimana mungkin Husni akan sanggup menyediakan sesajen berupa potongan kaki manusia, sedangkan memotong kaki ayam saja dia selalu ketakutan? Lalu, bagaimana dia bisa memperoleh potongan kaki itu? Hih, menyeramkan sekali!
Di saat yang genting itu Husni berpikir keras untuk mempertimbangkan untung rugi yang akan dihadapinya. Namun, demi terbayang segala kesusahan hidup dan hinaan yang selama ini dia terima bersama anak dan isterinya, akibat dari kemiskinan yang dideritanya, maka bayangan mengerikan itu sepertinya begitu saja sirna.
Ya, semuanya memang terasa begitu pahit. Husni tak ingin anak dan isterinya terus menjadi bahan hinaan. Karena itu dia harus melewati tentangan sepahit apapun asal keinginannya menjadi orang kaya dapat segera terwujud.
Mendadak keraguan dan kengerian itu hilang. Buktinya, tak berapa lama kemudian, mimik wajah Husni yang sebelumnya terlihat tegang, berubah menjadi sedikit tenang, bahkan nampak ceria. Sepertinya dia telah menentukan sikap, dan yang pasti dia telah menerima syarat yang diajukan oleh si gendruwo laknat.
“Baiklah, saya bersedia memenuhi persyaratan itu, Mbah. Yang penting saya bisa segera menjadi orang kaya. Saya sudah tidak kuat lagi menjadi orang miskin, apalagi sekarang hutang saya sudah sangat banyak, dan anak isteri saya sudah tak kuat menderita,” ungkap Husni, setengah menghiba.
“Ha...ha...ha...ha...!” gendruwo itu kembali tertawa terbahak-bahak. Namun kali ini tidak terlalu panjang, karena sejurus kemudian dia menghentikan tawanya dan menyerahkan potongan kaki emas yang dibawanya itu kepada Husni. Dia sepertinya sangat bangga karena sudah berhasil memperdaya seorang anak cucu Adam.
Dengan mata berbinar namun tetap dengan tubuh gemetaran, Husni menerima pemberian kaki emas itu. Begitu benda berukuran sebesar kaki bayi tersebut telah berpindah ke tangannya, Husni langsung menciumi benda itu. Namun kegembiaraannya tak berlangsung lama, karena sang gendruwo kembali berbicara untuk mengingatkan syarat yang harus dipenuhi oleh Husni sebegai konpensasi dari perjanjian gaib yang mereka lakukan.
“Ingat, Husni! Sekalipun kau tak boleh melewatkan janjimu terhadapku. Kalau kau sampai lalai, maka kau sendiri yang jadi taruhannya. Camkan itu baik-baik, Husni!”
“Baik, Mbah! Saya berjanji akan selalu menepatinya!” jawab Husni, penuh keyakinan.
Genderuwo itu kembali tertawa senang. Setelah itu, dalam sekejap mata, dia menghilang bagai ditelan bumi. Kini yang terlihat hanya batang pohon beringin yang menjulang tinggi bagai menembus awang-awang yang terlihat sangat angker.
Setelah genderuwo itu pergi, Husni pun berniat untuk segera pergi dari tempat itu. Namun, sebelum dia sempat berdiri dari tempatnya duduk bersila tadi, tiba-tiba terdengar suara sang gendruwo terdengar kembali. Sepertinya, ada hal lain yang lupa diingatkannya kedapa Husni.
“Simpan baik-baik Kaki Jin itu, bungkus dengan kain putih bersih serta berikan selalu sesaji kembang setaman di sampingnya!” demikian kata suara gaib itu.
“Baik, Mbah!” jawab Husni
Setelah celingukkan ke sana-sini dan merasa yakin tak ada seorang pun yang ikut menyaksikan ritual yang dilakukannya, maka dia pun segera berdiri dan bergegas meninggalkan tempat itu.
Aneh, keesokkan harinya setelah mendapatkan potongan benda mirip kaki terbuat dari emas yang disebut sebagai Kaki Jin itu, saat Husni sedang menggarap sawah milik Pak Kades, tiba-tiba dia seperti merasa ada yang menyapa dan mengajaknya pergi. Padahal, beberapa orang temannya yang lain ketika sama sama sekali tidak melihat apa-apa. Umumnya, mereka hanya melihat kalau Husni yang semula asyik mencangkul itu tiba-tiba berhenti, kemudian pergi sambil memanggil cangkulnya.
Hal itu masuk akal, karena pada dasarnya seseorang yang mengajak Husni pergi adalah sosok makhluk gaib yang akan menunjukkan tempat di mana Husni bisa mendapatkan harta sebanyak mungkin.
Dan memang benar, Makhluk yang berwujud seorang pemuda tampan itu mengajak Husni pergi ke pinggir hutan. Di sana Husni yang masih membawa cangkul disuruh untuk menggali tempat yang dipijaknya.
Husni pun segera menggali dengan cekatan. Tak berapa lama kemudian terlihatlah sebuah kotak yang ketika diangkat ternyata sebuah peti. Betapa terkejutnya Husni manakala peti itu dibuka, di dalamnya berisi setumpuk perhiasan emas dengan berbagai bentuk. Maka seketika itu juga langsung Husni berteriak, “Aku kaya! Ha…ha…ha…aku kaya!”
***
Waktu terus berjalan. Tepat tujuh bulan sudah Husni yang sebelumnya tergolong orang sangat miskin itu, kini telah berubah menjadi orang kaya raya. Hanya saja kali ini masalah sedang dihadapi oleh orang kaya baru itu. Tepat pada hari di mana dia harus menyediakan sepotong kaki manusia sebagai sesaji untuk gendruwo, dia justru menderita sakit parah yang membuatnya tidak mampu bangun. Karena itulah kegelisahaan selalu tampak pada raut wajahnya.
Malam harinya, kegelisahan itu semakin menghimpit, karena tepat pada tengah malam nanti sesaji itu harus diberikan. Padahal dia sudah punya rencana akan membongkar kuburan Sunardi yang baru meninggal tiga hari yang lalu untuk mengambil kakinya kirinya sebagai sesaji, seperti yang pernah dilakukannya pada kuburan Mbah Tinem tiga bulan lalu. Namun kondisi kesehatannya tidak memungkinkannya untuk bisa bangun. Ya, dia tak mungkin bisa beranjak meninggalkan tempat tidurnya untuk pergi ke areal pemakanan dan membongkar kuburan Sunardi, lali memotong kaki kirinya. Asmanya tiba-tiba kumat. Hisuni harus membungkus tubuhnya rapat-rapat dengan kain selimut. Kalau dia nekad pergi, pasti dia akan mati di tengah jalan akibat kedinginan dan kehabisan nafas.
Kekhawatiran itu pun akhirnya menjadi kenyataan. Tepat saat jam dinding berdentang sebanyak dua belas kali, bersamaan dengan itu tiba-tiba terasa ada hembusan angin kencang menembus jendela kamar tidur Husni. Sesaat kemudian di depannya telah berdiri sang gendruwo penghuni pohon beringin yang tempo hari memberinya benda gaib yang disebut sebagai Kaki Jin. Gendruwo itu telah mengingatkan Husni bahwa saat itu dia akan meminta tumbal yang harus disediakan olah budaknya. Namun karena tumbal itu tidak ada, maka kaki Husni pun harus segera dicabut sesuai dengan janji yang telah mereka sepakati.
Dan…Husni hanya bisa menjerit histeris saat kaki kirinya terlepas dari tubuhnya, akibat ditarik dengan sangat kuat oleh makhluk halus laknat itu. Sesaat kemudian dia langsung pingsan. Namun, karena darah yang keluar begitu banyak, akhirnya nyawa lelaki malang ini tidak tertolong lagi. Husni mati secara mengenaskan. Sebelah kakinya raib entah ke mana. Tak ada seorang pun tahu, termasuk juga Warsinah, isterinya, yang malam itu sempat melihat suaminya tenggelam dalam genangan darah akibat kaki kirinya yang tercabut secara misterius.
Demikianlah kisah yang dituturkan oleh Mulyono. Dia mengaku bisa menggambarkan kisah ini sebab tiga hari sebelum kematian menjemputnya, Husni sempat bercerita padanya tentang ritual sesat yang telah dilakukannya. Kepada Mulyono, Husni mengaku menyesal telah melakukan kesesatan ini, namun dia tak tahu cara untuk lari dari perjanjian gaib yang telah dilakukannya.
Semoga kisah mistis yang dialami oleh Husni dapat kita jadikan pelajaran bahwa mengharap kekayaan dari makhluk halus dunia hitam, pada akhirnya hanya akan menimbulkan kesengsaraan dunia akhirat bagi kita. Karena itu, jangan sekali-kali terjerat dalam urusan yang satu ini.
Setelah mengadakan ritual, Husni mendapatkan kaki raja jin. Kaki inilah yang menuntunnya menemukan sekotak harta karun, hingga membuatnya kaya raya. Namun, karena Husni tidak bisa memenuhi janjinya, maka nyawanya sendiri yang harus menjadi tumbal. Bagaimana kisah mistis selengkapnya? Mulyono, salah seorang kerabat dekat Husni, menuturkan rentetan peristiwa mistis itu ….
Malam itu, lebih dari empat jam lamanya Husni duduk bersila di bawah pohon beringin tua yang terletak di bagian barat tempat pemakaman umum (TPU) Desa Ranca Kalong. Asap dupa dan kemenyan yang dibakar masih terlihat mengepul, menyebarkan aroma menyengat ke seantero tempat itu.
Keadaan begitu sunyi. Suara jangkrik dan belalang yang saling bersahutan menambah keseraman suasana. Terlebih dahulu lolongan anjing di kejauhan sesekali terdengar melengking, bagai jerit malaikat kematian.
Gerimis turun renyai-renyai, sementara udara semakin dingin menggigit tulang sum-sum. Namun, seolah tidak lagi merasakan dinginnya udara yang menusuk tulang, mulut Husni terus saja terlihat berkomat-kamit membaca mantera-mantera yang diperolehnya dari Ki Ireng Legono, dukun sakti aliran hitam yang bermukim di Bukit Tengkorak. Bunyi mantera yang dibaca itu sesekali terdengar lirih, namun tak jarang pula terdengar keras. Sesekali pula disertai getaran tubuh Husni yang begitu keras, bagai orang menggigil terserang demam. Dan bersamaan dengan getaran tubuhnya, asap tebal langsung mengepul dari dalam pendupaan yang terletak di hadapan Husni.
Saat jarum jam tepat menunjukkan pukul setengah dua dinihari sesuatu yang aneh mendadak terjadi. Bersamaan dengan mengepulnya asap dan getaran tubuh Husni yang semakin menghebat, maka keluarlah seberkas cahaya kemerahan dari dalam pendupaan itu. Cahaya aneh ini menembus kepulan asap kemenyan yang melayang-layang di udara. Selanjutnya, setelah cahaya kemerahan itu mulai memudar, muncullah sosok mahkluk tinggi besar dengan wajah yang menyeramkan. Makhluk ini berdiri tegak persis di hadapan Husni.
Kedua mata mahkluk itu berwarna merah menyala, sementara dua pasang gigi taring yang berukuran besar tampak menyembul di antara sela-sela mulutnya yang semarah darah itu. Noda-noda merah seperti bekas darah memang terlihat menghiasi sepasang gigi taring itu. Suara geramannya terdengar sangat menyeramkan, bahkan nyaris menghentikan alirah darah di sekujur tubuh Husni.
“Grrrr...! Siapa kau hai manusia? Berani sekali kau mengganggu istirahatku. Apa yang kau inginkan dariku?” tanya mahkluk yang tak lain adalah gendruwo penguasa pohon beringin tua yang ada di areal pemakaman tua itu.
“A...ampun, Mbah. S…sa…sa…saya Hus…Husni, Mbah. S…saya mau minta bantuan, Mbah,” ucap Pak Husni dengan mulut dan tubuh gemetar. Begitu takutnya dia hingga suaranya hamper saja tak bisa melewati kerongkongannya.
“Bantuan apa yang kau butuhkan, hai manusia?” tanya mahkluk itu lagi.
“Saya ingin jadi orang kaya, Mbah. Kata Ki Ireng Legono, Mbah bisa menolong saya untuk menjadi kaya,” jawab laki-laki setengah baya itu.
Gendruwo itu tidak segera menjawab. Mahkluk menyeramkan itu hanya tertawa terbahak-bahak dengan suara yang memekakkan telinga, sambil memamerkan deretan gigi taringnya yang menyeramkan. “Ha...ha...ha...ha...ha...!” suara tawa itu terdengar menggema, dan seakan membuat bumi bergetar.
Melihat hal ini Husni hanya bisa tertunduk sambil berusaha menekan perasaannya. Ketakutan semakin hebat menyelimuti hatinya, hingga keringat dingin tanpa terasa mengalir deras membasahi seluruh tubuhnya. Namun karena keinginannya untuk bisa segera menjadi orang kaya begitu kuat dalam hatinya, lelaki bertubuh sedang ini pun memberanikan diri untuk kembali bertanya pada gendruwo itu.
“Ba...bagaimana, Mbah? Apa betul Mbah bisa membantu saya menjadi orang kaya?” suara Husni terdengar gemetarm seperti juga tubuhnya yang gemetaran seperti terserang demam.
“Itu soal mudah, yang penting kau bisa menyediakan kesukaanku,” jawab sang gendruwo dengan suara yang lebih ramah.
“Apa sajakah itu, Mbah?” tanya Husni lagi.
“Setiap malam Jumat kamu harus selalu menyediakan kemenyan, kembang telon, serta candu. Letakkan benda-benda itu tepat di bawah pohon beringin ini. Ingat, harus kau letakkan tepat pada tengah malam. Kalau kamu bisa memenuhinya semua kesukaanku itu, maka kamu akan aku beri ini….” ucap si gendruwo sembari menunjukkan sebuah potongan kaki berukuran kecil yang terbuat dari emas.
Husni terkejut dan langsung keheranan mendapatkan benda mirip sepotong kaki yang terbuat dari emas itu. Dia merasa ragu, apakah mungkin benda kecil itu akan mampu merubahnya menjadi orang yang kaya raya? Lantas, bagaimana caranya?
“Dengan benda ini kamu akan bisa jadi kaya raya. Karena benda ini akan selalu menuntunmu ke berbagai tempat yang memungkinkan kamu bisa mendapatkan banyak uang,” lanjut si genderuwo seolah mengetahui keraguan dalam hati calon budaknya.
“Benda apa itu, Mbah. Lalu, apakah syaratnya memang cuma itu?” Tanya Husni lagi.
Genderuwo itu kembali menggeram. “Benda itu namanya Kaki Jin. Hanya itu yang bisa kuberi tahu. Ingat, disamping permintaanku tadi, tiap tiga purnama sekali kamu harus menyediakan sepotong kaki kiri manusia sebagai pelengkap syarat yang harus kamu sediakan pada tiap malam Jumat. Kamu bebas mencari kaki siapa saja yang akan kamu persembahkan. Kamu bisa mencurinya dari makam ataupun membunuh orang secara langsung dan mengambil kakinya. Yang penting benda itu harus ada pada waktu yang ditentukan. Karena kalau tidak, maka kakimu sendiri yang akan jadi gantinya,” jelasnya.
Mendengar penjelasan itu Husni terdiam beberapa saat lamanya. Sepertinya dia merasa ragu untuk memenuhi permintaah si genderuwo yang amat menyeramkan baginya. Ya, bagaimana mungkin Husni akan sanggup menyediakan sesajen berupa potongan kaki manusia, sedangkan memotong kaki ayam saja dia selalu ketakutan? Lalu, bagaimana dia bisa memperoleh potongan kaki itu? Hih, menyeramkan sekali!
Di saat yang genting itu Husni berpikir keras untuk mempertimbangkan untung rugi yang akan dihadapinya. Namun, demi terbayang segala kesusahan hidup dan hinaan yang selama ini dia terima bersama anak dan isterinya, akibat dari kemiskinan yang dideritanya, maka bayangan mengerikan itu sepertinya begitu saja sirna.
Ya, semuanya memang terasa begitu pahit. Husni tak ingin anak dan isterinya terus menjadi bahan hinaan. Karena itu dia harus melewati tentangan sepahit apapun asal keinginannya menjadi orang kaya dapat segera terwujud.
Mendadak keraguan dan kengerian itu hilang. Buktinya, tak berapa lama kemudian, mimik wajah Husni yang sebelumnya terlihat tegang, berubah menjadi sedikit tenang, bahkan nampak ceria. Sepertinya dia telah menentukan sikap, dan yang pasti dia telah menerima syarat yang diajukan oleh si gendruwo laknat.
“Baiklah, saya bersedia memenuhi persyaratan itu, Mbah. Yang penting saya bisa segera menjadi orang kaya. Saya sudah tidak kuat lagi menjadi orang miskin, apalagi sekarang hutang saya sudah sangat banyak, dan anak isteri saya sudah tak kuat menderita,” ungkap Husni, setengah menghiba.
“Ha...ha...ha...ha...!” gendruwo itu kembali tertawa terbahak-bahak. Namun kali ini tidak terlalu panjang, karena sejurus kemudian dia menghentikan tawanya dan menyerahkan potongan kaki emas yang dibawanya itu kepada Husni. Dia sepertinya sangat bangga karena sudah berhasil memperdaya seorang anak cucu Adam.
Dengan mata berbinar namun tetap dengan tubuh gemetaran, Husni menerima pemberian kaki emas itu. Begitu benda berukuran sebesar kaki bayi tersebut telah berpindah ke tangannya, Husni langsung menciumi benda itu. Namun kegembiaraannya tak berlangsung lama, karena sang gendruwo kembali berbicara untuk mengingatkan syarat yang harus dipenuhi oleh Husni sebegai konpensasi dari perjanjian gaib yang mereka lakukan.
“Ingat, Husni! Sekalipun kau tak boleh melewatkan janjimu terhadapku. Kalau kau sampai lalai, maka kau sendiri yang jadi taruhannya. Camkan itu baik-baik, Husni!”
“Baik, Mbah! Saya berjanji akan selalu menepatinya!” jawab Husni, penuh keyakinan.
Genderuwo itu kembali tertawa senang. Setelah itu, dalam sekejap mata, dia menghilang bagai ditelan bumi. Kini yang terlihat hanya batang pohon beringin yang menjulang tinggi bagai menembus awang-awang yang terlihat sangat angker.
Setelah genderuwo itu pergi, Husni pun berniat untuk segera pergi dari tempat itu. Namun, sebelum dia sempat berdiri dari tempatnya duduk bersila tadi, tiba-tiba terdengar suara sang gendruwo terdengar kembali. Sepertinya, ada hal lain yang lupa diingatkannya kedapa Husni.
“Simpan baik-baik Kaki Jin itu, bungkus dengan kain putih bersih serta berikan selalu sesaji kembang setaman di sampingnya!” demikian kata suara gaib itu.
“Baik, Mbah!” jawab Husni
Setelah celingukkan ke sana-sini dan merasa yakin tak ada seorang pun yang ikut menyaksikan ritual yang dilakukannya, maka dia pun segera berdiri dan bergegas meninggalkan tempat itu.
Aneh, keesokkan harinya setelah mendapatkan potongan benda mirip kaki terbuat dari emas yang disebut sebagai Kaki Jin itu, saat Husni sedang menggarap sawah milik Pak Kades, tiba-tiba dia seperti merasa ada yang menyapa dan mengajaknya pergi. Padahal, beberapa orang temannya yang lain ketika sama sama sekali tidak melihat apa-apa. Umumnya, mereka hanya melihat kalau Husni yang semula asyik mencangkul itu tiba-tiba berhenti, kemudian pergi sambil memanggil cangkulnya.
Hal itu masuk akal, karena pada dasarnya seseorang yang mengajak Husni pergi adalah sosok makhluk gaib yang akan menunjukkan tempat di mana Husni bisa mendapatkan harta sebanyak mungkin.
Dan memang benar, Makhluk yang berwujud seorang pemuda tampan itu mengajak Husni pergi ke pinggir hutan. Di sana Husni yang masih membawa cangkul disuruh untuk menggali tempat yang dipijaknya.
Husni pun segera menggali dengan cekatan. Tak berapa lama kemudian terlihatlah sebuah kotak yang ketika diangkat ternyata sebuah peti. Betapa terkejutnya Husni manakala peti itu dibuka, di dalamnya berisi setumpuk perhiasan emas dengan berbagai bentuk. Maka seketika itu juga langsung Husni berteriak, “Aku kaya! Ha…ha…ha…aku kaya!”
***
Waktu terus berjalan. Tepat tujuh bulan sudah Husni yang sebelumnya tergolong orang sangat miskin itu, kini telah berubah menjadi orang kaya raya. Hanya saja kali ini masalah sedang dihadapi oleh orang kaya baru itu. Tepat pada hari di mana dia harus menyediakan sepotong kaki manusia sebagai sesaji untuk gendruwo, dia justru menderita sakit parah yang membuatnya tidak mampu bangun. Karena itulah kegelisahaan selalu tampak pada raut wajahnya.
Malam harinya, kegelisahan itu semakin menghimpit, karena tepat pada tengah malam nanti sesaji itu harus diberikan. Padahal dia sudah punya rencana akan membongkar kuburan Sunardi yang baru meninggal tiga hari yang lalu untuk mengambil kakinya kirinya sebagai sesaji, seperti yang pernah dilakukannya pada kuburan Mbah Tinem tiga bulan lalu. Namun kondisi kesehatannya tidak memungkinkannya untuk bisa bangun. Ya, dia tak mungkin bisa beranjak meninggalkan tempat tidurnya untuk pergi ke areal pemakanan dan membongkar kuburan Sunardi, lali memotong kaki kirinya. Asmanya tiba-tiba kumat. Hisuni harus membungkus tubuhnya rapat-rapat dengan kain selimut. Kalau dia nekad pergi, pasti dia akan mati di tengah jalan akibat kedinginan dan kehabisan nafas.
Kekhawatiran itu pun akhirnya menjadi kenyataan. Tepat saat jam dinding berdentang sebanyak dua belas kali, bersamaan dengan itu tiba-tiba terasa ada hembusan angin kencang menembus jendela kamar tidur Husni. Sesaat kemudian di depannya telah berdiri sang gendruwo penghuni pohon beringin yang tempo hari memberinya benda gaib yang disebut sebagai Kaki Jin. Gendruwo itu telah mengingatkan Husni bahwa saat itu dia akan meminta tumbal yang harus disediakan olah budaknya. Namun karena tumbal itu tidak ada, maka kaki Husni pun harus segera dicabut sesuai dengan janji yang telah mereka sepakati.
Dan…Husni hanya bisa menjerit histeris saat kaki kirinya terlepas dari tubuhnya, akibat ditarik dengan sangat kuat oleh makhluk halus laknat itu. Sesaat kemudian dia langsung pingsan. Namun, karena darah yang keluar begitu banyak, akhirnya nyawa lelaki malang ini tidak tertolong lagi. Husni mati secara mengenaskan. Sebelah kakinya raib entah ke mana. Tak ada seorang pun tahu, termasuk juga Warsinah, isterinya, yang malam itu sempat melihat suaminya tenggelam dalam genangan darah akibat kaki kirinya yang tercabut secara misterius.
Demikianlah kisah yang dituturkan oleh Mulyono. Dia mengaku bisa menggambarkan kisah ini sebab tiga hari sebelum kematian menjemputnya, Husni sempat bercerita padanya tentang ritual sesat yang telah dilakukannya. Kepada Mulyono, Husni mengaku menyesal telah melakukan kesesatan ini, namun dia tak tahu cara untuk lari dari perjanjian gaib yang telah dilakukannya.
Semoga kisah mistis yang dialami oleh Husni dapat kita jadikan pelajaran bahwa mengharap kekayaan dari makhluk halus dunia hitam, pada akhirnya hanya akan menimbulkan kesengsaraan dunia akhirat bagi kita. Karena itu, jangan sekali-kali terjerat dalam urusan yang satu ini.
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)