Penulis : IDUL FIETRI DAZ
Kedua arwah sahabatnya datang dan mengaku tak kuat lagi menahan siksa api neraka. Sebagai pemimpin geng, dia dituntut kedua arwah sahabatnya itu untuk membebaskan mereka dari siksaan. Bagaimana mungkin hal ini bisa dilakukannya. ..?
Memang benar kata orang bahwa jodoh, maut, dan rezeki merupakan hal yang misteri atau rahasia Tuhan kepada manusia. Misalnya saja, sekarang kita kaya, mungkin nanti jadi miskin. Hari ini jahat, mungkin besok-besok bisa jadi baik. Atau malah yang hari ini baik, besok berubah jadi penjahat. Demikian seterusnya. Semuanya berjalan mengikuti siklus yang ada. Siapa yang kuat, dialah yang dapat bertahan.
Demikian pula yang terjadi dengan sahabat karib saya. Sebut saja Ki Anom namanya (bukan nama asli). Semasa duduk dibangku SLTA, karib saya ini tergolong santri, dan sangat rajin menjalankan perintah agama. Tapi setelah merantau ke pulau Jawa, malah dia berubah menjadi berandal, pemabok dan pecandu narkoba.
Ki Anom sendirinya sebenarnya sebuah julukan pemberian saya kepadanya, yang ketika itu masih sama-sama duduk di bangku SLTA. Mengapa julukan yang nampaknya sacral ini saya berikan kepadanya? Karena ketika itu dia sangat suka memberikan nasehat atau petuah-petuah agama kepada saya atau teman yang lainnya, sehingga bagi saya sebutan Ki Anom itu memang sangat pantas baginya.
Waktu itu, keberangkatan Ki Anom ke Surabaya sebenarnya untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ya, dia mau kuliah di sebuah universitas yang sangat didambakannya. Namun karena gagal masuk ke perguruan tinggi idamannya, dia akhirnya dipaksa kuliah oleh orang tuanya di kampus yang menjadi pilihan mereka. Meski Ki Anom menolak, namun kedua orang tuanya tetap saja memintanya kuliah di sana.
Karen masuk dengan cara terpaksa, maka pantaslah kalau keberadaan Ki Anom di perguruan tinggi itu hanya berusia seumur jagung. Setelah drop out dari perguruan tinggi, dia nampaknya lebih tertarik kepada dunia kehidupan "semau gue" alias brokenhome. Dari sini, dia mulai mengenal bisnis barang haram yang menghasilkan banyak uang. Ketimbang pusing-pusing menghadapi pelajaran, dinoa kemudian membuatnya terlena.
Atas ajakan seorang temannya bernama Bony, akhirnya Ki Anom hengkang juga ke Jakarta. Karena Jakarta menurutnya punya potensi untuk mengembangkan usaha haramnya tadi.
Jakarta sebagai kota besar, tentu banyak menyimpan misteri kehidupan, dari kegiatan yang sifatnya baik-baik sampai yang palilng buruk pun ada. Karena lingkungan kota besar sangat memungkinkan bagi setiap orang untuk berbuat yang serba bebas.
Selama berdiam di Jakarta, gaya hidup Ki Anom mulai berubah. Dia sudah banyak bergaul dengan orang-orang berandal atau dunia kelam lainnya. Dunia kekerasan, miras maupun narkoba bukanlah barang yang asing lagi bagi dirinya.
Bahkan hidup dalam penjara pun pernah dia alami selama 2,5 tahun, karena kasus narkoba. Namun penjara ternyata bukannya membuat Ki Anom menjadi jera. Yang terjadi malah sebaliknya. Sekeluarnya dari penjara, Ki Anom berbuat yang lebih nekad lagi. Dia bukan saja sebagai pemakai dan pengedar, tapi juga berambisi menjadi agen atau pemasok narkoba.
Nampaknya, kian lama Ki Anom semakin berani menjalankan operasinya, dan semakin jauh pula kehidupannya dari jalan agama, yang semasa SMA dulu begitu fasih dikuasainya. Perilakunya semakin rusak dan sudah berputar 180 derajat dari kehidupannya dulu sebelum merantau ke Jakarta, dan terlibat dengan pergaulan yang keras.
Sampai pada suatu hari, terjadilah perkelahian antara geng yang dipimpin Ki Anom dengan anggota geng lainnya. Korban luka-luka berjatuhan, bahkan korban nyawa pun tidak bisa dihindari lagi. Untung saja ketika itu, Ki Anom bisa menyelamatkan diri walau dirinya juga mengalami luka ringan di tubuhnya.
Setelah perkelahian itu, polisipun berdatangan untuk mengevakuasi lokasi maupun orang-orang yang terlibat perkelahian tersebut. Sekali lagi Ki Anom terhindar dari kepungan petugas polisi, kendati ketika itu dia harus berjam-jam lamanya berada dalam genangan air selokan yang memuakkan.
Kedati polisi tak dapat menangkapnya, namun jati diri Ki Anom dan konco-konconya sudah diketahui polisi, dan polisi pun terus berupaya mencari dan mengejarnya. Karena gerak-geriknya di Jakarta sudah semakin sempit, akhirnya Ki Anom hengkang lagi ke kampung, guna menyelamatkan diri dari kejaran polisi.
Dasar Ki Anom, sekembalinya di kampong halaman pun lagi-lagi dia melakukan kegiatan seperti di Jakarta. Mabok miras atau narkoba itu sudah menjadi kebiasaannya tiap hari, yang sepertinya akan sulit untuk ditinggalkannya. Hampir tiap hari kerjanya mabuk-mabukkan, dan tak seorang pun yang bisa mencegahnya. Bila ada yang nekad mencegahnya, maka Ki Anom akan murka dan berjanji akan membunuhnya.
Hingga tibalah di suatu malam, Ki Anom dan teman-teman barunya di kampong halaman, berpesta mabok-mabokan di rumah kontrakan tempat persembunyian geng mereka. Begitu hebatnya mereka mabuk, sampai akhir tanpa sadar mereka semuanya lelap dalam tidurnya. Pada keesokan harinya sekitar pukul 11.15, baru Ki Anom mulai membuka matanya. Dia segera bangkit dari tidurnya, lalu duduk. Dia heran karena dilihatnya semua teman-temannya sudah tidak ada di tempat itu. Mungkin mereka semua sudah pergi, dan sengaja meninggalkannya seorang diri, sebab tak ada satupun yang berani membangunkan Ki Anom.
Dengan mata yang masih merah, dia melotot ke arah pintu. Anehnya, begitu ditatapnya, pintu itu mengeluarkan bunyi yang agak nyaring, seperti layaknya ada yang membukanya dari luar. Dan benar saja, pintu itu memang mulai terbuka. Mata Ki Anom terus memelototinya.
ìJangan-jangan polisi mau meringkusku!î begitu terlintas dalam benak Ki Anom.
Dua menit kemudian, sebuah gumpalan asap putih masuk lewat sela-sela pintu yang meregang tadi. Dan lama-lama asap itu membentuk semacam hantu pocong. Kesadaran Ki Anom sebenarnya belum pulih 100%, dan dengan agak sempoyongan dia berusaha mendekati pintu yang ada hantu pocongnya itu.
Belum lagi Ki Anom mencapai pintu itu, asap berupa hantu pocong tersebut mengeluarkan suara tangisnya yang mengiba-iba. Karuan saja Ki Anom mundur beberapa langkah dan duduk lagi di atas kasur.
Setelah menghela nafas keras beberapa kali, Ki Anom memberanikan diri lagi untuk mendekatinya, namun hantu pocong tersebut berteriak-teriak sambil mengaduh kesaktian dan akhirnya kembali berubah menjadi gumpalan api. Ki Anom tercengang melihat pemandangan yang.benar-benar aneh ini.
Setengah menit kemudian, asap tersebut segera menghilang. Ki Anom menjadi sangat kaget dan keheranan, dan karena pula dia menjadi sadar betul. Dengan pelan-pelan Dia mendekati dan meraba pintu itu. Namun tidak ada apa-apanya, pintu ya tetap pintu.
ìAh, barangkali aku hanya berhalusinasi?î pikir Ki Anom.
Suara adzan berkumandang dari sebuah masjid dekat rumah itu, bersamaan itu pula lamunan Ki Anom yang memikirkan kejadian aneh itu buyar. Dia pun berusaha mendekati jendela dan membukanya, seakan ingin lebih jelas lagi mendengarkan kalimat panggilan sholat bagi seorang muslim itu.
Dia lalu menggumam sendirian, ìMasyaa Allah, entah berapa lama sudah aku tidak melaksanakan sholat, dan entah berapa banyak pula kemaksiatan dan dosa yang sudah aku lakukan. Astagfirullah al adzim...!î
Mata memandang jauh dari lubang jendela kamarnya yang berada di tingkat atas. Dia seakan ingin melakukan kilas balik atas segala perbuatan maksiatnya yang berlumuran dosa itu. Tanpa terasa beberapa tetes air mata bening keluar dari kelopak matanya yang sudah tampak mencekung itu.
Waktu itu, Ki Anom seharian tidak keluar rumah. Dia hanya duduk-duduk di kamarnya sambil melamun dan merenungi nasibnya yang kini larut dalam dunia hitam. Bahkan makan pun tidak ada selera. Dia hanya merebus sebungkus mie instan untuk sekedar mengisi perutnya yang sejak tengah malam tadi tanpa diisi apapunm, kecuali hanya cairan alcohol yang seakan membakarnya.
Kendati titik-titik cahaya iman sudah mulai memasuki batinnya, namun Ki Anom belum terbuka lagi hatinya untuk mengerjakan shalat. Tapi setidaknya itu sudah merupakan tanda-tanda baginya untuk kembali ke jalan yang benar. Karena jiwanya masih sangat labil, bergejolak dan bahkan sedan ak, ketika mendengar suara tangis yang ternyata persis seperti tangisan hantu pocong tempo hari. Mata Ki Anom pun menoleh ke arah datangnya suara tangisan itu. Dan ternyata dia kembali melihat sebuah bayangan, atau persisnya asap putih yang berbentuk hantu pocong. Sosok aneh ini mengawang-awang di balik jendela berkaca naco yang belum tertutup gorden.
Kali ini pocong tersebut mengeluarkan kata-katanya, ìBos, tolong saya..Tolong Bos, tubuh saya dibakar api neraka.î
ìHe setan... siapa kamu? Pergi...pergi dari sini!?î bentak Ki Anom, gelagapan
ìJangan begitu dong, Bos. Saya Bony, teman Bos sendiri. Hanya kepada Bos saya berani meminta tolong untuk membekaskan saya dari api neraka yang terus mengepung saya,î ujar asap aneh berbentuk pocongan mayat itu.
Ki Anom terbelalak. Tubuhnya menggigil hebat, sampai sesaat kemudian hantu pocong yang mengaku bernama Bony tersebut terbakar api dan lenyap seketika. Ketika keadaan menjadi tenang, Ki Anom tersentak kaget mendengar pengakuan pocong yang menyebut dirinya sebagai Bony itu. Dia ingat, kalau Bony itu adalah teman akrabnya semasa di Jakarta, yang sering mabuk berduaan bersamaannya. Bahkan tak hanya itu, dia juga sering menikmati satu perempuan dengan Bony.
ìTapi kenapa bisa jadi begini?î Ki Anom menggumam sendirian. Sekujur tubuhnya masih merinding membayangkan kejadian yang baru saja dialaminya.
Malam itu, Ki Anom kembali tidak bisa tidur semalaman. Karenanya, pada pagi hari sekitar pukul 08.30 WIT, dia akhirnya tertidur pulas. Namun dalam tidurnya kali inipun arwah temannya itu terus menterornya dalam mimpi. Bahkan kali ini Bony dan Bondan datang secara bersamaan. Mereka adalah dua sahabat karib Ki Anom semasa di Jakarta. Beginilah kurang lebihnya percakapan Ki Anom dengan kedua temannya dalam mimpi.
ìKami datang berdua kesini minta tolong sama, Bos. Kami telah disiksa dan dibakar dalam kubur.î
ìBagaimana mungkin, aku tidak bisa menolong kalian. Aku tidak tahu bagaimana caranya.î
ìPokoknya Bos harus bisa, dan Bos harus bertanggungjawab. Kami jadi begini kan karena mengikuti ajakan dan perintahmu.î
ìPokoknya juga tidak bisa. Mana mungkin aku bisa menolong kalian!î
ìKalau begitu biar kami berdua yang akan membakarmu, Bos!î
ìJangan... jangan...! Tolong... tolong...tolong...!î
Ki Anom terbangun dari tidurnya, dan dilihatnya beberapa orang penghuni rumah yang ada di lantai bawah berada di dekatnya.
ìAda apa ini?î tanya Ki Anom, gelagapan..
ìBukankah tadi kamu yang berteriak minta tolong. Lantas kami datang dan kebetulan pintu kamarmu kamu tidak terkunci,î jawab seseorang.
ìOoo...begitu! Rupanya tadi aku mengigau. Aku minta maaf. Sekarang, pergilah kalian semua,î sahut Ki Anom sambil berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya..
Setelah orang-orang tadi keluar kamarnya, Ki Anom kembali bergumam sendirian. ìMasya Allah...Laaillahaillallah Muhammadarrasulullah. Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Bony dan Bodan?î
Dia lalu segera bangkit dari pembaringannya, dan duduk dilantai sambil bersandar di pinggir tempat tidur. Dia lagi-lagi melamun, dan mengingat kedua temannya, Bony dan Bondan di Jakarta.
ìApa mereka sudah meninggal?î gumamnya. ìPadahal seingatku, Bony dan Bondan juga selamat saat terjadi perkelahian di Jakarta. Bahkan mereka sempat melepaskan keberangkatanku tempo hari ke Lampung. Mungkin sesuatu yang tidak beres telah menimpa mereka.î
Dua malam kemudian arwah Bony dan Bondan datang lagi menerornya. Waktu itu, bertepatan dengan Ki Anom mendapat kabar dari temannya, bahwa barang-barang dari Aceh yang berupa daun ganja kering akan segera datang pada malam hari tersebut. Bahkan, transaksi akan segera dilakukan di tempat biasa kawanan mereka bertemu. Karenanya, malam itu Ki Anom dan dua pengawalnya segera berangkat dengan naik mobil menuju ke tempat transaksi. Suasana jalan agak sepi. Mungkin karena cuaca yang sedang gerimis. Kendati demikian, mobil yanhg mereka kendarai tetap melaju dengan kecepatan 120 Km/jam.
Setelah sekitar 15 menit perjalanan, di sebuah ruas jalan sepi, seketika Ki Anom menginjak rem mobilnya dengan keras, sehingga membuat arah mobil berbalik kembali.
ìApa apa, Bos?î Tanya salah seorang temannya yang tadi hampir saja terdorong jatuh dari jok.
ìAh....nggak ada apa-apa, cuma ngantuk saja!î sahut Ki Anom dengan wajah sedikit tegang.
ìPerlu aku gantikan nyetir, Bos?î usul temannya yang satu lagi.
ìEhm...nggak perlu, kan sudah dekat!î kata Ki Anom.
Mobilpun kembali melaju dengan cepat. Namun mendadak Ki Anom berteriak histeris, ìTidaaakkk...jangaaanÖ!?î
Untunglah dengan cepat temannya yang disamping ikut membantu mengendalikan stir, kalau tidak pasti sudah menabrak tiang listrik. Setelah keadaan mobil terkendali, Ki Anom segera menepikan mobilnya di dekat sebuah masjid.
Lalu, dengan gugup dia menyatakan bahwa dirinya tidak bisa ikut melanjutkan perjalanan dan melakukan rencana semula, dengan alasan selain ngantuk juga sedang tidak enak badan. Kali ini dia harus mempercayakan kepada dua temannya itu untuk melaksanakan tugas yang selama ini dia lakukan sendiri. Dan kedua temannya yang tidak tahu apa yang terjadi terhadap diri Ki Anom itupun setuju saja, tanpa curiga dan banyak tanya.
Setelah kedua temannya pergi untuk melanjutkan perjalanan, dengan langkah gontai, Ki Anom memasuki pekarangan masjid. Dia menuju kran air untuk membasuh mukanya yang tampak acak-acakan itu. Dia duduk melamun di teras masjid dengan pandangan hampa. Dalam pikirannya yang terbayang hanyalah wajah dua temannya yang di Jakarta, Bony dan Bondan, yang tadi tiba-tiba saja muncul dikaca depan mobil dan persis di hadapan Ki Anom. Saat itu, Ki Anom sempat melihat Bony dengan ganasnya menumpahkan bensin dari jerigen ke seluruh mobil yang dikendarinya. Sementara Bondan sudah bersiap-siap menyalakan korek apinya. Makanya Ki Anom berteriak histeris dan langsung mengerem mobilnya, sehingga terpelanting dan nyaris tidak terkendali lagi..
Hal ini tersebut memang tidak diceritakannya kepada kedua temannya yang sudah berangkat untuk transaksi ganja tadi. Dia takut kedua temannya itu akan menganggapnya naif dan penakut, sehingga kewibawaannya sebagai pemimpin geng jadi luntur.
Lamunan Ki Anom segera buyar setelah beberapa orang jama'ah dan imam Masjid datang untuk melaksanakan shalat Subuh. Dan Ki Anom pun ikut shalat mengikuti ajakan sang imam masjid tersebut.
Setelah kejadian demi kejadian yang beruntun menimpa Ki Anom, akhirnya dia berencana untuk secepatnya pergi ke Jakarta guna mengetahui keadaan sebenarnya yang menimpa Bony dan Bondan, teman akrabnya.
Ketika berada di Jakarta, Ki Anom segera merubah penampilannya. Dia berpakaian ala seorang ulama atau kyai, dengan maksud agar polisi tidak mengenalinya lagi. Ketimbang langsung ke rumah Bony atau Bondan, dia lebih memilih ke rumah Dodo yang juga salah seorang temannya. Menurut pertimbangan Ki Anom, rumah Dodo jauh lebih aman dari jangkauan polisi.
Ringkas cerita, setelah bertemu Dodo yang menyambutnya dengan penuh suka cita, akhiir Ki Anom tahu bahwa Bony dan Bondan mati ditembak polisi karena berusaha melarikan diri saat rumahnya digrebek petugas.
ìInnalillahi wa'inna lillahi rajiiun,î cetus Ki Anom dengan suara datar. Air matanya tak terasa jatuh menitik.
Ternyata firasat buruk Ki Anom menjadi kenyataan. Dan mungkin benar pula Bony dan Bondan tersiksa di alam kubur sana, karena dosa-dosanya sudah terlampau banyak, seperti halnya juga Ki Anom sendiri.
Semuanya itu berpangkal dari Ki Anom, karena dia yang mula-mula mengajak mereka bergabung dengan kegiatan haramnya. Sehingga pantaslah kalau arwah mereka bergentayaangan dan selalu menerornya.
Setelah memberikan sejumlah uang kepada Dodo, Ki Anom segera pamit untuk menuju Surabaya. ìJaga dirimu baik-baik dan sebaiknya kamu segera bertobat. Sebelum terlambaty,î katanya.
ìSaya menurut apa kata Bos saja!î sahut Dodo, pendek.
ìInsya Allah saya bertobat di Surabaya, dan akan mendalami ilmu agama pada seorang Kyai kenalan saya dulu,î ucap Ki Anom sambil berjalan menuju mobilnya.
Sesampainya di Surabaya, dia benar-benar mau bertobat. Pria yang sebelumnya gemar mabuk ini berubah sangat rajin belajar ilmu-ilmu agama pada seorang Kyai. Akhirnya, berkat kegigihannya menuntut ilmu agama, selama hampir 10 tahun, maka kini dia benar-benar sudah menjadi Ki Anom alias Kyai Anom, yang berarti Kyai muda.
Ki Anom sekarang sudah dikarunia seorang putera dan puteri yang manis-manis, hasil dari perkawinannya dengan Halimah, puteri dari guru ngajinya selama ini. Semoga kisah sejati yang dialaminya dapat memberi inspirasi bagi kita untuk menuju jalan kebaikan.
BULUH PERINDU ASMARA
PAKET BULU PERINDU YANG MELEGENDA
Solusi asmara anda yang kandas,pacar di ambil orang,cinta bertepuk sebelah tangan, dan semua yang berhubungan dengan asmara ..
Bulu Perindu Asli Kalimantan
khasiatnya antara lain..
pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh, cocok untuk pria dan wanita dan mudah di bawa-bawa,cukup di letakkan di saku dompet,dan kopiah atau ikat pinggang,
dan sepasang bulu perindu akan di kirim lengkap bersama tata cara penggunaannya dan cara penyimpanannya.
mahar : Rp.300.000
Bulu Perindu dalam kemasan plastik
petunjuk dan tata cara pemakaian akan di kirimkan lengkap bersama paket
Bulu perindu.
Cara penggunaan bulu perindu tanpa minyak :
1.untuk memikat cewek cukup baca mantranya pada tengah malam sambil membayangkan wanita/pria yang di tuju.
2.Bulu Perindu direndam sebentar saja dalam segelas air, lalu air nya di minum kan ke istri/suami, pacar atau orang lain yang sengaja akan anda lunakkan atau dibuat simpati hatinya.
insyallah akan nurut, marah jadi senang, benci jadi rindu.
3. Bulu Perindu di rendam sebentar dalam bak/ember sekitar 1 menit, lalu airnya disiram atau dipercik kan disekitar tempat usaha (spanduk, toples, meja, kursi, pintu, kaca , jendela, pagar toko dll agar laris.
bisa juga diletak kan dalam Hand phone (dibelakang batere) agar bisnis lewat HP lancar, dan siapa saja yang mendengar suara atau membaca sms dari HP anda secara bawah sadar akan terpengaruh kagum dan terpesona.
petunjuk lengkapnya akan kami berikan setelah anda memesan produk kami
Tentang bulu perindu :
Bulu Perindu berbentuk seperti bulu yang agak keras/kaku berasal dari sarang burung elang yang berada di atas pohon - pohon yang paling tinggi di pedalaman pulau kalimantan.
Di tempat aslinya Bulu Perindu ini berfungsi untuk menjaga anak - anak burung elang supaya betah/kerasan tinggal di sarangnya sehingga terhindar dari bahaya jatuh dari atas pohon tinggi tempat sarangnya.
Ciri - ciri keaslian :
Jika di tetesi / dibasahi air dan di letakkan di atas lantai atau sehelai kertas, maka secara menakjub kan Bulu Perindu tersebut akan menggeliat - geliat laksana seekor cacing.
Sepasang Bulu Perindu jika di dekatkan / dipertemukan ujung - ujungnya, secara ajaib akan berangsur - angsur saling menjauh.
Sekedar informasi kami telah megirimkan bulu perindu sampai ke luar negeri,
dan semua produk bebas ongkos kirim kecuali ke luar negeri kena tambahan biaya 150.000,-
UNTUK PEMESANAN DAN KONSULTASI kirim ke email : serius.blogger@gmail.com (khusus yang serius) atau melalui ponsel 082362939492,untuk transfer mahar ke rek BNI cabang MEDAN atas nama WALUYO No rek 0224430064
kami telah mengirimkan ke barbagai pelosok tanah air dan ke negeri tetangga seperti malaysia dan brunei.
BULU PERINDU
Alkisah seekor induk burung Rajawali/Elang, membuat sarang diatas pohon yg sangat tinggi sekali di Gunung Bondang. Ianya sedang mau beranak, dan tak ingin jika sudah melahirkan kelak, anak2nya pada jatuh dan pergi sebelum masanya dia menjadi besar dan kuat. untuk itulah sang induk Rajawali/Elang perlu satu bentuk "pegangan".
Maka mulailah ia mencari-cari, terbang berputar kesana kemari menyusuri sungai, dengan pandangan matanya yg fokus layaknya memiliki Infra Red. Tampaklah akhirnya dari ketinggian, sebentuk kecil tetumbuhan layaknya cacing. Nampak jelas tetumbuhan itu ada diatas air sungai, dan anehnya malah seolah hidup berenang melawan arus sungai yg deras.
Segera sang induk menukik tajam kebawah dan menangkapnya dengan paruhnya. Kemudian dibawa terbang dan diletakkan di sarangnya.
Tidak lama kemudian, melahirkanlah ia dengan bahagia, ada beberapa anak rupanya yg telah ia lahirkan. ketika anak2nya lapar dan perlu makanan, pergilah sang induk burung dengan
tenangnya. karena ia sangat meyakini, anak2nya akan terjaga dari pengaruh gaib si Bulu Perindu yg ada pada sarangnya tersebut.
Yg dengan bulu perindu itu, anak2nya pada betah dan tidak nakal untuk meloncat kesana kemari, sangat betah betah banget tinggal di sarangnya.
tenangnya. karena ia sangat meyakini, anak2nya akan terjaga dari pengaruh gaib si Bulu Perindu yg ada pada sarangnya tersebut.
Yg dengan bulu perindu itu, anak2nya pada betah dan tidak nakal untuk meloncat kesana kemari, sangat betah betah banget tinggal di sarangnya.
Sampai saatnya si anak burung dewasa. Mulailah latihan2 mengarungi angkasa. yang karena semangat terbangnya, si anak burung jadi lupa untuk segera pulang.
Namun Sang induk burung sudah begitu yakin. Cukup dengan memegang Bulu Perindu pd sarang tersebut, kemudian ia membaca mantera berupa siulan dan jeritan tajam, maka dipastikan semua anak2nya yg pergi terbang jauh, semuanya terpanggil dan tidak ada yg bisa melawan, semuanya datang kembali..
dengan mengunakan jasa JNE, TIKI DAN POS INDONSIA.
paket akan tiba dalam 3 hari kerja dan paling lambat 7 hari kerja.
Jangan tunggu sampai pacar anda lari diambil orang !!!
Harap juga di pahami tidak semua yang memakai bulu perindu ini berhasil, kita hanya berusaha semampu yang kita perbuat dan semuanya tentulah kembali kepada Allah SWT yang mengabulkan semua keinginan dan tugas kita adalah berikhtiar sesuai dengan kemampuan kita.
Wednesday, August 25, 2010
ANAKKU DIGANGGU BEGU GANJANG
Penulis : HERI
Setiap malam anakku menangis ketakutan, sehingga dia nyaris mati. Ternyata, semua ini disebabkan oleh kehadiran sesosok Begu Ganjang. Makhluk menakutkan itu sengaja dikirim oleh seseorang yang merasa sakit hati padaku. Bagaimana kisah mistisnya...
Aku seorang guru swasta di sebuah SMK di kotaku. Sebagai guru swasta, aku harus tahu diri karena gajiku tidak besar untuk memenuhi semua kebutuhan hidupku. Aku mengutamakan kebutuhan pokok terlebih dahulu, baru kemudian sisanya untuk kebutuhan lain. Apalagi aku sudah punya keluarga.
Isteriku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi itu bukan suatu masalah selagi dia masih bisa menerima segalanya dengan lapang dada. Toh, sebelum memutuskan untuk hidup bersama, sudah ada komitmen di antara kami untuk siap menjalani hidup susah, maupun senang, dengan penuh keterbukaan dan pengertian.
Setelah setahun usia perkawinan kami dikarunia seorang putera. Aduh, hatiku senangnya bukan main. Semula kami tinggal menumpang di rumah orang tuaku. Namun dengan kehadiran si kecil aku harus mencari rumah kontrakan. Isteriku juga setuju dengan keputusan ini.
Akhirnya, sebuah rumah mungil di dalam gang tak jauh dari tempatku mengajar telah memikat hatiku. Meski tidak besar, tapi arsitekturnya yang bagus membuat rumah itu kelihata mewah. Kami pun memutuskan untuk mengontraknya dan tinggal di sana.
Saat itu kuingat, 17 Agustus 2003. Aku dan beberapa sanak keluarga membantu kepindahan kami. Siangnya kami habiskan dengan makan bersama. Hari petama itu kami nikmati dengan tawa dan canda, juga tentu dengan kebahagiaan. '
Namun, setelah hari kedua, ketiga, dan satu minggu sudah berlalu, mendadak suau sore kami kehadiaran tamu laki-laki yang mengaku suaminya pemilik rumah itu. Katanya dia tidak terima rumah itu kami kontrak, sebab semua itu tanpa sepengetahuannya dan sepeserpun dia tidak menikmati hasil kontrak rumah itu.
Akhirnya, dengan bersikukuh dia meminta kami untuk segera meninggalkan rumahnya, walau aku sudah menunjukkan kwitansi dan segala macam bukti penyewaan. Tentu aku tidak begitu saja menerimanya. Aku hanya mau keluar dari rumah itu jika seluruh uang kontrak yang kuberikan dikembalikan seratus persen.
Setelah mendengar jawabanku seperti itu, laki-laki paruh baya yang berwajah keras itu keluar dan pergi meninggalkan aku dan iteriku. Namun, sebelum pergi dia sempat mengeluarkan ancamannya, "Aku harap kau tidak menyesal jika suatu saat terjadi sesuatu atas keluargamu!"
Jujur saja, aku tidak begitu perduli dengan ancaman itu. Walau demikian, isteriku agak sedikit takut dibuatnya. Mungkin dia merasa lelaki itu tidak akan akan main-main dengan ancamannya.
Sepekan setelah peristiwa itu, aku mulai melupakan semua yang terjadi. Agaknya, begitu pula dengan isteriku. Rasanya hanya membuang waktu dan tenaga, toh lebih baik mencurahkan perhatian pada putera kami yang sedang sakit. Beberapa hari ini dia merengek terus. Terlebih bila menjelang Maghrib. Dia akan mengangis sampai menjelang subuh. Entah apa yang dirasakan olehnya. Kami sudah membawanya ke dokter, dan dokter hanya mengatakan bahwa anak kami terkena demam biasa. Namun, setelah diberi obat turun panas dan suhu tubuhnya turun, dia tetap saja menangis hampis sepanjang malam.
Sore itu, seusai shalat Maghrib aku tak sempat berdoa lagi, sebab anakku menangis dengan suara keras, bahkan lebih keras dari malam sebelumnya. Isteriku tampak bingung. Makhlumlah, kami masih belum punya pengalaman apa-apa menghadapi anak yang menangis seperti itu.
Dari gendongan isteri berpindah ke gendonganku. Kutimang dengan bujukan-bujukan. Namun ini semua tak meredakan tangisnya. Akhirnya aku kewalahan., begitupun dengan isteriku. Dia bahkan ikut menangis karena panik.
Ibuku yang malam itu kebetulan menginap di rumah kami juga tak kuasa mendiamkan tangis cucunya. Karena tak tahu lagi apa yang harus kami lakukan, akhirnya kupaksakan kakiku untuk melangkah mengajak isteriku ke dokter walau arlojiku sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ya, siapa tahu dokter akan lebih banyak membantu.
Entah pukul berapa saat aku mengetuk pintu rumah tempat praktek salah seorang dokter spesialis anak di kotaku. Bel pintu sudah berkali-kali berdering dan tetap tak ada tanda-tanda jawaban dari dalam. Aku putus asa. Malah si abang becak yang kami tumpangi ikut mamanggil-manggil dokter itu. Hasilnya sama saja.
Ternyata dokter itu tak kunjung membukakan pintu. Dengan sisa kekuatan hatiku, kuajak si abang becak mengayuh becaknya ke praktek bidan tempat isteriku bersalin dulu. Aku berharap, paling tidak akan ada solusi buat anakku untuk meredakan tangisnya. Namun, harapanku juga sirna, sebab bidan itu sepertinya juga tak sudi membukakan pintu..
Tanpa sadar, air mataku mengalir. Kulihat puteraku yang sudah tenang di pelukan ibunya. Hatiku sedikit sejuk.
"Sudah tidur dia?" tanyaku pelan.
Isteriku yang sepertinya sudah begitu lelah hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Kulihat matanya juga berkaca-kaca.
"Bagaimana kalau kita bawa ke mantri di ujung sana, Pak?" saran si tukang becak.
"Abang kenal sama mantri itu?" Tanyaku kemudian.
Giliran si abang becak yang mengangguk. Aku yang sudah pasrah cuma manut. Kembali becak berjalan pelan membelah malam yang kian legang. Dan anakku pun sudah benar-benar pulas. Apa sudah tidak sakit lagi? Bisik batinku, bingung.
Mantri ini ternyata cukup berbaik hati sebab mau menerima kami. Namun, anakku hanya diberi Primperandrop untuk masuk angin atau kembung. Dan, menjelang dinihari itu kami pun memilih untuk pulang.
Setiba di rumah, anakku yang sepanjang perjalanan tertidur pulas, kembali menangi sejadi-jadinya. Aku tak bisa tidur lagi. Kuhabiskan malam dengan tahajud. Aku berdoa untuk memohon petunjukNya.
Karena hampir setiap malam anak kami selalu menangis, maka istirahat kami pun terganggu. Bahkan yang lebih parah lagi, puteraku tidak mau lagi menyusu atau diberi susu botol oleh ibunya. Aku semakin resah. Padahal, sudah beberapa kali kami bawa ke dokter spesialis anak di kotaku. Tapi, putraku tetap menangis bila malam tiba, dan dia tak mau lagi menetek.
Akibat kelelahan fisik karena kurang tidur dan pikirannya, isteriku pun akhirnya jatuh sakit. Bersamaan dengan itu para tetangga juga menceritakan tentang munculnya makhluk hitam tinggi dan besar di jendela rumahku. Berita itu begitu santer, karena sering warga sekitar beberapa kali melihat makhluk hitam misterius itu melongok ke jendela kamarku.
Seakan melengkapi cerita aneh para tetangga, pernah juga di suatu malam, aku dikagetkan oleh suara hingar bingar diluar rumah. Pintu depan rumahku jelas seperti digedor keras dari luar. Anehnya, cuma aku yang mendengar. Saat aku keluar, ternyata tidak siapa pun diluar. Hanya hembusan angin yang cukup dingin membuat tubuhku menggigil menahan takut.
Bersamaan dengan itu anakku di dalam kamar kembali menangis. Tangisan yang membuat hatiku kian pilu. Saat kondisi begitu, aku tidak sanggup berpikir jernih lagi. Kalut dan tak menantu.
Hari-hari yang kami lalui semakin redup dari tawa dan canda. Jujur, batinku berperang dengan segala keyakinan yang kuanut. Kepasrahanku sudah bayiku yang kian pucat dan kurus itu kepada ketentuan Illahi. Dia lebih sering menangis kendati suaranya sudah hampir hilang. Padahal, dokter anak yang memeriksa anakku tidak menemukan penyakit apa-apa.
Di saat keadaan semakin kacau. seorang teman menyarankan agar aku menemui orang pintar. Walau kuanggap itu konyol, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Aku membawa putera dan isteriku ke salah seorang paranormal. Hasilnya membuat dadaku terasa menggelegar.
Ya, kata si paranormal, rumahku sedang diganggu oleh Begu Ganjang. Karena itu, setiap dibawa masuk ke rumah, maka puteraku akan menangis terus. Dan makhluk hitam yang dilihat oleh beberapa tetanggaku itu adalah sosok Begu Ganjang yang dimaksud. Ditegaskan juga, Begu Ganjang itu kiriman dari seseorang yang memang sakit hatiku padaku.
"Rumah itu harus segera dibersihkan dengan ritual pengobatan khusus. Ini dimaksudkan agar anak kalian berdua tidak semakin parah sakitnya," kata si paranormal dengan suara tenang.
Aku menyanggupinya. Dan, malam itu aku tak diizinkan membawa anakku pulang ke rumah yang kami kontrak. Walau terasa berat, mau tidak mau kami menginap semalam di rumah orangtuaku.
Di malam yang sama, paranormal itu melakukan ritualnya. Dengan air yang telah diberi doa-doa dan kembang setaman, dia menyiram setiap sudut rumahku. Satu hal yang tidak bisa kuterima akal, dari depan rumahku tanpa harus digali keluar sebuah bungkusan kain putih. Ketika dibuka, isinya puluhan jarum, jeruk purut, paku, ratusan ekor ulat dan lalat kecil.
"Bagaimana kalau kita balas semua perbuatan ini, Mbah?" ucapku di tengah keheningan.
Si paranormal meliriku. "Apa tidak lebih bagus kita bersyukur, karena Gusti Allah masih melindungimu?" katanya dengan suara bijak.'
Namun, aku yang merasa begitu tersiksa akibat teror gaib ini, sungguh tak bisa memaafkan di pelaku dengan begitu saja. "Aku akan siap membayar berapa saja asal si Mbah mau membalas kebusukan ini!" kataku dengan suara bergetar.
"Gusti Allah Maha Pengampun, Nak. Percayalah, siapa yang menabur benih pasti akan menuai hasilnya!" ucap si Mbah sambil membenahi bungkusan aneh yang baru ditemukan tadi.
Aku menunduk malu. "Maaf, Mbah. Aku terlalu larut dengan emosi," kataku. Si Mbah cuma senyum menanggapi.
Benar juga, semua biar Allah yang menentukan. Berbuat baik hasilnya baik, dan kalau kita tabur benih buruk hasilnya juga akan buruk.
Sejak ritual yang dilakukan Mbah paranormal bijak itu, hari selanjutnya aku makin sering bertahajud. Annaku juga sudah mulai berangsur sehat dan tak lagi menangis. Namun, setelah satu minggu peristiwa itu, suatu pagi aku kaget bukan kepalang. Saat akan mandi, kulihat ribuan ekor belatung mengapung di dalam bak mandi.
Meski ngeri, aku langsung membersihkan bak mandi itu karena tak ingin melihat isteriku histerius. Mulutku tak henti-hentinya bertasbih. Apalagi ini gerangan ya Robbi? Bencana apa lagi yang akan kujalani? Bisik hatiku yang dihujani rasa was-was. Aku menguatkan batin dan berserah diri kepada Allah.
Malamnya, hujan turun deras sekali. Mataku rasanya sulit untuk terpejam. Mendadak, antara tidur dan terjaga, aku merasa ada orang yang menindih badan dan mencekik leherku. Aku blingsatan. Ingin teriak tapi suaraku seolah tertahan di dalam kerongkongan.
Aku kehilangan udara hingga dengan cepat peluh membasahi tubuhku. Makin aku berontak bayangan hitam itu semakin kuat menghimpitku. Ya, Tuhan! Wajahnya begitu dekat di depan mataku. Sosok tubuh hitam itu besar dan penuh dengan bulu. Gigi taring dan bola matanya yang merah, juga seolah hendak mengoyak-ngoyak tubuhku. Syukur aku mampu bertahan. Kuingat segala lafadz zikir yang kutahu dan kucoba membacanya dengan khusyuk.
Rasanya seperti menjalani sebuah pekerjaan berat. Badanku terasa begitu lelah. Namun, aku bersykur. Akhirnya bayangan itu hilang begitu saja.
Kejadian aneh ini tidak hanya berlangsung sekali. Malam berikutnya aku mulai mengalami mimpi-mimpi yang mengerikan seperti datangnya sosok hitam yang menjulang tinggi dari arah jendela kemudian mencekik anakku. Aku menjerit sejadi-jadinya saat melihat anakku dikoyak-koyak oleh makhluk celaka itu. Kemudian aku terjaga dengan peluh dan nafas yang memburu.
Astagfirullah! Aku juga sering mengalami sebuah perkelahian baik dalam mimpi maupun antar sadar dan tidur. Allahu Akbar, Allah masih melindungiku.
Karena gangguan itu sudah semakin sering, akhirnya aku minta pagar gaib rumah dari seorang Kyai. Hasilnya, rumahku berangsur-angsur aman. Allah telah mendengar doa hambaNya yang teraniaya.
Suatu hari, seorang tetanggaku menyampaikan kabar yang sangat mengejutkan. Suami pemilik rumah kontrakanku yang dulu datang dan mengancamku, meninggal dunia. Ya Robbi! Aku tak tahu harus bicara apa. Aku hanya mengembalikan permasalahan ini kepada Yang Maha Kuasa. Karena hanya Dialah yang tahu segalanya.
Beberapa bulan berikutnya, Allah memberikan rezeki padaku. Tekadku pun bulan untuk pindah rumah walau masa kontrakan belum habis. Bagiku ketenangan lebih dari segala-galanya.
Demikianlah kisah yang aku alami sekitar saru setengah tahun yang lalu. Dan puteraku kini sudah berumur dua tahun. Dia tumbuh sehat dan cerdas. Terima kasih atas karuniMu, ya Robbi!
Setiap malam anakku menangis ketakutan, sehingga dia nyaris mati. Ternyata, semua ini disebabkan oleh kehadiran sesosok Begu Ganjang. Makhluk menakutkan itu sengaja dikirim oleh seseorang yang merasa sakit hati padaku. Bagaimana kisah mistisnya...
Aku seorang guru swasta di sebuah SMK di kotaku. Sebagai guru swasta, aku harus tahu diri karena gajiku tidak besar untuk memenuhi semua kebutuhan hidupku. Aku mengutamakan kebutuhan pokok terlebih dahulu, baru kemudian sisanya untuk kebutuhan lain. Apalagi aku sudah punya keluarga.
Isteriku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi itu bukan suatu masalah selagi dia masih bisa menerima segalanya dengan lapang dada. Toh, sebelum memutuskan untuk hidup bersama, sudah ada komitmen di antara kami untuk siap menjalani hidup susah, maupun senang, dengan penuh keterbukaan dan pengertian.
Setelah setahun usia perkawinan kami dikarunia seorang putera. Aduh, hatiku senangnya bukan main. Semula kami tinggal menumpang di rumah orang tuaku. Namun dengan kehadiran si kecil aku harus mencari rumah kontrakan. Isteriku juga setuju dengan keputusan ini.
Akhirnya, sebuah rumah mungil di dalam gang tak jauh dari tempatku mengajar telah memikat hatiku. Meski tidak besar, tapi arsitekturnya yang bagus membuat rumah itu kelihata mewah. Kami pun memutuskan untuk mengontraknya dan tinggal di sana.
Saat itu kuingat, 17 Agustus 2003. Aku dan beberapa sanak keluarga membantu kepindahan kami. Siangnya kami habiskan dengan makan bersama. Hari petama itu kami nikmati dengan tawa dan canda, juga tentu dengan kebahagiaan. '
Namun, setelah hari kedua, ketiga, dan satu minggu sudah berlalu, mendadak suau sore kami kehadiaran tamu laki-laki yang mengaku suaminya pemilik rumah itu. Katanya dia tidak terima rumah itu kami kontrak, sebab semua itu tanpa sepengetahuannya dan sepeserpun dia tidak menikmati hasil kontrak rumah itu.
Akhirnya, dengan bersikukuh dia meminta kami untuk segera meninggalkan rumahnya, walau aku sudah menunjukkan kwitansi dan segala macam bukti penyewaan. Tentu aku tidak begitu saja menerimanya. Aku hanya mau keluar dari rumah itu jika seluruh uang kontrak yang kuberikan dikembalikan seratus persen.
Setelah mendengar jawabanku seperti itu, laki-laki paruh baya yang berwajah keras itu keluar dan pergi meninggalkan aku dan iteriku. Namun, sebelum pergi dia sempat mengeluarkan ancamannya, "Aku harap kau tidak menyesal jika suatu saat terjadi sesuatu atas keluargamu!"
Jujur saja, aku tidak begitu perduli dengan ancaman itu. Walau demikian, isteriku agak sedikit takut dibuatnya. Mungkin dia merasa lelaki itu tidak akan akan main-main dengan ancamannya.
Sepekan setelah peristiwa itu, aku mulai melupakan semua yang terjadi. Agaknya, begitu pula dengan isteriku. Rasanya hanya membuang waktu dan tenaga, toh lebih baik mencurahkan perhatian pada putera kami yang sedang sakit. Beberapa hari ini dia merengek terus. Terlebih bila menjelang Maghrib. Dia akan mengangis sampai menjelang subuh. Entah apa yang dirasakan olehnya. Kami sudah membawanya ke dokter, dan dokter hanya mengatakan bahwa anak kami terkena demam biasa. Namun, setelah diberi obat turun panas dan suhu tubuhnya turun, dia tetap saja menangis hampis sepanjang malam.
Sore itu, seusai shalat Maghrib aku tak sempat berdoa lagi, sebab anakku menangis dengan suara keras, bahkan lebih keras dari malam sebelumnya. Isteriku tampak bingung. Makhlumlah, kami masih belum punya pengalaman apa-apa menghadapi anak yang menangis seperti itu.
Dari gendongan isteri berpindah ke gendonganku. Kutimang dengan bujukan-bujukan. Namun ini semua tak meredakan tangisnya. Akhirnya aku kewalahan., begitupun dengan isteriku. Dia bahkan ikut menangis karena panik.
Ibuku yang malam itu kebetulan menginap di rumah kami juga tak kuasa mendiamkan tangis cucunya. Karena tak tahu lagi apa yang harus kami lakukan, akhirnya kupaksakan kakiku untuk melangkah mengajak isteriku ke dokter walau arlojiku sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ya, siapa tahu dokter akan lebih banyak membantu.
Entah pukul berapa saat aku mengetuk pintu rumah tempat praktek salah seorang dokter spesialis anak di kotaku. Bel pintu sudah berkali-kali berdering dan tetap tak ada tanda-tanda jawaban dari dalam. Aku putus asa. Malah si abang becak yang kami tumpangi ikut mamanggil-manggil dokter itu. Hasilnya sama saja.
Ternyata dokter itu tak kunjung membukakan pintu. Dengan sisa kekuatan hatiku, kuajak si abang becak mengayuh becaknya ke praktek bidan tempat isteriku bersalin dulu. Aku berharap, paling tidak akan ada solusi buat anakku untuk meredakan tangisnya. Namun, harapanku juga sirna, sebab bidan itu sepertinya juga tak sudi membukakan pintu..
Tanpa sadar, air mataku mengalir. Kulihat puteraku yang sudah tenang di pelukan ibunya. Hatiku sedikit sejuk.
"Sudah tidur dia?" tanyaku pelan.
Isteriku yang sepertinya sudah begitu lelah hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Kulihat matanya juga berkaca-kaca.
"Bagaimana kalau kita bawa ke mantri di ujung sana, Pak?" saran si tukang becak.
"Abang kenal sama mantri itu?" Tanyaku kemudian.
Giliran si abang becak yang mengangguk. Aku yang sudah pasrah cuma manut. Kembali becak berjalan pelan membelah malam yang kian legang. Dan anakku pun sudah benar-benar pulas. Apa sudah tidak sakit lagi? Bisik batinku, bingung.
Mantri ini ternyata cukup berbaik hati sebab mau menerima kami. Namun, anakku hanya diberi Primperandrop untuk masuk angin atau kembung. Dan, menjelang dinihari itu kami pun memilih untuk pulang.
Setiba di rumah, anakku yang sepanjang perjalanan tertidur pulas, kembali menangi sejadi-jadinya. Aku tak bisa tidur lagi. Kuhabiskan malam dengan tahajud. Aku berdoa untuk memohon petunjukNya.
Karena hampir setiap malam anak kami selalu menangis, maka istirahat kami pun terganggu. Bahkan yang lebih parah lagi, puteraku tidak mau lagi menyusu atau diberi susu botol oleh ibunya. Aku semakin resah. Padahal, sudah beberapa kali kami bawa ke dokter spesialis anak di kotaku. Tapi, putraku tetap menangis bila malam tiba, dan dia tak mau lagi menetek.
Akibat kelelahan fisik karena kurang tidur dan pikirannya, isteriku pun akhirnya jatuh sakit. Bersamaan dengan itu para tetangga juga menceritakan tentang munculnya makhluk hitam tinggi dan besar di jendela rumahku. Berita itu begitu santer, karena sering warga sekitar beberapa kali melihat makhluk hitam misterius itu melongok ke jendela kamarku.
Seakan melengkapi cerita aneh para tetangga, pernah juga di suatu malam, aku dikagetkan oleh suara hingar bingar diluar rumah. Pintu depan rumahku jelas seperti digedor keras dari luar. Anehnya, cuma aku yang mendengar. Saat aku keluar, ternyata tidak siapa pun diluar. Hanya hembusan angin yang cukup dingin membuat tubuhku menggigil menahan takut.
Bersamaan dengan itu anakku di dalam kamar kembali menangis. Tangisan yang membuat hatiku kian pilu. Saat kondisi begitu, aku tidak sanggup berpikir jernih lagi. Kalut dan tak menantu.
Hari-hari yang kami lalui semakin redup dari tawa dan canda. Jujur, batinku berperang dengan segala keyakinan yang kuanut. Kepasrahanku sudah bayiku yang kian pucat dan kurus itu kepada ketentuan Illahi. Dia lebih sering menangis kendati suaranya sudah hampir hilang. Padahal, dokter anak yang memeriksa anakku tidak menemukan penyakit apa-apa.
Di saat keadaan semakin kacau. seorang teman menyarankan agar aku menemui orang pintar. Walau kuanggap itu konyol, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Aku membawa putera dan isteriku ke salah seorang paranormal. Hasilnya membuat dadaku terasa menggelegar.
Ya, kata si paranormal, rumahku sedang diganggu oleh Begu Ganjang. Karena itu, setiap dibawa masuk ke rumah, maka puteraku akan menangis terus. Dan makhluk hitam yang dilihat oleh beberapa tetanggaku itu adalah sosok Begu Ganjang yang dimaksud. Ditegaskan juga, Begu Ganjang itu kiriman dari seseorang yang memang sakit hatiku padaku.
"Rumah itu harus segera dibersihkan dengan ritual pengobatan khusus. Ini dimaksudkan agar anak kalian berdua tidak semakin parah sakitnya," kata si paranormal dengan suara tenang.
Aku menyanggupinya. Dan, malam itu aku tak diizinkan membawa anakku pulang ke rumah yang kami kontrak. Walau terasa berat, mau tidak mau kami menginap semalam di rumah orangtuaku.
Di malam yang sama, paranormal itu melakukan ritualnya. Dengan air yang telah diberi doa-doa dan kembang setaman, dia menyiram setiap sudut rumahku. Satu hal yang tidak bisa kuterima akal, dari depan rumahku tanpa harus digali keluar sebuah bungkusan kain putih. Ketika dibuka, isinya puluhan jarum, jeruk purut, paku, ratusan ekor ulat dan lalat kecil.
"Bagaimana kalau kita balas semua perbuatan ini, Mbah?" ucapku di tengah keheningan.
Si paranormal meliriku. "Apa tidak lebih bagus kita bersyukur, karena Gusti Allah masih melindungimu?" katanya dengan suara bijak.'
Namun, aku yang merasa begitu tersiksa akibat teror gaib ini, sungguh tak bisa memaafkan di pelaku dengan begitu saja. "Aku akan siap membayar berapa saja asal si Mbah mau membalas kebusukan ini!" kataku dengan suara bergetar.
"Gusti Allah Maha Pengampun, Nak. Percayalah, siapa yang menabur benih pasti akan menuai hasilnya!" ucap si Mbah sambil membenahi bungkusan aneh yang baru ditemukan tadi.
Aku menunduk malu. "Maaf, Mbah. Aku terlalu larut dengan emosi," kataku. Si Mbah cuma senyum menanggapi.
Benar juga, semua biar Allah yang menentukan. Berbuat baik hasilnya baik, dan kalau kita tabur benih buruk hasilnya juga akan buruk.
Sejak ritual yang dilakukan Mbah paranormal bijak itu, hari selanjutnya aku makin sering bertahajud. Annaku juga sudah mulai berangsur sehat dan tak lagi menangis. Namun, setelah satu minggu peristiwa itu, suatu pagi aku kaget bukan kepalang. Saat akan mandi, kulihat ribuan ekor belatung mengapung di dalam bak mandi.
Meski ngeri, aku langsung membersihkan bak mandi itu karena tak ingin melihat isteriku histerius. Mulutku tak henti-hentinya bertasbih. Apalagi ini gerangan ya Robbi? Bencana apa lagi yang akan kujalani? Bisik hatiku yang dihujani rasa was-was. Aku menguatkan batin dan berserah diri kepada Allah.
Malamnya, hujan turun deras sekali. Mataku rasanya sulit untuk terpejam. Mendadak, antara tidur dan terjaga, aku merasa ada orang yang menindih badan dan mencekik leherku. Aku blingsatan. Ingin teriak tapi suaraku seolah tertahan di dalam kerongkongan.
Aku kehilangan udara hingga dengan cepat peluh membasahi tubuhku. Makin aku berontak bayangan hitam itu semakin kuat menghimpitku. Ya, Tuhan! Wajahnya begitu dekat di depan mataku. Sosok tubuh hitam itu besar dan penuh dengan bulu. Gigi taring dan bola matanya yang merah, juga seolah hendak mengoyak-ngoyak tubuhku. Syukur aku mampu bertahan. Kuingat segala lafadz zikir yang kutahu dan kucoba membacanya dengan khusyuk.
Rasanya seperti menjalani sebuah pekerjaan berat. Badanku terasa begitu lelah. Namun, aku bersykur. Akhirnya bayangan itu hilang begitu saja.
Kejadian aneh ini tidak hanya berlangsung sekali. Malam berikutnya aku mulai mengalami mimpi-mimpi yang mengerikan seperti datangnya sosok hitam yang menjulang tinggi dari arah jendela kemudian mencekik anakku. Aku menjerit sejadi-jadinya saat melihat anakku dikoyak-koyak oleh makhluk celaka itu. Kemudian aku terjaga dengan peluh dan nafas yang memburu.
Astagfirullah! Aku juga sering mengalami sebuah perkelahian baik dalam mimpi maupun antar sadar dan tidur. Allahu Akbar, Allah masih melindungiku.
Karena gangguan itu sudah semakin sering, akhirnya aku minta pagar gaib rumah dari seorang Kyai. Hasilnya, rumahku berangsur-angsur aman. Allah telah mendengar doa hambaNya yang teraniaya.
Suatu hari, seorang tetanggaku menyampaikan kabar yang sangat mengejutkan. Suami pemilik rumah kontrakanku yang dulu datang dan mengancamku, meninggal dunia. Ya Robbi! Aku tak tahu harus bicara apa. Aku hanya mengembalikan permasalahan ini kepada Yang Maha Kuasa. Karena hanya Dialah yang tahu segalanya.
Beberapa bulan berikutnya, Allah memberikan rezeki padaku. Tekadku pun bulan untuk pindah rumah walau masa kontrakan belum habis. Bagiku ketenangan lebih dari segala-galanya.
Demikianlah kisah yang aku alami sekitar saru setengah tahun yang lalu. Dan puteraku kini sudah berumur dua tahun. Dia tumbuh sehat dan cerdas. Terima kasih atas karuniMu, ya Robbi!
AMNE MACHEN GUNUNG SILUMAN PENEBAR KUTUKAN
Penulis : MAWAN SUGANDA
Gunung ini disebutkan sebagai yang tertinggi di dunia. Namun, tak semua orang yang bisa melihatnya. Malah celakanya, mereka yang melihat gunung ini akan mati secara misterius....
Menurut sebuah sumber yang sangat terpercaya, di wilayah perbatasan antara Tibet dan Cina, terdapat sebuah gunung siluman yang sangat misterius. Dikatakan misterius, karena gunung ini benar-benar aneh bin ajaib.
Namanya Gunung Amne Machen. Gunung yang hanya memperlihatkan diri sewaktu-waktu ini telah lama menggoda banyak kalangan untuk membuktikannya. Anehnya, Gunung ini diyakini hanya akan menampakkan wujudnya kepada orang-orang tertentu saja. Konon, Amne Machen ini seribu kaki lebih tinggi dari Mount Everest, puncak tertinggi di dunia.
Seperti kita ketahui, Mount Everst yang sendiri terdapat di pegunungan Himalaya, yang dianggap sebagai gunung paling tinggi di dunia. Jadi dapat dibayangkan, betapa tingginya Gunung Amne Machen itu.
Penduduk di sekitar lereng Himalaya yang pada umumnya akan enggan untuk mempercakapkan gunung yang satu ini. Pasalnya mereka takut kualat, karena Amne Machen dianggap sebagai gunung angker penebar kutukan. Mereka meyakini, siapa yang sempat melihat keberadaan Amne Machen, maka tidak lama kemudian dia akan mengalami malapetaka yang sangat tragis. Lebih-lebih bila yang melihat itu adalah orang kulit putih atau orang Barat.
Menurut sebuah cerita, Jenderal Pereira, tentara Inggris yang sudah purnawirawan, mati mendadak tidak lama setelah dia melihat Gunung Amne Machen.
Dikisahkan, dalam perjalanan dari Shanghai menuju Laut Kaspia, Pereira sempat singgah hingga beberapa lama di dataran Tibet. Di sini dia mendengar tentang gunung aneh Amne Machen. Karena sangat penasaran, Pereira bertekad untuk mencarinya sampai ketemu. Dia bahkan bersumpah tidak akan pulang ke negaranya sebelum membuktikan sendiri cerita kuno yang telah tumbuh secara turun-temurun itu.
Setelah beberapa lama, apa yang didambakannya itu jadi kenyataan juga. Pada suatu hari, Pereira berhasil melihat Gunung Amne Machen pada jarak ratusan mil dari suatu tempat yang tinggi di sebuah bukit di sekitar Himalaya. Menjulang ribuan kaki ke atas, dinding gundul sebuah gunung raksasa terlihat berselimutkan awan.
Menurut catatan Pereira, gunung tersebut tmapak sedemikian tinggi, sehingga dalam menatapnya Pereira seperti kehilangan nafas, sehingga dia meyakini bahwa gunung ini tingginya memang sangat sulit dibayangkan atau diukur. Apalagi sebelum melihat pemandangan ini, Pereira adalah seorang yang pernah menjelajahi banyak benua. Dia pernah menyaksikan Canadian Rockies, pernah mendaki puncak Himalaya, bahkan juga pernah menagkulan pegunungan Andes di Amerika Selatan yang bersuhu sangat ganas itu.
Namun tak ada yang membuatnya gugup sampai sedemikian rupa dan takjub luar biasa, seperti pada saat dirinya melihat Amne Machen. Bahkan dalam catatannya, Pereira memastikan bahwa itu adalah gunung yang paling hebat di antara gunung-gunung yang pernah disaksikannya.
Segera melihat dengan mata kepala sendiri betapa hebatnya Gunung Amne Machen, Pereira memutuskan untuk segera pulang ke Inggris, dan kemudian berencana menyelenggarakan suatu ekspedisi sendiri. Dia sudah begitu gembira dengan harapan akan dapat termasyhur dengan penemuan terbesar dalam abad ini, sehingga sama sekali melupakan peringatan penduduk setempat tentang kutukan gunung siluman itu.
Sebelum terbang ke Inggris, persisnya tatkala Pereira tiba di sebuah dusun yang terletak di perbatasan Tibet dan Cina, berjumpalah Pereira dengan pengelana tersohor dari Amerika, Joseph Rock. Diutarakannya kepada Rock tentang apa yang telah disaksikannya itu. Mendengar cerita Pereira yang tampak sangat bombabtis, orang Amerika tersebut tidak percaya.
Barulah setelah lama berbincang tentang masalah itu, dan Pereira bersumpah tentang apa yang telah disaksikannya, akhirnya Rock yakin bahwa Pereira memang telah menemukan sesuatu yang luar biasa. Pada keesokan paginya Pereira bertolak menuju daerah pantai dalam perjalanan pulanngya.
Namun kemudian datanglah musibah itu. Beberapa jam setelah meninggalkan wilayah Tibet dan bersama serombongan pedagang menempuh perjalanan di negeri Cina, Pereira mendadak meninggal dunia. Dia terjungkal jatuh dari atas kudanya, dan kedua tangannya menekan dada pada arah jantungnya. Sekonyong-konyong dia berpaling ke belakang dan memandang ke arah Tibet, kemudian sekarat dan mati.
Apakah kutukan gunung Amne Machen yang menewaskannya? Tentu saja begitulah pendapat orang-orang Tibet dan Cina. Para saudagar yang mendengar bahwa Pereira pernah menyaksikan gunung itu, tak seorang yang mau menjamah tubuhnya. Mereka membiarkan saja mayatnya tergeletak di situ, dan selanjutnya melaporkan kematiannya kepada seorang penginjil Inggris, yang kemudian mengusahakan pemakaman Jenderal Pereira.
Setiap orang yang kenal dengan Jenderal pensiunan Inggris itu, merasa heran dengan kematiannya yang disebabkan oleh penyakit jantung. Soalnya pada masa hidupnya, Pereira selalu sehat dan penuh gairah.
Tatkala memulai perjalanannya yang jauh, dia baru saja melampaui usia 40 tahun. Tak seorangpun dia ntara mereka yang mempercayai bahwa Pereira mati terbunuh oleh suatu kutukan.
Juga, tak seorang pun orang di luar Tibet dan Cina yang percaya pada dongeng mengenai gunung angker itu, sampai kemudian dalam perang dunia kedua disebutkan ada beberapa pilot pesawat termput yang telah melihat gunung tersebut. Dalam laporan itu dikatakan bahwa mereka nyaris menabrak sebuah gunung misterius, yang berada di perbatasan antara Tibet dan Cina.
Untungnya, mereka dapat menghindarkan pesawatnya, sehingga kecelakaan bisa terelakkan. Mereka heran sekali menghadapi hal itu, sebab meteran penunjuk ketinggian terbang di pesawat menunjukkan angka lebih dari 30.000 kaki, hampir seribu kaki lebih tinggi dari puncak Mount Everest.
Beberapa tahun seusai perang dunia, seorang wartawan Amerika yang tertarik oleh kisah perjalanan Pereira dan penemuannya yang ajaib itu coba melakukan pencarian terhadap gunung maha tinggi seperti yang ditulis sang jendral dalam catatannya. Beberapa lama kemudian dia mengatakan, bahwa dia pun sudah berhasil menyasikan Gunung Amne Machen dengan mata kepalanya sendiri.
Sayangnya, peralatan-peralatan ilmiah untuk mengukur ketinggian gunung yang dimiliki oleh si wartawan telah rusak, kerana perlakuan kasar orang-orang pribumi yang membawanya. Juga akibat berbulan-bulan diangkut di atas kuda, melalui daerah-daerah yang masih liar dan ganas.
Terdapat tiga orang kulit putih dalam ekspedisi itu. Salah seorang tewas akibat musibah tanah longsor, beberapa hari setelah mereka menyaksikan Amne Machen. Yang kedua mati di Peking, setelah terserang penyakti tipus. Adapun si wartawan sendiri tewas tenggelam beberapa bulan setelah menyaksikan gunung yang didambakannya itu.
Benarkah kutukan Amne Machen yang telah membunuh mereka? Yang dapat dipastikan adalah bahwa tak seorang pun orang kulit putih yang menyatakan telah melihat gunung siluman itu yang dapat hidup lebih lama. Mungkin juga benar kepercayaan mistis orang Tibet bahwa siapapun yang melihat gunung itu maka matilah sebagai tuntutannya.
Gunung ini disebutkan sebagai yang tertinggi di dunia. Namun, tak semua orang yang bisa melihatnya. Malah celakanya, mereka yang melihat gunung ini akan mati secara misterius....
Menurut sebuah sumber yang sangat terpercaya, di wilayah perbatasan antara Tibet dan Cina, terdapat sebuah gunung siluman yang sangat misterius. Dikatakan misterius, karena gunung ini benar-benar aneh bin ajaib.
Namanya Gunung Amne Machen. Gunung yang hanya memperlihatkan diri sewaktu-waktu ini telah lama menggoda banyak kalangan untuk membuktikannya. Anehnya, Gunung ini diyakini hanya akan menampakkan wujudnya kepada orang-orang tertentu saja. Konon, Amne Machen ini seribu kaki lebih tinggi dari Mount Everest, puncak tertinggi di dunia.
Seperti kita ketahui, Mount Everst yang sendiri terdapat di pegunungan Himalaya, yang dianggap sebagai gunung paling tinggi di dunia. Jadi dapat dibayangkan, betapa tingginya Gunung Amne Machen itu.
Penduduk di sekitar lereng Himalaya yang pada umumnya akan enggan untuk mempercakapkan gunung yang satu ini. Pasalnya mereka takut kualat, karena Amne Machen dianggap sebagai gunung angker penebar kutukan. Mereka meyakini, siapa yang sempat melihat keberadaan Amne Machen, maka tidak lama kemudian dia akan mengalami malapetaka yang sangat tragis. Lebih-lebih bila yang melihat itu adalah orang kulit putih atau orang Barat.
Menurut sebuah cerita, Jenderal Pereira, tentara Inggris yang sudah purnawirawan, mati mendadak tidak lama setelah dia melihat Gunung Amne Machen.
Dikisahkan, dalam perjalanan dari Shanghai menuju Laut Kaspia, Pereira sempat singgah hingga beberapa lama di dataran Tibet. Di sini dia mendengar tentang gunung aneh Amne Machen. Karena sangat penasaran, Pereira bertekad untuk mencarinya sampai ketemu. Dia bahkan bersumpah tidak akan pulang ke negaranya sebelum membuktikan sendiri cerita kuno yang telah tumbuh secara turun-temurun itu.
Setelah beberapa lama, apa yang didambakannya itu jadi kenyataan juga. Pada suatu hari, Pereira berhasil melihat Gunung Amne Machen pada jarak ratusan mil dari suatu tempat yang tinggi di sebuah bukit di sekitar Himalaya. Menjulang ribuan kaki ke atas, dinding gundul sebuah gunung raksasa terlihat berselimutkan awan.
Menurut catatan Pereira, gunung tersebut tmapak sedemikian tinggi, sehingga dalam menatapnya Pereira seperti kehilangan nafas, sehingga dia meyakini bahwa gunung ini tingginya memang sangat sulit dibayangkan atau diukur. Apalagi sebelum melihat pemandangan ini, Pereira adalah seorang yang pernah menjelajahi banyak benua. Dia pernah menyaksikan Canadian Rockies, pernah mendaki puncak Himalaya, bahkan juga pernah menagkulan pegunungan Andes di Amerika Selatan yang bersuhu sangat ganas itu.
Namun tak ada yang membuatnya gugup sampai sedemikian rupa dan takjub luar biasa, seperti pada saat dirinya melihat Amne Machen. Bahkan dalam catatannya, Pereira memastikan bahwa itu adalah gunung yang paling hebat di antara gunung-gunung yang pernah disaksikannya.
Segera melihat dengan mata kepala sendiri betapa hebatnya Gunung Amne Machen, Pereira memutuskan untuk segera pulang ke Inggris, dan kemudian berencana menyelenggarakan suatu ekspedisi sendiri. Dia sudah begitu gembira dengan harapan akan dapat termasyhur dengan penemuan terbesar dalam abad ini, sehingga sama sekali melupakan peringatan penduduk setempat tentang kutukan gunung siluman itu.
Sebelum terbang ke Inggris, persisnya tatkala Pereira tiba di sebuah dusun yang terletak di perbatasan Tibet dan Cina, berjumpalah Pereira dengan pengelana tersohor dari Amerika, Joseph Rock. Diutarakannya kepada Rock tentang apa yang telah disaksikannya itu. Mendengar cerita Pereira yang tampak sangat bombabtis, orang Amerika tersebut tidak percaya.
Barulah setelah lama berbincang tentang masalah itu, dan Pereira bersumpah tentang apa yang telah disaksikannya, akhirnya Rock yakin bahwa Pereira memang telah menemukan sesuatu yang luar biasa. Pada keesokan paginya Pereira bertolak menuju daerah pantai dalam perjalanan pulanngya.
Namun kemudian datanglah musibah itu. Beberapa jam setelah meninggalkan wilayah Tibet dan bersama serombongan pedagang menempuh perjalanan di negeri Cina, Pereira mendadak meninggal dunia. Dia terjungkal jatuh dari atas kudanya, dan kedua tangannya menekan dada pada arah jantungnya. Sekonyong-konyong dia berpaling ke belakang dan memandang ke arah Tibet, kemudian sekarat dan mati.
Apakah kutukan gunung Amne Machen yang menewaskannya? Tentu saja begitulah pendapat orang-orang Tibet dan Cina. Para saudagar yang mendengar bahwa Pereira pernah menyaksikan gunung itu, tak seorang yang mau menjamah tubuhnya. Mereka membiarkan saja mayatnya tergeletak di situ, dan selanjutnya melaporkan kematiannya kepada seorang penginjil Inggris, yang kemudian mengusahakan pemakaman Jenderal Pereira.
Setiap orang yang kenal dengan Jenderal pensiunan Inggris itu, merasa heran dengan kematiannya yang disebabkan oleh penyakit jantung. Soalnya pada masa hidupnya, Pereira selalu sehat dan penuh gairah.
Tatkala memulai perjalanannya yang jauh, dia baru saja melampaui usia 40 tahun. Tak seorangpun dia ntara mereka yang mempercayai bahwa Pereira mati terbunuh oleh suatu kutukan.
Juga, tak seorang pun orang di luar Tibet dan Cina yang percaya pada dongeng mengenai gunung angker itu, sampai kemudian dalam perang dunia kedua disebutkan ada beberapa pilot pesawat termput yang telah melihat gunung tersebut. Dalam laporan itu dikatakan bahwa mereka nyaris menabrak sebuah gunung misterius, yang berada di perbatasan antara Tibet dan Cina.
Untungnya, mereka dapat menghindarkan pesawatnya, sehingga kecelakaan bisa terelakkan. Mereka heran sekali menghadapi hal itu, sebab meteran penunjuk ketinggian terbang di pesawat menunjukkan angka lebih dari 30.000 kaki, hampir seribu kaki lebih tinggi dari puncak Mount Everest.
Beberapa tahun seusai perang dunia, seorang wartawan Amerika yang tertarik oleh kisah perjalanan Pereira dan penemuannya yang ajaib itu coba melakukan pencarian terhadap gunung maha tinggi seperti yang ditulis sang jendral dalam catatannya. Beberapa lama kemudian dia mengatakan, bahwa dia pun sudah berhasil menyasikan Gunung Amne Machen dengan mata kepalanya sendiri.
Sayangnya, peralatan-peralatan ilmiah untuk mengukur ketinggian gunung yang dimiliki oleh si wartawan telah rusak, kerana perlakuan kasar orang-orang pribumi yang membawanya. Juga akibat berbulan-bulan diangkut di atas kuda, melalui daerah-daerah yang masih liar dan ganas.
Terdapat tiga orang kulit putih dalam ekspedisi itu. Salah seorang tewas akibat musibah tanah longsor, beberapa hari setelah mereka menyaksikan Amne Machen. Yang kedua mati di Peking, setelah terserang penyakti tipus. Adapun si wartawan sendiri tewas tenggelam beberapa bulan setelah menyaksikan gunung yang didambakannya itu.
Benarkah kutukan Amne Machen yang telah membunuh mereka? Yang dapat dipastikan adalah bahwa tak seorang pun orang kulit putih yang menyatakan telah melihat gunung siluman itu yang dapat hidup lebih lama. Mungkin juga benar kepercayaan mistis orang Tibet bahwa siapapun yang melihat gunung itu maka matilah sebagai tuntutannya.
ALAMSYAH DIAJAK ORANG BUNIAN NAIK PESAWAT TERBANG
Penulis : RITA SIANIPAR
Ini adalah kisah mistis seorang pemuda bernama Alamsyah. Suatu ketika, dia dibawa orang Bunian mengarungi perjalanan gaib dengan naik pesawat. Perjalanan antara Medan menuju Jakarta. Bagaimana kisah mistisnya...?
Rumah itu agak terpencil dari rumah-rumah penduduk lainnya. Walaupun halamannya luas, namun pekarangannya tidak terawat. Rumput liar dan sampah daun kering memenuhi halaman itu. Pepohonan rindang seperti jambu air, jambu biji, bahkan mangga yang berbuah lebat dibiarkan tumbuh begitu saja, seolah tidak ada yang mengurusnya.
Aku sempat heran bila melewati rumah tersebut yang selalu sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Tapi setiap melewati rumah itu, aku merasa ada sepasang mata yang selalu memperhatikan langkahku.
Mulanya aku tidak memperdulikan hal tersebut. Maklumlah, sebagai warga baru di kampung itu, aku sedang dalam tahap perkenalan.
Sebagai seorang penyuluh pertanian yang ditempatkan pemerintah, aku harus bisa bersosialisasi dengan penduduk kampung tempatku bertugas. Aku pun mulai hafal satu persatu nama penduduk serta rumahnya.
Tak jarang, bila berpapasan dengan warga, aku yang duluan tersenyum dan mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri dan keluargaku. Ya, namanya tinggal di perkampungan, tentu haruslah pandai membawa diri. Lain dengan hidup di kota, karena kesibukan masing-masing, antar warga satu kompleks saja tidak saling mengenal.
Siang itu, usai menghadiri pertemuan di Balai Desa, aku berjalan melewati rumah besar yang di mataku sepertinya menyimpan keanehan itu. Tiba-tiba, dari rerimbungan pohon jambu air di pekarangan rumah itu, keluar seorang laki-laki setengah baya bertubuh kurus, rambutnya memutih dengan potongan yang tak beraturan.
Baju kaos dan celana komprang yang dikenakan si lelaki sudah memudar warnanya di makan usia. Saat itu, dia hanya memandangiku. Aku tersenyum dan mencoba berkomunikasi dengannya.
Namun dia hanya diam saja. Dua jari tangannya didekatkan ke arah bibirnya. Aku mencoba memahami isyaratnya itu dengan menjulurkan sebungkus rokok kepadanya.
Tangan lelaki tua itu meraih rokok yang kusodorkan, lalu mengambil sebatang. Aku segera menyodorkan mancis yang sudah kuhidupkan ke arah rokok yang terlelip di bibirnya. Lelaki itu lalu menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Bibirnya bergerak-gerak, namun tak ada terdengar suara yang keluar dari sana.
Sebelum berlalu, aku memberikan bungkusan rokok yang kumiliki padanya. Namun dia menolak dan hanya mengambil sebatang saja, setelah itu dia berjalan ke arah rumah tuanya.
Sore harinya, karena penasaran dengan sosok lelaki tua itu, aku mendatangi rumah Pak Umar, kepala dusun. Tujuanku ingin bersilaturahmi sekaligus mengetahui siapa sosok misterius penghuni rumah berhalaman luas, yang di mataku juga terkesan misterius itu.
Saat kuceritakan pada Pak Umar tentang pertemuanku dengan lelaki itu, Pak Umar terkejut dan berkata, "Kenapa, apakah Pak Iwan diganggu oleh Alamsyah?"
"Tidak, Pak, hanya saja ketika saya lewat siang tadi, dia berdiri di pingir halamannya, lalu saya menyodorkan rokok padanya. Namun anehnya, dia hanya mengambil sebatang saja, padahal saya sudah ikhlas bila dia mengambil sebungkus rokok tersebut," ceritaku pada Pak Umar.
Pak Umar menarik nafas berat. "Ya, begitu dia. Alamsyah memang selalu demikian. Dia selalu minta rokok pada setiap orang yang dijumpainya. Tapi bila disodori sebungkus, dia hanya mengambil sebatang saja, setelah itu dia berlalu," jelasnya.
Pak Umar melanjutkan bahwa, dulunya Alamsyah adalah pemuda yang rajin bekerja. Tapi sejak dia dibawa pergi orang Bunian naik pesawat terbang dan menghilang beberapa lama, dia jadi lupa ingatan, lupa pada dirinya sendiri.
"Orang Bunian itu dari suku apa, Pak?" Tanyaku.
"Nak Iwan, orang Bunian itu adalah sebangsa makhluk halus." jelas pak Umar.
Selanjutnya Pak Umar menceritakan tentang laki-laki bernama Alamsyah itu padaku. Inilah ceritanya....
Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1970-an. Pada masa itu, bepergian dengan pesawat merupakan pengalaman istimewa. Hanya para pejabat dan orang kaya sajalah yang dapat melakukan perjalanan udara tersebut.
Kala itu, Alamsyah baru berumur 20 tahun. Sebagai pemuda miskin, Alamsyah ingin merubah nasib keluarganya. Dia sudah bosan tinggal di desanya. Apalagi kehidupan keluarganya yang miskin mengharuskannya bekerja keras sebagai petani penggarap.
Rasanya, Alamsyah sudah membanting tulang seharian, namun hasil yang diperoleh tidaklah memadai, hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Merasakan keadaan hidup yang sedemikian, Alamsyah suka melamun sendirian, terutama bila dia melihat pesawat terbang yang melintas di atas pematang sawahnya. Dia mengkhayal, apakah dirinya dapat menikmati duduk di dalam pesawat itu. Dan impiannya naik pesawat terbang selalu diceritakan pada para tetangganya.
Bagi penduduk desa tempatnya tinggal, jangankan untuk naik pesawat, melihat besarnya pesawat itu dari dekat saja mereka tidak pernah. Sehingga bila Alamsyah menceritakan impiannya, mereka selalu menertawakan dan mengolok-oloknya.
Tapi Alamsyah tidak pantang menyerah. Suatu ketika, ada tetangga dusun sebelah yang akan berangkat haji. Dia pun ikut rombongan mengantar ke kota Medan. Tujuannya hanya ingin ke Bandara Polonia dan melihat dari dekat badan pesawat terbang.
Alangkah kagumnya dia, tatkala melihat ukuran pesawat yang sedemikian besarnya. Apalagi saat pesawat itu mulai lepas landas, tanpa sadar tangan Alamsyah melambai-lambai.
Sepulangnya ke rumah, keinginan Alamsyah untuk naik pesawat terbang semakin menggebu-gebu. Untuk mewujudkan impiannya itu, Alamsyah semakin rajin bekerja. Kadang, seharian dia mencangkul di ladangnya dan baru pulang bila malam menjelang.
Seperti yang terjadi hari itu. Saat matahari sudah condong ke barat, para petani yang bekerja, satu-persatu mulai meninggalkan ladangnya. Namun Alamsyah belum beranjak jua. Tanpa disadarinya, malam sudah menjelang. Dan hanya Alamsyah sendiri yang masih mencangkul di ladangnya.
Saat itulah, entah dari mana asalnya, Alamsyah mendengar suara keramaian. Dia menghentikan pekerjaannya. Tatkala diperhatikan, di sekelilingnya bukan lagi persawahan, namun telah menjelma menjadi sebuah kota yang sangat indah.
Lampu-lampu terang benderang menghiasi setiap sudut kota itu. Alamsyah melihat orang-orang hilir mudik dengan pakaian yang indah. Ada yang berjalan dengan membawa belanjaan, tapi ada juga yang menaiki kuda.
Dalam keheranannya, Alamsyah merasa bahunya ditepuk seseorang. Saat dia melihat ke belakang, kagetlah dia karena yang menepuk bahunya adalah seorang gadis yang sangat cantik. Gadis itu tersenyum padanya.
"Apakah Abang penghuni baru kota ini, karena saya tidak pernah melihat Abang sebelumnya?" Tanya gadis itu.
"Kamu siapa? Dan aneh, saya berada di mana sekarang? Kalau tidak salah tadi saya sedang mencangkul di sawah. Tapi kenapa saat ini saya sudah berada di kota ini?" Alamsyah keheranan.
Gadis itu kembali tersenyum. Dan senyumnya kali ini seakan telah membius kesadaran Alamsyah, sehingga dia mendadak lupa pada keheranannya sendiri.
Namun, gadis itu kemudian berujar dengan suara teramat lembut, "Perkenalkan, saya Laila, salah seorang warga penghuni kota ini, Bang. Benar kata Abang tadi, bila matahari bersinar, tempat ini merupakan persawahan. Tapi bila hari senja, disini adalah tempat tinggal kami. Perkampungan orang Bunian."
Alamsyah melongo. Dia sungguh-sungguh sulit percaya dengan apa yang baru saja dikatakan gadis yang menyebut dirinya sebagai Laila itu.
"Ah, sudahlah, Bang!" Cetus Laila melihat lawan bicaranya yang tampak seperti orang linglung. Dia lalu melanjutkan, "Saya lihat Abang lelah dan belum makan. Sebaiknya Abang istirahat di rumah saya."
Laila, gadis Bunian itu kemudian membimbing Alamsyah berjalan. Bagai orang dihipnotis, Alamsyah menuruti saja langkah Laila. Dengan bingung Alamsyah melihat di sisi kanan kiri jalan bangunan-bangunan kuno tertata apik dan rapi. Sesekali juga mereka berpapasan dengan penduduk kota tersebut, dan terlihat memperhatikan kehadiran Alamsyah.
Mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu gerbang rumah yang dijaga oleh pengawal. Dengan isyarat tangan Laila, Alamsyah dan gadis itu masuk ke dalam ruangan yang ternyata merupakan sebuah istana.
Alamsyah kagum melihat perabotan rumah yang begitu indah. Meja dan kursi serta hiasan dindingnya berukiran indah. Sementara itu perabotan makannya terbuat dari perak.
Puas mengagumi keindahan istana itu, Laila membawa Alamsyah ke sebuah kamar dan menyodorkan pakaian padanya.
"Abang mandilah dahulu dan berganti pakaian yang ada di lemari ini. Usai itu, kita makan dan jalan-jalan berkeliling kota menikmati malam. Karena saat ini keramaian dan pertunjukan pasar malam," kata Laila.
Pemuda itu menuruti perkataan Laila. Dia mandi dan berganti pakaian. Setelah itu mereka menuju ruang makan. Alamsyah dipersilahkan tuan rumah untuk mencicipi hidangan yang tersedia di atas meja. Karena seharian mencangkul di sawahnya, Alamsyah sangat lapar, dan dia menikmati makanan dengan lahap.
Setelah makan, mereka berkeliling kota dengan menaiki kuda. Sepanjang perjalanan Alamsyah tak henti-hentinya mengagumi keindahan kota tersebut.
Ketika istirahat di sebuah bangku taman, Laila bertanya pada Alamsyah. "Kalau saya perhatikan, Abang sangat gembira. Sepertinya Abang belum pernah menikmati kegembiraan seperti ini?" Tanyanya.
"Ya, baru inilah saya menikmati perjalanan yang menyenangkan. Sehari-hari saya hanya bekerja membanting tulang di ladang. Semua itu Abang lakukan untuk menghidupi keluarga dan demi mewujudkan impian Abang," jelas Alamsyah.
"Memangnya apa impian Abang itu? Ya, siapa tahu Laila bisa membantu," Laila menatap lelaki di depannya.
"Abang pernah bermimpi memiliki rumah yang bagus dengan isteri cantik. Tapi mimpi Abang yang paling menganggu adalah ingin menikmati perjalanan dengan pesawat terbang. Abang ingin merasakan terbang di antara awan dan melihat keindahan kota Jakarta," jelas Alamsyah panjang lebar.
"Di alam orang Bunian, impian Abang bisa aku wujudkan. Sekarang pegang tanganku dan pejamkan mata Abang, dan jangan buka sebelum aku perintahkan!" Kata Laila sambil merapatkan lima jarinya ke jari Alamsyah.
Bagai dihipnotis, Alamsyah menuruti permintaan Laila. Perlahan, dia memejamkan matanya. Agak lama berlalu, kemudian terdengar suara lembut Laila, "Bukalah matamu, Bang, dan perhatikan di sekeliling kita!"
Saat membuka matanya, Alamsyah terkejut, karena dia sudah berada di Bandara Polonia, dan sedang berjalan dengan Laila menuju ke sebuah pesawat. Perlahan tapi pasti, Laila membimbing langkah Alamsyah menaiki satu-persatu anak tangga pesawat.
Alamsyah tidak mengerti bagaimana dia dan Laila bisa sampai di sana? Padahal jarak dari kampungnya ke Bandara yang ada di kota Medan itu bisa memakan waktu satu hari perjalanan.
Alamsyah juga heran, sepertinya tidak ada orang yang peduli dan memperhatikan kehadiran mereka di sana. Setiap orang masing-masing sibuk dengan urusan dan bawaannya sendiri, saat akan menaiki badan pesawat.
Sampai di dalam pesawat, Laila membawa Alamsyah ke ruangan pilot. Dari sana mereka melihat bagaimana pesawat itu mulai melakukan penerbangan. Saat itu perasaan Alamsyah sangat senang, karena dia dapat merasakan berada di dalam pesawat terbang.
Dari atas pesawat, Alamsyah memperhatikan rumah-rumah di bawah yang sudah tampak setitik, dan selanjutnya hilang di balik awan. Dan pemandangan hanya seputih awan saja. Dari pengeras suara, Alamsyah mendengar pengumuman bahwa sesaat lagi pesawat akan mendarat di Ibukota Negara Jakarta, tepatnya di banda Halim Perdanakusumah, ketika itu. Alamsyah pun bersiap-siap hendak turun.
Tapi dia juga heran, sebab Laila yang membawanya naik pesawat tidak berada di sisinya lagi. Alamsyah berjalan mencari-cari di dalam pesawat tersebut. Hingga, akhirnya pesawat mendarat, dan satu persatu penumpang turun, Alamsyah tak menemukan Laila.
Dalam kegalauannya mencari Laila, Alamsyah melangkahkan kakinya menuruni anak tangga pesawat. Saat kakinya menjejak di tanah, cahaya matahari menyengat kulit tubuhnya, dan menyilaukan matanya. Nah, ketika itulah keanehan terjadi.
Alamsyah yang sebelumnya berpakaian bagus, ketika itu berubah berpakaian lusuh, seperti akan ke sawah. Dua orang petugas Banda yang melihat penampilannya tersebut heran pada kehadiran Alamsyah di bandara, sebab dengan pakaian seperti orang yang akan berangkat ke sawah; celana komprang, baju lusuh, dan topi caping bertengger di kepalanya, Namun, orang berpenampilan lusuh itu baru saja turun dari pesawat. Padahal di zaman itu, orang yang bepergian dengan pesawat, hanyalah para pejabat ataupun orang kaya saja. Mereka sudah tentu berpakaian bagus.
Ketika petugas menanyakan tiketnya, Alamsyah tidak tahu, karena menurut pengakuannya dia menaiki pesawat dengan sebab diajak seorang gadis cantik bernama Laila.
Petugas yang memeriksa Alamsyah semakin kebingungan, bahkan kemudian menganggap Alamsyah orang gila. Bayangkan saja, setiap kali ditanya petugas, Alamsyah hanya bisa menyebut-nyebut nama Laila yang telah membawanya. Ketika ditanyai nama, alamat dan darimana sia berasal, Alamsyah sudah tidak tahu lagi, yang keluar dari bibirnya hanya nama Laila saja.
Setelah ditahan selama satu minggu oleh petugas, dan terbukti tak membawa benda-benda berbahaya, saat pesawat akan berangkat ke Medan, Alamsyah dititipkan untuk diperiksa di Medan, karena menurut dugaan petugas dia berasal dari sana.
"Namun, Tuhan berkehendak lain, sejak itu Alamsyah menjadi bisu dan tidak tahu siapa dirinya lagi. Hingga aparat keamanan melepaskannya. Beberapa orang warga desa ini menemukan Alamsyah di jalanan setelah enam bulan dia menghilang, dan dalam kondisi seperti yang Nak Iwan lihat tadi, dia bisu dan kurang ingatan," jelas Pak Umar di akhir ceritanya.
Aku pun terdiam. Ah, betapa sulit diterima akal sehat kisah mistis yang dialami oleh Alamsyah ini. Wallahu'alam!
Ini adalah kisah mistis seorang pemuda bernama Alamsyah. Suatu ketika, dia dibawa orang Bunian mengarungi perjalanan gaib dengan naik pesawat. Perjalanan antara Medan menuju Jakarta. Bagaimana kisah mistisnya...?
Rumah itu agak terpencil dari rumah-rumah penduduk lainnya. Walaupun halamannya luas, namun pekarangannya tidak terawat. Rumput liar dan sampah daun kering memenuhi halaman itu. Pepohonan rindang seperti jambu air, jambu biji, bahkan mangga yang berbuah lebat dibiarkan tumbuh begitu saja, seolah tidak ada yang mengurusnya.
Aku sempat heran bila melewati rumah tersebut yang selalu sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Tapi setiap melewati rumah itu, aku merasa ada sepasang mata yang selalu memperhatikan langkahku.
Mulanya aku tidak memperdulikan hal tersebut. Maklumlah, sebagai warga baru di kampung itu, aku sedang dalam tahap perkenalan.
Sebagai seorang penyuluh pertanian yang ditempatkan pemerintah, aku harus bisa bersosialisasi dengan penduduk kampung tempatku bertugas. Aku pun mulai hafal satu persatu nama penduduk serta rumahnya.
Tak jarang, bila berpapasan dengan warga, aku yang duluan tersenyum dan mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri dan keluargaku. Ya, namanya tinggal di perkampungan, tentu haruslah pandai membawa diri. Lain dengan hidup di kota, karena kesibukan masing-masing, antar warga satu kompleks saja tidak saling mengenal.
Siang itu, usai menghadiri pertemuan di Balai Desa, aku berjalan melewati rumah besar yang di mataku sepertinya menyimpan keanehan itu. Tiba-tiba, dari rerimbungan pohon jambu air di pekarangan rumah itu, keluar seorang laki-laki setengah baya bertubuh kurus, rambutnya memutih dengan potongan yang tak beraturan.
Baju kaos dan celana komprang yang dikenakan si lelaki sudah memudar warnanya di makan usia. Saat itu, dia hanya memandangiku. Aku tersenyum dan mencoba berkomunikasi dengannya.
Namun dia hanya diam saja. Dua jari tangannya didekatkan ke arah bibirnya. Aku mencoba memahami isyaratnya itu dengan menjulurkan sebungkus rokok kepadanya.
Tangan lelaki tua itu meraih rokok yang kusodorkan, lalu mengambil sebatang. Aku segera menyodorkan mancis yang sudah kuhidupkan ke arah rokok yang terlelip di bibirnya. Lelaki itu lalu menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Bibirnya bergerak-gerak, namun tak ada terdengar suara yang keluar dari sana.
Sebelum berlalu, aku memberikan bungkusan rokok yang kumiliki padanya. Namun dia menolak dan hanya mengambil sebatang saja, setelah itu dia berjalan ke arah rumah tuanya.
Sore harinya, karena penasaran dengan sosok lelaki tua itu, aku mendatangi rumah Pak Umar, kepala dusun. Tujuanku ingin bersilaturahmi sekaligus mengetahui siapa sosok misterius penghuni rumah berhalaman luas, yang di mataku juga terkesan misterius itu.
Saat kuceritakan pada Pak Umar tentang pertemuanku dengan lelaki itu, Pak Umar terkejut dan berkata, "Kenapa, apakah Pak Iwan diganggu oleh Alamsyah?"
"Tidak, Pak, hanya saja ketika saya lewat siang tadi, dia berdiri di pingir halamannya, lalu saya menyodorkan rokok padanya. Namun anehnya, dia hanya mengambil sebatang saja, padahal saya sudah ikhlas bila dia mengambil sebungkus rokok tersebut," ceritaku pada Pak Umar.
Pak Umar menarik nafas berat. "Ya, begitu dia. Alamsyah memang selalu demikian. Dia selalu minta rokok pada setiap orang yang dijumpainya. Tapi bila disodori sebungkus, dia hanya mengambil sebatang saja, setelah itu dia berlalu," jelasnya.
Pak Umar melanjutkan bahwa, dulunya Alamsyah adalah pemuda yang rajin bekerja. Tapi sejak dia dibawa pergi orang Bunian naik pesawat terbang dan menghilang beberapa lama, dia jadi lupa ingatan, lupa pada dirinya sendiri.
"Orang Bunian itu dari suku apa, Pak?" Tanyaku.
"Nak Iwan, orang Bunian itu adalah sebangsa makhluk halus." jelas pak Umar.
Selanjutnya Pak Umar menceritakan tentang laki-laki bernama Alamsyah itu padaku. Inilah ceritanya....
Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1970-an. Pada masa itu, bepergian dengan pesawat merupakan pengalaman istimewa. Hanya para pejabat dan orang kaya sajalah yang dapat melakukan perjalanan udara tersebut.
Kala itu, Alamsyah baru berumur 20 tahun. Sebagai pemuda miskin, Alamsyah ingin merubah nasib keluarganya. Dia sudah bosan tinggal di desanya. Apalagi kehidupan keluarganya yang miskin mengharuskannya bekerja keras sebagai petani penggarap.
Rasanya, Alamsyah sudah membanting tulang seharian, namun hasil yang diperoleh tidaklah memadai, hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Merasakan keadaan hidup yang sedemikian, Alamsyah suka melamun sendirian, terutama bila dia melihat pesawat terbang yang melintas di atas pematang sawahnya. Dia mengkhayal, apakah dirinya dapat menikmati duduk di dalam pesawat itu. Dan impiannya naik pesawat terbang selalu diceritakan pada para tetangganya.
Bagi penduduk desa tempatnya tinggal, jangankan untuk naik pesawat, melihat besarnya pesawat itu dari dekat saja mereka tidak pernah. Sehingga bila Alamsyah menceritakan impiannya, mereka selalu menertawakan dan mengolok-oloknya.
Tapi Alamsyah tidak pantang menyerah. Suatu ketika, ada tetangga dusun sebelah yang akan berangkat haji. Dia pun ikut rombongan mengantar ke kota Medan. Tujuannya hanya ingin ke Bandara Polonia dan melihat dari dekat badan pesawat terbang.
Alangkah kagumnya dia, tatkala melihat ukuran pesawat yang sedemikian besarnya. Apalagi saat pesawat itu mulai lepas landas, tanpa sadar tangan Alamsyah melambai-lambai.
Sepulangnya ke rumah, keinginan Alamsyah untuk naik pesawat terbang semakin menggebu-gebu. Untuk mewujudkan impiannya itu, Alamsyah semakin rajin bekerja. Kadang, seharian dia mencangkul di ladangnya dan baru pulang bila malam menjelang.
Seperti yang terjadi hari itu. Saat matahari sudah condong ke barat, para petani yang bekerja, satu-persatu mulai meninggalkan ladangnya. Namun Alamsyah belum beranjak jua. Tanpa disadarinya, malam sudah menjelang. Dan hanya Alamsyah sendiri yang masih mencangkul di ladangnya.
Saat itulah, entah dari mana asalnya, Alamsyah mendengar suara keramaian. Dia menghentikan pekerjaannya. Tatkala diperhatikan, di sekelilingnya bukan lagi persawahan, namun telah menjelma menjadi sebuah kota yang sangat indah.
Lampu-lampu terang benderang menghiasi setiap sudut kota itu. Alamsyah melihat orang-orang hilir mudik dengan pakaian yang indah. Ada yang berjalan dengan membawa belanjaan, tapi ada juga yang menaiki kuda.
Dalam keheranannya, Alamsyah merasa bahunya ditepuk seseorang. Saat dia melihat ke belakang, kagetlah dia karena yang menepuk bahunya adalah seorang gadis yang sangat cantik. Gadis itu tersenyum padanya.
"Apakah Abang penghuni baru kota ini, karena saya tidak pernah melihat Abang sebelumnya?" Tanya gadis itu.
"Kamu siapa? Dan aneh, saya berada di mana sekarang? Kalau tidak salah tadi saya sedang mencangkul di sawah. Tapi kenapa saat ini saya sudah berada di kota ini?" Alamsyah keheranan.
Gadis itu kembali tersenyum. Dan senyumnya kali ini seakan telah membius kesadaran Alamsyah, sehingga dia mendadak lupa pada keheranannya sendiri.
Namun, gadis itu kemudian berujar dengan suara teramat lembut, "Perkenalkan, saya Laila, salah seorang warga penghuni kota ini, Bang. Benar kata Abang tadi, bila matahari bersinar, tempat ini merupakan persawahan. Tapi bila hari senja, disini adalah tempat tinggal kami. Perkampungan orang Bunian."
Alamsyah melongo. Dia sungguh-sungguh sulit percaya dengan apa yang baru saja dikatakan gadis yang menyebut dirinya sebagai Laila itu.
"Ah, sudahlah, Bang!" Cetus Laila melihat lawan bicaranya yang tampak seperti orang linglung. Dia lalu melanjutkan, "Saya lihat Abang lelah dan belum makan. Sebaiknya Abang istirahat di rumah saya."
Laila, gadis Bunian itu kemudian membimbing Alamsyah berjalan. Bagai orang dihipnotis, Alamsyah menuruti saja langkah Laila. Dengan bingung Alamsyah melihat di sisi kanan kiri jalan bangunan-bangunan kuno tertata apik dan rapi. Sesekali juga mereka berpapasan dengan penduduk kota tersebut, dan terlihat memperhatikan kehadiran Alamsyah.
Mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu gerbang rumah yang dijaga oleh pengawal. Dengan isyarat tangan Laila, Alamsyah dan gadis itu masuk ke dalam ruangan yang ternyata merupakan sebuah istana.
Alamsyah kagum melihat perabotan rumah yang begitu indah. Meja dan kursi serta hiasan dindingnya berukiran indah. Sementara itu perabotan makannya terbuat dari perak.
Puas mengagumi keindahan istana itu, Laila membawa Alamsyah ke sebuah kamar dan menyodorkan pakaian padanya.
"Abang mandilah dahulu dan berganti pakaian yang ada di lemari ini. Usai itu, kita makan dan jalan-jalan berkeliling kota menikmati malam. Karena saat ini keramaian dan pertunjukan pasar malam," kata Laila.
Pemuda itu menuruti perkataan Laila. Dia mandi dan berganti pakaian. Setelah itu mereka menuju ruang makan. Alamsyah dipersilahkan tuan rumah untuk mencicipi hidangan yang tersedia di atas meja. Karena seharian mencangkul di sawahnya, Alamsyah sangat lapar, dan dia menikmati makanan dengan lahap.
Setelah makan, mereka berkeliling kota dengan menaiki kuda. Sepanjang perjalanan Alamsyah tak henti-hentinya mengagumi keindahan kota tersebut.
Ketika istirahat di sebuah bangku taman, Laila bertanya pada Alamsyah. "Kalau saya perhatikan, Abang sangat gembira. Sepertinya Abang belum pernah menikmati kegembiraan seperti ini?" Tanyanya.
"Ya, baru inilah saya menikmati perjalanan yang menyenangkan. Sehari-hari saya hanya bekerja membanting tulang di ladang. Semua itu Abang lakukan untuk menghidupi keluarga dan demi mewujudkan impian Abang," jelas Alamsyah.
"Memangnya apa impian Abang itu? Ya, siapa tahu Laila bisa membantu," Laila menatap lelaki di depannya.
"Abang pernah bermimpi memiliki rumah yang bagus dengan isteri cantik. Tapi mimpi Abang yang paling menganggu adalah ingin menikmati perjalanan dengan pesawat terbang. Abang ingin merasakan terbang di antara awan dan melihat keindahan kota Jakarta," jelas Alamsyah panjang lebar.
"Di alam orang Bunian, impian Abang bisa aku wujudkan. Sekarang pegang tanganku dan pejamkan mata Abang, dan jangan buka sebelum aku perintahkan!" Kata Laila sambil merapatkan lima jarinya ke jari Alamsyah.
Bagai dihipnotis, Alamsyah menuruti permintaan Laila. Perlahan, dia memejamkan matanya. Agak lama berlalu, kemudian terdengar suara lembut Laila, "Bukalah matamu, Bang, dan perhatikan di sekeliling kita!"
Saat membuka matanya, Alamsyah terkejut, karena dia sudah berada di Bandara Polonia, dan sedang berjalan dengan Laila menuju ke sebuah pesawat. Perlahan tapi pasti, Laila membimbing langkah Alamsyah menaiki satu-persatu anak tangga pesawat.
Alamsyah tidak mengerti bagaimana dia dan Laila bisa sampai di sana? Padahal jarak dari kampungnya ke Bandara yang ada di kota Medan itu bisa memakan waktu satu hari perjalanan.
Alamsyah juga heran, sepertinya tidak ada orang yang peduli dan memperhatikan kehadiran mereka di sana. Setiap orang masing-masing sibuk dengan urusan dan bawaannya sendiri, saat akan menaiki badan pesawat.
Sampai di dalam pesawat, Laila membawa Alamsyah ke ruangan pilot. Dari sana mereka melihat bagaimana pesawat itu mulai melakukan penerbangan. Saat itu perasaan Alamsyah sangat senang, karena dia dapat merasakan berada di dalam pesawat terbang.
Dari atas pesawat, Alamsyah memperhatikan rumah-rumah di bawah yang sudah tampak setitik, dan selanjutnya hilang di balik awan. Dan pemandangan hanya seputih awan saja. Dari pengeras suara, Alamsyah mendengar pengumuman bahwa sesaat lagi pesawat akan mendarat di Ibukota Negara Jakarta, tepatnya di banda Halim Perdanakusumah, ketika itu. Alamsyah pun bersiap-siap hendak turun.
Tapi dia juga heran, sebab Laila yang membawanya naik pesawat tidak berada di sisinya lagi. Alamsyah berjalan mencari-cari di dalam pesawat tersebut. Hingga, akhirnya pesawat mendarat, dan satu persatu penumpang turun, Alamsyah tak menemukan Laila.
Dalam kegalauannya mencari Laila, Alamsyah melangkahkan kakinya menuruni anak tangga pesawat. Saat kakinya menjejak di tanah, cahaya matahari menyengat kulit tubuhnya, dan menyilaukan matanya. Nah, ketika itulah keanehan terjadi.
Alamsyah yang sebelumnya berpakaian bagus, ketika itu berubah berpakaian lusuh, seperti akan ke sawah. Dua orang petugas Banda yang melihat penampilannya tersebut heran pada kehadiran Alamsyah di bandara, sebab dengan pakaian seperti orang yang akan berangkat ke sawah; celana komprang, baju lusuh, dan topi caping bertengger di kepalanya, Namun, orang berpenampilan lusuh itu baru saja turun dari pesawat. Padahal di zaman itu, orang yang bepergian dengan pesawat, hanyalah para pejabat ataupun orang kaya saja. Mereka sudah tentu berpakaian bagus.
Ketika petugas menanyakan tiketnya, Alamsyah tidak tahu, karena menurut pengakuannya dia menaiki pesawat dengan sebab diajak seorang gadis cantik bernama Laila.
Petugas yang memeriksa Alamsyah semakin kebingungan, bahkan kemudian menganggap Alamsyah orang gila. Bayangkan saja, setiap kali ditanya petugas, Alamsyah hanya bisa menyebut-nyebut nama Laila yang telah membawanya. Ketika ditanyai nama, alamat dan darimana sia berasal, Alamsyah sudah tidak tahu lagi, yang keluar dari bibirnya hanya nama Laila saja.
Setelah ditahan selama satu minggu oleh petugas, dan terbukti tak membawa benda-benda berbahaya, saat pesawat akan berangkat ke Medan, Alamsyah dititipkan untuk diperiksa di Medan, karena menurut dugaan petugas dia berasal dari sana.
"Namun, Tuhan berkehendak lain, sejak itu Alamsyah menjadi bisu dan tidak tahu siapa dirinya lagi. Hingga aparat keamanan melepaskannya. Beberapa orang warga desa ini menemukan Alamsyah di jalanan setelah enam bulan dia menghilang, dan dalam kondisi seperti yang Nak Iwan lihat tadi, dia bisu dan kurang ingatan," jelas Pak Umar di akhir ceritanya.
Aku pun terdiam. Ah, betapa sulit diterima akal sehat kisah mistis yang dialami oleh Alamsyah ini. Wallahu'alam!
AYAHKU GILA AKIBAT GUNA-GUNA
Penulis : SYAMSUL LESMANA
Kisah mistis ini berdasarkan kesaksian Mutiara Karena ayahnya pernah gila akibat guna-guna, dia sulit memperoleh jodoh......
Rezeki, maut, dan jodoh memang bukan kehendak kita. Itu adalah rahasia Tuhan. Kita sebagai insan di dunia ini hanya menjalani apa yang telah menjadi kehendakNya. Sebagai insan beragama, aku yakin akan hal itu. Tetapi sebagai manusia biasa kecemasan kukira adalah suatu hal yang sangat wajar.
Begitulah yang terjadi pada diriku saat itu. Perasaan cemas dan gundah selalu membayangi hari-hariku, karena sampai saat usiaku menginjak 35 tahun, aku belum juga menikah.
Namaku sebut saja Mutiara. Kata ibu nama itu pemberian ayahku. Beliau berharap agak kelak hidupku selalu bersinar seperti mutiara. Seperti ibu, aku pun memiliki wajah yang cantik. Dengan postur setinggi 170 cm, tubuhku langsing dan berkulit putih mulus. Kata orang, aku sangat pantas untuk menjadi seorang model.
Meskipun ibuku seorang janda, tetapi kami hidup cukup mapan. Kami memiliki sebuah toko tekstil yang cukup besar di Pasar Bambu Kuning. Kami juga memiliki rumah di Komplek Perum Puri Gading. Tak heran kalau keadaan kami itu sempat mengundang tuduhan miring orang-orang yang iri kepada kami.
Bermacam-macam asumsi mereka lontarkan. Ada yang mengatakan kalau ibuku yang cantik itu adalah seorang pelacur terselubung. Ada juga yang menuduh bahwa harta kekayaan yang kami peroleh selama ini adalah hasil pesugihan.
Tetapi selama ini kami tak pernah menghiraukan tudingan itu. Karena mereka tidak tahu bagaimana gigihnya ibuku berjuang membangun usaha dagangnya. Meskipun seorang perempuan, Ibuku selalu bekerja tak kenal lelah.
Ayahku? Entahlah! Karena kata Ibu, Ayah sudah meninggal sejak aku masih balita. Dan sepeninggalan Ayah, Ibu sama sekali tidak berniat untuk menikah lagi.
"Ibu cukup bahagia dengan apa yang telah diberikan Tuhan pada diriku selama ini. Untuk apa kawin lagi seandainya perkawinan itu akan membuat sengsara saja." Ibu selalu berkilah, setiap kali aku membujuk dirinya agar mencari pengganti ayah.
Ya, hidup kami memang sudah cukup. Tetapi seperti kata pepatah: "Tak ada gading yang tak retak." Di dunia ini memang tidak ada kehidupan yang sempurna.
Contohnya diriku. Meski hidup serba berkecukupan. Berwajah cantik dan memiliki gelar sarjana, tetapi sejauh ini aku merasa tak ada lelaki yang mendekatiku. Aku memang banyak punya teman pria, tetapi hubungan dengan mereka cuma sebatas teman bergaul dan bisnis semata.
Aku sendiri merasa heran, mengapa belum ada lelaki yang datang melamarku. Padahal aku ini puteri tunggal yang merupakan tumpuan keluarga untuk melanjutkan keturunan.
Hal inilah yang senantiasa membuat dirikku selama ini diliputi perasaan cemas. Dan kecemasan ini tidak cuma kerusakan sendiri, tetapi keluargaku pun, terutama Ibuku, jelas sekali ikut prihatin. Mereka sering bertanya mengapa aku belum juga menikah.
Tentu saja pertanyaan ini membuat batinku tambah tertekan. Setiap mereka bertanya begitu, aku cuma bisa menjawabnya dengan senyum getir dan perasaan sedih. Karena aku sendiri tidak tahu apa sebabnya.
Sebagai seorang sarjana aku senantiasa berpikir positif. Bagiku yang namanya jodoh itu Tuhanlah yang menentukannya. Seorang gadis bisu tuli saja punya suami, masak aku seorang gadis normal sampai tidak ada yang mau? Ah, mungkin saja jodohku belum datang. Begitulah kalimat penghibur yang sering terlontar dari hatiku manakala kecemasanku sedang memuncak.
Tetapi bagaimanapun aku tak sanggup membohongi perasaanku sendiri. Sebagai gadis dewasa dorongan seksku sering muncul tak terkendalikan. Apalagi kalau melihat adegan seronok yang sering ditampilkan dalam buku dan bioskop layar lebar. Maka dambaanku akan seorang lawan jenis selalu datang menggebu-gebu. Kalau sudah begini biasanya cuma bantal guling jadi sasaranku.
Suatu hari aku nekad mendatangi seorang paranormal. Pada Pak Tohir, demikian nama paranormal itu, kuceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada diriku saat itu. Oleh Pak Tohir aku diberi ramuan pemikat berupa bedak yang sudah diberi jampi-jampi.
Perbuatan ini diam-diam kulakukan karena aku tak mau sampai diketahui orang. Apalagi Ibu dan keluargaku yang terkenal fanatik. Ternyata, meskipun cuma sekali, kunjunganku ke tempat Pak Tohir tak sia-sia.
Aku nyaris tidak percaya, ketika sore itu Paman Wahab datang ke rumahku. Dia datang bersama seorang pemuda dan memperkenalkan padaku. Aku sempat melihat pemuda itu agak terbengong melihatku.
Dia baru sadar ketika Paman Wahab memperkenalkan diriku padanya. Pemuda itu bernama Hendro (bukan nama sebenarnya). Menurut cerita Pamanku, Hendro ini adalah putera tunggalnya Pak Handoko, seorang pengusaha yang cukup terkenal di kotaku.
Aku tak menyangka begitu cepatnya Hendro tertarik padaku. Hampir setiap akhir pekan dia selalu mengajak berkencan. Pucuk dicinta ulam tiba, tentus aja kehadiran Hendro membuat diriku saat itu merasa bahagia sekali. Terlebih keluargaku, mereka turut bahagia melihat hubunganku dengan Hendro yang tampan itu.
Tetapi, ternyata kebahagian yang kurasakan saat itu tak lebih dari sebuah fatamorgana belaka. Hubunganku dengan Hendro tak lebih dari seumur jagung. Entah kenapa tiba-tiba dia memutuskan hubungannya dengaku. Dia berasalan akan bekerja di Kalimantan.
"Aku memang menyukaimu, Tiara. Tetapi bagaimanapun aku harus memiliki masa depan yang pasti. Aku tidak mau terus menerus mengandalkan orang tuaku. Kebetulan seorang teman ayah menawarkan sebuah jabatan yang cukup penting di perusahaannya di Kalimantan. Kupikir sayang kalau peluang emas ini kulewatkan. Sekali lagi maafkanlah aku," kata Hendro malam itu.
Menghadapi kenyataan ini aku tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, dan menangis menyesali nasib. Sepeninggal Hendro, aku jadi seorang gadis pemurung. Tak ada lagi yang kulakukan selain berdoa dan berdoa pada Tuhan agar diberi petunjuk.
Kiranya Tuhan berkenan mendengar doaku. Misteri yang menyelubungi diriku perlahan mulai tersingkap kala siang itu Paman Wahab datang mengunjungiku. Rupanya Paman Wahab mendengar kabar tentang hubunganku dengan Hendro.
"Si Hendro itu picik sekali. Aku tahu dia sengaja memutuskan hubungannya denganmu setelah mendengar cerita tentang ayahmu," kata pamanku dengan nada emosi.
"Ayahku, apa maksud paman?" tanyaku terkejut.
Paman Wahab tidak segera menjawab. Dia menatapku dengan iba. Lalu dengan lembut dia berkata; "Sebenarnya aku tak sampai hati menceritakan padamu. Selama ini kami memang sengaja merahasiakannya padamu. Karena kami anggap bahwa apa yang dialami oleh ayahmu adalah aib keluarga."
"Aib apa sih maksud paman?" aku semakin bingung dan penasaran.
Kulihat Paman Wahab berusaha menekan perasaannya. Dia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya.
"Baiklah, Tiara. Aku akan ceritakan apa yang selama ini kami rahasiakan. Sebenarnya ayahmu masih ada. Dia masih hidup.."
Aku merasa seperti disambar petir di siang hari mendengar ucapan paman Wahab itu. Karena selama ini kata ibuku bahwa Ayah sudah lama meninggal dunia. Ada apa sebenarnya? Mengapa Ibu tega mengatakan bahwa Ayah telah tiada?
"Jadi Ayah masih hidup?" tanyaku, tak percaya.
Pamanku mengangguk.
"Benar, Tiara! Ayahmu masih hidup. Karena dia pernah mengalami sakit hilang ingatan, Ibumu menolak dirinya," ujar Paman Wahab.
Lagi-lagi aku tak kuasa menahan diri. Aku nyaris jatuh lemas kalau saja Paman Wahab tidak segera menyangga tubuhku. Dia membingbingku untuk duduk di sofa. Lalu diberinya aku minum segelas air putih.
"Tenanglah, Tiara! Kuatkanlah hatimu. Biar kuteruskan ceritaku," kata Paman Wahab.
Aku mengangguk dan berusaha membuat diriku agar tetap tegar. Setelah melihat keadaanku cukup tenang, Paman Wahab lalu melanjutkan ceritanya.
"Bahtiar, ayahmu, jadi gila karena guna-guna oleh ibu tirinya. Sudah lama sekali ibu tirinya berniat menjodohkan Bahtiar dengan seorang gadis yang masih kerabatnya. Ibu tirinya berharap akan mendapatkan harta warisan dari ayah si gadis yang memang kaya raya itu. Tetapi Ayahmu menolak. Dia malah diam-diam menikahi Ibumu. Akibatnya sudah bisa diduga, ibu tirinya itu merasa sakit hati dan menaruh dendam. Untuk membalas sakit hatinya, maka dia mencari dukun untuk mengguna-gunai Ayahmu.
Aku masih ingat ketika pada suatu hari ibu tiri Ayahmu itu mengundang Ayahmu ke rumahnya. Bahtiar tentu saja merasa senang, karena mengira kalau ibu tirinya itu sudah memaafkannya. Tanpa menaruh curiga, Ayahmu pun datang.
Namun Ayahmu tak menyangka kalau undangan itu ternyata tak lebih dari sebuah tipu daya belaka. Ayahmu tidak menyadari kalau air di dalam gelas yang disuguhkan oleh ibu tirinya itu telah dibubuhi ramuan dan jampi-jampi.
Memang mulanya tidak terjadi apa-apa atas diri Ayahmu. Namun selang sebulan kemudian terjadilah peristiwa mengenaskan itu. Ayahmu tiba-tiba bersikap aneh. Dia tidak mau mandi. Jika tubuhnya kena air walau sedikit, dia menggigil seperti orang yang kedinginan.
Karena tidak mandi tentu saja badannya jadi mengeluarkan bau yang cukup aneh. Baunya sangat menyengat. Yang lebih menyedihkan, selang beberapa hari kemudian Wyahmu sering berteriak memanggil nama gadis yang akan dijodohkan oleh ibu tirinya itu.
Saat itu kau masih bayi. Aku masih ingat tanpa sepengetahuan Ibumu, Bahtiar membawamu ke pinggir sungai kecil yang ada di belakang rumah. Dia berniat menghayutkan dirimu. Untung saja perbuatannya itu diketahui orang yang kebetulan lewat. Kalau tidak, entah apa yang terjadi.
Melihat keadaan Ayahmu, tentu saja kami sekeluarga menjadi cemas. Terlebih dengan Ibumu. Dia benar-benar terguncang melihat keadaan Ayahmu itu. Mulanya kami mengira Ayahmu menderita penyakit biasa. Kami segera membawanya ke seorang dokter umum. Tetapi orang sang dokter kami disarankan agar membawanya pada seorang psikiater.
Tetapi psikiater pun ternyata tidak sanggup menanganinya. Kemudian atas usul seorang tetangga, kami coba membawanya pada seorang tabib. Tetapi lagi-lagi usaha kami gagal.
Menurut seorang tabib, Ayahmu bukan menderita penyakit biasa. Tapi sakitnya adalah akibat guna-guna.
Meskipun tabib itu tidak memastikan siapa pelakunya, tetapi aku merasa yakin kalau Ayahmu itu diguna-gunai ibu tirinya. Karena itu aku berniat membawanya ke orang pintar. Setelah meminta persetujuan Ibumu, akhirnya Ayahmu kubawa ke orang pintar di Desa Simpang Agung.
Ustadz Karim namanya. Dia terkejut menerima kedatangan kami, karena kami memang sudah saling kenal. Setelah mendeteksi penyakit Ayahmu, Ustadz Karim mengambil kesimpulan bahwa ayahmu terkena guna-guna yang dikirim melalui minuman yang berasal dari air Sendang Hurip, yang merupakan air larangan. Seseorang telah memberikan air larangan itu dan diberi ramuan Ajian Perusak Sukma. Guna-guna ini sangat dahsyat sekali, karena cepat sekali menyatu dalam darah.
Demikianlah, akhirnya Ayahmu dirawat oleh Ustadz Karim selama kurang lebih 6 bulan lamanya. Alhamdulillah, akhirnya berkat pertolongan Ustadz Karim penyakit yang diderita Ayahmu dapat disembuhkan. Tetapi dia masih sering mengalami kesulitan untuk mengenal orang lain secara cepat. Dia masih sering seperti orang linglung. Karena itulah ketika dia akan kembali, Ibumu tidak mau menerimanya.
Meskipun kami sekeluarga sudah berusaha membujuknya tetapi Ibumu tetap menolak kehadiran Ayahmu. Dia khawatir kalau nanti penyakit Ayahmu akan kambu lagi." Demikianlah Paman Wahab mengakhiri ceritanya.
Singkat cerita, dengan di antar oleh Paman Wahab, aku bertemu dengan Ayahku. Ayah tinggal di sebuah gubuk sederhana. Dia hidup bersama seorang perempuan setengah baya, yang belakangan kuketahui adalah isterinya.
Mulanya sukar sekali kami berkomunikasi. Tetapi berkat bantuan Ustadz Karim dan paman Wahab, akhirnya Ayah dapat mengenalku dengan mau mengakuiku sebagai anaknya. Sungguh suatu pertemuan yang mengharukan. Di hadapan lelaki berusia 60 tahunan itu aku bersujud mencium tangannya, dengan beruraian air mata.
Singkat cerita, meskipun tidak berkumpul lagi, tetapi kami sudah saling memaafkan. Dan yang terpenting tali silaturahmi kami yang sempat terputus kini telah tersambung lagi.
Mungkin berkat doa tulus seorang Ayah, akhirnya Allah SWT berkenan memberikan aku jodoh. Kini aku hidup bahagia bersama suamiku tercinta dan seorang anakku yang lucu dan imut.
Kisah mistis ini berdasarkan kesaksian Mutiara Karena ayahnya pernah gila akibat guna-guna, dia sulit memperoleh jodoh......
Rezeki, maut, dan jodoh memang bukan kehendak kita. Itu adalah rahasia Tuhan. Kita sebagai insan di dunia ini hanya menjalani apa yang telah menjadi kehendakNya. Sebagai insan beragama, aku yakin akan hal itu. Tetapi sebagai manusia biasa kecemasan kukira adalah suatu hal yang sangat wajar.
Begitulah yang terjadi pada diriku saat itu. Perasaan cemas dan gundah selalu membayangi hari-hariku, karena sampai saat usiaku menginjak 35 tahun, aku belum juga menikah.
Namaku sebut saja Mutiara. Kata ibu nama itu pemberian ayahku. Beliau berharap agak kelak hidupku selalu bersinar seperti mutiara. Seperti ibu, aku pun memiliki wajah yang cantik. Dengan postur setinggi 170 cm, tubuhku langsing dan berkulit putih mulus. Kata orang, aku sangat pantas untuk menjadi seorang model.
Meskipun ibuku seorang janda, tetapi kami hidup cukup mapan. Kami memiliki sebuah toko tekstil yang cukup besar di Pasar Bambu Kuning. Kami juga memiliki rumah di Komplek Perum Puri Gading. Tak heran kalau keadaan kami itu sempat mengundang tuduhan miring orang-orang yang iri kepada kami.
Bermacam-macam asumsi mereka lontarkan. Ada yang mengatakan kalau ibuku yang cantik itu adalah seorang pelacur terselubung. Ada juga yang menuduh bahwa harta kekayaan yang kami peroleh selama ini adalah hasil pesugihan.
Tetapi selama ini kami tak pernah menghiraukan tudingan itu. Karena mereka tidak tahu bagaimana gigihnya ibuku berjuang membangun usaha dagangnya. Meskipun seorang perempuan, Ibuku selalu bekerja tak kenal lelah.
Ayahku? Entahlah! Karena kata Ibu, Ayah sudah meninggal sejak aku masih balita. Dan sepeninggalan Ayah, Ibu sama sekali tidak berniat untuk menikah lagi.
"Ibu cukup bahagia dengan apa yang telah diberikan Tuhan pada diriku selama ini. Untuk apa kawin lagi seandainya perkawinan itu akan membuat sengsara saja." Ibu selalu berkilah, setiap kali aku membujuk dirinya agar mencari pengganti ayah.
Ya, hidup kami memang sudah cukup. Tetapi seperti kata pepatah: "Tak ada gading yang tak retak." Di dunia ini memang tidak ada kehidupan yang sempurna.
Contohnya diriku. Meski hidup serba berkecukupan. Berwajah cantik dan memiliki gelar sarjana, tetapi sejauh ini aku merasa tak ada lelaki yang mendekatiku. Aku memang banyak punya teman pria, tetapi hubungan dengan mereka cuma sebatas teman bergaul dan bisnis semata.
Aku sendiri merasa heran, mengapa belum ada lelaki yang datang melamarku. Padahal aku ini puteri tunggal yang merupakan tumpuan keluarga untuk melanjutkan keturunan.
Hal inilah yang senantiasa membuat dirikku selama ini diliputi perasaan cemas. Dan kecemasan ini tidak cuma kerusakan sendiri, tetapi keluargaku pun, terutama Ibuku, jelas sekali ikut prihatin. Mereka sering bertanya mengapa aku belum juga menikah.
Tentu saja pertanyaan ini membuat batinku tambah tertekan. Setiap mereka bertanya begitu, aku cuma bisa menjawabnya dengan senyum getir dan perasaan sedih. Karena aku sendiri tidak tahu apa sebabnya.
Sebagai seorang sarjana aku senantiasa berpikir positif. Bagiku yang namanya jodoh itu Tuhanlah yang menentukannya. Seorang gadis bisu tuli saja punya suami, masak aku seorang gadis normal sampai tidak ada yang mau? Ah, mungkin saja jodohku belum datang. Begitulah kalimat penghibur yang sering terlontar dari hatiku manakala kecemasanku sedang memuncak.
Tetapi bagaimanapun aku tak sanggup membohongi perasaanku sendiri. Sebagai gadis dewasa dorongan seksku sering muncul tak terkendalikan. Apalagi kalau melihat adegan seronok yang sering ditampilkan dalam buku dan bioskop layar lebar. Maka dambaanku akan seorang lawan jenis selalu datang menggebu-gebu. Kalau sudah begini biasanya cuma bantal guling jadi sasaranku.
Suatu hari aku nekad mendatangi seorang paranormal. Pada Pak Tohir, demikian nama paranormal itu, kuceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada diriku saat itu. Oleh Pak Tohir aku diberi ramuan pemikat berupa bedak yang sudah diberi jampi-jampi.
Perbuatan ini diam-diam kulakukan karena aku tak mau sampai diketahui orang. Apalagi Ibu dan keluargaku yang terkenal fanatik. Ternyata, meskipun cuma sekali, kunjunganku ke tempat Pak Tohir tak sia-sia.
Aku nyaris tidak percaya, ketika sore itu Paman Wahab datang ke rumahku. Dia datang bersama seorang pemuda dan memperkenalkan padaku. Aku sempat melihat pemuda itu agak terbengong melihatku.
Dia baru sadar ketika Paman Wahab memperkenalkan diriku padanya. Pemuda itu bernama Hendro (bukan nama sebenarnya). Menurut cerita Pamanku, Hendro ini adalah putera tunggalnya Pak Handoko, seorang pengusaha yang cukup terkenal di kotaku.
Aku tak menyangka begitu cepatnya Hendro tertarik padaku. Hampir setiap akhir pekan dia selalu mengajak berkencan. Pucuk dicinta ulam tiba, tentus aja kehadiran Hendro membuat diriku saat itu merasa bahagia sekali. Terlebih keluargaku, mereka turut bahagia melihat hubunganku dengan Hendro yang tampan itu.
Tetapi, ternyata kebahagian yang kurasakan saat itu tak lebih dari sebuah fatamorgana belaka. Hubunganku dengan Hendro tak lebih dari seumur jagung. Entah kenapa tiba-tiba dia memutuskan hubungannya dengaku. Dia berasalan akan bekerja di Kalimantan.
"Aku memang menyukaimu, Tiara. Tetapi bagaimanapun aku harus memiliki masa depan yang pasti. Aku tidak mau terus menerus mengandalkan orang tuaku. Kebetulan seorang teman ayah menawarkan sebuah jabatan yang cukup penting di perusahaannya di Kalimantan. Kupikir sayang kalau peluang emas ini kulewatkan. Sekali lagi maafkanlah aku," kata Hendro malam itu.
Menghadapi kenyataan ini aku tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, dan menangis menyesali nasib. Sepeninggal Hendro, aku jadi seorang gadis pemurung. Tak ada lagi yang kulakukan selain berdoa dan berdoa pada Tuhan agar diberi petunjuk.
Kiranya Tuhan berkenan mendengar doaku. Misteri yang menyelubungi diriku perlahan mulai tersingkap kala siang itu Paman Wahab datang mengunjungiku. Rupanya Paman Wahab mendengar kabar tentang hubunganku dengan Hendro.
"Si Hendro itu picik sekali. Aku tahu dia sengaja memutuskan hubungannya denganmu setelah mendengar cerita tentang ayahmu," kata pamanku dengan nada emosi.
"Ayahku, apa maksud paman?" tanyaku terkejut.
Paman Wahab tidak segera menjawab. Dia menatapku dengan iba. Lalu dengan lembut dia berkata; "Sebenarnya aku tak sampai hati menceritakan padamu. Selama ini kami memang sengaja merahasiakannya padamu. Karena kami anggap bahwa apa yang dialami oleh ayahmu adalah aib keluarga."
"Aib apa sih maksud paman?" aku semakin bingung dan penasaran.
Kulihat Paman Wahab berusaha menekan perasaannya. Dia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya.
"Baiklah, Tiara. Aku akan ceritakan apa yang selama ini kami rahasiakan. Sebenarnya ayahmu masih ada. Dia masih hidup.."
Aku merasa seperti disambar petir di siang hari mendengar ucapan paman Wahab itu. Karena selama ini kata ibuku bahwa Ayah sudah lama meninggal dunia. Ada apa sebenarnya? Mengapa Ibu tega mengatakan bahwa Ayah telah tiada?
"Jadi Ayah masih hidup?" tanyaku, tak percaya.
Pamanku mengangguk.
"Benar, Tiara! Ayahmu masih hidup. Karena dia pernah mengalami sakit hilang ingatan, Ibumu menolak dirinya," ujar Paman Wahab.
Lagi-lagi aku tak kuasa menahan diri. Aku nyaris jatuh lemas kalau saja Paman Wahab tidak segera menyangga tubuhku. Dia membingbingku untuk duduk di sofa. Lalu diberinya aku minum segelas air putih.
"Tenanglah, Tiara! Kuatkanlah hatimu. Biar kuteruskan ceritaku," kata Paman Wahab.
Aku mengangguk dan berusaha membuat diriku agar tetap tegar. Setelah melihat keadaanku cukup tenang, Paman Wahab lalu melanjutkan ceritanya.
"Bahtiar, ayahmu, jadi gila karena guna-guna oleh ibu tirinya. Sudah lama sekali ibu tirinya berniat menjodohkan Bahtiar dengan seorang gadis yang masih kerabatnya. Ibu tirinya berharap akan mendapatkan harta warisan dari ayah si gadis yang memang kaya raya itu. Tetapi Ayahmu menolak. Dia malah diam-diam menikahi Ibumu. Akibatnya sudah bisa diduga, ibu tirinya itu merasa sakit hati dan menaruh dendam. Untuk membalas sakit hatinya, maka dia mencari dukun untuk mengguna-gunai Ayahmu.
Aku masih ingat ketika pada suatu hari ibu tiri Ayahmu itu mengundang Ayahmu ke rumahnya. Bahtiar tentu saja merasa senang, karena mengira kalau ibu tirinya itu sudah memaafkannya. Tanpa menaruh curiga, Ayahmu pun datang.
Namun Ayahmu tak menyangka kalau undangan itu ternyata tak lebih dari sebuah tipu daya belaka. Ayahmu tidak menyadari kalau air di dalam gelas yang disuguhkan oleh ibu tirinya itu telah dibubuhi ramuan dan jampi-jampi.
Memang mulanya tidak terjadi apa-apa atas diri Ayahmu. Namun selang sebulan kemudian terjadilah peristiwa mengenaskan itu. Ayahmu tiba-tiba bersikap aneh. Dia tidak mau mandi. Jika tubuhnya kena air walau sedikit, dia menggigil seperti orang yang kedinginan.
Karena tidak mandi tentu saja badannya jadi mengeluarkan bau yang cukup aneh. Baunya sangat menyengat. Yang lebih menyedihkan, selang beberapa hari kemudian Wyahmu sering berteriak memanggil nama gadis yang akan dijodohkan oleh ibu tirinya itu.
Saat itu kau masih bayi. Aku masih ingat tanpa sepengetahuan Ibumu, Bahtiar membawamu ke pinggir sungai kecil yang ada di belakang rumah. Dia berniat menghayutkan dirimu. Untung saja perbuatannya itu diketahui orang yang kebetulan lewat. Kalau tidak, entah apa yang terjadi.
Melihat keadaan Ayahmu, tentu saja kami sekeluarga menjadi cemas. Terlebih dengan Ibumu. Dia benar-benar terguncang melihat keadaan Ayahmu itu. Mulanya kami mengira Ayahmu menderita penyakit biasa. Kami segera membawanya ke seorang dokter umum. Tetapi orang sang dokter kami disarankan agar membawanya pada seorang psikiater.
Tetapi psikiater pun ternyata tidak sanggup menanganinya. Kemudian atas usul seorang tetangga, kami coba membawanya pada seorang tabib. Tetapi lagi-lagi usaha kami gagal.
Menurut seorang tabib, Ayahmu bukan menderita penyakit biasa. Tapi sakitnya adalah akibat guna-guna.
Meskipun tabib itu tidak memastikan siapa pelakunya, tetapi aku merasa yakin kalau Ayahmu itu diguna-gunai ibu tirinya. Karena itu aku berniat membawanya ke orang pintar. Setelah meminta persetujuan Ibumu, akhirnya Ayahmu kubawa ke orang pintar di Desa Simpang Agung.
Ustadz Karim namanya. Dia terkejut menerima kedatangan kami, karena kami memang sudah saling kenal. Setelah mendeteksi penyakit Ayahmu, Ustadz Karim mengambil kesimpulan bahwa ayahmu terkena guna-guna yang dikirim melalui minuman yang berasal dari air Sendang Hurip, yang merupakan air larangan. Seseorang telah memberikan air larangan itu dan diberi ramuan Ajian Perusak Sukma. Guna-guna ini sangat dahsyat sekali, karena cepat sekali menyatu dalam darah.
Demikianlah, akhirnya Ayahmu dirawat oleh Ustadz Karim selama kurang lebih 6 bulan lamanya. Alhamdulillah, akhirnya berkat pertolongan Ustadz Karim penyakit yang diderita Ayahmu dapat disembuhkan. Tetapi dia masih sering mengalami kesulitan untuk mengenal orang lain secara cepat. Dia masih sering seperti orang linglung. Karena itulah ketika dia akan kembali, Ibumu tidak mau menerimanya.
Meskipun kami sekeluarga sudah berusaha membujuknya tetapi Ibumu tetap menolak kehadiran Ayahmu. Dia khawatir kalau nanti penyakit Ayahmu akan kambu lagi." Demikianlah Paman Wahab mengakhiri ceritanya.
Singkat cerita, dengan di antar oleh Paman Wahab, aku bertemu dengan Ayahku. Ayah tinggal di sebuah gubuk sederhana. Dia hidup bersama seorang perempuan setengah baya, yang belakangan kuketahui adalah isterinya.
Mulanya sukar sekali kami berkomunikasi. Tetapi berkat bantuan Ustadz Karim dan paman Wahab, akhirnya Ayah dapat mengenalku dengan mau mengakuiku sebagai anaknya. Sungguh suatu pertemuan yang mengharukan. Di hadapan lelaki berusia 60 tahunan itu aku bersujud mencium tangannya, dengan beruraian air mata.
Singkat cerita, meskipun tidak berkumpul lagi, tetapi kami sudah saling memaafkan. Dan yang terpenting tali silaturahmi kami yang sempat terputus kini telah tersambung lagi.
Mungkin berkat doa tulus seorang Ayah, akhirnya Allah SWT berkenan memberikan aku jodoh. Kini aku hidup bahagia bersama suamiku tercinta dan seorang anakku yang lucu dan imut.
AKU BERSUAMI GENDERUWO
Penulis : SISCA
Tahun 1999, aku merantau ke Jakarta. Di kota metropolitan ini aku bekerja sebagai guru Sekolah Dasar (SD). Aku merasa senang bekerja di Jakarta, karena gaji yang kuterima cukup besar. Sebelumnya, aku memang sudah bekerja di kota kelahiranku, Yogyakarta, namun di kotaku itu gaji yang kuterima sangat kecil. Karena sebab itu juga kuputuskan untuk merantau.
Disamping mengajar, aku juga memberi les privat. Meskipun harus bekerja ekstra pada sore hari, bahkan sampai malam, aku merasa senang. Uang dari hasil les privat semakin menambah tebal kantongku. Hal inilah yang membuat aku mencoba terus bertahan di Jakarta.
Aku tidak menyadari kalau kepergianku meninggalkan duka dan kekhawatiran yang mendalam pada kedua orang tuaku yang masih tinggal di Yogya. Setiap hari, mereka mengkhawatirkan keadaanku. Hal ini dapat dimaklumi karena aku adalah bungsu dari tiga bersaudara, ditambah lagi aku satu-satunya anak perempuan dalam keluargaku.
Tahun 2000, saat pulang kampung, aku berkenalan dengan seorang paranormal. Perkenalanku itu lewat perantaraan seorang teman. Menurut temanku, paranormal itu ahli dalam mengobati penyakit kanker. Mengingat ibuku mengidap kanker, aku mengundang paranormal itu untuk datang ke rumah.
Menurut diagnosis si paranormal, kanker yang diderita ibuku bukanlah penyakit yang sewajarnya, malinkan akibat guna-guna. Karena itu pengobatannya tidak bisa hanya satu kali, namun harus bertahap dan rutin. Karena aku sangat menginginkan kesembuhan ibuku, maka aku dan ibuku berjanji untuk ke rumah paranormal itu pada pertemuan berikutnya.
Suatu hari, aku dan ibuku memang datang ke rumah paranormal itu. Ibu lalu diberi air guna mengobati kankernya. Selesai pengobatan ibuku, kami mengobrol ala kadarnya. Ibuku lalu mengutarakan kecemasannya terhadap diriku yang kita tinggal di perantauan. Ibu minta kepada si paranormal untuk "memagari" diriku supaya terlindung dari segala macam marahabaya.
"Coba, aku lihat cincin yang kamu pakai itu," kata si paranormal sambil menunjuk cincin yang kupakai.
Cincin itu kuserahkan. Kemudian, paranormal itu mengetuk-ketuk batu cincin sambil komat-kamit. Aku tidak tahu untuk apa dia melakukan hal itu.
"Kalau nanti kamu sudah bersuami, cincin itu jangan kamu pakai, terutama kalau kamu sedang berhubungan badan," kata si paranormal setelah menyerahkan cincin itu padaku.
"Mengapa, Pak?" tanyaku, heran bercampur penasaran.
"Kamu pasti akan merasa tidak nyaman dan kesakitan!" kata paranormal itu.
Aku tidak tahu maksud paranormal itu karena aku belum menikah. Tapi, aku tidak bertanya lebih lanjut. Pikirku, mungkin aku baru tahu kalau sudah menikah.
Karena desakan Ibuku, dalam kesempatan ini juga tubuhku diisi kekuatan gaib oleh si paranormal. Maksudnya yang terutama agar aku cepat mencapatkan jodoh, karena Ibu memang sangat ingin menimang cucu dariku. Meski agak keberatan, namun aku tidak bisa menolak keinginan Ibu. Karena itu aku menurut saja.
Sesampainya di Jakarta, aku tidak merasakan perubahan apa-apa dalam diriku. Namun, orang-rang di sekelilingku sepertinya melihat ada perbedaan dengan diriku. Ada yang mengatakan kalau aku terlihat lebih muda, lebih menarik, bahkan ada yang mengatakan kalau aku menimbulkan gairah tersendiri bagi pria.
Sebenarnya, aku merasa heran dengan cara teman-teman memandangiku. Namun, aku tidak begitu mempedulikannya. Hanya saja, aku terkejut ketika salah seorang temanku yang tahu ilmu kebatinan mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan diriku.
Katanya, ada pancaran sinar yang membuat orang terpesona jika melihat diriku. Temanku ini berusaha untuk mencari asal pancaran sinar itu. Menurutnya, pancaran sinar itu berasal dari cincin yang kupakai. Namun aku tidak begitu mempercayainya.
Seiring dengan itu, dalam kehidupanku pun terjadi perubahan yang luar biasa, meskipun saat itu aku belum menyadarinya. Hidupku terasa lebih mudah. Ya, aku mudah mendapatkan uang, mendapatkan teman, dan aku juga selalu mudah mewujudkan semua keinginanku.
Rasanya, jalan hidupku menjadi lebih enak. Berbeda dengan saat aku belum ke rumah paranormal itu. Aku harus kerja keras untuk mendapatkan uang. Namun setelah cincin itu diisi, uang seakan datang sendiri. Bahkan beberapa orang tua murid sering memberi uang kepadaku, entah apa tujuannya. Murid-murid lesku bertambah. Aku juga diminta untuk memimpin sebuah lembaga les privat yang gajinya menggiurkan.
Tanpa kusadari, seiring dengan semakin tebalnya kocekku, aku pun berubah. Aku menjadi sombong. Aku juga menjadi menusia pendusta. Aku merasa sangat senang jika ada orang menderita. Kekacauan demi kekacauan aku ciptakan.
Entah kenapa, aku tidak tahu. Tiba-tiba ada dorongan kuat yang membuat diriku seperti itu. Aku senang mengadu domba antarteman. Aku senang memperuncing masalah jika ada perselisihan paham di kalangan rekan kerjaku. Aku juga menjadi pemalas.
Untuk menutupi belang diriku, aku sering berbohong. Kebohongan demi kebohongan aku ciptakan agar orang bersimpati kepadaku. Usahaku berhasil. Aku selalu menang dalam setiap pertempuran.
Ketika keadaan sudah sangat genting di tempat aku bekerja, aku mulai merasakan kegelisahan yang luar biasa. Aku merasa sudah banyak berbuat salah. Oleh karena itu, aku merasa lebih baik untuk hengkang.
Kebetulan, aku diterima di sebuah yayasan pendidikan yang cukup ternama. Padahal, tes masuk ke yayasan itu sangat sulit dan melalui banyak tahap. Namun, aku dengan mudah melaluinya. Aku merasa ada yang mempermudah jalanku. Jadilah, aku sebagai pendidik di salah satu cabang yayasan tersebut.
Disini, aku juga mendapat banyak kemudahan. Uang yang kuterima semakin banyak. Sayang, aku terlena. Kebiasaanku untuk berbohong menutupi kesalahan demi kesalahan karena kemalasanku mengerjakan tugas dan mengajar, semakin kerap kulakukan.
Satu tahun masa percobaan kujalani dengan mulus. Aku bernafas lega. Tapi, aku masih harus menjalani masa percobaan satu tahun lagi. Tahun kedua masa percobaan, aku mulai mengalami banyak masalah. Dari masalah murid, orang tua murid, rekan kerja, samoau pimpinan sekolah. Masalah-masalah itu silih berganti menghinggapiku. Aku menjadi kacau. Hidupku terasa tidak karuan. Aku merasa asing dengan diriku sendiri.
Desember 2002, hidupku semakin dibayangi kegelisahan. Aku diberi surat peringatan oleh Kepala Sekolah karena kinerjaku yang buruk. Aku menjadi gelisah dan kebingungan. Aku merasa kalau orang-orang sudah mulai mencium kebohonganku.
Di tengah kebingunganku, aku bertemu dengan seorang pria bernama Pras. Dia adalah tetanggaku di perumahan BA. Aku memang memiliki rumah kreditan di kompleks ini. Kebetulan, Pras juga memiliki rumah di perumahan yang sama, dan rumahnya bersebelahan dengaku. Kami bertemu ketika akad kredit di bank.
Karena ada masalah dengan pembuatan tower air, Pras menghubungiku lewat HP. Maklum, aku belum menempati rumah yang kukredit dan masih mengontrak rumah.
Urusan tower air ini membuatku kerap berhubungan dengan Mas Pras. Kebetulan kami sama-sama jomblo. Hubungan dengan Mas Pras menjadi akrab gara-gara urusan tower air itu. Bahkan, kepada Mas Pras, akhirnya kuungkapkan kegelisahanku yaitu kemungkinan akan kehilangan pekerjaan.
Mas Pras menunjukkan simpatinya dengan mengajakku ke rumah saudaranya di daerah Rangkas Bitung, Banten. Menurutnya, saudaranya itu orang pintar. Namanya Mas Seno.
Entah kenapa, aku mengikuti nasehat Mas Pras. Kami pergi ke rumah Mas Seno. Di sana, aku mengutarakan masalahku. Anehnya, saat berada di rumah Mas Seno, aku merasakan kegelisahan yang luar biasa. Aku juga merasa sangat benci kepada Mas Seno. Padahal, baru kali ini aku bertemu dengannya.
"Kamu perlu menjalani puasa selama satu minggu. Kamu tidak boleh makan dan minum sampai pukul 18.00. Pada pukul 18.00 kamu hanya boleh makan buah-buahan. Ingat buah-buahan yang tumbuhnya menggantung bukan merambat. Pukul 18.30, kamu tidak boleh makan lagi sampai pukul 18.00 hari berikutnya," kata Mas Seno.
"Kapan dimulainya?" tanyaku.
"Hari ini juga!" tegas Mas Seno.
Sebenarnya, aku merasa enggan menjalankan perintah itu. Namun, Mas Pras memotivasi diriku. Akhirnya, aku menjalani puasa itu. Dua minggu sesudahnya, aku ke rumah Mas Seno lagi bersama Mas Pras.
"Wah, kamu harus mengulangi lagi puasamu. Puasamu tidak diterima. Itu karena kamu masih suka berpikiran kotor. Kamu harus benar-benar membersihkan dirimu," kata Mas Seno.
Aku tidak tahu yang dimaksudkan Mas Seno. Aku merasa jengkel sekali. Hanya atas dorongan Mas Pras, aku kembali menjalani puasa itu. Kali ini, aku benar-benar berusaha untuk membersihkan diri.
Ketika menjalani puasa, aku mengalami banyak kejadian yang luar biasa. Aku sering didatangi wajah-wajah menakutkan padahal aku merasa tidak sedang bermimpi. Setiap kali memejamkan mata, wajah-wajah itu terasa begitu dekat di hadapanku.
Anehnya lagi, di pintu kelas tempat aku mengajar, aku juga melihat ada wajah yang menakutkan di dalam bayangan kaca. Wajah itu seakan-akan mengawasiku. Kemudian, wajah itu selalu hadir kemana pun aku pergi. Aku merasa takut dan ngeri.
Kuungkapkan keanehan ini kepada Mas Seno. Tapi, Mas Seno tidak banyak bicara. Dua hanya minta supaya aku datang setiap hari Minggu ke rumahnya. Selain itu, aku juga diminta untuk berdoa pada malam Senin dan malam Jum'at antara pukul 00.05 sampai 01.05.
Aku harus berdoa sesuai dengan keyakinanku. Ritual harus di lakukan di luar rumah dan langsung di bawah langit. Artinya, kepalaku harus berada di bawah langit, tidak boleh terhalang oleh apapun. Selain itu, aku juga harus menghadap ke timur.
Ditemani Mas Pras, aku menjalani ritual itu. Untuk hal ini, aku tidur dirumah Mas Pras yang kebetulan tinggal bersama paman dan bibinya. Di tempat aku mengontrak tidak memungkinkan bagiku untuk menjalankan ritual ini.
Hari pertama aku menjalani ritual tersebut, aku melihat ada bola api yang seakan-akan turun dari langit menuju ke arahku. Aku merasa ngeri. Tapi, belum sampai ke arahku, cahaya itu sudah meledak di atas rumah bibinya Mas Pras.
Hari kedua, aku merasa didatangi seorang yang bertubuh tinggi besar. Aku merasa sangat ngeri. Aku mencoba menghubungi Mas Pras lewat telepati. Aku mendengar Mas Pras menyuruhku untuk tetap tenang. Aku berusaha untuk tenang meskipun aku sangat takut karena makhluk itu tingginya melebihi rumah bertingkat dan bayangannya menutupi rumah.
Di tengah kekalutanku, tiba-tiba makhluk itu seperti mengempis perlahan-lahan. Rasanya ada yang menekan makhluk. Akhirnya, makhluk itu menjadi sangat kecil dihadapanku lalu lenyap. Aku bernapas lega.
Hari ketiga, ketika memejamkan mata, aku melihat pria berwajah tampan terikat tanpa menggunakan busana. Aku sungguh kasihan melihat pria itu. Dia menatapku dan meratap minta pertolongan dariku.
Aku merasa sangat akrab dengan pria itu. Aku merasa sangat iba terlebih saat dia merintih-rintih minta pertolongan sambil memanggil-manggil namaku. Aku mencoba menghubungi Mas Seno lewat telepati. Mas Seno menyuruhku untuk membiarkannya.
Hari keempat, aku melihat pria itu merintih-rintih. Dia tidak hanya terikat tapi ada nyala api di bawah tubuhnya. Yang mengerikan adalah wajahnya. Wajah pria itu tidak setampan dulu. Wajahnya berubah sangat mengerikan. Dia merintih-rintih memanggilku dan minta pertolongaku. Aku sungguh-sungguh merasa iba padanya.
Hari berikutnya, kulihat tubuh pria itu tinggal tulang belulang dan hangus terbakar. Rambutnya yang dulu lebat dan bagus, kini berubah menjadi merah. Dia tidak lagi memanggil-manggil. Kulihat, dia sungguh-sungguh tidak berdaya. Namun, dari matanya ada pancaran pemberontakan. Ada rasa kasihan yang mendalam dalam hatiku. Tapi, sesuai nasihat Mas Seno, aku harus membiarkannya.
Hari selanjutnya, kulihat pria itu berubah menjadi lempengan daging dan tulang kering. Tubuhnya yang tinggal tulang belulang itu berada di dalam botol. Dia benar-benar tidak berdaya.
Selama menjalani ritual itu, aku rajin mengunjungi Mas Seno. Setiap hari Minggu, aku pergi ke Rangkas. Hingga suatu hari, aku dan Mas Pras diminta untuk masuk ke kamar khususnya. Kami duduk berdampingan. Setelah membaca doa, aku dan Mas Pras diberi gelas berisi air. Kami diminta untuk minum air dalam gelas itu bergantian.
Setelah aku menjalani perintah Mas Seno, dia minta supaya aku datang pada malam Jum'at Kliwon. Aku diminta membawa kembang tujuh rupa. Aku akan dimandikan.
Aku datang pada hari yang ditentukan. Benar, aku dimandikan. air kembang. Saat dimandikan, aku dipukul dengan sapu gerang yang lidinya berasal dari pohon aren. Setelah mandi, aku merasakan bandanku menjadi ringan dan segala permasalahan lenyap. Pada malam itu, aku diajak untuk berbincang-bincang dengan beberapa orang yang hadir di rumah Mas Seno.
"Setelah sekian lama menolong orang, pekerjaan yang kurasa paling sulit adalah menggarap Sisca ini," kata Mas Seno.
"Lho, memangnya ada apa dengaku?" tanyaku, heran dan penasaran .
"Saat pertama melihatmu, aku tahu ada yang tidak beres dengan dirimu. Kakimu berbulu lebat. Selain itu, wajahmu kadang merah, ungu, dan biru. Kalau kamu tertawa terlihat mengerikan," kata Mas Seno.
"Iya, Mas. Kalau Sisca tertawa aku juga merasa kalau bukan dia yang tertawa. Wajah Sisca berubah mengerikan," kata Mas Pras.
Aku ingat Mas Pras selalu mengatakan itu setiap kali aku tertawa terbahak-bahak. Bahkan, Mas Pras juga sering melihat wajahku berubah menjadi hitam dan mengerikan. Aku hanya tertawa karena menganggap hal itu sebagai lelucon.
"Sebenarnya, di alam sana, kamu sudah dikawani oleh genderuwo. Pria yang kamu lihat selama kamu berpuasa dan berdoa secara khusus sudah menganggap kamu sebagai isterinya. Di alam sana pun, para leluhur dari genderuwo itu sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarganya," kata Mas Seno menjelaskan.
"Dari mana genderuwo itu, Mas?" tanyaku keheranan.
"Genderuwo itu ada di dalam cincinmu," kata Mas Seno.
Aku terperangah. Aku menjadi sadar. Aku ingat kalau selama ini merasa mempunyai orang yang selalu menjagaku. Aku juga selalu merasa sudah memiliki pendamping. Dalam bayanganku selalu muncul pria tampan.
Kalau malam, aku merasa ada yang membelai dan memelukku. Dalam benakku ada terlintas sebuah nama yaitu Budi Prasetya. Entah dari mana nama itu, aku tidak tahu.
Menurut Mas Seno, genderuwo itu selalu bergelayut di pungguku. Pantas saja, selama ini, badanku menjadi bungkuk karena pungguku terasa sangat sakit. Aku sudah mencoba untuk pijat dan melakukan terapi tapi sakit pungguku tidak kujung sembuh.
Setelah dimandikan oleh Mas Seno, pungguku menjadi sangat ringan dan aku tidak tampak bungkuk lagi.
"Untuk bisa memisahkan kamu dari genderuwo, kamu harus terlebih dahulu memiliki suami. Hal itu bisa menjadi alasan untuk melepaskan kamu dari pengaruh genderuwo itu. Karena itu, aku bilang pada genderuwo itu dan kerabatnya kalau kamu sudah menjadi pasangan dari Pras. Aku membela kamu karena Pras adalah saudaraku. Kerabat genderuwo itu tidak terima. Mereka menyerangku. Untunglah, kerabatmu di alam sana membantuku terutama nenekmu," kata Mas Seno menjelaskan.
"Nenek?" tanyaku.
"Iya, sebelum kamu datang ke sini, nenekmu sudah disini. Nenekmulah yang minta kepadaku untuk menolongmu," kata Mas Seno.
Mas Seno menyebutkan nama panggilan akrab nenekku. Aku terkejut. Aku belum pernah bercerita tentang nenekku kepadanya. Aku juga belum pernah memberitahu nama panggilan akrab nenekku. Tapi, Mas Seno sudah tahu.
"Cinta genderuwo itu kepadamu sudah cinta mati. Baginya, kamu adalah isterinya, karena itu aku dianggap sebagai pengganggu. Perlu kerja keras untuk memisahkan dia dari dirimu. Aku sudah minta dengan baik-baik.
Tapi, genderuwo itu tetap bersikeras. Karena itu, aku menggunakan kekerasan. Genderuwo itu terpaksa kuikat karena dia melawan. Karena masih melawan, aku membakarnya. Karena masih melawan juga, aku memasukkannya ke dalam botol.
Sekarang, dia berada di sebuah goa yang tak mungkin ditembus oleh siapapun karena penjagaannya berlapis. Dia tidak akan mungkin mengganggu kamu lagi. Aku harus terus bekerja keras karena kerabatnya juga menyerangku. Maka, aku minta bantuan kepada kerabatmu. Wah, benar-benar melelahkan," kata Mas Seno menjelaskan.
Akhirnya, untuk mempermudah jalan memisahkan aku dengan genderuwo itu, aku dinikahkan dengan Mas Pras. Di alam gaib sana, aku sudah resmi menjadi isteri Mas Pras. Memang, hubunganku dengan Mas Pras menjadi sangat dekat karena peristiwa ini.
Aku sangat berterima kasih kepada Mas Seno dan Mas Pras. Aku terlepas dari belenggu yang tidak kusadari. Beberapa tahun terakhir, aku memang merasa hidup enak. Semua yang kuinginkan bisa tercapai.
Namun, aku juga sering merasa kalau hidupku kacau. Aku sering tidak bisa mengendalikan diriku. Berbohong, mengadu domba, memperuncing permasalahan, dan entah kekacauan apa lagi yang telah kubuat.
Menurut Mas Seno, yang kulami itu adalah imbas dari si genderuwo. Dia tidak ingin hidupku mapan. Kalau aku mapan, maka aku bisa menjalankan ibadah dengan tenang. Jika demikian, dia tidak bisa mempengaruhiku lagi. Maka, hidupku selalu dibuat kacau meskipun disisi lain dia juga berusaha membahagiakan diriku. Genderuwo itu membiarkan aku hidup berfoya-foya. Itulah kebahagian bagiku yang diberikan olehnya, meskipun sebenarnya hal ini yang menjerumuskan diriku.
Kontrakku di yayasan pendidikan favorit itu tidak diperpanjang. Aku merasa sangat kecewa. Namun di sisi lain, aku bahagia karena mendapat sumai. Meskipun baru mengenal beberapa bulan, aku akhirnya menikah dengan Mas Pras. Aku menikah dengan Mas Pras pada bulan Juni 2003 silam.
Selama sekian waktu dia hidup sebagai seorang wanita dari bangsa manusia, yang menjadi isteri dari sosok makhluk halus berwujud genderuwo. Bagaimana kisah mistis ini bisa terjadi? Apa pula yang menjadi sebab sampai dia harus rela menjadi isteri genderuwo...?
Tahun 1999, aku merantau ke Jakarta. Di kota metropolitan ini aku bekerja sebagai guru Sekolah Dasar (SD). Aku merasa senang bekerja di Jakarta, karena gaji yang kuterima cukup besar. Sebelumnya, aku memang sudah bekerja di kota kelahiranku, Yogyakarta, namun di kotaku itu gaji yang kuterima sangat kecil. Karena sebab itu juga kuputuskan untuk merantau.
Disamping mengajar, aku juga memberi les privat. Meskipun harus bekerja ekstra pada sore hari, bahkan sampai malam, aku merasa senang. Uang dari hasil les privat semakin menambah tebal kantongku. Hal inilah yang membuat aku mencoba terus bertahan di Jakarta.
Aku tidak menyadari kalau kepergianku meninggalkan duka dan kekhawatiran yang mendalam pada kedua orang tuaku yang masih tinggal di Yogya. Setiap hari, mereka mengkhawatirkan keadaanku. Hal ini dapat dimaklumi karena aku adalah bungsu dari tiga bersaudara, ditambah lagi aku satu-satunya anak perempuan dalam keluargaku.
Tahun 2000, saat pulang kampung, aku berkenalan dengan seorang paranormal. Perkenalanku itu lewat perantaraan seorang teman. Menurut temanku, paranormal itu ahli dalam mengobati penyakit kanker. Mengingat ibuku mengidap kanker, aku mengundang paranormal itu untuk datang ke rumah.
Menurut diagnosis si paranormal, kanker yang diderita ibuku bukanlah penyakit yang sewajarnya, malinkan akibat guna-guna. Karena itu pengobatannya tidak bisa hanya satu kali, namun harus bertahap dan rutin. Karena aku sangat menginginkan kesembuhan ibuku, maka aku dan ibuku berjanji untuk ke rumah paranormal itu pada pertemuan berikutnya.
Suatu hari, aku dan ibuku memang datang ke rumah paranormal itu. Ibu lalu diberi air guna mengobati kankernya. Selesai pengobatan ibuku, kami mengobrol ala kadarnya. Ibuku lalu mengutarakan kecemasannya terhadap diriku yang kita tinggal di perantauan. Ibu minta kepada si paranormal untuk "memagari" diriku supaya terlindung dari segala macam marahabaya.
"Coba, aku lihat cincin yang kamu pakai itu," kata si paranormal sambil menunjuk cincin yang kupakai.
Cincin itu kuserahkan. Kemudian, paranormal itu mengetuk-ketuk batu cincin sambil komat-kamit. Aku tidak tahu untuk apa dia melakukan hal itu.
"Kalau nanti kamu sudah bersuami, cincin itu jangan kamu pakai, terutama kalau kamu sedang berhubungan badan," kata si paranormal setelah menyerahkan cincin itu padaku.
"Mengapa, Pak?" tanyaku, heran bercampur penasaran.
"Kamu pasti akan merasa tidak nyaman dan kesakitan!" kata paranormal itu.
Aku tidak tahu maksud paranormal itu karena aku belum menikah. Tapi, aku tidak bertanya lebih lanjut. Pikirku, mungkin aku baru tahu kalau sudah menikah.
Karena desakan Ibuku, dalam kesempatan ini juga tubuhku diisi kekuatan gaib oleh si paranormal. Maksudnya yang terutama agar aku cepat mencapatkan jodoh, karena Ibu memang sangat ingin menimang cucu dariku. Meski agak keberatan, namun aku tidak bisa menolak keinginan Ibu. Karena itu aku menurut saja.
Sesampainya di Jakarta, aku tidak merasakan perubahan apa-apa dalam diriku. Namun, orang-rang di sekelilingku sepertinya melihat ada perbedaan dengan diriku. Ada yang mengatakan kalau aku terlihat lebih muda, lebih menarik, bahkan ada yang mengatakan kalau aku menimbulkan gairah tersendiri bagi pria.
Sebenarnya, aku merasa heran dengan cara teman-teman memandangiku. Namun, aku tidak begitu mempedulikannya. Hanya saja, aku terkejut ketika salah seorang temanku yang tahu ilmu kebatinan mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan diriku.
Katanya, ada pancaran sinar yang membuat orang terpesona jika melihat diriku. Temanku ini berusaha untuk mencari asal pancaran sinar itu. Menurutnya, pancaran sinar itu berasal dari cincin yang kupakai. Namun aku tidak begitu mempercayainya.
Seiring dengan itu, dalam kehidupanku pun terjadi perubahan yang luar biasa, meskipun saat itu aku belum menyadarinya. Hidupku terasa lebih mudah. Ya, aku mudah mendapatkan uang, mendapatkan teman, dan aku juga selalu mudah mewujudkan semua keinginanku.
Rasanya, jalan hidupku menjadi lebih enak. Berbeda dengan saat aku belum ke rumah paranormal itu. Aku harus kerja keras untuk mendapatkan uang. Namun setelah cincin itu diisi, uang seakan datang sendiri. Bahkan beberapa orang tua murid sering memberi uang kepadaku, entah apa tujuannya. Murid-murid lesku bertambah. Aku juga diminta untuk memimpin sebuah lembaga les privat yang gajinya menggiurkan.
Tanpa kusadari, seiring dengan semakin tebalnya kocekku, aku pun berubah. Aku menjadi sombong. Aku juga menjadi menusia pendusta. Aku merasa sangat senang jika ada orang menderita. Kekacauan demi kekacauan aku ciptakan.
Entah kenapa, aku tidak tahu. Tiba-tiba ada dorongan kuat yang membuat diriku seperti itu. Aku senang mengadu domba antarteman. Aku senang memperuncing masalah jika ada perselisihan paham di kalangan rekan kerjaku. Aku juga menjadi pemalas.
Untuk menutupi belang diriku, aku sering berbohong. Kebohongan demi kebohongan aku ciptakan agar orang bersimpati kepadaku. Usahaku berhasil. Aku selalu menang dalam setiap pertempuran.
Ketika keadaan sudah sangat genting di tempat aku bekerja, aku mulai merasakan kegelisahan yang luar biasa. Aku merasa sudah banyak berbuat salah. Oleh karena itu, aku merasa lebih baik untuk hengkang.
Kebetulan, aku diterima di sebuah yayasan pendidikan yang cukup ternama. Padahal, tes masuk ke yayasan itu sangat sulit dan melalui banyak tahap. Namun, aku dengan mudah melaluinya. Aku merasa ada yang mempermudah jalanku. Jadilah, aku sebagai pendidik di salah satu cabang yayasan tersebut.
Disini, aku juga mendapat banyak kemudahan. Uang yang kuterima semakin banyak. Sayang, aku terlena. Kebiasaanku untuk berbohong menutupi kesalahan demi kesalahan karena kemalasanku mengerjakan tugas dan mengajar, semakin kerap kulakukan.
Satu tahun masa percobaan kujalani dengan mulus. Aku bernafas lega. Tapi, aku masih harus menjalani masa percobaan satu tahun lagi. Tahun kedua masa percobaan, aku mulai mengalami banyak masalah. Dari masalah murid, orang tua murid, rekan kerja, samoau pimpinan sekolah. Masalah-masalah itu silih berganti menghinggapiku. Aku menjadi kacau. Hidupku terasa tidak karuan. Aku merasa asing dengan diriku sendiri.
Desember 2002, hidupku semakin dibayangi kegelisahan. Aku diberi surat peringatan oleh Kepala Sekolah karena kinerjaku yang buruk. Aku menjadi gelisah dan kebingungan. Aku merasa kalau orang-orang sudah mulai mencium kebohonganku.
Di tengah kebingunganku, aku bertemu dengan seorang pria bernama Pras. Dia adalah tetanggaku di perumahan BA. Aku memang memiliki rumah kreditan di kompleks ini. Kebetulan, Pras juga memiliki rumah di perumahan yang sama, dan rumahnya bersebelahan dengaku. Kami bertemu ketika akad kredit di bank.
Karena ada masalah dengan pembuatan tower air, Pras menghubungiku lewat HP. Maklum, aku belum menempati rumah yang kukredit dan masih mengontrak rumah.
Urusan tower air ini membuatku kerap berhubungan dengan Mas Pras. Kebetulan kami sama-sama jomblo. Hubungan dengan Mas Pras menjadi akrab gara-gara urusan tower air itu. Bahkan, kepada Mas Pras, akhirnya kuungkapkan kegelisahanku yaitu kemungkinan akan kehilangan pekerjaan.
Mas Pras menunjukkan simpatinya dengan mengajakku ke rumah saudaranya di daerah Rangkas Bitung, Banten. Menurutnya, saudaranya itu orang pintar. Namanya Mas Seno.
Entah kenapa, aku mengikuti nasehat Mas Pras. Kami pergi ke rumah Mas Seno. Di sana, aku mengutarakan masalahku. Anehnya, saat berada di rumah Mas Seno, aku merasakan kegelisahan yang luar biasa. Aku juga merasa sangat benci kepada Mas Seno. Padahal, baru kali ini aku bertemu dengannya.
"Kamu perlu menjalani puasa selama satu minggu. Kamu tidak boleh makan dan minum sampai pukul 18.00. Pada pukul 18.00 kamu hanya boleh makan buah-buahan. Ingat buah-buahan yang tumbuhnya menggantung bukan merambat. Pukul 18.30, kamu tidak boleh makan lagi sampai pukul 18.00 hari berikutnya," kata Mas Seno.
"Kapan dimulainya?" tanyaku.
"Hari ini juga!" tegas Mas Seno.
Sebenarnya, aku merasa enggan menjalankan perintah itu. Namun, Mas Pras memotivasi diriku. Akhirnya, aku menjalani puasa itu. Dua minggu sesudahnya, aku ke rumah Mas Seno lagi bersama Mas Pras.
"Wah, kamu harus mengulangi lagi puasamu. Puasamu tidak diterima. Itu karena kamu masih suka berpikiran kotor. Kamu harus benar-benar membersihkan dirimu," kata Mas Seno.
Aku tidak tahu yang dimaksudkan Mas Seno. Aku merasa jengkel sekali. Hanya atas dorongan Mas Pras, aku kembali menjalani puasa itu. Kali ini, aku benar-benar berusaha untuk membersihkan diri.
Ketika menjalani puasa, aku mengalami banyak kejadian yang luar biasa. Aku sering didatangi wajah-wajah menakutkan padahal aku merasa tidak sedang bermimpi. Setiap kali memejamkan mata, wajah-wajah itu terasa begitu dekat di hadapanku.
Anehnya lagi, di pintu kelas tempat aku mengajar, aku juga melihat ada wajah yang menakutkan di dalam bayangan kaca. Wajah itu seakan-akan mengawasiku. Kemudian, wajah itu selalu hadir kemana pun aku pergi. Aku merasa takut dan ngeri.
Kuungkapkan keanehan ini kepada Mas Seno. Tapi, Mas Seno tidak banyak bicara. Dua hanya minta supaya aku datang setiap hari Minggu ke rumahnya. Selain itu, aku juga diminta untuk berdoa pada malam Senin dan malam Jum'at antara pukul 00.05 sampai 01.05.
Aku harus berdoa sesuai dengan keyakinanku. Ritual harus di lakukan di luar rumah dan langsung di bawah langit. Artinya, kepalaku harus berada di bawah langit, tidak boleh terhalang oleh apapun. Selain itu, aku juga harus menghadap ke timur.
Ditemani Mas Pras, aku menjalani ritual itu. Untuk hal ini, aku tidur dirumah Mas Pras yang kebetulan tinggal bersama paman dan bibinya. Di tempat aku mengontrak tidak memungkinkan bagiku untuk menjalankan ritual ini.
Hari pertama aku menjalani ritual tersebut, aku melihat ada bola api yang seakan-akan turun dari langit menuju ke arahku. Aku merasa ngeri. Tapi, belum sampai ke arahku, cahaya itu sudah meledak di atas rumah bibinya Mas Pras.
Hari kedua, aku merasa didatangi seorang yang bertubuh tinggi besar. Aku merasa sangat ngeri. Aku mencoba menghubungi Mas Pras lewat telepati. Aku mendengar Mas Pras menyuruhku untuk tetap tenang. Aku berusaha untuk tenang meskipun aku sangat takut karena makhluk itu tingginya melebihi rumah bertingkat dan bayangannya menutupi rumah.
Di tengah kekalutanku, tiba-tiba makhluk itu seperti mengempis perlahan-lahan. Rasanya ada yang menekan makhluk. Akhirnya, makhluk itu menjadi sangat kecil dihadapanku lalu lenyap. Aku bernapas lega.
Hari ketiga, ketika memejamkan mata, aku melihat pria berwajah tampan terikat tanpa menggunakan busana. Aku sungguh kasihan melihat pria itu. Dia menatapku dan meratap minta pertolongan dariku.
Aku merasa sangat akrab dengan pria itu. Aku merasa sangat iba terlebih saat dia merintih-rintih minta pertolongan sambil memanggil-manggil namaku. Aku mencoba menghubungi Mas Seno lewat telepati. Mas Seno menyuruhku untuk membiarkannya.
Hari keempat, aku melihat pria itu merintih-rintih. Dia tidak hanya terikat tapi ada nyala api di bawah tubuhnya. Yang mengerikan adalah wajahnya. Wajah pria itu tidak setampan dulu. Wajahnya berubah sangat mengerikan. Dia merintih-rintih memanggilku dan minta pertolongaku. Aku sungguh-sungguh merasa iba padanya.
Hari berikutnya, kulihat tubuh pria itu tinggal tulang belulang dan hangus terbakar. Rambutnya yang dulu lebat dan bagus, kini berubah menjadi merah. Dia tidak lagi memanggil-manggil. Kulihat, dia sungguh-sungguh tidak berdaya. Namun, dari matanya ada pancaran pemberontakan. Ada rasa kasihan yang mendalam dalam hatiku. Tapi, sesuai nasihat Mas Seno, aku harus membiarkannya.
Hari selanjutnya, kulihat pria itu berubah menjadi lempengan daging dan tulang kering. Tubuhnya yang tinggal tulang belulang itu berada di dalam botol. Dia benar-benar tidak berdaya.
Selama menjalani ritual itu, aku rajin mengunjungi Mas Seno. Setiap hari Minggu, aku pergi ke Rangkas. Hingga suatu hari, aku dan Mas Pras diminta untuk masuk ke kamar khususnya. Kami duduk berdampingan. Setelah membaca doa, aku dan Mas Pras diberi gelas berisi air. Kami diminta untuk minum air dalam gelas itu bergantian.
Setelah aku menjalani perintah Mas Seno, dia minta supaya aku datang pada malam Jum'at Kliwon. Aku diminta membawa kembang tujuh rupa. Aku akan dimandikan.
Aku datang pada hari yang ditentukan. Benar, aku dimandikan. air kembang. Saat dimandikan, aku dipukul dengan sapu gerang yang lidinya berasal dari pohon aren. Setelah mandi, aku merasakan bandanku menjadi ringan dan segala permasalahan lenyap. Pada malam itu, aku diajak untuk berbincang-bincang dengan beberapa orang yang hadir di rumah Mas Seno.
"Setelah sekian lama menolong orang, pekerjaan yang kurasa paling sulit adalah menggarap Sisca ini," kata Mas Seno.
"Lho, memangnya ada apa dengaku?" tanyaku, heran dan penasaran .
"Saat pertama melihatmu, aku tahu ada yang tidak beres dengan dirimu. Kakimu berbulu lebat. Selain itu, wajahmu kadang merah, ungu, dan biru. Kalau kamu tertawa terlihat mengerikan," kata Mas Seno.
"Iya, Mas. Kalau Sisca tertawa aku juga merasa kalau bukan dia yang tertawa. Wajah Sisca berubah mengerikan," kata Mas Pras.
Aku ingat Mas Pras selalu mengatakan itu setiap kali aku tertawa terbahak-bahak. Bahkan, Mas Pras juga sering melihat wajahku berubah menjadi hitam dan mengerikan. Aku hanya tertawa karena menganggap hal itu sebagai lelucon.
"Sebenarnya, di alam sana, kamu sudah dikawani oleh genderuwo. Pria yang kamu lihat selama kamu berpuasa dan berdoa secara khusus sudah menganggap kamu sebagai isterinya. Di alam sana pun, para leluhur dari genderuwo itu sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarganya," kata Mas Seno menjelaskan.
"Dari mana genderuwo itu, Mas?" tanyaku keheranan.
"Genderuwo itu ada di dalam cincinmu," kata Mas Seno.
Aku terperangah. Aku menjadi sadar. Aku ingat kalau selama ini merasa mempunyai orang yang selalu menjagaku. Aku juga selalu merasa sudah memiliki pendamping. Dalam bayanganku selalu muncul pria tampan.
Kalau malam, aku merasa ada yang membelai dan memelukku. Dalam benakku ada terlintas sebuah nama yaitu Budi Prasetya. Entah dari mana nama itu, aku tidak tahu.
Menurut Mas Seno, genderuwo itu selalu bergelayut di pungguku. Pantas saja, selama ini, badanku menjadi bungkuk karena pungguku terasa sangat sakit. Aku sudah mencoba untuk pijat dan melakukan terapi tapi sakit pungguku tidak kujung sembuh.
Setelah dimandikan oleh Mas Seno, pungguku menjadi sangat ringan dan aku tidak tampak bungkuk lagi.
"Untuk bisa memisahkan kamu dari genderuwo, kamu harus terlebih dahulu memiliki suami. Hal itu bisa menjadi alasan untuk melepaskan kamu dari pengaruh genderuwo itu. Karena itu, aku bilang pada genderuwo itu dan kerabatnya kalau kamu sudah menjadi pasangan dari Pras. Aku membela kamu karena Pras adalah saudaraku. Kerabat genderuwo itu tidak terima. Mereka menyerangku. Untunglah, kerabatmu di alam sana membantuku terutama nenekmu," kata Mas Seno menjelaskan.
"Nenek?" tanyaku.
"Iya, sebelum kamu datang ke sini, nenekmu sudah disini. Nenekmulah yang minta kepadaku untuk menolongmu," kata Mas Seno.
Mas Seno menyebutkan nama panggilan akrab nenekku. Aku terkejut. Aku belum pernah bercerita tentang nenekku kepadanya. Aku juga belum pernah memberitahu nama panggilan akrab nenekku. Tapi, Mas Seno sudah tahu.
"Cinta genderuwo itu kepadamu sudah cinta mati. Baginya, kamu adalah isterinya, karena itu aku dianggap sebagai pengganggu. Perlu kerja keras untuk memisahkan dia dari dirimu. Aku sudah minta dengan baik-baik.
Tapi, genderuwo itu tetap bersikeras. Karena itu, aku menggunakan kekerasan. Genderuwo itu terpaksa kuikat karena dia melawan. Karena masih melawan, aku membakarnya. Karena masih melawan juga, aku memasukkannya ke dalam botol.
Sekarang, dia berada di sebuah goa yang tak mungkin ditembus oleh siapapun karena penjagaannya berlapis. Dia tidak akan mungkin mengganggu kamu lagi. Aku harus terus bekerja keras karena kerabatnya juga menyerangku. Maka, aku minta bantuan kepada kerabatmu. Wah, benar-benar melelahkan," kata Mas Seno menjelaskan.
Akhirnya, untuk mempermudah jalan memisahkan aku dengan genderuwo itu, aku dinikahkan dengan Mas Pras. Di alam gaib sana, aku sudah resmi menjadi isteri Mas Pras. Memang, hubunganku dengan Mas Pras menjadi sangat dekat karena peristiwa ini.
Aku sangat berterima kasih kepada Mas Seno dan Mas Pras. Aku terlepas dari belenggu yang tidak kusadari. Beberapa tahun terakhir, aku memang merasa hidup enak. Semua yang kuinginkan bisa tercapai.
Namun, aku juga sering merasa kalau hidupku kacau. Aku sering tidak bisa mengendalikan diriku. Berbohong, mengadu domba, memperuncing permasalahan, dan entah kekacauan apa lagi yang telah kubuat.
Menurut Mas Seno, yang kulami itu adalah imbas dari si genderuwo. Dia tidak ingin hidupku mapan. Kalau aku mapan, maka aku bisa menjalankan ibadah dengan tenang. Jika demikian, dia tidak bisa mempengaruhiku lagi. Maka, hidupku selalu dibuat kacau meskipun disisi lain dia juga berusaha membahagiakan diriku. Genderuwo itu membiarkan aku hidup berfoya-foya. Itulah kebahagian bagiku yang diberikan olehnya, meskipun sebenarnya hal ini yang menjerumuskan diriku.
Kontrakku di yayasan pendidikan favorit itu tidak diperpanjang. Aku merasa sangat kecewa. Namun di sisi lain, aku bahagia karena mendapat sumai. Meskipun baru mengenal beberapa bulan, aku akhirnya menikah dengan Mas Pras. Aku menikah dengan Mas Pras pada bulan Juni 2003 silam.
AKU DINOBATKAN SEBAGAI RAJA JIN KAFIR
Penulis : ATIEKA
Kisah mistis ini dituturkan oleh Yusrizal. Dia adalah seorang anak manusia yang telah dinobatkan sebagai Raja Jin Kafir, akibat ilmu-ilmu sesat yang dijalankan dan dikuasainya....
Pada awalnya, pengalaman nyata yang sangat mendebarkan ini takkan pernah kubeberkan untuk diketahui umum. Tapi setelah kubersimpuh dalam luatan dzikir dan bertaubat kembali ke jalan Allah SWT, maka untuk pelajaran bagi umat manusia bahwa, perbuatan sesat yang pernah kulakukan bisa menjadi hal yang baik sebagai pedoman pejalaran bagi manusia. Setidaknya, agar siapa pun jangan sampai mengikuti jejak jahat dan sesat yang pernah kulakukan.
Aku adalah seorang perantauan dari daerah Sumatera Utara. Sewaktu aku sekolah di SMU, pernah cintaku ditolak oleh seorang gadis teman sekolahku. Betapa sakit hatiku. Perasaan inilah yang menimbulkan dendam membara di hatiku untuk dapat menaklukkan wanita yang pernah menolak cintaku itu.
Selepas sekolah di SMU itu, akupun merantau ke pulau Jawa untuk mencari guru yang dapat mengajarkan ilmu-ilmu untukku. Ada tiga orang guru yang kutemukan, dan aku tak kesulitan mengamalkan ajaran-ajarannya yang ternyata sesat itu.
Aku tak perlu menyebutkan siapa saja nama guruku tersebut. Yang jelas, mereka tidak kentara sebagai guru yang mengajarkan ilmu-ilmu sesat, sebab sikap dan perilaku mereka yang sangat baik dan ramah.
Menurut salah seorang guruku, aku diangkat sebagai murid kesayangan karena aku dianggap sebagai anak bungsunya. Mungkin karena usiaku yang masih muda tapi berani mencari ilmu-ilmu sangat langka.
Ringkas cerita, dari ketiga guru itu aku mendapatkan berabagai macam ilmu langka yang sesat. Contohnya, ilmu menghilang, ilmu untuk menghidupkan orang mati, ilmu untuk kekebalan dan ilmu agar tidak dapat mati (Batara Karang). Semuanya kupelajari disamping segudang ilmu-ilmu lainnya.
Sebagai sarana ritual ilmu-ilmu itu aku harus melakukan tindakan yang sangat keji. Untuk ilmu menghilang, misalnya, aku harus menculik seorang bayi yang harus kurebus. Kemudian, uap rebusan bayi ini kuhirup setiap malam.
Tak hanya itu, akupun berhasil mengambil tali kain kafan dari gadis (perawan) yang meninggal pada hari Jum'at Kliwon.
Untuk mendapatkan ilmu karang, setiap malam aku harus minum darah ayam hitam (ayam cemani). Sedangkan khusus untuk malam Jum'at aku harus minum darah dua ekor ayam cemani, juga setiap malam aku harus minum dan mandi air laut.
Untuk memtajam kekuatan ilmu, akupun diharuskan memperkosa seorang gadis yang masih suci sebagai salah satu syarat dari lelakon yang kujalani.
Setelah menyelesaikan semua ritual, pernah aku coba untuk membuktikan keampuhan dari ilmu-ilmu tersebut. Ceritanya, ketika ada serombongan pembawa jenazah yang mengusung keranda untuk dikuburkan, maka akupun mengikuti mereka dan diam-diam aku sembunyi. Kunjentikkan jariku sambil membaca mantera untuk menghidupkan orang mati. Astaga! Mayat dalam karanda tersebut terlihat bergerak-gerak. Lalu aku tutup kembali mantera tersebut karena orang-orang yang membawa keranda tersebut jelas ketakutan.
Pernah juga suatu ketika, pohon kelapa yang kutunjuk dengan jariku, tiba-tiba roboh. Ya, itulah bukti dari betapa dahsyatnya kekuatan ilmu sesat yang berhasil kujalankan.
Setelah merasa cukup dengan ilmu sesat itu, maka akupun dinobatkan sebagai Raja Jin Kafir. Penobatan ini memang tidaklah berlebihan, sebab pengikut yang mengawalku ada sebelas jin kafir. Akupun disumpah tidak akan mati. Artinya, Ilmu Batara Karang telah mendarah daging dalam diriku. Kalaupun kelak aku mati, maka jasadku akan hidup seperti jenglot.
Tetapi bukan berarti aku puas dengan ilmu-ilmu yang kumiliki. Pokoknya aku jadi selalu penasaran, selalu tidak pernah puas. Akupun berpraktek sebagai dukun santet yang di daerah pusat perkulakan terbesar di Jakarta.
Kebanyakan klienku adalah orang-orang keturunan Cina. Aku tidak terima order untuk menyantet kaum muslim, wanita dan anak-anak. Khususnya untuk para pedagang yang bersaing dalam usaha, maka kukerjakan order tersebut seakan-akan orang yang dituju tersebut menderita sakit medis. Karena kebanyakan mereka sakit dibawa ke rumah sakit, maka mudah sekali bagiku untuk masuk ke RS ruang ICU tanpa diketahui orang. Di sana, kujentikkan jariku, dan matilah orang tersebut. Dokter menganalisa orang tersebut mati karena jantung atau pendarahan otak.
Sudah banyak sekali aku membunuh orang dengan begitu mudahnya, dengan imbalan yang sangat tinggi. Tetapi herannya, uang hasil menyantet orang tersebut selalu tidak terasa cukup, selalu habis, ya selalu habis bagiku.
Dalam pada itu, akupun menikah dengan gadis sekampungku. Lama kelamaan mertuaku mengetahui apa pekerjaan dan kebiasaan-kebiasaan anehku. Ini berawal karena mertuaku tahu kalau setiap malam aku harus minum darah ayam cemani dan air laut.
Ketika tahu bahwa salah satu sifatku selalu penasaran dan tidak pernah puas, maka suatu hari mertuaku menantangku. "Kamu boleh saja berbangga hati, karena tak ada musuhmu, semua manusia kalah padamu, tapi ada satu manusia yang tidak bisa kamu kalahkan," kata ayah mertuaku.
"Siapa itu, Bapak? Dimana orang itu? Dia pasti belum tahu siapa aku!" Ujarku, sombong.
"Dia adalah Bapak KH. M. Ibnu Mutaqqin, pimpinan pengajian kami!" Demikian jawaban tegas mertuaku.
Maka akupun berangkat dengan mertua menuju ke tempat pengajian mertuaku di daerah Jakarta Selatan. Ketika aku mau masuk ke dalam rumah tersebut, jin pendampingku tak ada yang mau ikut masuk. Setelah kupaksa masuk, akhirnya mereka minta agar dipagar gaib jarak antara tempatku duduk bapak Kyai tersebut.
Maka aku pun membaca mantera untuk membunuh Pak Kyai itu. Tetapi meleset. Pak Kyai tersebut masih duduk tegar, justru yang mati adalah jin anak buahku.
Setiap kali aku menunjuk ke arah Pak Kyai sambil menjentikkan jariku, maka saat itu pula terdengar jeritan kesakitan anak buahku yang berjumlah sebelas itu. Rupanya, mantera pembunuh yang kurapalkan malah membunuh jin anak buahku.
Akhirnya, tinggallah aku seorang diri menghadapi Pak Kyai. Sesaat, kembali kubaca mantera pamungkas sambil menunjuk ke arah Pak Kyai tersebut. Tetapi apa yang terjadi...?
Saat itu sekujur tubuhku terasa panas dingin berkeringat dan bergetar. Aku benar-benar tidak berdaya. Tapi aku bersykur, rupanya itulah mungkin hidayah dan kebesaran Allah terbuka dalam benak jiwaku. Akhirnya akupun menyerah kalah. Akupun sadar dan bertaubat ke hadirat Allah SWT. Oleh Bapak Kyai tersebut, aku pun dituntut untuk shalat taubat, mohon ampunan atas dosa-dosaku. Dan aku pun memohon agar dibersihkan jiwa ragaku dari ilmu-ilmu sesat yang telah mendarah daging itu.
Pak Kyai memintaku untuk memegang dan mencium Al Qur'an. Tetapi anehnya, tanganku tak mau dan tak bisa menyentuh kitab suci itu. Selalu meleset dan tidak mau menempel. Akhirnya aku jadi ingat, pernah dulu sewaktu menuntut ilmu-ilmu sesat itu, aku disuruh (maaf) membuang kotoran (hajat) di atas kitab suci Al Qur'an tersebut oleh salah seorang guruku.
Sungguh, betapa nista dan terkutuk perbuatan ini. Aku sadar dan tidak kulakukan perintah sesat tersebut. Hingga kini guruku yang kusebut Kyai Murtad tersebut masih mencari-cariku.
Berkat bimbingan KH. M. Ibnu Mutaqqin, semua kekuatan hitam itu berangsur sirna. Aku kini sudah insaf. Dan aku bertekad, cukup aku sendiri yang menjalani kenyataan hidup seperti ini, jadi manusia kafir yang sesat dengan ilmu-ilmu yang sulit kulepas.
Meski aku sudah disumpah dan dinobatkan sebagai Raji Jin Kafir, namun berkat bantuan dan bimbingan KH. M. Ibnu Mutaqqin, sedikit-sedikit aku sudah bisa berdzikir untuk membuang ilmu-ilmu tersebut.
Betapa bodoh dan berdosanya aku, mengingat perbuatan-perbuatanku, seakan-akan tiada maaf dan ampun dari Allah. Aku menyesal sekali dengan tindakan-tindakanku dimasa lalu, yang penuh berlumur dosa. Kini dalam dzikir kubersimpuh di kaki-Mu, Ya ALLAH.
Kisah mistis ini dituturkan oleh Yusrizal. Dia adalah seorang anak manusia yang telah dinobatkan sebagai Raja Jin Kafir, akibat ilmu-ilmu sesat yang dijalankan dan dikuasainya....
Pada awalnya, pengalaman nyata yang sangat mendebarkan ini takkan pernah kubeberkan untuk diketahui umum. Tapi setelah kubersimpuh dalam luatan dzikir dan bertaubat kembali ke jalan Allah SWT, maka untuk pelajaran bagi umat manusia bahwa, perbuatan sesat yang pernah kulakukan bisa menjadi hal yang baik sebagai pedoman pejalaran bagi manusia. Setidaknya, agar siapa pun jangan sampai mengikuti jejak jahat dan sesat yang pernah kulakukan.
Aku adalah seorang perantauan dari daerah Sumatera Utara. Sewaktu aku sekolah di SMU, pernah cintaku ditolak oleh seorang gadis teman sekolahku. Betapa sakit hatiku. Perasaan inilah yang menimbulkan dendam membara di hatiku untuk dapat menaklukkan wanita yang pernah menolak cintaku itu.
Selepas sekolah di SMU itu, akupun merantau ke pulau Jawa untuk mencari guru yang dapat mengajarkan ilmu-ilmu untukku. Ada tiga orang guru yang kutemukan, dan aku tak kesulitan mengamalkan ajaran-ajarannya yang ternyata sesat itu.
Aku tak perlu menyebutkan siapa saja nama guruku tersebut. Yang jelas, mereka tidak kentara sebagai guru yang mengajarkan ilmu-ilmu sesat, sebab sikap dan perilaku mereka yang sangat baik dan ramah.
Menurut salah seorang guruku, aku diangkat sebagai murid kesayangan karena aku dianggap sebagai anak bungsunya. Mungkin karena usiaku yang masih muda tapi berani mencari ilmu-ilmu sangat langka.
Ringkas cerita, dari ketiga guru itu aku mendapatkan berabagai macam ilmu langka yang sesat. Contohnya, ilmu menghilang, ilmu untuk menghidupkan orang mati, ilmu untuk kekebalan dan ilmu agar tidak dapat mati (Batara Karang). Semuanya kupelajari disamping segudang ilmu-ilmu lainnya.
Sebagai sarana ritual ilmu-ilmu itu aku harus melakukan tindakan yang sangat keji. Untuk ilmu menghilang, misalnya, aku harus menculik seorang bayi yang harus kurebus. Kemudian, uap rebusan bayi ini kuhirup setiap malam.
Tak hanya itu, akupun berhasil mengambil tali kain kafan dari gadis (perawan) yang meninggal pada hari Jum'at Kliwon.
Untuk mendapatkan ilmu karang, setiap malam aku harus minum darah ayam hitam (ayam cemani). Sedangkan khusus untuk malam Jum'at aku harus minum darah dua ekor ayam cemani, juga setiap malam aku harus minum dan mandi air laut.
Untuk memtajam kekuatan ilmu, akupun diharuskan memperkosa seorang gadis yang masih suci sebagai salah satu syarat dari lelakon yang kujalani.
Setelah menyelesaikan semua ritual, pernah aku coba untuk membuktikan keampuhan dari ilmu-ilmu tersebut. Ceritanya, ketika ada serombongan pembawa jenazah yang mengusung keranda untuk dikuburkan, maka akupun mengikuti mereka dan diam-diam aku sembunyi. Kunjentikkan jariku sambil membaca mantera untuk menghidupkan orang mati. Astaga! Mayat dalam karanda tersebut terlihat bergerak-gerak. Lalu aku tutup kembali mantera tersebut karena orang-orang yang membawa keranda tersebut jelas ketakutan.
Pernah juga suatu ketika, pohon kelapa yang kutunjuk dengan jariku, tiba-tiba roboh. Ya, itulah bukti dari betapa dahsyatnya kekuatan ilmu sesat yang berhasil kujalankan.
Setelah merasa cukup dengan ilmu sesat itu, maka akupun dinobatkan sebagai Raja Jin Kafir. Penobatan ini memang tidaklah berlebihan, sebab pengikut yang mengawalku ada sebelas jin kafir. Akupun disumpah tidak akan mati. Artinya, Ilmu Batara Karang telah mendarah daging dalam diriku. Kalaupun kelak aku mati, maka jasadku akan hidup seperti jenglot.
Tetapi bukan berarti aku puas dengan ilmu-ilmu yang kumiliki. Pokoknya aku jadi selalu penasaran, selalu tidak pernah puas. Akupun berpraktek sebagai dukun santet yang di daerah pusat perkulakan terbesar di Jakarta.
Kebanyakan klienku adalah orang-orang keturunan Cina. Aku tidak terima order untuk menyantet kaum muslim, wanita dan anak-anak. Khususnya untuk para pedagang yang bersaing dalam usaha, maka kukerjakan order tersebut seakan-akan orang yang dituju tersebut menderita sakit medis. Karena kebanyakan mereka sakit dibawa ke rumah sakit, maka mudah sekali bagiku untuk masuk ke RS ruang ICU tanpa diketahui orang. Di sana, kujentikkan jariku, dan matilah orang tersebut. Dokter menganalisa orang tersebut mati karena jantung atau pendarahan otak.
Sudah banyak sekali aku membunuh orang dengan begitu mudahnya, dengan imbalan yang sangat tinggi. Tetapi herannya, uang hasil menyantet orang tersebut selalu tidak terasa cukup, selalu habis, ya selalu habis bagiku.
Dalam pada itu, akupun menikah dengan gadis sekampungku. Lama kelamaan mertuaku mengetahui apa pekerjaan dan kebiasaan-kebiasaan anehku. Ini berawal karena mertuaku tahu kalau setiap malam aku harus minum darah ayam cemani dan air laut.
Ketika tahu bahwa salah satu sifatku selalu penasaran dan tidak pernah puas, maka suatu hari mertuaku menantangku. "Kamu boleh saja berbangga hati, karena tak ada musuhmu, semua manusia kalah padamu, tapi ada satu manusia yang tidak bisa kamu kalahkan," kata ayah mertuaku.
"Siapa itu, Bapak? Dimana orang itu? Dia pasti belum tahu siapa aku!" Ujarku, sombong.
"Dia adalah Bapak KH. M. Ibnu Mutaqqin, pimpinan pengajian kami!" Demikian jawaban tegas mertuaku.
Maka akupun berangkat dengan mertua menuju ke tempat pengajian mertuaku di daerah Jakarta Selatan. Ketika aku mau masuk ke dalam rumah tersebut, jin pendampingku tak ada yang mau ikut masuk. Setelah kupaksa masuk, akhirnya mereka minta agar dipagar gaib jarak antara tempatku duduk bapak Kyai tersebut.
Maka aku pun membaca mantera untuk membunuh Pak Kyai itu. Tetapi meleset. Pak Kyai tersebut masih duduk tegar, justru yang mati adalah jin anak buahku.
Setiap kali aku menunjuk ke arah Pak Kyai sambil menjentikkan jariku, maka saat itu pula terdengar jeritan kesakitan anak buahku yang berjumlah sebelas itu. Rupanya, mantera pembunuh yang kurapalkan malah membunuh jin anak buahku.
Akhirnya, tinggallah aku seorang diri menghadapi Pak Kyai. Sesaat, kembali kubaca mantera pamungkas sambil menunjuk ke arah Pak Kyai tersebut. Tetapi apa yang terjadi...?
Saat itu sekujur tubuhku terasa panas dingin berkeringat dan bergetar. Aku benar-benar tidak berdaya. Tapi aku bersykur, rupanya itulah mungkin hidayah dan kebesaran Allah terbuka dalam benak jiwaku. Akhirnya akupun menyerah kalah. Akupun sadar dan bertaubat ke hadirat Allah SWT. Oleh Bapak Kyai tersebut, aku pun dituntut untuk shalat taubat, mohon ampunan atas dosa-dosaku. Dan aku pun memohon agar dibersihkan jiwa ragaku dari ilmu-ilmu sesat yang telah mendarah daging itu.
Pak Kyai memintaku untuk memegang dan mencium Al Qur'an. Tetapi anehnya, tanganku tak mau dan tak bisa menyentuh kitab suci itu. Selalu meleset dan tidak mau menempel. Akhirnya aku jadi ingat, pernah dulu sewaktu menuntut ilmu-ilmu sesat itu, aku disuruh (maaf) membuang kotoran (hajat) di atas kitab suci Al Qur'an tersebut oleh salah seorang guruku.
Sungguh, betapa nista dan terkutuk perbuatan ini. Aku sadar dan tidak kulakukan perintah sesat tersebut. Hingga kini guruku yang kusebut Kyai Murtad tersebut masih mencari-cariku.
Berkat bimbingan KH. M. Ibnu Mutaqqin, semua kekuatan hitam itu berangsur sirna. Aku kini sudah insaf. Dan aku bertekad, cukup aku sendiri yang menjalani kenyataan hidup seperti ini, jadi manusia kafir yang sesat dengan ilmu-ilmu yang sulit kulepas.
Meski aku sudah disumpah dan dinobatkan sebagai Raji Jin Kafir, namun berkat bantuan dan bimbingan KH. M. Ibnu Mutaqqin, sedikit-sedikit aku sudah bisa berdzikir untuk membuang ilmu-ilmu tersebut.
Betapa bodoh dan berdosanya aku, mengingat perbuatan-perbuatanku, seakan-akan tiada maaf dan ampun dari Allah. Aku menyesal sekali dengan tindakan-tindakanku dimasa lalu, yang penuh berlumur dosa. Kini dalam dzikir kubersimpuh di kaki-Mu, Ya ALLAH.
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)