Penulis: IVAN SURYANA
Kisah mistis ini mirip sebuah legenda yang diyakini kebenarannya. Sulastri, gadis desa itu ternyata bersuamikan pemuda dari bangsa Siluman Buaya....
Seperti biasanya, setiap pagi dan sore Sumi mencuci pakaian dan peralatan dapur di sungai dekat rumahnya. Kebiasaan ini memang telah menjadi kebiasaan penduduk desa yang terletak di pinggiran kali Cimenceuri.
Sore itu, kebetulan air sungai sedang banjir. Ketika sedang mencuci, pandangan mata Sumi tertuju pada sebuah benda hitam yang agak panjang, yang tampak mengambang di dekat pangkalan tempat penduduk biasa mencuci. Tanpa menaruh curiga, Sumi mendekati benda itu. Ketika dia menyentuhnya, mendadak benda itu bergerak. Tapi bukannya menjauh, benda hitam itu malah terus mendekatinya.
Ternyata, benda itu adalah seekor buaya, tapi masih relatif kecil. Mungkin juga masih bayi. Aneh, Sumi bukannya merasa takut, tapi justeru merasa kasihan pada hewan itu. Tanpa berpikir macam-macam, akhirnya wanita desa berwajah ayu ini membawa bayi buaya itu untuk dipelihara di rumahnya.
Sumi menaruh anak buaya temuannya di dalam paso (baskom terbuat dari tanah) besar. Paso itu dia letakkan di bahwa kolong tempat tidurnya yang sederhana.
"Kamu tinggal saja denganku disini. Aku pasti akan merawatmu," bisik Sumi sambil mengusap-usap anak buaya itu, tanpa rasa jijik atau takut ealau sedikitpun.
Entah kekuatan apa yang mendorong Sumi berbuat begitu baik kepada buaya kecil itu. Bahkan, Sumi dengan telaten memberikan makan pada buaya itu di setiap harinya.
Anehnya, sejak memelihara anak buaya itu, kehidupan Sumi yang telah lama menjanda malah berubah serba kecukupan. Padahal, dulu dia hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Memang, ada yang aneh dengan Sumi. Kadang-kadang, dengan begitu saja dia mendapatkan uang dalam jumlah relatif besar untuk dirinya yang disembunyikan di bawah bantal tempat tidurnya.
"Aneh, dari mana uang ini?" pikir Sumi. Namun, dia tak pernah mampu menjawab pertanyaan ini.
Sementara itu, hari-hari berlalu, anak buaya yang dipiaranya itu semakin tumbuh besar. Sumi selalu memberinya makan dengan anak ayam yang dibelinya. Setelah anak buaya itu semakin besar, maka apa yang terjadi? Paso yang digunakan untuk memelihara buaya itu kini menjadi sempit, bahkan tak mungkin bisa menampung tubuh si buaya yang tumbuh semakin besar.
Sumi kebingungan dengan kenyataan ini. Akan dikemanakan buaya yang semakin besar itu? Jika dibiarkan di rumahnya, dia takut mengganggu ketenangan hidupnya, bahkan mungkin juga para tetangganya. Namun, jika dibawa ke sungai, dia takut akan diketahui penduduk kampung. Mereka pasti beramai-ramai akan membunuh buaya itu.
Di tengah kebingungannnya, suatu malam, ketika Sumi kebingungan mencari jalan keluar untuk menyelamatkan buayanya, tiba-tiba terdengar bunyi kecipak air disertai suara berisik yang mencurigakan. Sumi yang ketika itu sedang tidur akhirnya terbangun. Dia merasa curiga ada sesuatu yang terjadi dengan buaya kesayangannya. Karena penasaran, Sumi memeriksa keadaan hewan peliharaannya yang sudah dia pindahkan ke dapur, persisnya ke sebuah kolam yang dia buat sendiri.
Begitu mencapai dapur, alangkah terkejutnya Sumi. Dia hampir saja tak percaya melihatnya. Buaya peliharaannya tampak semakin tumbuh besar dari siang sebelumnya, bahkan kolam yang dia buat tak lagi bisa menampungnya. Dan buaya itu tengah bergerak kesana-kemari, sambil membentur-benturkan badannya ke dinding rumah. Untung dinding rumah bagian bawah peninggalan suaminya itu terbuat dari susunan batu bata, meski belum lagi sempat diplester. Kalau tidak, bisa saja rumah itu akan runtuh.
"Apa yang terjadi dengan buaya itu?" tanya Sumi dalam hati. Dia mulai dilanda kecemasan.
Sementara, si buaya terus membentur-benturkan tubuhnya ke dinding. Aneh, bersamaan dengan itu sepertinya ada lempengan-lempengan menyerupai sisik yang tebal di tubuh si buaya yang jatuh berhamburan.
Sumi menyaksikannya dengan cemas. Dia takut buaya itu benar-benar kalap dan menyerangnya. Tentu akan sangat mengerikan. Sumi tak sanggup membayangkannya.
"Sahabatku, mengapa kau marah begini. Kesalahan apa yang telah kuperbuat. Maafkanlah aku kalau aku sudah berbuat salah terhadapmu. Dan aku mohon, hentikanlah kemarahanmu," kata Sumi dengan hampir menangis. Dia sungguh-sungguh takut buaya itu akan merobohkan rumahnya, atau bahkan mungkin akan memangsa tubuhnya.
Namun, apa yang dipikirkan Sumi sama sekali tidak terjadi. Peristiwa selanjutnya malah membuat perempuan yang hampir menginjak usia kepala tiga itu ternganga heran. Dengan dada berdegup kencang dia menyaksikan sesuatu yang sulit dimengerti oleh akal sehatnya.
Ya, lihatlah apa yang terjadi! Beberapa lama setelah membentur-benturkan tubuhnya dan serpihan-serpihan mirip sisik itu berjatuhan, maka perlahan namun pasti hewan melata itu berubah wujud menjadi sosok pemuda belasan tahun yang sangat tampan, dengan sorot matanya yang tajam.
Melihat peristiwa ajaib ini Sumi tersurut beberapa langkah. Dia nyaris tak percaya. Namun, ketika dia menyadari bahwa itu sesuatu yang nyata, dia bermaksud segera pergi meninggalkan tempat itu guna meminta pertolongan.
"Jangan takut padaku, Ibu Sumi!" cegah pemuda jelmaan buaya itu, ketika melihat Sumi akan pergi. Wanita itu segera menahan langkahnya.
"Percayalah padaku. Aku takkan berbuat jahat padamu, malah aku akan menolongmu. Tapi, kau harus berjanji untuk tidak menceritakan kejadian ini pada siapapun, anggap aku ini sebagai anakmu”.
"Baiklah!" jawab Sumi. "Tapi siapa namamu, Nak?"
"Namaku Joko Andelo!" jawab si pemuda.
Ringkas cerita, setelah peristiwa itu, kehidupan Sumi bertambah senang. Hatinya juga selalu bahagia dan terhibur, sebab Joko Andelo terjun ke masyarakat dan disukai banyak orang. Tak hanya wajahnya yang tampan dan gagah. Dia juga ramah kepada siapa saja. Banyak juga gadis desa yang tergila-gila padanya. Salah satunya yang menaruh hati padanya adalah Sulastri, kembang desa tempat Sumi lahir, besar, dan kini tinggal. Ternyata, Joko Andelo juga sangat senang pada Sulastri. Keduanya pun saling jatuh cinta.
Pada hari yang ditentukan, Joko Andelo akhirnya menikah dengan Sulastri dan mereka hidup bersama.
Suatu hari Joko Andelo berkata pada Sulastri, "Sebenarnya Bu Sumi bukanlah ibu kandungku."
"Bukan ibumu?" tanya Sulastri, keheranan. "Lalu siapa ibu kandungmu yang sebenarnya?" Sulastri menatap penuh keingintahuan.
"Ibuku ada di desa seberang. Maukah kau menemui orang tuaku?"
Dengan hati penasaran akhirnya Sulastri menerima ajakan suaminya. Mereka lalu pergi. Mula-mula berjalan menuju seberang sungai Cimanceuri. Dalam perjalanan itu Joko terus menceritakan bahwa di desa tempat tinggalnya sangat menyenangkan, penduduknya ramah, makmur dan sentosa.
Sulastri membayangkan keadaan dimana dia berada di sebuah desa yang amat ramai. Ketika dia sedang bermain di alam hayalnya, tiba-tiba suaminya berada di sebuah muka perkampungan yang sangat asing bagi Sulastri.
"Inilah desa tempat orang tuaku tinggal," ucap Joko pada Sulastri.
Sesaat Sulastri terkejut. Dia hampir tak percaya melihat desa yang tampak begitu makmur. Semua rumah penduduknya bagus, bercat putih bersih.
"Lalu, mana rumah orang tuamu?" tanya Sulastri.
"Sebentar lagi kita tiba!" jawab Joko.
Mereka terus berjalan. Tatapan penduduk semua begitu ramah menyambut kedatangan mereka. Di sana-sini saling menyapa, anak-anak kecil bermain kejar-kejaran. Semuanya kelihatan bahagia.
Joko menuntun isterinya menuju ke sebuah rumah. Begitu masuk, mereka disambut oleh suami isteri yang telah berusia separuh baya. Merekalah ibu dan ayah Joko Andelo.
Sulastri tak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Yang pasti, selama tinggal di rumah mertuanya itu dia merasa betah, jauh lebih menyenangkan daripada tempat tinggalnya. Tetapi dia teringat pada orang tuanya, sehingga Sulastri bermaksud pulang menjenguk mereka. Ketika hendak pulang dan mengajak serta suaminya, Joko tidak mau, karena harus menjaga kedua orang tuanya.
Akhirnya Sulastri memutuskan untuk pulang sendiri. Dia pun berjalan sampai di muka perkampungan, tetapi tiba-tiba dirinya langsung muncul dari hulu sungai Cimanceuri dengan pakaian yang basah kuyup. Betapa terkejutnya dia pada kenyataan ini. Namun, setelah kejadian itu barulah Sulastri tersadar bahwa Joko Andelo, suaminya bukan manusia biasa, melainkan sebangsa siluman.
Setelah pulang, Sulastri bertanya pada Ibu Sumi tentang siapa Joko sebenarnya. Sumi menceritakan asal-usul pertemuannya dengan Joko sampai dia memelihara dan merawat Joko.
Beberapa bulan kemudian, Joko menjemput Sulastri ke rumahnya. Tetapi Sulastri tidak mau ikut, karena dia merasa bahwa alamnya berbeda. Lalu Joko Andelo berpesan pada isterinya, jika Sulastri ingin bertemu dengan dirinya, maka pukul saja beduk, dengan begitu diapun akan datang menemuinya.
Tetapi karena penduduk tempat tinggal Sulastri beragama Islam dan setiap waktu sholat terlebih dahulu memukul beduk, jadi Joko mengunjungi Sulastri sebanyak 5 kali dalam sehari. Maka di sungai Cimanceuri kerap bermunculan buaya. Konon, buaya-buaya itu adalah pengantar Joko ketika pergi dan pulang kembali. Akibatnya, wargapun menjadi resah.
Hingga pada suatu hari, Sulastri melahirkan seorang bayi dan bayi itu diserahkan pada Joko dengan syarat Joko tidak muncul lagi untuk menemuinya.
Begitulah, kini tak ada lagi buaya yang muncul di Kali Cimanceuri sejak ratusan tahun silam peristiwa ini terjadi.
BULUH PERINDU ASMARA
PAKET BULU PERINDU YANG MELEGENDA
Solusi asmara anda yang kandas,pacar di ambil orang,cinta bertepuk sebelah tangan, dan semua yang berhubungan dengan asmara ..
Bulu Perindu Asli Kalimantan
khasiatnya antara lain..
pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh, cocok untuk pria dan wanita dan mudah di bawa-bawa,cukup di letakkan di saku dompet,dan kopiah atau ikat pinggang,
dan sepasang bulu perindu akan di kirim lengkap bersama tata cara penggunaannya dan cara penyimpanannya.
mahar : Rp.300.000
Bulu Perindu dalam kemasan plastik
petunjuk dan tata cara pemakaian akan di kirimkan lengkap bersama paket
Bulu perindu.
Cara penggunaan bulu perindu tanpa minyak :
1.untuk memikat cewek cukup baca mantranya pada tengah malam sambil membayangkan wanita/pria yang di tuju.
2.Bulu Perindu direndam sebentar saja dalam segelas air, lalu air nya di minum kan ke istri/suami, pacar atau orang lain yang sengaja akan anda lunakkan atau dibuat simpati hatinya.
insyallah akan nurut, marah jadi senang, benci jadi rindu.
3. Bulu Perindu di rendam sebentar dalam bak/ember sekitar 1 menit, lalu airnya disiram atau dipercik kan disekitar tempat usaha (spanduk, toples, meja, kursi, pintu, kaca , jendela, pagar toko dll agar laris.
bisa juga diletak kan dalam Hand phone (dibelakang batere) agar bisnis lewat HP lancar, dan siapa saja yang mendengar suara atau membaca sms dari HP anda secara bawah sadar akan terpengaruh kagum dan terpesona.
petunjuk lengkapnya akan kami berikan setelah anda memesan produk kami
Tentang bulu perindu :
Bulu Perindu berbentuk seperti bulu yang agak keras/kaku berasal dari sarang burung elang yang berada di atas pohon - pohon yang paling tinggi di pedalaman pulau kalimantan.
Di tempat aslinya Bulu Perindu ini berfungsi untuk menjaga anak - anak burung elang supaya betah/kerasan tinggal di sarangnya sehingga terhindar dari bahaya jatuh dari atas pohon tinggi tempat sarangnya.
Ciri - ciri keaslian :
Jika di tetesi / dibasahi air dan di letakkan di atas lantai atau sehelai kertas, maka secara menakjub kan Bulu Perindu tersebut akan menggeliat - geliat laksana seekor cacing.
Sepasang Bulu Perindu jika di dekatkan / dipertemukan ujung - ujungnya, secara ajaib akan berangsur - angsur saling menjauh.
Sekedar informasi kami telah megirimkan bulu perindu sampai ke luar negeri,
dan semua produk bebas ongkos kirim kecuali ke luar negeri kena tambahan biaya 150.000,-
UNTUK PEMESANAN DAN KONSULTASI kirim ke email : serius.blogger@gmail.com (khusus yang serius) atau melalui ponsel 082362939492,untuk transfer mahar ke rek BNI cabang MEDAN atas nama WALUYO No rek 0224430064
kami telah mengirimkan ke barbagai pelosok tanah air dan ke negeri tetangga seperti malaysia dan brunei.
BULU PERINDU
Alkisah seekor induk burung Rajawali/Elang, membuat sarang diatas pohon yg sangat tinggi sekali di Gunung Bondang. Ianya sedang mau beranak, dan tak ingin jika sudah melahirkan kelak, anak2nya pada jatuh dan pergi sebelum masanya dia menjadi besar dan kuat. untuk itulah sang induk Rajawali/Elang perlu satu bentuk "pegangan".
Maka mulailah ia mencari-cari, terbang berputar kesana kemari menyusuri sungai, dengan pandangan matanya yg fokus layaknya memiliki Infra Red. Tampaklah akhirnya dari ketinggian, sebentuk kecil tetumbuhan layaknya cacing. Nampak jelas tetumbuhan itu ada diatas air sungai, dan anehnya malah seolah hidup berenang melawan arus sungai yg deras.
Segera sang induk menukik tajam kebawah dan menangkapnya dengan paruhnya. Kemudian dibawa terbang dan diletakkan di sarangnya.
Tidak lama kemudian, melahirkanlah ia dengan bahagia, ada beberapa anak rupanya yg telah ia lahirkan. ketika anak2nya lapar dan perlu makanan, pergilah sang induk burung dengan
tenangnya. karena ia sangat meyakini, anak2nya akan terjaga dari pengaruh gaib si Bulu Perindu yg ada pada sarangnya tersebut.
Yg dengan bulu perindu itu, anak2nya pada betah dan tidak nakal untuk meloncat kesana kemari, sangat betah betah banget tinggal di sarangnya.
tenangnya. karena ia sangat meyakini, anak2nya akan terjaga dari pengaruh gaib si Bulu Perindu yg ada pada sarangnya tersebut.
Yg dengan bulu perindu itu, anak2nya pada betah dan tidak nakal untuk meloncat kesana kemari, sangat betah betah banget tinggal di sarangnya.
Sampai saatnya si anak burung dewasa. Mulailah latihan2 mengarungi angkasa. yang karena semangat terbangnya, si anak burung jadi lupa untuk segera pulang.
Namun Sang induk burung sudah begitu yakin. Cukup dengan memegang Bulu Perindu pd sarang tersebut, kemudian ia membaca mantera berupa siulan dan jeritan tajam, maka dipastikan semua anak2nya yg pergi terbang jauh, semuanya terpanggil dan tidak ada yg bisa melawan, semuanya datang kembali..
dengan mengunakan jasa JNE, TIKI DAN POS INDONSIA.
paket akan tiba dalam 3 hari kerja dan paling lambat 7 hari kerja.
Jangan tunggu sampai pacar anda lari diambil orang !!!
Harap juga di pahami tidak semua yang memakai bulu perindu ini berhasil, kita hanya berusaha semampu yang kita perbuat dan semuanya tentulah kembali kepada Allah SWT yang mengabulkan semua keinginan dan tugas kita adalah berikhtiar sesuai dengan kemampuan kita.
Wednesday, August 25, 2010
BERCINTA DENGAN ROH NENEK PEWARIS ILMU SUSUK WIJAYAKUSUMA
Penulis : EKO HARTONO
Namanya Susuk Aji Wijayakusuma. Konon, ilmu ini bisa menjadikan pemakainya menjadi awet muda dan mampu memikat laki-laki. Seperti halnya kembang Wijayakusuma yang senantiasa mekar di kala bulan purnama tiba....
Setiap kali tiba bulan purnama, hati Pardi serasa disiram air bunga. Aroma keharumannya begitu memabukan jiwa, membuat Pardi serasa menemukan gairah muda yang menggelora. Pada saat seperti itulah dia bisa bertemu dan bercinta dengan gadis muda nan cantik bernama Yani.
Tapi anehnya, gadis yang dikencaninya itu tak pernah dikenal sebelumnya dan tidak diketahui asal-usulnya. Baru beberapa waktu kemudian dia mengetahui kalau ternyata wanita yang bercinta dengannya itu tak lain adalah penjelmaan roh gaib. Lebih gilanya lagi, wanita gaib itu tak lain adalah arwah neneknya sendiri.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ikuti kisah mistis berikut ini:
Waktu itu Pardi baru pulang dari kondangan di tempat saudaranya di desa tetangga. Dengan berjalan kaki, Pardi sendirian menyusuri jalan desa tak beraspal yang sepi dan senyap. Untung malam itu bulan purnama bertengger di atas langit. Sehingga Pardi tidak perlu membawa senter untuk menerangi perjalanannya.
Saat melintas di sebuah bukit kecil dekat persawahan, tiba-tiba Pardi melihat sosok seorang perempuan berambut panjang duduk di atas sebuah batu besar. Tadinya Pardi mengira perempuan itu peri atau kuntilanak. Tapi setelah dilihatnya kaki perempuan itu menginjak tanah, hati Pardi jadi tenang.
Dia lalu mendekati perempuan itu. Ketika sudah sampai di hadapannya tampaklah dengan jelas wajah perempuan itu diterpa cahaya rembulan. Ternyata, dia masih muda dan cantik. Pardi menelan air liurnya, merasa takjub melihat kecantikan si wanita. Dasar Pardi mata keranjang, dia jadi penasaran dan ingin berkenalan dengan gadis itu.
"Siapa namamu? Kenapa malam-malam berada di tempat ini sendirian? Apa kamu tidak takut?" pertanyaan ini meluncur deras dari mulut Pardi.
"Namaku Yani. Aku sedang menikmati indahnya bulan purnama. Aku tidak takut berada di sini sendirian, karena aku sudah sering berada di sini setiap bulan purnama," jawab gadis itu dengan nada menggemaskan.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Sepertinya kamu bukan warga kampung ini. Kamu tinggal dimana?"
"Aku memang bukan warga sini. Aku tinggal di pinggiran hutan bersama si Mboku, namanya Mbok Marijem. Beliau suka mencari tanaman dan akar hutan untuk dijadikan bahan jamu. Sampenyan pasti pernah mendengar namanya."
Pardi diam dan merenung sejenak. Rasanya dia belum pernah mendengar nama Mbok Marijem yang tinggal di pinggiran hutan itu. Tapi biar tidak mengecewakan gadis itu, dia pun mengangguk-angguk. Bagi Pardi tak peduli apakah dirinya kenal atau tidak dengan Mbok Mariyem, yang penting dia bisa berkenalan dan dekat dengan Yani.
"Ya...ya...aku mengenalnya!" jawab Pardi dengan mantap. "Oh ya, boleh aku ikut duduk di sini menemanimu?" katanya lagi.
"Silahkan, Mas. Aku malah senang ada yang menemani. Nama Mas sendiri siapa sih ?" sahut Yani sambil tersenyum penuh arti.
"Namaku Pardi. Omong-omong, nanti kekasih Dik Yani marah melihat aku duduk berdua denganmu?"
"Aku belum punya kekasih kok, Mas."
"Ah, masak gadis secantik kamu belum punya pacar?"
"Sungguh, Mas! Gadis kampung macam aku mana ada yang mau?"
"Ah, siapa bilang? Aku mau kok jadi kekasih Dik Yani!" rayuan gombal Pardi mulai keluar.
"Jangan ah! Nanti isteri Mas Pardi marah?" sahut Yani.
"Aku belum punya isteri kok !" ujar Pardi dengan mantap.
Rupanya Yani percaya dengan ucapan Pardi. Atau pada dasarnya dia gadis yang masih polos dan lugu. Ketika Pardi mencoba duduk merapat, Yani tidak menolak. Hal ini membuat Pardi semakin berani. Dia lalu memegang tangan Yani dan membelai rambutnya. Seperti dua insan remaja yang sedang dimabuk asmara keduanya bercengkerama dan bercanda ria.
Pertemuan pertama pada malam itu sangat berkesan dalam hati Pardi. Dia lalu ingin melanjutkan kembali pertemuannya dengan Yani. Tapi sayangnya, Yani menolak Pardi datang ke rumahnya. Soalnya Yani mengaku nanti akan dimarahi oleh si Mboknya. Yani hanya mau bertemu dengan Pardi di bukit itu pada malam hari.
Pardi pun menuruti permintaan Yani. Lagi pula dia sendiri juga tak mau pertemuannya dengan Yani diketahui orang lain, terlebih ketahuan isterinya.
Maka, pada malam kedua Pardi dan Yani kembali bertemu di bukit ujung desa. Mereka bercengkerama di bawah sorot sinar bulan purnama. Hubungan keduanya yang begitu dekat seperti sepasang kekasih. Bahkan Pardi yang sudah tak kuasa menahan hasratnya mulai berani menggerayangi bagian tubuh Yani yang sensitif.
Pardi membisikan ajakan untuk bermain cinta. Pucuk dicinta ulam tiba, Yani mengiyakan ajakan Pardi. Dia menurut saja ketika tangannya dituntun memasuki gubuk kecil di pinggiran bukit. Keduanya lalu tenggelam dalam permainan cinta yang dahsyat dan bergelora.
Pardi tak menyangka kalau Yani memiliki gairah seks yang menggebu-gebu. Rasanya seluruh persendian Pardi seperti mau copot dan tenaganya seperti terkuras habis saat bercinta dengan Yani. Hampir semalam suntuk mereka mereguk nikmatnya bercinta.
Ketika malam sudah mendekati waktu subuh, Pardi dan Yani cepat-cepat bergegas pulang. Pardi tak ingin hubungan gelapnya dengan Yani diketahui orang.
Yani sendiri tidak bisa setiap malam melakukan kencan rahasia dengan Pardi. Dia hanya mau bertemu dan bercinta dengan Pardi setiap kali bulan purnama tiba, yakni sekitar antara tanggal 14, 15, 16, 17, dan 18 menurut Kalender Jawa.
Meski hanya singkat saja, Pardi merasa cukup puas. Yang penting dia bisa berkencan dan bercinta dengan Yani. Dia seakan mendapatkan sensasi luar biasa saat bercinta dengan Yani, bahkan lebih dari yang dia dapatkan saat bercinta dengan isterinya sendiri. Pardi jadi merindukan dan tak sabar menanti bulan purnama tiba.
Perselingkuhan Pardi dengan Yani ini memang tidak pernah dipergoki oleh siapa pun. Tapi Minah, isterinya, merasa curiga dengan gelagat suaminya yang aneh. Setiap malam suaminya pergi dan pulang ketika hari sudah Subuh. Jika ditanya kemana semalam dan tidur dimana, Pardi menjawab dengan enteng saja kalau dia semalam tidur di rumah teman atau diajak teman mencari kodok.
Minah sebenarnya tak percaya dengan jawaban suaminya. Dia curiga Pardi telah berselingkuh dengan perempuan lain. Sayangnya, Minah tak punya bukti kalau suaminya berhubungan gelap dengan seorang perempuan. Sehingga dia pun tak bisa menuduh sembarangan. Minah hanya bisa menumpahkan kekesalan dan kejengkelannya pada suaminya. Kejengkelan Minah bukan lantaran dia ditinggal tidur sendirian di rumah, tapi karena dia sedang repot mengurus neneknya yang sakit.
Minah merasakan kepergiaan suaminya setiap malam seolah untuk menghindari kewajiban mengurus orang tua itu. Minah kesal karena suaminya tak peduli pada keadaan neneknya.
Sudah hampir setahun ini Minah mengurus Mbok Ijah, neneknya yang tua dan sakit. Tiap kali dia merawat dan menjaga wanita yang sudah berusia di atas delapan puluh tahun itu. Kondisi Mbok Ijah terbilang sudah sekarat. Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya terbaring di atas ranjang. Makan, minum, kencing, dan berak di tempat. Tubuhnya sudah tinggal kulit pembalut tulang.
Untuk ukuran orang biasa, mungkin sudah jauh hari dia meninggal. Dokter yang pernah memeriksanya pun menyatakan kalau Mbok Ijah sudah tak mungkin disembuhkan. Kondisi organ dalam tubuhnya sudah rusak total. Dia hanya tinggal menunggu takdir menjemputnya.
Tapi anehnya, nafasnya masih terus mengalir dan bertahan hidup untuk beberapa lama. Konon, ini terjadi karena Mbok Ijah memiliki ilmu kesaktian yang belum dilepas dari tubuhnya. Dia menyimpan semacam jimat atau susuk yang pernah berdaya guna di masa mudanya. Simpanan ilmu kesaktian itu yang tampaknya menghalangi perjalanannya kembali ke alam baka.
Dengan kondisi Mbok Ijah yang demikian, tentu saja membuat susah Minah. Hanya dirinya satu-satunya keluarga dekat Mbok Ijah. Sudah berbagai cara dilakukan Minah untuk mengobati neneknya. Mulai dari dokter, dukun, sinshe, sampai tabib. Bahkan Minah meminta bantuan paranormal atau dukun yang bisa membantu melapaskan simpanan ajian neneknya.
Tapi, tak ada satu pun dari mereka yang sanggup mengeluarkan jimat yang tersimpan dalam tubuh nenek itu. Jimat itu tergolong ilmu kesaktian tingkat tinggi. Namanya Susuk Aji Wijayakusuma. Konon, ajian ini bisa menjadikan pemakainya menjadi awet muda dan mampu memikat laki-laki. Seperti halnya kembang Wijayakusuma atau bunga sedap malam yang senantiasa mekar di kala bulan purnama tiba.
Begitu pula dengan Ajian Wijayakusuma yang akan mengalami pembaharuan setiap tiba bulan purnama. Ajian Wijayakusuma akan menampakkan kekuatan aura dan kesempurnaannya pada pertengahan bulan purnama. Pada saat itu Ajian Wijayakusuma akan bekerja dan menjadikan pemakainya terlihat lebih muda.
Seorang peranormal menyarankan agar setiap tiba bulan purnama, Mbok Ijah dijauhkan dari kaum laki-laki, aroma kembang, suara gamelan, dan terpaan cahaya lampu atau bulan. Sebab, semua itu berhubungan erat dengan kehidupan Mbok Ijah di masa lalu sebagai penari Tayub atau Tledek. Dia akan bisa menemukan kembali energi yang membuatnya tetap bertahan hidup bila bersentuhan dengan salah satu dari yang disebutkan itu. Karenanya Mbok Ijah harus dikurung atau diisolasi dalam sebuah ruang kosong dan gelap sebagai simbol kematian untuk memudahkan arwahnya kembali kepadaNya.
Minah menuruti saran itu. Namun ternyata hal itu tak juga berhasil membuat neneknya mati. Bahkan setelah melewati bulan purnama kondisinya kembali segar bugar. Sepertinya si nenek mendapatkan nafas baru yang memperpanjang kehidupannya. Tubuhnya yang sudah lemah, pucat, dan matanya yang cekung mengatup berubah berbinar dan bercahaya. Kelopak matanya kembali membuka dan ada sinar di dalam bola matanya, seolah menyiratkan kehidupan di sana.
Minah pun dibuat bingung dan pusing. Bukannya dia tak senang neneknya masih hidup, tapi Minah merasa kasihan pada keadaannya. Andai saja membunuh tidak berdosa, sudah dicekiknya leher wanita tua itu!
Untuk kesekian kali Minah kembali meminta bantuan orang pintar. Kali ini seorang Kyai yang berilmu agama tinggi, namanya Kyai Anshari. Oleh sang Kyai, Mbok Ijah dibacakan surat Yasin dan doa-doa dari ayat suci Al-Qur'an.
Hampir setiap malam Kyai Anshari beserta murid-muridnya melakukan pembacaan doa di hadapan Mbok Ijah yang dibaringkan di tengah ruangan. Semua keluarganya diminta ikut membaca ayat-ayat suci untuk memudahkan jalan kematian Mbok Ijah.
Dan tampaknya konsisi Mbok Ijah memang sudah sangat kritis dan menjelang dekatnya ajal. Hal itu semakin terlihat saat menjelang tibanya bulan purnama. Kyai Anshari dan murid-muridnya semakin mengintensifkan bacaan do'anya.
Sementara itu Pardi mulai gelisah. Dia sudah tak sabar lagi ingin segera menemui Yani. Malam ini gadis itu tentu sudah menunggunya di dalam gubuk di atas bukit ujung desa. Mereka bisa kembali bercinta seperti bulan purnama lalu.
Dengan dalih mau kencing, Pardi minta diri keluar dari ruangan tempat dilakukannya ritual pembacaan do'a. Dia pura-pura menuju ke sumur. Ketika tak ada orang melihatnya, dia langsung menyelinap pergi. Tapi rupanya dia tidak sadar kalau diam-diam Kyai Anshari mengintainya dari belakang.
Pardi sudah sampai tiba di bukit tempat dia biasa berkencan dengan Yani. Tapi dia tidak melihat Yani berada di sana. Biasanya Yani suka duduk di atas sebuah batu. Pardi sudah mencoba mencarinya dengan mengelilingi bukit, tapi batang hidung Yani tak juga ditemukan.
"Yaniii...Yaniii...!?" serunya memanggil ke segala penjuru arah. Tak ada sahutan, kecuali suaranya sendiri yang menggema di udara.
Tiba-tiba dari balik sebuah pohon muncul Kyai Anshari. Kontan saja Pardi kaget dan heran.
"Pak Kyai? Bagaimana Bapak bisa sampai disini?" tanya Pardi gugup.
"Aku curiga dengan perilakumu, karena itu aku mengikutimu. Aku tahu, kamu sedang mencari seorang gadis bernama Yani. Tapi malam ini dia tidak mungkin bisa datang," jawab Kyai Anshari kalem.
"Bagaimana Pak Kyai bisa tahu hal itu?" protes Pardi.
"Karena sebenarnya yang kamu temui itu bukan manusia. Dia penjelmaan roh Mbok Ijah. Itulah kenapa Mbok Ijah selama ini mampu bertahan hidup. Sebab, dia selalu mendapatkan energi setiap kali berhubungan intim denganmu. Dia menyedot sebagian inti kehidupan yang ada dalam tubuhmu. Tapi sekarang dia tidak akan bisa keluar lagi dari raganya, karena kami telah memagarinya dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Dia telah kami kurung dalam pagar gaib!" tutur Kyai menerangkan.
"Bapak jangan mengada-ada! Mana mungkin Mbok Ijah bisa berubah muda dan cantik. Dia kan sudah tua dan sekarat. Ini mustahil!" bantah Pardi, tak percaya mendengar keterangan Kyai Anshari.
"Kalau kamu tak percaya, ayo ikut aku!" sang Kyai lalu menyeret tangan Pardi mengajaknya pulang ke rumah.
Sesampai di rumah masih terlihat orang-orang duduk di ruang tengah sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Tubuh Mbok Ijah juga masih tergolek di atas bale-bale bambu. Kyai Anshari mengajak Pardi mendekati tubuh Mbok Ijah. Dia mengangkat tangannya dan mengusap wajah Mbok Ijah yang keriput.
Ajaib, wajah itu seketika berubah muda dan cantik. Pardi pun terperangah kaget. Walau hanya sekilas perubahan itu terlihat, namun sudah dapat dipastikan bahwa itu adalah wajah Yani, gadis yang selama ini dikencani dan diajaknya bercinta di atas bukit. Karena tak kuat menahan goncangan dalam jiwanya, Pardi jatuh pingsan.
Keesokan harinya, Mbok Ijah menghembuskan nafas yang terakhir. Sementara Pardi masih terbaring lemah dan sakit. Tampaknya dia masih sangat shock dan belum bisa menerima kejadian yang dialaminya. Dia tak pernah menyangka bila yang diajaknya bercinta adalah nenek mertuanya sendiri.
Bila tidak segera mendapat pertolongan, sakit Pardi bisa bertambah parah. Karena dia telah kehilangan banyak energi dalam tubuhnya dan mengalami gangguan psikis. Tapi untunglah, berkat pengobatan dan terapi yang dilakukan Kyai Anshari perlahan namun pasti, Pardi kembali bisa normal dan sehat. Pardi kini telah berubah menjadi orang alim. Dia tak mudah lagi tergoda oleh perempuan.
Namanya Susuk Aji Wijayakusuma. Konon, ilmu ini bisa menjadikan pemakainya menjadi awet muda dan mampu memikat laki-laki. Seperti halnya kembang Wijayakusuma yang senantiasa mekar di kala bulan purnama tiba....
Setiap kali tiba bulan purnama, hati Pardi serasa disiram air bunga. Aroma keharumannya begitu memabukan jiwa, membuat Pardi serasa menemukan gairah muda yang menggelora. Pada saat seperti itulah dia bisa bertemu dan bercinta dengan gadis muda nan cantik bernama Yani.
Tapi anehnya, gadis yang dikencaninya itu tak pernah dikenal sebelumnya dan tidak diketahui asal-usulnya. Baru beberapa waktu kemudian dia mengetahui kalau ternyata wanita yang bercinta dengannya itu tak lain adalah penjelmaan roh gaib. Lebih gilanya lagi, wanita gaib itu tak lain adalah arwah neneknya sendiri.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ikuti kisah mistis berikut ini:
Waktu itu Pardi baru pulang dari kondangan di tempat saudaranya di desa tetangga. Dengan berjalan kaki, Pardi sendirian menyusuri jalan desa tak beraspal yang sepi dan senyap. Untung malam itu bulan purnama bertengger di atas langit. Sehingga Pardi tidak perlu membawa senter untuk menerangi perjalanannya.
Saat melintas di sebuah bukit kecil dekat persawahan, tiba-tiba Pardi melihat sosok seorang perempuan berambut panjang duduk di atas sebuah batu besar. Tadinya Pardi mengira perempuan itu peri atau kuntilanak. Tapi setelah dilihatnya kaki perempuan itu menginjak tanah, hati Pardi jadi tenang.
Dia lalu mendekati perempuan itu. Ketika sudah sampai di hadapannya tampaklah dengan jelas wajah perempuan itu diterpa cahaya rembulan. Ternyata, dia masih muda dan cantik. Pardi menelan air liurnya, merasa takjub melihat kecantikan si wanita. Dasar Pardi mata keranjang, dia jadi penasaran dan ingin berkenalan dengan gadis itu.
"Siapa namamu? Kenapa malam-malam berada di tempat ini sendirian? Apa kamu tidak takut?" pertanyaan ini meluncur deras dari mulut Pardi.
"Namaku Yani. Aku sedang menikmati indahnya bulan purnama. Aku tidak takut berada di sini sendirian, karena aku sudah sering berada di sini setiap bulan purnama," jawab gadis itu dengan nada menggemaskan.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Sepertinya kamu bukan warga kampung ini. Kamu tinggal dimana?"
"Aku memang bukan warga sini. Aku tinggal di pinggiran hutan bersama si Mboku, namanya Mbok Marijem. Beliau suka mencari tanaman dan akar hutan untuk dijadikan bahan jamu. Sampenyan pasti pernah mendengar namanya."
Pardi diam dan merenung sejenak. Rasanya dia belum pernah mendengar nama Mbok Marijem yang tinggal di pinggiran hutan itu. Tapi biar tidak mengecewakan gadis itu, dia pun mengangguk-angguk. Bagi Pardi tak peduli apakah dirinya kenal atau tidak dengan Mbok Mariyem, yang penting dia bisa berkenalan dan dekat dengan Yani.
"Ya...ya...aku mengenalnya!" jawab Pardi dengan mantap. "Oh ya, boleh aku ikut duduk di sini menemanimu?" katanya lagi.
"Silahkan, Mas. Aku malah senang ada yang menemani. Nama Mas sendiri siapa sih ?" sahut Yani sambil tersenyum penuh arti.
"Namaku Pardi. Omong-omong, nanti kekasih Dik Yani marah melihat aku duduk berdua denganmu?"
"Aku belum punya kekasih kok, Mas."
"Ah, masak gadis secantik kamu belum punya pacar?"
"Sungguh, Mas! Gadis kampung macam aku mana ada yang mau?"
"Ah, siapa bilang? Aku mau kok jadi kekasih Dik Yani!" rayuan gombal Pardi mulai keluar.
"Jangan ah! Nanti isteri Mas Pardi marah?" sahut Yani.
"Aku belum punya isteri kok !" ujar Pardi dengan mantap.
Rupanya Yani percaya dengan ucapan Pardi. Atau pada dasarnya dia gadis yang masih polos dan lugu. Ketika Pardi mencoba duduk merapat, Yani tidak menolak. Hal ini membuat Pardi semakin berani. Dia lalu memegang tangan Yani dan membelai rambutnya. Seperti dua insan remaja yang sedang dimabuk asmara keduanya bercengkerama dan bercanda ria.
Pertemuan pertama pada malam itu sangat berkesan dalam hati Pardi. Dia lalu ingin melanjutkan kembali pertemuannya dengan Yani. Tapi sayangnya, Yani menolak Pardi datang ke rumahnya. Soalnya Yani mengaku nanti akan dimarahi oleh si Mboknya. Yani hanya mau bertemu dengan Pardi di bukit itu pada malam hari.
Pardi pun menuruti permintaan Yani. Lagi pula dia sendiri juga tak mau pertemuannya dengan Yani diketahui orang lain, terlebih ketahuan isterinya.
Maka, pada malam kedua Pardi dan Yani kembali bertemu di bukit ujung desa. Mereka bercengkerama di bawah sorot sinar bulan purnama. Hubungan keduanya yang begitu dekat seperti sepasang kekasih. Bahkan Pardi yang sudah tak kuasa menahan hasratnya mulai berani menggerayangi bagian tubuh Yani yang sensitif.
Pardi membisikan ajakan untuk bermain cinta. Pucuk dicinta ulam tiba, Yani mengiyakan ajakan Pardi. Dia menurut saja ketika tangannya dituntun memasuki gubuk kecil di pinggiran bukit. Keduanya lalu tenggelam dalam permainan cinta yang dahsyat dan bergelora.
Pardi tak menyangka kalau Yani memiliki gairah seks yang menggebu-gebu. Rasanya seluruh persendian Pardi seperti mau copot dan tenaganya seperti terkuras habis saat bercinta dengan Yani. Hampir semalam suntuk mereka mereguk nikmatnya bercinta.
Ketika malam sudah mendekati waktu subuh, Pardi dan Yani cepat-cepat bergegas pulang. Pardi tak ingin hubungan gelapnya dengan Yani diketahui orang.
Yani sendiri tidak bisa setiap malam melakukan kencan rahasia dengan Pardi. Dia hanya mau bertemu dan bercinta dengan Pardi setiap kali bulan purnama tiba, yakni sekitar antara tanggal 14, 15, 16, 17, dan 18 menurut Kalender Jawa.
Meski hanya singkat saja, Pardi merasa cukup puas. Yang penting dia bisa berkencan dan bercinta dengan Yani. Dia seakan mendapatkan sensasi luar biasa saat bercinta dengan Yani, bahkan lebih dari yang dia dapatkan saat bercinta dengan isterinya sendiri. Pardi jadi merindukan dan tak sabar menanti bulan purnama tiba.
Perselingkuhan Pardi dengan Yani ini memang tidak pernah dipergoki oleh siapa pun. Tapi Minah, isterinya, merasa curiga dengan gelagat suaminya yang aneh. Setiap malam suaminya pergi dan pulang ketika hari sudah Subuh. Jika ditanya kemana semalam dan tidur dimana, Pardi menjawab dengan enteng saja kalau dia semalam tidur di rumah teman atau diajak teman mencari kodok.
Minah sebenarnya tak percaya dengan jawaban suaminya. Dia curiga Pardi telah berselingkuh dengan perempuan lain. Sayangnya, Minah tak punya bukti kalau suaminya berhubungan gelap dengan seorang perempuan. Sehingga dia pun tak bisa menuduh sembarangan. Minah hanya bisa menumpahkan kekesalan dan kejengkelannya pada suaminya. Kejengkelan Minah bukan lantaran dia ditinggal tidur sendirian di rumah, tapi karena dia sedang repot mengurus neneknya yang sakit.
Minah merasakan kepergiaan suaminya setiap malam seolah untuk menghindari kewajiban mengurus orang tua itu. Minah kesal karena suaminya tak peduli pada keadaan neneknya.
Sudah hampir setahun ini Minah mengurus Mbok Ijah, neneknya yang tua dan sakit. Tiap kali dia merawat dan menjaga wanita yang sudah berusia di atas delapan puluh tahun itu. Kondisi Mbok Ijah terbilang sudah sekarat. Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya terbaring di atas ranjang. Makan, minum, kencing, dan berak di tempat. Tubuhnya sudah tinggal kulit pembalut tulang.
Untuk ukuran orang biasa, mungkin sudah jauh hari dia meninggal. Dokter yang pernah memeriksanya pun menyatakan kalau Mbok Ijah sudah tak mungkin disembuhkan. Kondisi organ dalam tubuhnya sudah rusak total. Dia hanya tinggal menunggu takdir menjemputnya.
Tapi anehnya, nafasnya masih terus mengalir dan bertahan hidup untuk beberapa lama. Konon, ini terjadi karena Mbok Ijah memiliki ilmu kesaktian yang belum dilepas dari tubuhnya. Dia menyimpan semacam jimat atau susuk yang pernah berdaya guna di masa mudanya. Simpanan ilmu kesaktian itu yang tampaknya menghalangi perjalanannya kembali ke alam baka.
Dengan kondisi Mbok Ijah yang demikian, tentu saja membuat susah Minah. Hanya dirinya satu-satunya keluarga dekat Mbok Ijah. Sudah berbagai cara dilakukan Minah untuk mengobati neneknya. Mulai dari dokter, dukun, sinshe, sampai tabib. Bahkan Minah meminta bantuan paranormal atau dukun yang bisa membantu melapaskan simpanan ajian neneknya.
Tapi, tak ada satu pun dari mereka yang sanggup mengeluarkan jimat yang tersimpan dalam tubuh nenek itu. Jimat itu tergolong ilmu kesaktian tingkat tinggi. Namanya Susuk Aji Wijayakusuma. Konon, ajian ini bisa menjadikan pemakainya menjadi awet muda dan mampu memikat laki-laki. Seperti halnya kembang Wijayakusuma atau bunga sedap malam yang senantiasa mekar di kala bulan purnama tiba.
Begitu pula dengan Ajian Wijayakusuma yang akan mengalami pembaharuan setiap tiba bulan purnama. Ajian Wijayakusuma akan menampakkan kekuatan aura dan kesempurnaannya pada pertengahan bulan purnama. Pada saat itu Ajian Wijayakusuma akan bekerja dan menjadikan pemakainya terlihat lebih muda.
Seorang peranormal menyarankan agar setiap tiba bulan purnama, Mbok Ijah dijauhkan dari kaum laki-laki, aroma kembang, suara gamelan, dan terpaan cahaya lampu atau bulan. Sebab, semua itu berhubungan erat dengan kehidupan Mbok Ijah di masa lalu sebagai penari Tayub atau Tledek. Dia akan bisa menemukan kembali energi yang membuatnya tetap bertahan hidup bila bersentuhan dengan salah satu dari yang disebutkan itu. Karenanya Mbok Ijah harus dikurung atau diisolasi dalam sebuah ruang kosong dan gelap sebagai simbol kematian untuk memudahkan arwahnya kembali kepadaNya.
Minah menuruti saran itu. Namun ternyata hal itu tak juga berhasil membuat neneknya mati. Bahkan setelah melewati bulan purnama kondisinya kembali segar bugar. Sepertinya si nenek mendapatkan nafas baru yang memperpanjang kehidupannya. Tubuhnya yang sudah lemah, pucat, dan matanya yang cekung mengatup berubah berbinar dan bercahaya. Kelopak matanya kembali membuka dan ada sinar di dalam bola matanya, seolah menyiratkan kehidupan di sana.
Minah pun dibuat bingung dan pusing. Bukannya dia tak senang neneknya masih hidup, tapi Minah merasa kasihan pada keadaannya. Andai saja membunuh tidak berdosa, sudah dicekiknya leher wanita tua itu!
Untuk kesekian kali Minah kembali meminta bantuan orang pintar. Kali ini seorang Kyai yang berilmu agama tinggi, namanya Kyai Anshari. Oleh sang Kyai, Mbok Ijah dibacakan surat Yasin dan doa-doa dari ayat suci Al-Qur'an.
Hampir setiap malam Kyai Anshari beserta murid-muridnya melakukan pembacaan doa di hadapan Mbok Ijah yang dibaringkan di tengah ruangan. Semua keluarganya diminta ikut membaca ayat-ayat suci untuk memudahkan jalan kematian Mbok Ijah.
Dan tampaknya konsisi Mbok Ijah memang sudah sangat kritis dan menjelang dekatnya ajal. Hal itu semakin terlihat saat menjelang tibanya bulan purnama. Kyai Anshari dan murid-muridnya semakin mengintensifkan bacaan do'anya.
Sementara itu Pardi mulai gelisah. Dia sudah tak sabar lagi ingin segera menemui Yani. Malam ini gadis itu tentu sudah menunggunya di dalam gubuk di atas bukit ujung desa. Mereka bisa kembali bercinta seperti bulan purnama lalu.
Dengan dalih mau kencing, Pardi minta diri keluar dari ruangan tempat dilakukannya ritual pembacaan do'a. Dia pura-pura menuju ke sumur. Ketika tak ada orang melihatnya, dia langsung menyelinap pergi. Tapi rupanya dia tidak sadar kalau diam-diam Kyai Anshari mengintainya dari belakang.
Pardi sudah sampai tiba di bukit tempat dia biasa berkencan dengan Yani. Tapi dia tidak melihat Yani berada di sana. Biasanya Yani suka duduk di atas sebuah batu. Pardi sudah mencoba mencarinya dengan mengelilingi bukit, tapi batang hidung Yani tak juga ditemukan.
"Yaniii...Yaniii...!?" serunya memanggil ke segala penjuru arah. Tak ada sahutan, kecuali suaranya sendiri yang menggema di udara.
Tiba-tiba dari balik sebuah pohon muncul Kyai Anshari. Kontan saja Pardi kaget dan heran.
"Pak Kyai? Bagaimana Bapak bisa sampai disini?" tanya Pardi gugup.
"Aku curiga dengan perilakumu, karena itu aku mengikutimu. Aku tahu, kamu sedang mencari seorang gadis bernama Yani. Tapi malam ini dia tidak mungkin bisa datang," jawab Kyai Anshari kalem.
"Bagaimana Pak Kyai bisa tahu hal itu?" protes Pardi.
"Karena sebenarnya yang kamu temui itu bukan manusia. Dia penjelmaan roh Mbok Ijah. Itulah kenapa Mbok Ijah selama ini mampu bertahan hidup. Sebab, dia selalu mendapatkan energi setiap kali berhubungan intim denganmu. Dia menyedot sebagian inti kehidupan yang ada dalam tubuhmu. Tapi sekarang dia tidak akan bisa keluar lagi dari raganya, karena kami telah memagarinya dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Dia telah kami kurung dalam pagar gaib!" tutur Kyai menerangkan.
"Bapak jangan mengada-ada! Mana mungkin Mbok Ijah bisa berubah muda dan cantik. Dia kan sudah tua dan sekarat. Ini mustahil!" bantah Pardi, tak percaya mendengar keterangan Kyai Anshari.
"Kalau kamu tak percaya, ayo ikut aku!" sang Kyai lalu menyeret tangan Pardi mengajaknya pulang ke rumah.
Sesampai di rumah masih terlihat orang-orang duduk di ruang tengah sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Tubuh Mbok Ijah juga masih tergolek di atas bale-bale bambu. Kyai Anshari mengajak Pardi mendekati tubuh Mbok Ijah. Dia mengangkat tangannya dan mengusap wajah Mbok Ijah yang keriput.
Ajaib, wajah itu seketika berubah muda dan cantik. Pardi pun terperangah kaget. Walau hanya sekilas perubahan itu terlihat, namun sudah dapat dipastikan bahwa itu adalah wajah Yani, gadis yang selama ini dikencani dan diajaknya bercinta di atas bukit. Karena tak kuat menahan goncangan dalam jiwanya, Pardi jatuh pingsan.
Keesokan harinya, Mbok Ijah menghembuskan nafas yang terakhir. Sementara Pardi masih terbaring lemah dan sakit. Tampaknya dia masih sangat shock dan belum bisa menerima kejadian yang dialaminya. Dia tak pernah menyangka bila yang diajaknya bercinta adalah nenek mertuanya sendiri.
Bila tidak segera mendapat pertolongan, sakit Pardi bisa bertambah parah. Karena dia telah kehilangan banyak energi dalam tubuhnya dan mengalami gangguan psikis. Tapi untunglah, berkat pengobatan dan terapi yang dilakukan Kyai Anshari perlahan namun pasti, Pardi kembali bisa normal dan sehat. Pardi kini telah berubah menjadi orang alim. Dia tak mudah lagi tergoda oleh perempuan.
BERBURU HARTA KARUN TUANKU DATUK TAMBUSAI
Penulis : BOBY RAHMAWANTO
Konon, harta karun berupa lantakan perhiasan emas itu merupakan peninggalan Tuanku Datuk Tambusai. Dedengkot gaib yang menjaganya berwujud sosok kera putih raksasa mirip Hanoman. Siapapun bisa mengangkatnya. Asalkan....
Perekonomian Indonesia terus terpuruk. Moralitas masyarakat pun semakin terancam oleh produk-produk kebudayaan asing yang sama sekali tidak sesuai dengan karakter bangsa. Karena itulah, kita harus senantiasa berhati-hati dalam mensikapi segala macam pengaruh negatif. Hal ini penting kita lakukan demi tegaknya negeri tercinta ini.
Dalam kesempatan kali ini saya akan menceritakan pengalaman yang cukup menegangkan, yang ada hubungannya dengan kesulitan dalam mencari dan mencoba merubah nasib dari keterpurukan ekonomi yang kian parah. Bahkan kejadian yang saya alami ini, saya meyakinnya, pasti bukan hanya saya saja yang mengalaminya. Ya, mungkin puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang telah mengalaminya.
Harapan saya, mudah-mudahan apa yang saya alami dan banyak suadara kita yang lain lakoni ini, mungkin bisa diambil hikmah dan pelajaran di dalamnya. Supaya kita di kemudian hari, kita tidak terjebak dalam hal-hal yang musykil dan di luar jangkuan pemikiran kita manusia normal pada umumnya.
Waktu itu, saking didorong rasa ingin tahu dan keinginan untuk membuktikan adanya dunia alam lain, yang konon ceritanya menyimpan berbagai misteri, terutama prihal adanya dana gaib dan harta karun yang terpendam di dalamnya, maka saya nekad melakukan apa yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Waktu itu saya mendengar ada sejumlah orang yang telah sanggup atau mampu untuk melakukan ritual transaksi peminjaman atau penarikan dana gaib. Tepatnya menarik harta karun yang terpendam di berbagai lokasi yang diyakini sebagai tempat penyimpanannya. Harta dimaksud disebutkan sebagai barang peninggalan dari kerajaan atau kesultanan zaman dahulu.
Berbekal informasi yang ada, rencana perburuan harta karun itu mulai saya susun bersama dengan beberapa orang teman. Sesuai dengan rencana, ritual perburuan akan kami lakukan di sebuah hutan yang di daerah Riau, Sumatera Barat. Ada bagian dari kawasan hutan ini yang disebut-sebut sebagai letak penyimpanan harta karun dari suatu kesultanan tempo dulu. Bahkan disebutkan kalau bagian hutan ini dulunya merupakan lokasi istana kesultanan dimaksud. Karena begitu angker, maka masyarakat setempat menyebut titik rimba belantara ini sebagai Hutan Larangan.
Menurut cerita masyarakat setempat, yang kemudian diperkuat dengan teropong batin kami dan ahli spiritual lain,, memang pada titik ini terdapat banyak sekali harta terpendam yang merupakan milik kerajaan Tuanku Datuk Tambusai pada zaman silam.
Kami memulai perburuan gila itu persis pada alam tanggal 12 Januari 2006. Setelah kami mempersiapkan semua keperluan ritual, dengan bekal keyakinan dan mohon doa serta perlindungan dari Allah SWT, kami yang beranggotakan 5 orang yang salah-satunya sebagai petunjuk jalan, bergerak menuju lokasi Hutan Larangan.
Anggota rombongan ini persisnya saya berdua dengan adik perguruan saya, dan yang 2 orang lagi bertugas untuk berjaga-jaga di lokasi perburuan, sementara yang seorang adalah penunjuk jalan yang kami bayar. Memang, orang ini disebut-sebut sebagai yang tahu persis di mana titik Hutan Larangan yang konon menyimpan harta karun Tuanku Datuk Tambusai itu.
Kebetulan sekali, waktu itu bertepatan dengan terjadinya huru-hara mencekam yang disebabkan oleh amukan gajah-gajah hutan yang menyerang para penduduk di sekitar hutan, akibat habitat alamiah mereka yang terusik. Akibat kemarahan gajah-gajah ini, penduduk akhirnya bersiasat menjebak mereka. Akhirnya, banyak sekali gajah yang mati karena diracuni oleh warga ketika itu. Karena banyaknya gajah yang mati, beberapa bagian hutan dipenuhi dengan bau busuk bangkai yang memuakkkan. Bahkan, beberapa kali kami menemukan bangkai gajah yang telah membusuk dan dikerubungi belatung-belatung menjijikkan.
Hari itu, perjalanan kami tempuh selama hampir 8 jam. Perjalanan ini persisnya kami mulai dari kota Bagan Batu. Dan beberapa kali kami harus melewati pos penjagaan perkebunan sawit, karena memang lokasi perburuan yang akan kami tuju letaknya di dalam hutan yang dikelilingi oleh perkebunan sawit.
Tepat pukul 23.20 WIB, kami tiba di lokasi perburuan. Tanpa membuang waktu lagi, kami langsung melakukan ritual untuk melakukan proses transaksi penarikan. Ritual ini kami awali dengan meminta izin dari lelembut penguasa Hutan Larangan.
Berbagai doa keselamatan kami panjatkan, agar kami terhindar dari pengaruh negatif kawasan tersebut. Dalam ritual ini tak ketinggalan pula muncul berbagai makhluk gaib yang ada di situ. Mereka berhasil kami jumpai melalui kekuatan batiniah tingkat tinggi. Namun, dari sekian banyak makhluk halus itu suma satu makhluk yang berbentuk seperti monyet putih, atau biasa disebut dengan Hanoman, yang sepertinya ingin menghalangi maksud kedatangan kami.
Namun, syukurlah! Setelah kami melakukan ritual komunikasi dan transaksi penarikan harta tersebut, kami mendapat kesepakatan dengan semua gaib yang ada. Termasuk dengan sosok kera putih mirip Hanoman itu. Intinya, kami diizinkan untuk mengambil keberadaan harta yang terpendam selama ratusan tahun tersebut. Jumlahnya amat fantastis! Mungkin tidak terhitung lagi.
Berdasarkan hasil terawangan gaib kami, ditambah dengan penjelasan lelembut yang menguasainya, diketahui kalau semua harta tersebut kebanyakan berbentuk barang jadi, seperti: perhiasan, dan perabotan yang terbuat dari emas.
Setelah berhasil meneropong keberadaan harta karun yang kami buru, dan kami juga telah berhasil bernegosiasi dengan makhluk halus yang menguasainya, untuk sekedar menghimpun energi, beberapa saat lamanya ritual kami hentikan. Untuk sementara waktu, kami melakukan musyawarah, yang intinya untuk mencari kesepakatan bagaimana baiknya untuk melanjutkan proses penarikan harta tersebut. Karena kami yakin bahwa kalau kita berhubungan dengan yang namanya makhluk gaib, tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi hal ini,menyangkut harta karun yang selama ini telah mereka kuasai.
Proses penarikan kami lanjutkan setelah kami peroleh kesepakatan dengan anggota bahwa kami akan meminta bukti terlebih dahulu keberadaan barang tersebut, sekaligus untuk membuktikan bahwa barang tersebut adalah emas asli.
Masalahnya, yang kami takutkan adalah ritual itu akan berakhir percuma. Setelah capek-capek kami keluar tenaga, biaya dan pikiran, tidak tahunya yang kami dapatkan bukan emas. Ya, umumnya hanya berupa Kuningan Sari, seperti yang selama ini sering terjadi.
Untuk itulah, kembali kami melakukan proses negoisasi kepada gaib yang menguasai tempat itu, khususnya harta karun dimaksud. Ya,. dengan kesepakatan kami meminta bukti terlebih dahulu, maka diharapkan ritual bisa berjalan sukses.
Setelah memakan waktu lebih satu jam kami melakukan negosiasi, akhirnya tercapailah kesepakatan. Intinya, kami diizinkan untuk mengambil beberapa macam jenis harta karun yang terpendam.
Tepat pukul 1.30 WIB, kami telah selesai melakukan proses negoisasi. Dari negosiasi gaib itu kami memperoleh kesepakatan untuk penarikan harta karun yang dijanjikan terhadap kami. namun hal itu harus dilakukan esok harinya. Tepatnya pukul 12.00 WIB, atau ba'da sholat Dzuhur.
Malam itu, kami beranjak dari lokasi perburuan untuk kembali lagi besok siangnya. Dalam perjalanan pulang ke tempat peristirahatan kami yang tidak jauh dari lokasi perburuan, semua anggota termasuk saya, tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Maklumlah, keadaan kami waktu itu memang sudah sangat letih. Bahkan, sebagian anggota ada yang tertidur di mobil.
Sampai tiba di tempat peristirahatan tidak banyak yang kami lakukan. Setelah sholat malam, kami langsung mencari tempat masing-masing untuk merebahkan badan.
Esok harinya, kami berangkat lagi menuju lokasi perburuan, dengan anggotan yang masih tetap seperti kemarin. Tepat waktu Dzuhur, kami tiba di lokasi dan langsung melakukan shalat Dzuhur berjamaah. Selesai melaksanakan shalat, tanpa membuang waktu lagi, kami langsung melakukan ritual penarikan.
Ternyata, ritual penarikan ini tidaklah mudah. Sialnya lagi, si Hanoman yang menjadi dedengkot gaib penguasa harta karun itu malah ingin melakukan negosiasi ulang. Dia menginginkan penarikan dilakukan tengah malam nanti.
Ringkas cerita, tepat pukul 12.20 malam, kami mulai melakukan proses penarikan. Celakanya, seorang anggota kami yang bertugas menjaga kami dari gangguan binatang gajah tiba-tiba muncul sambil berteriak-teriak ketakutan. Rupanya, dia melahit ada gajah yang berlari marah dari ketinggian sekitar 300 meter di atas bukit.
"Oooiii...! Pergi dulu dari situ. Di depan ada Datuk Gadang yang sedang marah menuju ke arah kalian!" Demikian teriak sang teman dari atas bukit.
Yang dimaksud Datuk Gadang adalah gajah sepuh yang sudah dianggap sebagai ketua suku para gajah itu. Karena itulah, demi mendengar teriakan ini, tidak menunggu lama lagi, kami langsung pergi dari areal penyedotan harta, menuju ke atas bukit. dari sini, kami bisa melihat keberadaan gajah-gajah yang sedang marah tersebut. Mereka menuju ke arah lokasi tempat penarikan.
Selang beberapa saat setelah kami rasa situasi sudah aman, kami melanjutkan proses penarikan. Proses penarikan ini tidak memakan waktu lama. Mungkin hanya sekitar setengah jam. Ya, kami sudah mendapatkan beberapa buah perhiasan.
Memang, menurut petunjuk dari gaib, di situlah lokasi dimana kami akan diberikan beberapa contoh perhiasan yang akan kami buat sebagai bukti keberadaan harta karun tersebut, sekaligus memastikan keasliannya.
Setelah selesai ritual, kami kembali melakukan doa keselamatan dan bersyukur ke hadirat Allah SWT, sebab kami telah selamat dan dilindungi dari pengaruh gaib selama proses transaksi, sampai dengan proses penarikan.
Besoknya, siang tepat pukul 13.40 WIB, kami kembali ke tempat peristirahatan untuk melakukan musyawarah dan menyusun rencana guna melakukan proses selanjutnya.
Setelah kami periksa semua barang, ternyata yang kami dapat adalah memang emas murni. Namun hingga tiba malam berikutnya, kami masih belum mendapat keputusan untuk menentuk langkah apa yang akan kami tempuh guna proses selanjutnya.
Sampai tiba waktunya, tepat pukul 12.00 malam, tanggal 14 Januari 2006, adik saya mendapat kontak batin kembali dari monyet putih mirip Hanoman, makhluk dedengkot penunggu Hutan Larangan. Dikatakan bahwa barang harus segera diangkat dari tempat itu sebelum masuk bulan purnama yang akan datang.
Malam itu juga, saya melakukan kontak batin melalui adik saya. Semua anggota terkejut bukan kepalang, dan langsung mengucapkan Istighfar mohon ampunan kepada Allah SWT. Dari kontak batin itu, penunggu Hutan Larangan mau menyerahkan semua harta karun yang ada disitu dengan satu syarat, yakni: kami harus mengorbankan salah satu dari anggota kami di lokasi keramat itu. Persisnya, sang gaib meminta agar kami membunuh Firman, sebutlah begitu, yang masih adik keponakan dari saya, dan harus melakukannya pada titik lokasi penyimpanan harta. Alasan gaib itu memintanya bukan tidak tanpa landasan, tapi karena memang kondisi Firman pada waktu itu sedang "Darah Manis", istilah untuk menyebutkan bahwa yang bersangkutan akan melangsungkan pernikahan seminggu kemudian.
Tentu saja kami menentang permohonan. Lebih baik tak mendapatkan segram emas pun daripada harus mengorbankan nyawa Firman yang sangat taat beribadah itu.
Demikianlah kisah yang saya lakoni sendiri. Kisah ini mungkin hanya sekelumit kesaksian dari mereka yang memiliki sifat tamak dan ketidakpuasan dari apa yang Allah berikan terhadap umatNya. Untuk itulah, semoga kita bisa memetik hikmah dari ini. Semoga kita tidak tergoda untuk melakukan langkah sesat yang dimurkai Tuhan.
Konon, harta karun berupa lantakan perhiasan emas itu merupakan peninggalan Tuanku Datuk Tambusai. Dedengkot gaib yang menjaganya berwujud sosok kera putih raksasa mirip Hanoman. Siapapun bisa mengangkatnya. Asalkan....
Perekonomian Indonesia terus terpuruk. Moralitas masyarakat pun semakin terancam oleh produk-produk kebudayaan asing yang sama sekali tidak sesuai dengan karakter bangsa. Karena itulah, kita harus senantiasa berhati-hati dalam mensikapi segala macam pengaruh negatif. Hal ini penting kita lakukan demi tegaknya negeri tercinta ini.
Dalam kesempatan kali ini saya akan menceritakan pengalaman yang cukup menegangkan, yang ada hubungannya dengan kesulitan dalam mencari dan mencoba merubah nasib dari keterpurukan ekonomi yang kian parah. Bahkan kejadian yang saya alami ini, saya meyakinnya, pasti bukan hanya saya saja yang mengalaminya. Ya, mungkin puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang telah mengalaminya.
Harapan saya, mudah-mudahan apa yang saya alami dan banyak suadara kita yang lain lakoni ini, mungkin bisa diambil hikmah dan pelajaran di dalamnya. Supaya kita di kemudian hari, kita tidak terjebak dalam hal-hal yang musykil dan di luar jangkuan pemikiran kita manusia normal pada umumnya.
Waktu itu, saking didorong rasa ingin tahu dan keinginan untuk membuktikan adanya dunia alam lain, yang konon ceritanya menyimpan berbagai misteri, terutama prihal adanya dana gaib dan harta karun yang terpendam di dalamnya, maka saya nekad melakukan apa yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Waktu itu saya mendengar ada sejumlah orang yang telah sanggup atau mampu untuk melakukan ritual transaksi peminjaman atau penarikan dana gaib. Tepatnya menarik harta karun yang terpendam di berbagai lokasi yang diyakini sebagai tempat penyimpanannya. Harta dimaksud disebutkan sebagai barang peninggalan dari kerajaan atau kesultanan zaman dahulu.
Berbekal informasi yang ada, rencana perburuan harta karun itu mulai saya susun bersama dengan beberapa orang teman. Sesuai dengan rencana, ritual perburuan akan kami lakukan di sebuah hutan yang di daerah Riau, Sumatera Barat. Ada bagian dari kawasan hutan ini yang disebut-sebut sebagai letak penyimpanan harta karun dari suatu kesultanan tempo dulu. Bahkan disebutkan kalau bagian hutan ini dulunya merupakan lokasi istana kesultanan dimaksud. Karena begitu angker, maka masyarakat setempat menyebut titik rimba belantara ini sebagai Hutan Larangan.
Menurut cerita masyarakat setempat, yang kemudian diperkuat dengan teropong batin kami dan ahli spiritual lain,, memang pada titik ini terdapat banyak sekali harta terpendam yang merupakan milik kerajaan Tuanku Datuk Tambusai pada zaman silam.
Kami memulai perburuan gila itu persis pada alam tanggal 12 Januari 2006. Setelah kami mempersiapkan semua keperluan ritual, dengan bekal keyakinan dan mohon doa serta perlindungan dari Allah SWT, kami yang beranggotakan 5 orang yang salah-satunya sebagai petunjuk jalan, bergerak menuju lokasi Hutan Larangan.
Anggota rombongan ini persisnya saya berdua dengan adik perguruan saya, dan yang 2 orang lagi bertugas untuk berjaga-jaga di lokasi perburuan, sementara yang seorang adalah penunjuk jalan yang kami bayar. Memang, orang ini disebut-sebut sebagai yang tahu persis di mana titik Hutan Larangan yang konon menyimpan harta karun Tuanku Datuk Tambusai itu.
Kebetulan sekali, waktu itu bertepatan dengan terjadinya huru-hara mencekam yang disebabkan oleh amukan gajah-gajah hutan yang menyerang para penduduk di sekitar hutan, akibat habitat alamiah mereka yang terusik. Akibat kemarahan gajah-gajah ini, penduduk akhirnya bersiasat menjebak mereka. Akhirnya, banyak sekali gajah yang mati karena diracuni oleh warga ketika itu. Karena banyaknya gajah yang mati, beberapa bagian hutan dipenuhi dengan bau busuk bangkai yang memuakkkan. Bahkan, beberapa kali kami menemukan bangkai gajah yang telah membusuk dan dikerubungi belatung-belatung menjijikkan.
Hari itu, perjalanan kami tempuh selama hampir 8 jam. Perjalanan ini persisnya kami mulai dari kota Bagan Batu. Dan beberapa kali kami harus melewati pos penjagaan perkebunan sawit, karena memang lokasi perburuan yang akan kami tuju letaknya di dalam hutan yang dikelilingi oleh perkebunan sawit.
Tepat pukul 23.20 WIB, kami tiba di lokasi perburuan. Tanpa membuang waktu lagi, kami langsung melakukan ritual untuk melakukan proses transaksi penarikan. Ritual ini kami awali dengan meminta izin dari lelembut penguasa Hutan Larangan.
Berbagai doa keselamatan kami panjatkan, agar kami terhindar dari pengaruh negatif kawasan tersebut. Dalam ritual ini tak ketinggalan pula muncul berbagai makhluk gaib yang ada di situ. Mereka berhasil kami jumpai melalui kekuatan batiniah tingkat tinggi. Namun, dari sekian banyak makhluk halus itu suma satu makhluk yang berbentuk seperti monyet putih, atau biasa disebut dengan Hanoman, yang sepertinya ingin menghalangi maksud kedatangan kami.
Namun, syukurlah! Setelah kami melakukan ritual komunikasi dan transaksi penarikan harta tersebut, kami mendapat kesepakatan dengan semua gaib yang ada. Termasuk dengan sosok kera putih mirip Hanoman itu. Intinya, kami diizinkan untuk mengambil keberadaan harta yang terpendam selama ratusan tahun tersebut. Jumlahnya amat fantastis! Mungkin tidak terhitung lagi.
Berdasarkan hasil terawangan gaib kami, ditambah dengan penjelasan lelembut yang menguasainya, diketahui kalau semua harta tersebut kebanyakan berbentuk barang jadi, seperti: perhiasan, dan perabotan yang terbuat dari emas.
Setelah berhasil meneropong keberadaan harta karun yang kami buru, dan kami juga telah berhasil bernegosiasi dengan makhluk halus yang menguasainya, untuk sekedar menghimpun energi, beberapa saat lamanya ritual kami hentikan. Untuk sementara waktu, kami melakukan musyawarah, yang intinya untuk mencari kesepakatan bagaimana baiknya untuk melanjutkan proses penarikan harta tersebut. Karena kami yakin bahwa kalau kita berhubungan dengan yang namanya makhluk gaib, tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi hal ini,menyangkut harta karun yang selama ini telah mereka kuasai.
Proses penarikan kami lanjutkan setelah kami peroleh kesepakatan dengan anggota bahwa kami akan meminta bukti terlebih dahulu keberadaan barang tersebut, sekaligus untuk membuktikan bahwa barang tersebut adalah emas asli.
Masalahnya, yang kami takutkan adalah ritual itu akan berakhir percuma. Setelah capek-capek kami keluar tenaga, biaya dan pikiran, tidak tahunya yang kami dapatkan bukan emas. Ya, umumnya hanya berupa Kuningan Sari, seperti yang selama ini sering terjadi.
Untuk itulah, kembali kami melakukan proses negoisasi kepada gaib yang menguasai tempat itu, khususnya harta karun dimaksud. Ya,. dengan kesepakatan kami meminta bukti terlebih dahulu, maka diharapkan ritual bisa berjalan sukses.
Setelah memakan waktu lebih satu jam kami melakukan negosiasi, akhirnya tercapailah kesepakatan. Intinya, kami diizinkan untuk mengambil beberapa macam jenis harta karun yang terpendam.
Tepat pukul 1.30 WIB, kami telah selesai melakukan proses negoisasi. Dari negosiasi gaib itu kami memperoleh kesepakatan untuk penarikan harta karun yang dijanjikan terhadap kami. namun hal itu harus dilakukan esok harinya. Tepatnya pukul 12.00 WIB, atau ba'da sholat Dzuhur.
Malam itu, kami beranjak dari lokasi perburuan untuk kembali lagi besok siangnya. Dalam perjalanan pulang ke tempat peristirahatan kami yang tidak jauh dari lokasi perburuan, semua anggota termasuk saya, tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Maklumlah, keadaan kami waktu itu memang sudah sangat letih. Bahkan, sebagian anggota ada yang tertidur di mobil.
Sampai tiba di tempat peristirahatan tidak banyak yang kami lakukan. Setelah sholat malam, kami langsung mencari tempat masing-masing untuk merebahkan badan.
Esok harinya, kami berangkat lagi menuju lokasi perburuan, dengan anggotan yang masih tetap seperti kemarin. Tepat waktu Dzuhur, kami tiba di lokasi dan langsung melakukan shalat Dzuhur berjamaah. Selesai melaksanakan shalat, tanpa membuang waktu lagi, kami langsung melakukan ritual penarikan.
Ternyata, ritual penarikan ini tidaklah mudah. Sialnya lagi, si Hanoman yang menjadi dedengkot gaib penguasa harta karun itu malah ingin melakukan negosiasi ulang. Dia menginginkan penarikan dilakukan tengah malam nanti.
Ringkas cerita, tepat pukul 12.20 malam, kami mulai melakukan proses penarikan. Celakanya, seorang anggota kami yang bertugas menjaga kami dari gangguan binatang gajah tiba-tiba muncul sambil berteriak-teriak ketakutan. Rupanya, dia melahit ada gajah yang berlari marah dari ketinggian sekitar 300 meter di atas bukit.
"Oooiii...! Pergi dulu dari situ. Di depan ada Datuk Gadang yang sedang marah menuju ke arah kalian!" Demikian teriak sang teman dari atas bukit.
Yang dimaksud Datuk Gadang adalah gajah sepuh yang sudah dianggap sebagai ketua suku para gajah itu. Karena itulah, demi mendengar teriakan ini, tidak menunggu lama lagi, kami langsung pergi dari areal penyedotan harta, menuju ke atas bukit. dari sini, kami bisa melihat keberadaan gajah-gajah yang sedang marah tersebut. Mereka menuju ke arah lokasi tempat penarikan.
Selang beberapa saat setelah kami rasa situasi sudah aman, kami melanjutkan proses penarikan. Proses penarikan ini tidak memakan waktu lama. Mungkin hanya sekitar setengah jam. Ya, kami sudah mendapatkan beberapa buah perhiasan.
Memang, menurut petunjuk dari gaib, di situlah lokasi dimana kami akan diberikan beberapa contoh perhiasan yang akan kami buat sebagai bukti keberadaan harta karun tersebut, sekaligus memastikan keasliannya.
Setelah selesai ritual, kami kembali melakukan doa keselamatan dan bersyukur ke hadirat Allah SWT, sebab kami telah selamat dan dilindungi dari pengaruh gaib selama proses transaksi, sampai dengan proses penarikan.
Besoknya, siang tepat pukul 13.40 WIB, kami kembali ke tempat peristirahatan untuk melakukan musyawarah dan menyusun rencana guna melakukan proses selanjutnya.
Setelah kami periksa semua barang, ternyata yang kami dapat adalah memang emas murni. Namun hingga tiba malam berikutnya, kami masih belum mendapat keputusan untuk menentuk langkah apa yang akan kami tempuh guna proses selanjutnya.
Sampai tiba waktunya, tepat pukul 12.00 malam, tanggal 14 Januari 2006, adik saya mendapat kontak batin kembali dari monyet putih mirip Hanoman, makhluk dedengkot penunggu Hutan Larangan. Dikatakan bahwa barang harus segera diangkat dari tempat itu sebelum masuk bulan purnama yang akan datang.
Malam itu juga, saya melakukan kontak batin melalui adik saya. Semua anggota terkejut bukan kepalang, dan langsung mengucapkan Istighfar mohon ampunan kepada Allah SWT. Dari kontak batin itu, penunggu Hutan Larangan mau menyerahkan semua harta karun yang ada disitu dengan satu syarat, yakni: kami harus mengorbankan salah satu dari anggota kami di lokasi keramat itu. Persisnya, sang gaib meminta agar kami membunuh Firman, sebutlah begitu, yang masih adik keponakan dari saya, dan harus melakukannya pada titik lokasi penyimpanan harta. Alasan gaib itu memintanya bukan tidak tanpa landasan, tapi karena memang kondisi Firman pada waktu itu sedang "Darah Manis", istilah untuk menyebutkan bahwa yang bersangkutan akan melangsungkan pernikahan seminggu kemudian.
Tentu saja kami menentang permohonan. Lebih baik tak mendapatkan segram emas pun daripada harus mengorbankan nyawa Firman yang sangat taat beribadah itu.
Demikianlah kisah yang saya lakoni sendiri. Kisah ini mungkin hanya sekelumit kesaksian dari mereka yang memiliki sifat tamak dan ketidakpuasan dari apa yang Allah berikan terhadap umatNya. Untuk itulah, semoga kita bisa memetik hikmah dari ini. Semoga kita tidak tergoda untuk melakukan langkah sesat yang dimurkai Tuhan.
BAYIKU DIPELIHARA MAKHLUK HALUS
Penulis : BAMBANG HARYANTO
Kisah mistis ini adalah kisah nyata, kisah tentang seorang ibu rumah tangga yang sedang mengandung bayinya yang berusia sembilan bulan. Namun di saat kelahiran sang jabang bayi, tiba-tiba bayinya menghilang begitu saja seolah-olah ada makhluk gaib yang mengambilnya. Anehnya, bayi yang menghilang tersebut kembali ke rahim ibunya sepuluh tahun kemudian....
Mustahil dan tak masuk di akal memang. Namun kisah mistis ini benar-benar terjadi di daerah Bekasi, Jawa Barat. Dan cerita ini pun tak diberitakan di media massa manapun. Hanya kerabat dan sahabat dekat yang mengetahuinya, dan salah satu keluarganya ialah teman dekat dari penulis sendiri. Dalam penulisan nama-nama, sengaja disamarkan oleh penulis. Berikut ini kisah mistis lengkapnya...:
Akhirnya, cita-cita untuk membentuk keluarga yang bahagia tercapai sudah dengan dikandungnya janin yang ada dalam kandungan sang isteri. Sungguh ini suatu kebahagiaan yang teramat besar bagi Hendra, pria yang selama ini begitu merindukan kehadiran seorang anak.
"Jaga kandunganmu, Mah! Jangan kerja yang berat-berat. Biar Bibi Arum yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Apalagi mengingat usia kandungamu mendekati sembilan bulan," pesan Hendra, sang suami, dengan penuh kasih sayang.
"Tentu, saranmu pasti kuperhatikan, Mas!" Ujar Nengsih, penuh kemanjaan. Namun, wajah Nengish kemudian berubah muram. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa, Mah. Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu. Katakan saja. Aku tak akan marah," bujuk Hendra.
"Begini, semalam aku bermimpi aneh. Mimpi namun seperti nyata saja. Aku didatangi seorang kakek berjenggot dan berjubah putih, lalu dia mengatakan akan mengambil anak kita untuk sementara waktu. Hingga suatu saat nanti dia akan dikembalikan kembali. Aku takut, mimpi itu akan menjadi kenyataan, Mas!" Papar Nengsih dengan mimik yang berubah tegang.
"Nengsih, isteriku! Mimpi itu hanyalah bunga tidur. Tak usah kau pikirkan, sebab mana mungkin mimpi bisa menjadi kenyataan. Jangan sampai mimpi itu mengganggu pikiran dan kesehatanmu. Ingat, jaga baik-baik bayi dalam kandunganmu!"
"Tapi, Mas...!"
"Sudahlah! Tak usah kau pikirkan mimpi tersebut, lebih baik kita tidur dan istirahat. Bukankah besok pagi kita kan pergi ke Puskesmas untuk memeriksa kandunganmu!"
Nengsih pun terdiam, mengalah mengikuti anjuran Hendera sang suami.
Pagi harinya, sekitar pukul 05.00, Nengsih perlahan-lahan menggeliat bangun. Dia membuka mata sambil menahan rasa kantuk yang tersisa. Dipandangi suaminya yang masih terlelap tidur. Matanya berpaling keperutnya sendiri sambil memeganggi dengan kedua tangannya. Tiba-tiba dia terkejut setengah mati.
"Ah, tidak...tidak mungkin!" dia terpekik dengan air mata yang secepatnya menganak sungai. Apa yang terjadi?
Ketika itu Nengish melihat perutnya sudah kempes seperti layaknya orang yang tidak hamil. Itulah yang rupanya membuat Nengsih histeris.
Hendra yang mendengarkan teriakan isterinya spontan bangun. "Nengsih, ada apa?" Tanyanya dengan cemas.
"Mas, perutku tiba-tiba mengecil. Anak kita...anak kita menghilang, Mas!" geragap Nengsih dengan air mata yang telah menganak sungai.
Hendra menatap perut isterinya. Dia sendiri terbelalak heran, seakan tak percaya melihat apa yang terjadi dengan isterinya. Sambil menahan rasa bingung, dia bertanya kepada isterinya, "Nengsih mengapa ini terjadi?"
Pertanyaan yang bodoh, sebab sang isteri pun tak pernah tahu apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Entahlah, Mas. Aku tak tahu mengapa ini terjadi padaku. Sewaktu aku bangun aku memeriksa perutku dan kudapati perutku sudah mengecil seperti ini. Anehnya, aku tak merasakan sakit baik di perutku maupun di rahimku," jelas Nengsih sambil menahan tangisnya. "Mas, mungkinkah kakek itu yang mengambil anak kita?" tanyanya kemudian.
"Maksudmu? Kakek yang mana?" Hendra balik bertanya dengan heran.
"Kakek berjenggot dan bersorban putih yang kuceritakan semalam. Kakek yang selalu muncul dalam mimpiku itu," jawab Nengsih.
Hendra termangu antara percaya dan tidak. Akhirnya, mau tak mau dia harus mempercayai hal itu.
"Aku jadi takut, bingung, juga resah dan tak mempercayai ini semua. Tapi kuharap kita harus bersabar atas cobaan ini. Dan andaikata kakek itu yang mengambilnya, kuharap dia mau mengembalikan anak kita nanti," katanya, getir.
Akhirnya, mereka memberitahu keluarga yang letaknya memang saling berdekatan. Dan atas persetujuian keluarga, mereka pun mendatangi salah seorang Kyai terdekat. Sebutlah Kyai Abas. Menurut hasil teropong batin yang dilakukannya, anak mereka telah diambil secara gaib oleh salah seorang makhluk gaib penghuni salah satu gunung yang ada di Cirebon.
Pak Kyai tersebut menasehati agar mereka tak usah khawatir karena yang mengambil anak mereka adalah makhluk gaib dari golongan yang baik-baik. Anak tersebut akan dididik dan digembleng agar menjadi orang yang berguna dan mumpuni.
Setelah mendapat penjelasan dan nasehat dari sang Kyai mereka pulang dengan kegalauan yang sulit diobati.
***
10 TAHUN TELAH BERLALU
"Nengsih, tolong buatkan aku kopi. Gulanya sedikit saja!'
"Baik, Mas!"
Tak lama kemudian, Nengsih membawa secangkir kopi, lalu disuguhkan kepada Hendra, suaminya. Nengsih lalu duduk di samping Hendra dan berkata, "Sudah dua bulan ini aku tak datang bulan, Mas!"
Hendra pun memandang wajah isterinya. "Nengsih, coba kau katakan sekali lagi!" Hendra berkata seakan tak percaya dengan ucapan isterinya.
"Saya sudah dua bulan ini tak datang bulan, Mas!" Nengsih menegaskan.
"Berarti kamu hamil!" Ucap Hendra dengan nada gembira.
"Puji syukur kepada Tuhan. Akhirnya setelah sepuluh tahun kita menunggu sejak kehamilanmu yang hilang, tercapai juga cita-cita untuk memiliki anak."
"Saya juga merasa gembira, dan mensyukuri atas karunia Tuhan yang dilimpahkan kepada kita. Tapi, ada yang mengganjal hati saya, tentang kakek berjenggot itu. Mungkin Mas masih ingat sepuluh tahun yang lalu. Sewaktu saya hamil dan tiba-tiba anak kita yang masih dikandungan hilang secara gaib yang ternyata diambil oleh kakek itu.
Semalam dia mendatangi saya lagi melalui mimpi dan dia berkata, bahwa anak yang saya kandung, yang ada di perut ini sebenarnya adalah anak yang sepuluh tahun lalu diambilnya. Dan selama sepuluh tahun dia mengajarinya dengan ilmu lahir batin. Kakek itu juga mengatakan anak kita dididik di salah satu gunung yang ada di Cirebon," jelas Nengish panjang lebar.
Wanita kuning langsat itu melanjutkan, "Apa mungkin anak yang aku kandung saat ini adalah anak kita yang terdahulu, yang selama sepuluh tahun menghilang. Ya, dalam mimpiku, kakek berjenggot tersebut mengatakan agar kita tak usah bingung dengan fenomena gaib ini. Karena semua itu bisa saja terjadi atas kehendak Allah. Dia juga berpesan, agar anak ini dirawat dengan baik-baik."
Hendra tertunduk, seakan mengingat kembali kejadian sepuluh tahun yang lalu.
"Ah, sudahlah. Apapun yang terjadi, kita harus bersyukur dan kita harus merawat anak kita dengan baik agar menjadi anak yang shaleh!" katanya, mencoba menutupi kegusaran hatinya.
Sembilan bulan pun telah berlalu. Kemudian lahirlah anak dari pasangan Hendra dan Nengsih. Mereka pun tentu sangat berbahagia. Memang aneh, semenjak kelahiran anak itu, ternyata nasib mereka berubah. Kehidupan mereka jauh lebih baik. Anak itu seolah selalu membawa keberuntungan bagi orangtuanya.
Kehidupan mereka semakin membaik dan membawa berkah. Anak itu mereka namai Sukmajaya. Kelak anak itu dimasa yang akan datang akan menjadi orang yang mumpuni sebagaimana yang dikatakan kakek berjenggot putih yang berasal dari puncak Gunung Cirebon.
**Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang diceritakan oleh paman Sukmajaya sendiri yaitu Pak Tarsum.
Kisah mistis ini adalah kisah nyata, kisah tentang seorang ibu rumah tangga yang sedang mengandung bayinya yang berusia sembilan bulan. Namun di saat kelahiran sang jabang bayi, tiba-tiba bayinya menghilang begitu saja seolah-olah ada makhluk gaib yang mengambilnya. Anehnya, bayi yang menghilang tersebut kembali ke rahim ibunya sepuluh tahun kemudian....
Mustahil dan tak masuk di akal memang. Namun kisah mistis ini benar-benar terjadi di daerah Bekasi, Jawa Barat. Dan cerita ini pun tak diberitakan di media massa manapun. Hanya kerabat dan sahabat dekat yang mengetahuinya, dan salah satu keluarganya ialah teman dekat dari penulis sendiri. Dalam penulisan nama-nama, sengaja disamarkan oleh penulis. Berikut ini kisah mistis lengkapnya...:
Akhirnya, cita-cita untuk membentuk keluarga yang bahagia tercapai sudah dengan dikandungnya janin yang ada dalam kandungan sang isteri. Sungguh ini suatu kebahagiaan yang teramat besar bagi Hendra, pria yang selama ini begitu merindukan kehadiran seorang anak.
"Jaga kandunganmu, Mah! Jangan kerja yang berat-berat. Biar Bibi Arum yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Apalagi mengingat usia kandungamu mendekati sembilan bulan," pesan Hendra, sang suami, dengan penuh kasih sayang.
"Tentu, saranmu pasti kuperhatikan, Mas!" Ujar Nengsih, penuh kemanjaan. Namun, wajah Nengish kemudian berubah muram. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa, Mah. Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu. Katakan saja. Aku tak akan marah," bujuk Hendra.
"Begini, semalam aku bermimpi aneh. Mimpi namun seperti nyata saja. Aku didatangi seorang kakek berjenggot dan berjubah putih, lalu dia mengatakan akan mengambil anak kita untuk sementara waktu. Hingga suatu saat nanti dia akan dikembalikan kembali. Aku takut, mimpi itu akan menjadi kenyataan, Mas!" Papar Nengsih dengan mimik yang berubah tegang.
"Nengsih, isteriku! Mimpi itu hanyalah bunga tidur. Tak usah kau pikirkan, sebab mana mungkin mimpi bisa menjadi kenyataan. Jangan sampai mimpi itu mengganggu pikiran dan kesehatanmu. Ingat, jaga baik-baik bayi dalam kandunganmu!"
"Tapi, Mas...!"
"Sudahlah! Tak usah kau pikirkan mimpi tersebut, lebih baik kita tidur dan istirahat. Bukankah besok pagi kita kan pergi ke Puskesmas untuk memeriksa kandunganmu!"
Nengsih pun terdiam, mengalah mengikuti anjuran Hendera sang suami.
Pagi harinya, sekitar pukul 05.00, Nengsih perlahan-lahan menggeliat bangun. Dia membuka mata sambil menahan rasa kantuk yang tersisa. Dipandangi suaminya yang masih terlelap tidur. Matanya berpaling keperutnya sendiri sambil memeganggi dengan kedua tangannya. Tiba-tiba dia terkejut setengah mati.
"Ah, tidak...tidak mungkin!" dia terpekik dengan air mata yang secepatnya menganak sungai. Apa yang terjadi?
Ketika itu Nengish melihat perutnya sudah kempes seperti layaknya orang yang tidak hamil. Itulah yang rupanya membuat Nengsih histeris.
Hendra yang mendengarkan teriakan isterinya spontan bangun. "Nengsih, ada apa?" Tanyanya dengan cemas.
"Mas, perutku tiba-tiba mengecil. Anak kita...anak kita menghilang, Mas!" geragap Nengsih dengan air mata yang telah menganak sungai.
Hendra menatap perut isterinya. Dia sendiri terbelalak heran, seakan tak percaya melihat apa yang terjadi dengan isterinya. Sambil menahan rasa bingung, dia bertanya kepada isterinya, "Nengsih mengapa ini terjadi?"
Pertanyaan yang bodoh, sebab sang isteri pun tak pernah tahu apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Entahlah, Mas. Aku tak tahu mengapa ini terjadi padaku. Sewaktu aku bangun aku memeriksa perutku dan kudapati perutku sudah mengecil seperti ini. Anehnya, aku tak merasakan sakit baik di perutku maupun di rahimku," jelas Nengsih sambil menahan tangisnya. "Mas, mungkinkah kakek itu yang mengambil anak kita?" tanyanya kemudian.
"Maksudmu? Kakek yang mana?" Hendra balik bertanya dengan heran.
"Kakek berjenggot dan bersorban putih yang kuceritakan semalam. Kakek yang selalu muncul dalam mimpiku itu," jawab Nengsih.
Hendra termangu antara percaya dan tidak. Akhirnya, mau tak mau dia harus mempercayai hal itu.
"Aku jadi takut, bingung, juga resah dan tak mempercayai ini semua. Tapi kuharap kita harus bersabar atas cobaan ini. Dan andaikata kakek itu yang mengambilnya, kuharap dia mau mengembalikan anak kita nanti," katanya, getir.
Akhirnya, mereka memberitahu keluarga yang letaknya memang saling berdekatan. Dan atas persetujuian keluarga, mereka pun mendatangi salah seorang Kyai terdekat. Sebutlah Kyai Abas. Menurut hasil teropong batin yang dilakukannya, anak mereka telah diambil secara gaib oleh salah seorang makhluk gaib penghuni salah satu gunung yang ada di Cirebon.
Pak Kyai tersebut menasehati agar mereka tak usah khawatir karena yang mengambil anak mereka adalah makhluk gaib dari golongan yang baik-baik. Anak tersebut akan dididik dan digembleng agar menjadi orang yang berguna dan mumpuni.
Setelah mendapat penjelasan dan nasehat dari sang Kyai mereka pulang dengan kegalauan yang sulit diobati.
***
10 TAHUN TELAH BERLALU
"Nengsih, tolong buatkan aku kopi. Gulanya sedikit saja!'
"Baik, Mas!"
Tak lama kemudian, Nengsih membawa secangkir kopi, lalu disuguhkan kepada Hendra, suaminya. Nengsih lalu duduk di samping Hendra dan berkata, "Sudah dua bulan ini aku tak datang bulan, Mas!"
Hendra pun memandang wajah isterinya. "Nengsih, coba kau katakan sekali lagi!" Hendra berkata seakan tak percaya dengan ucapan isterinya.
"Saya sudah dua bulan ini tak datang bulan, Mas!" Nengsih menegaskan.
"Berarti kamu hamil!" Ucap Hendra dengan nada gembira.
"Puji syukur kepada Tuhan. Akhirnya setelah sepuluh tahun kita menunggu sejak kehamilanmu yang hilang, tercapai juga cita-cita untuk memiliki anak."
"Saya juga merasa gembira, dan mensyukuri atas karunia Tuhan yang dilimpahkan kepada kita. Tapi, ada yang mengganjal hati saya, tentang kakek berjenggot itu. Mungkin Mas masih ingat sepuluh tahun yang lalu. Sewaktu saya hamil dan tiba-tiba anak kita yang masih dikandungan hilang secara gaib yang ternyata diambil oleh kakek itu.
Semalam dia mendatangi saya lagi melalui mimpi dan dia berkata, bahwa anak yang saya kandung, yang ada di perut ini sebenarnya adalah anak yang sepuluh tahun lalu diambilnya. Dan selama sepuluh tahun dia mengajarinya dengan ilmu lahir batin. Kakek itu juga mengatakan anak kita dididik di salah satu gunung yang ada di Cirebon," jelas Nengish panjang lebar.
Wanita kuning langsat itu melanjutkan, "Apa mungkin anak yang aku kandung saat ini adalah anak kita yang terdahulu, yang selama sepuluh tahun menghilang. Ya, dalam mimpiku, kakek berjenggot tersebut mengatakan agar kita tak usah bingung dengan fenomena gaib ini. Karena semua itu bisa saja terjadi atas kehendak Allah. Dia juga berpesan, agar anak ini dirawat dengan baik-baik."
Hendra tertunduk, seakan mengingat kembali kejadian sepuluh tahun yang lalu.
"Ah, sudahlah. Apapun yang terjadi, kita harus bersyukur dan kita harus merawat anak kita dengan baik agar menjadi anak yang shaleh!" katanya, mencoba menutupi kegusaran hatinya.
Sembilan bulan pun telah berlalu. Kemudian lahirlah anak dari pasangan Hendra dan Nengsih. Mereka pun tentu sangat berbahagia. Memang aneh, semenjak kelahiran anak itu, ternyata nasib mereka berubah. Kehidupan mereka jauh lebih baik. Anak itu seolah selalu membawa keberuntungan bagi orangtuanya.
Kehidupan mereka semakin membaik dan membawa berkah. Anak itu mereka namai Sukmajaya. Kelak anak itu dimasa yang akan datang akan menjadi orang yang mumpuni sebagaimana yang dikatakan kakek berjenggot putih yang berasal dari puncak Gunung Cirebon.
**Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang diceritakan oleh paman Sukmajaya sendiri yaitu Pak Tarsum.
AZAB DAN SIKSA UNTUK SEORANG PEMBUNUH (Misteri Kuburan yang Terbakar)
Penulis : TRIA B. SANTOSO
Kisah mistis ini merupakan kisah nyata yang terjadi beberapa puluh tahun silam di sebuah desa pinggiran di wilayah Pantai Utara Banten. Untuk menghormati para pelaku peristiwa, kami sengaja telah menyamarkan mereka....
Hampir setahun ini Yudhis, sahabatku hanya mampu berbaring menyedihkan di tempat tidur. Sisa hidupnya sepertinya hanya akan dia habiskan dengan erangan kesakitan yang keluar dari mulutnya yang pencong, dan penuh luka menjijikan. Bahkan luka iyu juga menjalar di sekujur tubuhnya.
Bau anyir sangat menjijikkan menebar ke seluruh ruangan kamar tidur Yudhis. Dia hanya berteman kepedihan serta penderitaan yang seperti tak berujung.
Nyaris tak ada yang sudi mendekati Yudhis, kecuali hanya aku yang sesekali datang membawakan makanan dan minuman untuknya. Selebihnya, aku sendiri sangat jijik mendekatinya.
"Kau taruh saja makanan itu di depan pintu kamarku, Ilham! Biar nanti aku sendiri yang mengambilnya," kata Yudhis suatu ketika. Sepertinya dia pun sadar bahwa aku hanya berpura-pura tidak jijik melihat keadaannya.
Hidup sendiri penuh siksaan lahir bathin membuat Yudhis hanya bisa meratap dan menyesali nasibnya. Mungkin dia sadar penyebab semua ini, tapi mungkin juga tidak.
Aneh, kian hari tubuhnya dipenuhi koreng bernanah yang tak henti-hentinya merembeskan darah seperti keringat. Tentu saja sakit dan amat perih tiada terkira.
Isteri yang dia harapkan akan mampu mengurus penderitaannya telah berpulang mendahuluinya. Begitu juga anak. Dari ketiga kelahiran bayinya, tak seorangpun diberi umur panjang lebih dari setahun. Mungkin ini hukum karma. Hanya para tetangga yang iba saja yang selama ini membantunya. Itupun kalau dia sudah berteriak-teriak meminta tolong baru ada yang menyambanginya.
"Aku ingin mati, Ilham! Tapi mengapa Tuha tak juga mencabut nyawaku?" sesal Yudhis dengan tubuh gemetar menahan sakit yang terus menurus.
"Sabarlah, Yud! Tuhan tidak akan memberikan cobaan melibihi kekuatan yang kita miliki," hiburku.
Dengan sengit dia membalasnya, "Sudah ribuan kali aku mendengar kata-kata itu. Tapi coba kau lihat sendiri bagaimana keadaanku? Penyakit keparat ini tak pernah berhenti menyiksaku."
Aku hanya terdiam, merasakan betapa hancurnya perasaan sahabat yang kukenal beberapa puluh tahun silam itu.
Memang, sudah tak terhitung uang yang Yudhis keluarkan untuk mengobati sakitnya. Dia telah berobat mulai dari dokter sampai orang pintar, yang tak terhitung jumlahnya, hingga meludeskan semua harta bendanya. Menurut analis medis, Yudhistira menderita sakit gula yang sudah sangat parah hingga dokterpun angkat tangan. Paranormalpun geleng-geleng kepala, tak sanggup mengobatinya.
Tidak sampai disitu saja penderitaannya. Lewat teriakan keras, mulutnya menganga lebar dan mata melotot seolah ingin loncat dari kelopaknya. Seketika itu nyawa Yudhistira lepas seperti menahan sakit yang amat sangat. Aku tak kuasa menahan tangis melihat proses kematiannya yang sangat tragis itu. Tapi, itulah pilihan yang diinginkan oleh Yudhis. Dia telah pasrah melawan sakitnya, dan dia ingin segera mati.
Tapi, penderitaan Yudhis rupanya belum lagi sirna. Saat jenazahnya akan dimakamkan terjadi peristiwa yang sangat heboh. Hari itu, ketika jasad Yudhistira yang amis terbungkus kain kafan akan diturunkan ke liang lahat, entah kenapa tiba-tiba tubuh kaku itu seperti sangat berat ratusan kilo, sehingga menimpa dua orang di bawahnya. Begitu pula yang di atas ikut terjerembab ke lubang kubur yang sempit. Oleh karena itu akhirnya jasad Yudhis terinjak-injak oleh para penguburnya sendiri.
Aneh, padahal tubuh Yudhis kurus kering tinggal kulit pembalut tulang. Tak satupun para pengubur dan pelayat mengetahui penyebab apa yang terjadi dengan jasad itu. Setahu mereka, semasa hidup dan sebelum penyakit terkutuk itu menyiksanya Yudhistira adalah orang yang baik dan pemurah.
Tujuh hari setelah kematian Yudhistira yang menyedihkan itu, secara tak sengaja Ibu Hanna, tetanggaku melihat keanehan di sekitar makam Yudhistira yang kebetulan terletak di pinggir areal makam dekat jalan umum yang banyak di lalaui orang. Sebagai penjual kue basah, Ibu Hanna setiap hari memang melewati jalan itu. Berangkat subuh pulang siang dari pasar di kota Kecamatan. Ini dia lakukan demi membantu ekonomi keluarga karena sang suami hanya sebagai buruh tani yang tak tentu penghasilannya.
Pagi menjelang siang itu Ibu Hanna pulang sendiri dari pasar karena dagangannya paling duluan habis terjual dibanding sesama penjual lainnya. Namun, ketika sampai di sebarang TPU, Ibu Hanna berhenti sejenak mengamati sekitar makam Yudhistira yang nampak aneh.
Entah mengapa, pohon-pohon di sekitar makam itu nampak layu dan mati. Bahkan dua pohon Kamboja cukup besar di samping makam seperti layu dan sebagian daunnya jatuh berguguran, kering.
"Aneh, kenapa pohon-pohon di sekitar makam itu mati kering?" batin Ibu Hanna. Dia menjadi takut dan segera berlalu pulang. Sesampai di rumah Ibu Hanna mengadukan hal ini kepada suaminya, Pak Darto.
"Pak, aku heran kenapa pohon-pohon di dekat makan Pak Yudhis itu pada mati. Sekarang kan musin hujan, di tempat lain tak apa-apa," kata Ibu Hanna.
"Itukan wajar saja, tak perlu dipikirkan. Ya, mungkin maunya pohon itu mati, seperti juga si Yudhistira itu. Semua yang ada di dunia ini kan pasti mati, Bu!" jawab Pak darto, sekenanya.
***
Setelah melihat keganjilan itu, Ibu Hanna kerap kali mengalami mimpi yang sangat aneh. Beginilah cerita dalam mimpi yang berkali-kali hadir dalam tidurnya itu....
Pagi buta itu dia baru saja pulang dari pasar. Ketika lewat di dekat pemakanan, wanita yang agak tambun ini berlari sekuat tenaga di tengah hujan badai dan guntur menakutkan. Beberapa kali dia terjatuh. Dia juga menjerit-jerit meminta tolong karena dikejar mahluk-mahluk kecil seperti bocah dengan tampang beringas dan membawa cambuk yang terbuat dari api yang membara. Mahluk-mahluk kecil berjumlah belasan itu seolah menjadikan Ibu Hanna sebagai buruannya.
Aneh, ketika berlari tiba-tiba Ibu Hanna melihat sebuah pohon aneh yang akarnya berada di atas, sedang daunya di bawah. Setengah putus asa Bu Hanna berlindung di balik tembok pagar pemakaman itu. Aneh, dia melihat makhluk-makhluk kecil itu beramai-ramai menyerang pohon terbalik dengan cemetinya. Api dari cemeti-cemeti itu membakar hingga daun-daun pohon terbalik itu hancur menjadi api.
Bu Hanna tak menghiraukan keadaan dirinya. Namun yang membuatnya ngeri yaitu ternyata bocah-bocah aneh itu tak mengeroyok dirinya, melainkan pohon terbalik itu.
Anehnya laig, ternyata pohon itu menjerit-jerit menahan sakit dan memohon ampun seolah hidup seperti manusia. Sebagian daun itu mulai hancur menjadi api. Sedangkan batangnya berlumuran darah. Yang lebih mengejutkan lagi, suara jeritan itu seperti sudah dikenal Ibu Hanna. Ya, itu suara erangan tetangganya, Yudhistira.
Menyadari hal itu, Ibu Hanna ikut menjerit-jerit. Dia baru sadar ketika sebuah tepukan di pipinya mendarat yang tak lain tamparan suaminya. Ibu Hanna terbangun dengan nafas terengah-engah dan peluh membasahi badannya....
Begitulah mimipi aneh yang dialami oleh Bu Hanna selama beberapa malam. Dia menceritakan semua keanehan yang dialaminya itu padaku. Untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, aku mengajak Ibu Hanna ke rumah Kyai Kodir, tokoh tertua di desaku sekaligus ulama yang tempo hari memimpin penguburan Yudhistira.
"Saya cuma mau tanya, sebenarnya ada apa dengan makam Yudhistira, juga mimpi saya itu, Pak Kyai?" kata Ibu Hanna setelah menceritakan semua yang dialaminya itu.
"Dosa apa sebenarnya yang ditanggung Yudhistra hingga keadaannya seperti itu, Pak Kyai?" imbuhku.
Kyai Kodir hanya tersenyum kecil. Namun wajahnya menampakkan kegelisahan.
"Soal dosa, itu urusan Allah dan umatnya itu sendiri. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Yudhistira. Soal pohon-pohon yang mati itu...aku juga sudah dengar. Ya sudah, kau pulang saja dulu. Jangan dipikirkan. Yang penting, rajin sholat dan bacalah wiridan yang aku berikan padamu!" jawab Kyai Kodir, bijak.
Ibu Hanna pulang lebih dulu, sedang aku tetap bertahan di rumah Kyai Kodir. Sepulang Ibu Hanna, Kyai Kodir tak urung gelisah juga. Rupanya, tanpa sepengetahuan siapapun dia sendiri tiga malam berturut-turut didatangi arwah Yudhistira yang nampak tersiksa minta agar kematiannya disempurnakan. Anehnya lagi dalam pertemuan di alam maya itu Kyai Kodir juga melihat wajah seorang perempuan yang tak dikenalnya. Maka diam-diam pula dia mulai menyelidiki dan berdzikir memohon petunjukNya. Dia ingin mengetahui ada apa dengan mendiang Yudhistira.
Seminggu berlalu, ternyata petunjuk Allah itupun datang. Tanpa disangka rumah Kyai Kodir kedatangan tiga orang tamu yaitu Pak Barnas, Ketua RW di kampungku, dan seorang perempuan setengah baya berdandan agak menor ditemani seorang anak berusia sembilan tahunan. Yang membuat Kyai Kodir sekaligus aku yang juga hadir di sana terkejut, perempuan menor itu menurut pengakuan Kyai Kodir ternyata raut wajahnya sama dengan yang hadir dalam mimpi yang dialami sang Kyai selama beberapa malam.
Ya, perempuan itu mengaku sebagai isteri muda Yudhistira. Dia menyebut namanya Lisa. Sebelumnya, Lisa datang ke rumah Pak Barnas selaku RW dengan tujuan ingin memastikan berita kematian Yudhistira, sekaligus mengurus prihal hak waris atas tanah mendiang Yudhistira. Menurt Lisa, anak kecil yang bersamanya itu adalah anak almarhum.
"Lalu...kenapa Pak Barnas datang ke tempatku. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Kyai Kodir.
"Maaf, Pak Kyai. Kedatangan saya ini sebenarnya hanya ingin tahu silsilah Yudhistira, mengingat Pak Kyai adalah orang tertua di desa ini. Barangkali Pak Kyai mengetahui siapa sebenarnya pemilik warisan yang sah atas rumah dan tanah mendiang itu," ujar Pak Barnas. Sebidang tanah seluas sekitar 300 meter persegi yang di atasnya berdiri sebuah rumah kecil permanen memang satu-satunya harta peninggalan Yudhistira.
Kyai Kodir geleng-geleng kepala. "Akupun tak tahu keluarga Yudhistira sebenarnya. Yang saya tahu dia menetap di desa ini sudah puluhan tahun dan memiliki isteri tanpa anak. Itu saja keluarganya, dan sekarang aku tak tahu lagi keluarganya yang lain."
"Barang kali Mbak Lisa ini mengetahuinya?" tanyaku, coba menjernihkan suasana.
Yang ditanya justru menangis pilu, hingga membingungkan kami semua. Lalu dengan sesenggukan Lisa bercerita panjang lebar mengenai Yudhistira.
"Alarhum sesungguhnya punya dua isteri sah. Yang satu tinggal di desa ini dan yang satu adalah di Lampung. Yang di Lampung itu adalah saya sendiri. Saya awal mulanya hanyalah seorang pelacur langganan Mas Yudhis. Ketika saya diajak hidup serumah saya menurut dengan harapan dia mau mengawini saya. Dan ternyata dia menyanggupinya, bahkan berjanji akan menceraikan isterinya dan memberikan harta warisan kepada saya. Sebab saat itu saya sudah mengandung anak ini."
Lisa mengelus-elus kepala bocah di sampingnya. Lalu ia kembali melanjutkan ceritanya, "Setelah kandungan saya berumur lima bulan, saya baru tahu pekerjaan Mas Yudhis yang sebenarnya, hingga membuat saya diam-diam justru menjauhinya karena takut kualat. Ternyata almarhum itu bisa hidup enak dari....dari...membunuh banyak orang. Ya, dia adalah seorang pembunuh bayaran."
Cerita Lisa benar-benar menyentakkan kami. Sungguh sulit bagi kami untuk mrempercayainya.
Ketika kami berada dalam kebingungan, perempuan itu kembali melanjutkan kisahnya....
"Mas Yudhis itu sering menerima pesanan membunuh orang. Biasanya itu pesanan cukong-cukong kaya dari kota yang kebetulan mempunyai musuh. Menurut pengakuan almarhum, dia sudah dua belas kali membunuh, bahkan ada yang dipenggal dan diambil kepalanya. Begitu saya tahu siapa sebenarnya Almarhum, saya berusaha menghindar dan bersembunyi. Sejak itu, saya tak tahu lagi kabar Mas Yudhis hingga lahir anak saya ini. Begitu saya dengar dia sudah meninggal, saya baru berani kelaur dan bermaksud menagih ucapannya dulu. Tapi...tapi saya tak tahu siapa kini yang harus saya tagih. Saya sudah berhenti jadi pelacur dan ingin hidup layak dengan anak saya yang juga anak Mas Yudhis ini. Sebab kami sudah tak punya apa-apa lagi."
Aku, Kyai Kodir dan Pak Barnas kembali tercengang mendengar cerita perempuan bernama Lisa itu. Kami seolah tak percaya akan ucapannya. Kami juga hampir tak percaya dengan kebejatan mendiang Yudhistira. Namun aku sadar kalau selama ini mendiang memang penuh rahasia. Misalkan saja dia sering pergi meninggalkan rumah untuk waktu yang lama, lalu ketika datang selalu membawa penghasilan dalam jumlah besar.
"Setahu saya almarhum juga memiliki jimat yang tak mempan dibacok atau ditembak. Jimat itu katanya sudah dipendam di dalam rumahnya saat dia sakit parah," cetusku.
Kini terbukalah misteri Yudhistra. Dia ternyata menyimpan riwayat kelam yang hanya pantas dilakukan oleh Iblis. Dan kini terkuaklah apa yang sedang dijalani Yudhistira di alam kuburnya. Mungkin di sana dia sedang meraung-raung menerima siksa kubur yang amat pedih hingga keadaan sekitar makamnya pun nampak seperti terbakar oleh bias panasnya api alam kubur....belum lagi pertanggungjawabannya di hari kiamat kelak.
Kisah mistis ini merupakan kisah nyata yang terjadi beberapa puluh tahun silam di sebuah desa pinggiran di wilayah Pantai Utara Banten. Untuk menghormati para pelaku peristiwa, kami sengaja telah menyamarkan mereka....
Hampir setahun ini Yudhis, sahabatku hanya mampu berbaring menyedihkan di tempat tidur. Sisa hidupnya sepertinya hanya akan dia habiskan dengan erangan kesakitan yang keluar dari mulutnya yang pencong, dan penuh luka menjijikan. Bahkan luka iyu juga menjalar di sekujur tubuhnya.
Bau anyir sangat menjijikkan menebar ke seluruh ruangan kamar tidur Yudhis. Dia hanya berteman kepedihan serta penderitaan yang seperti tak berujung.
Nyaris tak ada yang sudi mendekati Yudhis, kecuali hanya aku yang sesekali datang membawakan makanan dan minuman untuknya. Selebihnya, aku sendiri sangat jijik mendekatinya.
"Kau taruh saja makanan itu di depan pintu kamarku, Ilham! Biar nanti aku sendiri yang mengambilnya," kata Yudhis suatu ketika. Sepertinya dia pun sadar bahwa aku hanya berpura-pura tidak jijik melihat keadaannya.
Hidup sendiri penuh siksaan lahir bathin membuat Yudhis hanya bisa meratap dan menyesali nasibnya. Mungkin dia sadar penyebab semua ini, tapi mungkin juga tidak.
Aneh, kian hari tubuhnya dipenuhi koreng bernanah yang tak henti-hentinya merembeskan darah seperti keringat. Tentu saja sakit dan amat perih tiada terkira.
Isteri yang dia harapkan akan mampu mengurus penderitaannya telah berpulang mendahuluinya. Begitu juga anak. Dari ketiga kelahiran bayinya, tak seorangpun diberi umur panjang lebih dari setahun. Mungkin ini hukum karma. Hanya para tetangga yang iba saja yang selama ini membantunya. Itupun kalau dia sudah berteriak-teriak meminta tolong baru ada yang menyambanginya.
"Aku ingin mati, Ilham! Tapi mengapa Tuha tak juga mencabut nyawaku?" sesal Yudhis dengan tubuh gemetar menahan sakit yang terus menurus.
"Sabarlah, Yud! Tuhan tidak akan memberikan cobaan melibihi kekuatan yang kita miliki," hiburku.
Dengan sengit dia membalasnya, "Sudah ribuan kali aku mendengar kata-kata itu. Tapi coba kau lihat sendiri bagaimana keadaanku? Penyakit keparat ini tak pernah berhenti menyiksaku."
Aku hanya terdiam, merasakan betapa hancurnya perasaan sahabat yang kukenal beberapa puluh tahun silam itu.
Memang, sudah tak terhitung uang yang Yudhis keluarkan untuk mengobati sakitnya. Dia telah berobat mulai dari dokter sampai orang pintar, yang tak terhitung jumlahnya, hingga meludeskan semua harta bendanya. Menurut analis medis, Yudhistira menderita sakit gula yang sudah sangat parah hingga dokterpun angkat tangan. Paranormalpun geleng-geleng kepala, tak sanggup mengobatinya.
Tidak sampai disitu saja penderitaannya. Lewat teriakan keras, mulutnya menganga lebar dan mata melotot seolah ingin loncat dari kelopaknya. Seketika itu nyawa Yudhistira lepas seperti menahan sakit yang amat sangat. Aku tak kuasa menahan tangis melihat proses kematiannya yang sangat tragis itu. Tapi, itulah pilihan yang diinginkan oleh Yudhis. Dia telah pasrah melawan sakitnya, dan dia ingin segera mati.
Tapi, penderitaan Yudhis rupanya belum lagi sirna. Saat jenazahnya akan dimakamkan terjadi peristiwa yang sangat heboh. Hari itu, ketika jasad Yudhistira yang amis terbungkus kain kafan akan diturunkan ke liang lahat, entah kenapa tiba-tiba tubuh kaku itu seperti sangat berat ratusan kilo, sehingga menimpa dua orang di bawahnya. Begitu pula yang di atas ikut terjerembab ke lubang kubur yang sempit. Oleh karena itu akhirnya jasad Yudhis terinjak-injak oleh para penguburnya sendiri.
Aneh, padahal tubuh Yudhis kurus kering tinggal kulit pembalut tulang. Tak satupun para pengubur dan pelayat mengetahui penyebab apa yang terjadi dengan jasad itu. Setahu mereka, semasa hidup dan sebelum penyakit terkutuk itu menyiksanya Yudhistira adalah orang yang baik dan pemurah.
Tujuh hari setelah kematian Yudhistira yang menyedihkan itu, secara tak sengaja Ibu Hanna, tetanggaku melihat keanehan di sekitar makam Yudhistira yang kebetulan terletak di pinggir areal makam dekat jalan umum yang banyak di lalaui orang. Sebagai penjual kue basah, Ibu Hanna setiap hari memang melewati jalan itu. Berangkat subuh pulang siang dari pasar di kota Kecamatan. Ini dia lakukan demi membantu ekonomi keluarga karena sang suami hanya sebagai buruh tani yang tak tentu penghasilannya.
Pagi menjelang siang itu Ibu Hanna pulang sendiri dari pasar karena dagangannya paling duluan habis terjual dibanding sesama penjual lainnya. Namun, ketika sampai di sebarang TPU, Ibu Hanna berhenti sejenak mengamati sekitar makam Yudhistira yang nampak aneh.
Entah mengapa, pohon-pohon di sekitar makam itu nampak layu dan mati. Bahkan dua pohon Kamboja cukup besar di samping makam seperti layu dan sebagian daunnya jatuh berguguran, kering.
"Aneh, kenapa pohon-pohon di sekitar makam itu mati kering?" batin Ibu Hanna. Dia menjadi takut dan segera berlalu pulang. Sesampai di rumah Ibu Hanna mengadukan hal ini kepada suaminya, Pak Darto.
"Pak, aku heran kenapa pohon-pohon di dekat makan Pak Yudhis itu pada mati. Sekarang kan musin hujan, di tempat lain tak apa-apa," kata Ibu Hanna.
"Itukan wajar saja, tak perlu dipikirkan. Ya, mungkin maunya pohon itu mati, seperti juga si Yudhistira itu. Semua yang ada di dunia ini kan pasti mati, Bu!" jawab Pak darto, sekenanya.
***
Setelah melihat keganjilan itu, Ibu Hanna kerap kali mengalami mimpi yang sangat aneh. Beginilah cerita dalam mimpi yang berkali-kali hadir dalam tidurnya itu....
Pagi buta itu dia baru saja pulang dari pasar. Ketika lewat di dekat pemakanan, wanita yang agak tambun ini berlari sekuat tenaga di tengah hujan badai dan guntur menakutkan. Beberapa kali dia terjatuh. Dia juga menjerit-jerit meminta tolong karena dikejar mahluk-mahluk kecil seperti bocah dengan tampang beringas dan membawa cambuk yang terbuat dari api yang membara. Mahluk-mahluk kecil berjumlah belasan itu seolah menjadikan Ibu Hanna sebagai buruannya.
Aneh, ketika berlari tiba-tiba Ibu Hanna melihat sebuah pohon aneh yang akarnya berada di atas, sedang daunya di bawah. Setengah putus asa Bu Hanna berlindung di balik tembok pagar pemakaman itu. Aneh, dia melihat makhluk-makhluk kecil itu beramai-ramai menyerang pohon terbalik dengan cemetinya. Api dari cemeti-cemeti itu membakar hingga daun-daun pohon terbalik itu hancur menjadi api.
Bu Hanna tak menghiraukan keadaan dirinya. Namun yang membuatnya ngeri yaitu ternyata bocah-bocah aneh itu tak mengeroyok dirinya, melainkan pohon terbalik itu.
Anehnya laig, ternyata pohon itu menjerit-jerit menahan sakit dan memohon ampun seolah hidup seperti manusia. Sebagian daun itu mulai hancur menjadi api. Sedangkan batangnya berlumuran darah. Yang lebih mengejutkan lagi, suara jeritan itu seperti sudah dikenal Ibu Hanna. Ya, itu suara erangan tetangganya, Yudhistira.
Menyadari hal itu, Ibu Hanna ikut menjerit-jerit. Dia baru sadar ketika sebuah tepukan di pipinya mendarat yang tak lain tamparan suaminya. Ibu Hanna terbangun dengan nafas terengah-engah dan peluh membasahi badannya....
Begitulah mimipi aneh yang dialami oleh Bu Hanna selama beberapa malam. Dia menceritakan semua keanehan yang dialaminya itu padaku. Untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, aku mengajak Ibu Hanna ke rumah Kyai Kodir, tokoh tertua di desaku sekaligus ulama yang tempo hari memimpin penguburan Yudhistira.
"Saya cuma mau tanya, sebenarnya ada apa dengan makam Yudhistira, juga mimpi saya itu, Pak Kyai?" kata Ibu Hanna setelah menceritakan semua yang dialaminya itu.
"Dosa apa sebenarnya yang ditanggung Yudhistra hingga keadaannya seperti itu, Pak Kyai?" imbuhku.
Kyai Kodir hanya tersenyum kecil. Namun wajahnya menampakkan kegelisahan.
"Soal dosa, itu urusan Allah dan umatnya itu sendiri. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Yudhistira. Soal pohon-pohon yang mati itu...aku juga sudah dengar. Ya sudah, kau pulang saja dulu. Jangan dipikirkan. Yang penting, rajin sholat dan bacalah wiridan yang aku berikan padamu!" jawab Kyai Kodir, bijak.
Ibu Hanna pulang lebih dulu, sedang aku tetap bertahan di rumah Kyai Kodir. Sepulang Ibu Hanna, Kyai Kodir tak urung gelisah juga. Rupanya, tanpa sepengetahuan siapapun dia sendiri tiga malam berturut-turut didatangi arwah Yudhistira yang nampak tersiksa minta agar kematiannya disempurnakan. Anehnya lagi dalam pertemuan di alam maya itu Kyai Kodir juga melihat wajah seorang perempuan yang tak dikenalnya. Maka diam-diam pula dia mulai menyelidiki dan berdzikir memohon petunjukNya. Dia ingin mengetahui ada apa dengan mendiang Yudhistira.
Seminggu berlalu, ternyata petunjuk Allah itupun datang. Tanpa disangka rumah Kyai Kodir kedatangan tiga orang tamu yaitu Pak Barnas, Ketua RW di kampungku, dan seorang perempuan setengah baya berdandan agak menor ditemani seorang anak berusia sembilan tahunan. Yang membuat Kyai Kodir sekaligus aku yang juga hadir di sana terkejut, perempuan menor itu menurut pengakuan Kyai Kodir ternyata raut wajahnya sama dengan yang hadir dalam mimpi yang dialami sang Kyai selama beberapa malam.
Ya, perempuan itu mengaku sebagai isteri muda Yudhistira. Dia menyebut namanya Lisa. Sebelumnya, Lisa datang ke rumah Pak Barnas selaku RW dengan tujuan ingin memastikan berita kematian Yudhistira, sekaligus mengurus prihal hak waris atas tanah mendiang Yudhistira. Menurt Lisa, anak kecil yang bersamanya itu adalah anak almarhum.
"Lalu...kenapa Pak Barnas datang ke tempatku. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Kyai Kodir.
"Maaf, Pak Kyai. Kedatangan saya ini sebenarnya hanya ingin tahu silsilah Yudhistira, mengingat Pak Kyai adalah orang tertua di desa ini. Barangkali Pak Kyai mengetahui siapa sebenarnya pemilik warisan yang sah atas rumah dan tanah mendiang itu," ujar Pak Barnas. Sebidang tanah seluas sekitar 300 meter persegi yang di atasnya berdiri sebuah rumah kecil permanen memang satu-satunya harta peninggalan Yudhistira.
Kyai Kodir geleng-geleng kepala. "Akupun tak tahu keluarga Yudhistira sebenarnya. Yang saya tahu dia menetap di desa ini sudah puluhan tahun dan memiliki isteri tanpa anak. Itu saja keluarganya, dan sekarang aku tak tahu lagi keluarganya yang lain."
"Barang kali Mbak Lisa ini mengetahuinya?" tanyaku, coba menjernihkan suasana.
Yang ditanya justru menangis pilu, hingga membingungkan kami semua. Lalu dengan sesenggukan Lisa bercerita panjang lebar mengenai Yudhistira.
"Alarhum sesungguhnya punya dua isteri sah. Yang satu tinggal di desa ini dan yang satu adalah di Lampung. Yang di Lampung itu adalah saya sendiri. Saya awal mulanya hanyalah seorang pelacur langganan Mas Yudhis. Ketika saya diajak hidup serumah saya menurut dengan harapan dia mau mengawini saya. Dan ternyata dia menyanggupinya, bahkan berjanji akan menceraikan isterinya dan memberikan harta warisan kepada saya. Sebab saat itu saya sudah mengandung anak ini."
Lisa mengelus-elus kepala bocah di sampingnya. Lalu ia kembali melanjutkan ceritanya, "Setelah kandungan saya berumur lima bulan, saya baru tahu pekerjaan Mas Yudhis yang sebenarnya, hingga membuat saya diam-diam justru menjauhinya karena takut kualat. Ternyata almarhum itu bisa hidup enak dari....dari...membunuh banyak orang. Ya, dia adalah seorang pembunuh bayaran."
Cerita Lisa benar-benar menyentakkan kami. Sungguh sulit bagi kami untuk mrempercayainya.
Ketika kami berada dalam kebingungan, perempuan itu kembali melanjutkan kisahnya....
"Mas Yudhis itu sering menerima pesanan membunuh orang. Biasanya itu pesanan cukong-cukong kaya dari kota yang kebetulan mempunyai musuh. Menurut pengakuan almarhum, dia sudah dua belas kali membunuh, bahkan ada yang dipenggal dan diambil kepalanya. Begitu saya tahu siapa sebenarnya Almarhum, saya berusaha menghindar dan bersembunyi. Sejak itu, saya tak tahu lagi kabar Mas Yudhis hingga lahir anak saya ini. Begitu saya dengar dia sudah meninggal, saya baru berani kelaur dan bermaksud menagih ucapannya dulu. Tapi...tapi saya tak tahu siapa kini yang harus saya tagih. Saya sudah berhenti jadi pelacur dan ingin hidup layak dengan anak saya yang juga anak Mas Yudhis ini. Sebab kami sudah tak punya apa-apa lagi."
Aku, Kyai Kodir dan Pak Barnas kembali tercengang mendengar cerita perempuan bernama Lisa itu. Kami seolah tak percaya akan ucapannya. Kami juga hampir tak percaya dengan kebejatan mendiang Yudhistira. Namun aku sadar kalau selama ini mendiang memang penuh rahasia. Misalkan saja dia sering pergi meninggalkan rumah untuk waktu yang lama, lalu ketika datang selalu membawa penghasilan dalam jumlah besar.
"Setahu saya almarhum juga memiliki jimat yang tak mempan dibacok atau ditembak. Jimat itu katanya sudah dipendam di dalam rumahnya saat dia sakit parah," cetusku.
Kini terbukalah misteri Yudhistra. Dia ternyata menyimpan riwayat kelam yang hanya pantas dilakukan oleh Iblis. Dan kini terkuaklah apa yang sedang dijalani Yudhistira di alam kuburnya. Mungkin di sana dia sedang meraung-raung menerima siksa kubur yang amat pedih hingga keadaan sekitar makamnya pun nampak seperti terbakar oleh bias panasnya api alam kubur....belum lagi pertanggungjawabannya di hari kiamat kelak.
ARWAH YANG MELAPORKAN KASUS PEMBUNUHAN
Penulis: ADITYA PAMUNGKAS
Sebuah kisah mistis yang fenomenal yang dialami oleh seorang anggota kepolisian yang kini telah pensiun. Suatu ketika dia didatangi sesosok arwah yang melaporkan kasus pembunuhan yang menimpanya....
Aku sedang bertugas malam ketika hujan turun dengan lebatnya. Di luar Pos Resort Kepolisian tempatku bekerja malam itu, keadaan gelap gulita. Udara pun terasa sangat dingin.
Untuk sekedar membuang kantuk, sudah bergelas-gelas kopi pahit kuteguk. Sementara itu, Kopral Harun, rekan anggota yang juga bertugas piket dengannku belum juga muncul. Padahal dia tadi meminta izin hanya sebentar ke luar, dengan alasan hendak membeli rokok dan makanan ringan.
Ketika aku tengah mengenakan jaket untuk sekedar menghangatkan tubuh, tiba-tiba pintu depan diketuk seseorang. Dengan sigap aku berteriak mempersilakan tamu itu masuk. Sejurus kemudian, seorang tua dengan wajah basah terkena air hujan, muncul di hadapanku. Dia berdiri beberapa langka di depan mejaku. Dia memperknelakan namanya, dan mengaku hendak melaporkan terjadinya suatu pembunuhan.
"Apa? Pembunuhan?" tanyaku kepada Sarman, nama lelaki tersebut.
"Ya!" sahut bapak tua itu singkat.
"Apakah Bapak menyaksikannya sendiri?" selidikku.
Sarman menganggukan kepalanya. Lalu dia menceritakan bahwa seorang pelayan yang telah belasan tahun bekerja pada seorang pengusaha kaya, telah dibunuh oleh si penguasaha itu sendiri di bungalow miliknya, tanpa seorang pun yang mengetahuinya. Dan mayat korbannya telah dikuburkan secara rahasia di salah satu sudut pekarangan bungalow itu. Setelah dikuburkan, kemudian di atas kuburan yang tanpa batu nisan itu ditanamai pohon rambutan cangkokan.
"Bagaimana mungkin Bapak tahu persis semua detil persoalan itu?" tanyaku.
"Sebab saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, Pak!" ujarnya.
"Kapan?" desakku.
"Kira-kira satu jam yang lalu," jelasnya.
Ah, ini benar-benar gila! Batinku. Bagaimana mungkin Pak Tua ini bisa mengetahi sedemikian detil sebuah kasus pembunuhan? Atau mungkin, dia hanya bicara ngawur?
"Baiklah, Pak Sarman," ujarku kemudian. "Laporan Bapak sudah saya terima. Dan sudah saya catat seperlunya. Kami akan melakukan penyelidikan dengan seksama."
Ketika Sarman bangkit dan keluar meninggalkan mejaku, muncul Kopral Harun.
"Ada orang yang memberikan pengaduan, rupanya?" tanya Harun ketika dilihatnya aku sedang membaca catatan.
"Ya," sahutku tanpa menoleh. "Apakah kau tidak bertemu dengan orang itu?"
"Di mana?" tanya Harun sambil celingukan.
"Dia baru saja keluar," sahutku.
Harun menggeleng.
"Jadi, kau tidak berpapasan dengannya?" tegasku.
"Tidak!" sahut Harun sambil memandangku dengan penuh keheranan.
"Kusangka dia akan berpapasan denganmu tadi, karena baru beberapa langkah dia meninggalkan mejaku, lalu kau muncul. Bagaimana mungkin kau tidak bertemu dengannya. Bukankah hanya ada satu pintu keluar di kantor kita yang kecil ini?" kataku.
"Aku tidak bohong. Aku memang tidak melihat siapapun ke luar dari sini," sahut Harun. "Kalau memang ada orang, tentunya dia bertemu denganku," balas Harun
Aku mengangkat wajah dan memandang Kopral Harun. Lalu aku menarik napas panjang. Tak terasa bulu kudukku berdiri meremang. Dan aku mulai berpikir sesuatu yang sama sekali jauh dari jangkauan akal sehat.
"Barangkali, dia lebih cepat menghindar, karena takut ketahuan orang. Kau pun tahu, rata-rata pelapor kasus pembunuhan merasa takut diketahui oleh orang lain," ujarku kemudian sambil coba menenangkan perasaan.
Kopral Harun duduk di kursi di depan mejaku, tempat di mana Sarman tadi duduk memberikan laporannya.
"Ya, suatu laporan pembunuhan," kataku lagi. "Orang yang memberikan laporan itu, menyaksikan sendiri pembunuhan tersebut," tambahku
Kopral Harun mengangkat telepon. Tanpa kuminta, dia menghubungi pos jaga dan menanyakan, apakah tadi ada seseorang yang telah meninggalkan pekarangan kantor kepolisian.
"Tidak ada, Kopral," sahut Prajurit Tarigan yang dihubungi.
"Tidak ada?" tanya Kopral Harun lagi penasaran.
"Hujan lebat sekali, siapa yang datang kalau bukan Kopral sendiri tadi?"
Mendengar percakapan tersebut, aku terlonjak dari dudukku. Bulu kudukku semakin berdiri tegak, jantungku berdegup kencang. Kudekati Kopral Harun.
"Aneh sekali kalau begitu," desisku. "Aku yakin ada seorang yang datang melapor tadi. Dan aku telah mencatat laporannya. Tapi bagaimana mungkin petugas jaga sampai tidak menyaksikan ada orang masuk dan keluar barusan?" aku menggelengkan kepala. Wajahku pasti keliahatan sangat tegang.
"Mungkin hantu!" seloroh Kopral Harun. "Atau, Sersan mungkin sedang menghayal?"
Aku menarik napas panjang. "Tidak mungkin hantu, atau aku sedang melamun, Harun," kataku memastikan. "Jelas sekali orang tua itu datang kehujanan. Dia basah kuyup dan wajahnya basah oleh air hujan. Malah kuperhatikan, wajahnya pucat pasi. Mungkin dia ketakutan sekali, karena telah menyaksiakn pembunuhan itu."
Kopral Harus tidak menanggapi apa yang kukatakan itu. Dia kemudian duduk di kursi, menghadap meja tulisnya sendiri.
Hingga beberapa lama aku pun hanya ikut terdiam. Dan entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa agak sakit, ingin buang air besar. Kukatakan pada Harun, bahwa aku akan ke kamar mandi.
Belum beberapa lama aku berada di kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar ketukan pintu. Suara Harun yang keras bagai berteriak, memanggilku.
"Sersan, orang tua yang bernama Sarman itu datang," katanya.
"Mau apa lagi dia?" tanyaku dari dalam.
"Dia mendesak agar segera dilakukan pemeriksaan terhadap laporan pembunuhan yang dilaporkannya pada Sersan tadi," jawab Harun dari luar pintu kamar mandi.
"Ya, terima sajalah laporannya!" sahutku.
Dan kemudian Kopral Harun pergi. Tak lama, aku juga selesai buang hajat dan keluar dari kamar mandi. Kutemui Harun di kamar kerja kami. Aneh, wajah Harun tampak sangat pucat.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aneh sekali!" kata Harun. "Ketika aku kembali, sesudah melaporkan bahwa Pak Sarman datang kepada Sersan, lelaki tua itu sudah tidak ada lagi."
"Lantas, apa saja yang dikatakannya padamu?" tanyaku lagi.
"Dia mendesak, agar segera dilakukan pemeriksaan. Katanya, orang yang melakukan pembunuhan itu esok siang akan terbang ke Singapura!" jawab Kopral Harun.
Aku terdiam, tak tahu apa yang harus diperbuat. "Jadi dia datang lagi, bukan?" ujarku kemudian bagai berkata pada diri sendiri.
"Begitulah kenyataannya," kata Harun. "Dan aku sudah mengecek pada Tarigan, yang bertugas jaga di pintu gerbang kantor. Katanya, lagi-lagi, tidak ada seorang pun yang masuk. Malah tidak ada seorangpun yang melintas rumah jaga yang dikawalnya. Aneh, bukan? Besar kemungkinan, hantu atau arwah yang menjelma, yang melaporkan kejadian pembunuhan itu."
"Entahlah," sahutku dengan bulu kuduk berdiri meremang.
"Lantas, apa tindakan kita?"
"Besok kita laporkan pada komandan."
Namun, Kopral Harun ternyata tidak menyetujui keputusanku. Dia mendesak agar malam itu juga kami melakukan pemeriksaan. Akupun menyetujui usulan ini.
Akhirnya, tanpa perduli pada hujan yang masih turun sedemikian deras, bersama satu regu anggota, kami segera meluncur ke lokasi yang ditunjukkan Sarman, sesuai laporannya.
Aneh, ternyata apa yang dikatakan Sarman memang benar. Di salah satu sudut bungalow yang ditunjukkan Sarman, di bawah pohon rambutan, kami menemukan sesosok mayat yang masih baru. Mayat Sarman! Berdasarkan temuan itu, kami segera menyergap Hendarto, pelakunya.
Dalam pemeriksaan, Hendarto mengakui, memang dialah yang membunuh Sarman. Dan pembunuhan itu dilakukan ketika hujan sedang lebat-lebatnya. Dia melakukan perbuatan keji itu karena Sarman terlalu banyak tahu dengan urusannya. Dan Hendarto pun mengakui, setelah dilakukan penggeledahan dan ditemukan bubuk-bubuk heroin, bahwa dia selama ini melakukan perdagangan barang haram tersebut.
Karena tidak ingin rahasianya bocor, akhirnya dia membunuh Sarman. Sarman sendiri adalah pelayan pribadi di rumahnya. Dia mengajak Sarman ke bungalow, dan kemudian memukul kepalanya dengan benda keras.
"Aneh sekali!" bisik batinku. "Roh dari orang yang barus saja mati, datang sendiri memberikan laporan tentang pembunuhan atas dirinya."
Kini, kisah mistis yang cukup misterius itu sudah lama berlalu, dan aku sendiri sudah pensiun. Namun kedatangan Sarman dengan wajah pucat pasinya saat melaporkan pembunuhan atas dirinya itu, tidak pernah hilang dari pikiranku. Terserah Anda untuk percaya atau tidak terhadap kisah mistis yang kualami ini.
Sebuah kisah mistis yang fenomenal yang dialami oleh seorang anggota kepolisian yang kini telah pensiun. Suatu ketika dia didatangi sesosok arwah yang melaporkan kasus pembunuhan yang menimpanya....
Aku sedang bertugas malam ketika hujan turun dengan lebatnya. Di luar Pos Resort Kepolisian tempatku bekerja malam itu, keadaan gelap gulita. Udara pun terasa sangat dingin.
Untuk sekedar membuang kantuk, sudah bergelas-gelas kopi pahit kuteguk. Sementara itu, Kopral Harun, rekan anggota yang juga bertugas piket dengannku belum juga muncul. Padahal dia tadi meminta izin hanya sebentar ke luar, dengan alasan hendak membeli rokok dan makanan ringan.
Ketika aku tengah mengenakan jaket untuk sekedar menghangatkan tubuh, tiba-tiba pintu depan diketuk seseorang. Dengan sigap aku berteriak mempersilakan tamu itu masuk. Sejurus kemudian, seorang tua dengan wajah basah terkena air hujan, muncul di hadapanku. Dia berdiri beberapa langka di depan mejaku. Dia memperknelakan namanya, dan mengaku hendak melaporkan terjadinya suatu pembunuhan.
"Apa? Pembunuhan?" tanyaku kepada Sarman, nama lelaki tersebut.
"Ya!" sahut bapak tua itu singkat.
"Apakah Bapak menyaksikannya sendiri?" selidikku.
Sarman menganggukan kepalanya. Lalu dia menceritakan bahwa seorang pelayan yang telah belasan tahun bekerja pada seorang pengusaha kaya, telah dibunuh oleh si penguasaha itu sendiri di bungalow miliknya, tanpa seorang pun yang mengetahuinya. Dan mayat korbannya telah dikuburkan secara rahasia di salah satu sudut pekarangan bungalow itu. Setelah dikuburkan, kemudian di atas kuburan yang tanpa batu nisan itu ditanamai pohon rambutan cangkokan.
"Bagaimana mungkin Bapak tahu persis semua detil persoalan itu?" tanyaku.
"Sebab saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, Pak!" ujarnya.
"Kapan?" desakku.
"Kira-kira satu jam yang lalu," jelasnya.
Ah, ini benar-benar gila! Batinku. Bagaimana mungkin Pak Tua ini bisa mengetahi sedemikian detil sebuah kasus pembunuhan? Atau mungkin, dia hanya bicara ngawur?
"Baiklah, Pak Sarman," ujarku kemudian. "Laporan Bapak sudah saya terima. Dan sudah saya catat seperlunya. Kami akan melakukan penyelidikan dengan seksama."
Ketika Sarman bangkit dan keluar meninggalkan mejaku, muncul Kopral Harun.
"Ada orang yang memberikan pengaduan, rupanya?" tanya Harun ketika dilihatnya aku sedang membaca catatan.
"Ya," sahutku tanpa menoleh. "Apakah kau tidak bertemu dengan orang itu?"
"Di mana?" tanya Harun sambil celingukan.
"Dia baru saja keluar," sahutku.
Harun menggeleng.
"Jadi, kau tidak berpapasan dengannya?" tegasku.
"Tidak!" sahut Harun sambil memandangku dengan penuh keheranan.
"Kusangka dia akan berpapasan denganmu tadi, karena baru beberapa langkah dia meninggalkan mejaku, lalu kau muncul. Bagaimana mungkin kau tidak bertemu dengannya. Bukankah hanya ada satu pintu keluar di kantor kita yang kecil ini?" kataku.
"Aku tidak bohong. Aku memang tidak melihat siapapun ke luar dari sini," sahut Harun. "Kalau memang ada orang, tentunya dia bertemu denganku," balas Harun
Aku mengangkat wajah dan memandang Kopral Harun. Lalu aku menarik napas panjang. Tak terasa bulu kudukku berdiri meremang. Dan aku mulai berpikir sesuatu yang sama sekali jauh dari jangkauan akal sehat.
"Barangkali, dia lebih cepat menghindar, karena takut ketahuan orang. Kau pun tahu, rata-rata pelapor kasus pembunuhan merasa takut diketahui oleh orang lain," ujarku kemudian sambil coba menenangkan perasaan.
Kopral Harun duduk di kursi di depan mejaku, tempat di mana Sarman tadi duduk memberikan laporannya.
"Ya, suatu laporan pembunuhan," kataku lagi. "Orang yang memberikan laporan itu, menyaksikan sendiri pembunuhan tersebut," tambahku
Kopral Harun mengangkat telepon. Tanpa kuminta, dia menghubungi pos jaga dan menanyakan, apakah tadi ada seseorang yang telah meninggalkan pekarangan kantor kepolisian.
"Tidak ada, Kopral," sahut Prajurit Tarigan yang dihubungi.
"Tidak ada?" tanya Kopral Harun lagi penasaran.
"Hujan lebat sekali, siapa yang datang kalau bukan Kopral sendiri tadi?"
Mendengar percakapan tersebut, aku terlonjak dari dudukku. Bulu kudukku semakin berdiri tegak, jantungku berdegup kencang. Kudekati Kopral Harun.
"Aneh sekali kalau begitu," desisku. "Aku yakin ada seorang yang datang melapor tadi. Dan aku telah mencatat laporannya. Tapi bagaimana mungkin petugas jaga sampai tidak menyaksikan ada orang masuk dan keluar barusan?" aku menggelengkan kepala. Wajahku pasti keliahatan sangat tegang.
"Mungkin hantu!" seloroh Kopral Harun. "Atau, Sersan mungkin sedang menghayal?"
Aku menarik napas panjang. "Tidak mungkin hantu, atau aku sedang melamun, Harun," kataku memastikan. "Jelas sekali orang tua itu datang kehujanan. Dia basah kuyup dan wajahnya basah oleh air hujan. Malah kuperhatikan, wajahnya pucat pasi. Mungkin dia ketakutan sekali, karena telah menyaksiakn pembunuhan itu."
Kopral Harus tidak menanggapi apa yang kukatakan itu. Dia kemudian duduk di kursi, menghadap meja tulisnya sendiri.
Hingga beberapa lama aku pun hanya ikut terdiam. Dan entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa agak sakit, ingin buang air besar. Kukatakan pada Harun, bahwa aku akan ke kamar mandi.
Belum beberapa lama aku berada di kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar ketukan pintu. Suara Harun yang keras bagai berteriak, memanggilku.
"Sersan, orang tua yang bernama Sarman itu datang," katanya.
"Mau apa lagi dia?" tanyaku dari dalam.
"Dia mendesak agar segera dilakukan pemeriksaan terhadap laporan pembunuhan yang dilaporkannya pada Sersan tadi," jawab Harun dari luar pintu kamar mandi.
"Ya, terima sajalah laporannya!" sahutku.
Dan kemudian Kopral Harun pergi. Tak lama, aku juga selesai buang hajat dan keluar dari kamar mandi. Kutemui Harun di kamar kerja kami. Aneh, wajah Harun tampak sangat pucat.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aneh sekali!" kata Harun. "Ketika aku kembali, sesudah melaporkan bahwa Pak Sarman datang kepada Sersan, lelaki tua itu sudah tidak ada lagi."
"Lantas, apa saja yang dikatakannya padamu?" tanyaku lagi.
"Dia mendesak, agar segera dilakukan pemeriksaan. Katanya, orang yang melakukan pembunuhan itu esok siang akan terbang ke Singapura!" jawab Kopral Harun.
Aku terdiam, tak tahu apa yang harus diperbuat. "Jadi dia datang lagi, bukan?" ujarku kemudian bagai berkata pada diri sendiri.
"Begitulah kenyataannya," kata Harun. "Dan aku sudah mengecek pada Tarigan, yang bertugas jaga di pintu gerbang kantor. Katanya, lagi-lagi, tidak ada seorang pun yang masuk. Malah tidak ada seorangpun yang melintas rumah jaga yang dikawalnya. Aneh, bukan? Besar kemungkinan, hantu atau arwah yang menjelma, yang melaporkan kejadian pembunuhan itu."
"Entahlah," sahutku dengan bulu kuduk berdiri meremang.
"Lantas, apa tindakan kita?"
"Besok kita laporkan pada komandan."
Namun, Kopral Harun ternyata tidak menyetujui keputusanku. Dia mendesak agar malam itu juga kami melakukan pemeriksaan. Akupun menyetujui usulan ini.
Akhirnya, tanpa perduli pada hujan yang masih turun sedemikian deras, bersama satu regu anggota, kami segera meluncur ke lokasi yang ditunjukkan Sarman, sesuai laporannya.
Aneh, ternyata apa yang dikatakan Sarman memang benar. Di salah satu sudut bungalow yang ditunjukkan Sarman, di bawah pohon rambutan, kami menemukan sesosok mayat yang masih baru. Mayat Sarman! Berdasarkan temuan itu, kami segera menyergap Hendarto, pelakunya.
Dalam pemeriksaan, Hendarto mengakui, memang dialah yang membunuh Sarman. Dan pembunuhan itu dilakukan ketika hujan sedang lebat-lebatnya. Dia melakukan perbuatan keji itu karena Sarman terlalu banyak tahu dengan urusannya. Dan Hendarto pun mengakui, setelah dilakukan penggeledahan dan ditemukan bubuk-bubuk heroin, bahwa dia selama ini melakukan perdagangan barang haram tersebut.
Karena tidak ingin rahasianya bocor, akhirnya dia membunuh Sarman. Sarman sendiri adalah pelayan pribadi di rumahnya. Dia mengajak Sarman ke bungalow, dan kemudian memukul kepalanya dengan benda keras.
"Aneh sekali!" bisik batinku. "Roh dari orang yang barus saja mati, datang sendiri memberikan laporan tentang pembunuhan atas dirinya."
Kini, kisah mistis yang cukup misterius itu sudah lama berlalu, dan aku sendiri sudah pensiun. Namun kedatangan Sarman dengan wajah pucat pasinya saat melaporkan pembunuhan atas dirinya itu, tidak pernah hilang dari pikiranku. Terserah Anda untuk percaya atau tidak terhadap kisah mistis yang kualami ini.
ARWAH GENTAYANGAN YANG MINTA PULANG
Penulis : EKO HARTONO
Gara-gara salah menguburkan mayat korban kecelakaan, warga kampung itu dihebohkan dengan peristiwa mistis. Hampir setiap malam arwah itu mengetuk-ngetuk pintu rumah penduduk. Dia minta dipulangkan....
Peristiwa mistis yang sangat menghebohkan ini terjadi di sebuah desa di wilayah Kabupaten Wonogiri, beberapa waktu yang lalu. Meski sudah cukup lama kejadiannya, namun jika mengingatnya orang-orang di desa itu jadi ngeri. Mungkin juga bagi para Pembaca yang mengikuti kisahnya berikut ini.
Ketika itu, warga desa dimaksud diteror oleh kehadiran arwah gentayangan. Sang arwah hampir setiap malam mengetuk pintu-pintu rumah penduduk. Namun dari kejadian ini akhirnya warga menjadi tahu, telah terjadi kesalahan dalam menguburkan jenazah dimaksud.
Kejadian ini bermula ketika Masroni (nama samaran), hendak berangkat merantau ke Jakarta. Sebagaimana pemuda-pemuda lainnya di desa itu, Masroni ingin mengadu nasib di Ibu Kota. Hanya dengan berbekal ijazah SMP, Masroni berangkat ke Jakarta menggunakan angkutan bus. Sebelum berangkat, kedua orangtuanya memberikan banyak wejangan.
"Hati-hati ya, Le. Di kota itu keadaannya tidak sama dengan di desa. Jangan mudah terpedaya dan tertipu oleh bujuk rayu orang. Cari pekerjaan yang halal, jangan jadi pencuri atau maling!" demikian ujar Saroji, ayahnya.
"Kalau bawa uang juga hati-hati. Di kota banyak copet dan jambret!" sambung emaknya.
Masroni hanya mengangguk-angguk mendengar semua nasehat orangtuanya. Dia pun akhir berangkat dengan dilepas oleh kedua orangtuanya dengan deraian air mata. Maklumlah, baru kali ini Masroni pergi jauh dari orangtua. Namun begitu, Saroji dan isterinya berusaha tetap tabah. Mereka mendoakan anaknya agar diberi keselamatan.
Malangnya, baru sehari Masroni pergi, tiba-tiba keesokan harinya datang kabar bahwa Masroni meninggal karena kecelakaan. Dia tewas terlindas truk di daerah Semarang. Berita ini disampaikan langsung oleh petugas kepolisan yang menangani kasus kecelakaan itu. Mereka mengetahui alamat Masroni dari dompet yang ada di saku celananya. Di dalam dompet itu terdapat KTP dan tanda pengenal Masroni lainnya. Bahkan uang yang dibawanya dari rumah masih utuh.
Mendengar kabar tragis ini, kontan saja kedua orang tua Masroni shock bukan main. Emaknya menjerit histeris dan langsung jatuh pingsan. Sementara Saroji terduduk lemas, tak mampu lagi berdiri. Anak laki-laki yang menjadi tumpuan harapan mereka telah tiada.
Karena jenazah Maroni masih berada di rumah sakit yang ada di Semarang, maka polisi mengajak salah seorang keluarga Masroni untuk mengambilnya sekaligus untuk proses administrasi. Sarijan, adik Saroji, diutus oleh keluarga besar untuk mengambil jenazah Masroni. Ketika sampai di rumah sakit bersangkutan, Sarijan dibawa ke kamar mayat. Dia diberi kesempatan menengok jenazah Masroni yang sudah dimandikan dan ditutupi kain kafan.
Berhubung kondisi mayat Masroni yang terluka cukup parah, kepalanya remuk tak berbentuk, membuat Sarijan tidak bisa mengenalinya lagi. Sarijan pun tak bisa melihatnya lama-lama, karena hatinya miris, ditambah rasa takut. Tapi dia meyakini mayat laki-laki itu adalah keponakannya. Lagipula, dari bukti dompet yang ditemukan polisi sudah jelas bahwa mayat itu adalah jenazah Masroni.
Setelah menyelesaikan administrasi, jenazah Masroni dibawa ke kampung halamannya dengan menggunakan mobil ambulans. Sesampai di rumah jenazah Masroni yang sudah dimandikan, dikafani dan dimasukkan dalam peti mati di rumah sakit langsung diletakkan di tengah ruangan. Mengingat kondisi jenazah yang sangat parah, tidak seorang pun diperkenankan melihatnya. Bahkan orang tua Masroni hanya diberikan kesempatan melihat sekilas saja melalui celah peti mati. Karena dikhawatirkan akan menimbulkan shock berat. Mereka hanya tinggal mensholatinya saja.
Tanpa menunggu waktu lama, jenazah Maroni kemudian dikuburkan di pemakaman desa. Satu persatu pelayat yang mengantar kepergian Masroni kembali ke rumah masing-masing. Tapi pembicaraan tentang kematian Masroni akibat kecelakaan masih berlangsung di tengah warga kampung. Mereka tampaknya masih dibuat kaget dan tak percaya bila Masroni begitu cepat pergi.
Mulai malam sejak kematian Masroni hingga malam ke tujuh, di rumah Saroji diadakan acara tahlilan. Warga kampung banyak yang datang untuk mengikuti tahlilan. Mereka tidak takut dan tidak diliputi perasaan apa-apa, karena bagi mereka sudah hal biasa menghadapi acara kematian.
Tapi ketika menginjak malam ketiga sejak kematian Masroni, terjadi sebuah peristiwa yang sangat menghebohkan. Beberapa warga di kampung itu mengaku ditemui arwah Masroni. Bahkan, Saroji mengalami kejadian yang amat menyeramkan. Dia didatangi arwah anaknya.
Malam itu, setelah usai tahlilan, beberapa warga sudah pada pulang. Saroji lalu menutup pintu dan jendela. Isteri dan dua anaknya yang lain sudah berangkat tidur di kamar.
Tidak seperti biasanya perasaan Saroji malam itu tidak enak. Dia tidak bisa memajamkan matanya untuk tidur. Dia lalu duduk-duduk di ruang tengah sambil mengisap rokok lintingan.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu depan. Saroji pun kaget. Dia merasa aneh, karena tengah malam begini ada yang datang bertamu. Tapi mungkin itu orang yang tadi ikut tahlilan dan barangnya ketinggalan, pikirnya.
Tanpa menaruh prasangka apa-apa, Saroji lalu beranjak ke depan untuk membukakan pintu. Sebelum membuka pintu, Saroji sempat menanyai orang yang di luar.
"Sampeyan siapa?"
"Aku, Pak. Aku mau pulang...!" jawab satu suara.
Saroji mengerutkan alisnya. Dia merasakan ada yang aneh dari nada suara orang di luar. Karena penasaran, dia segera membuka pintu. Betapa kagetnya dia, melihat sosok pocongan yang hanya memperlihatkan separo raut wajahnya. Akibatnya, dia tak mampu berkata-kata, karena lidahnya terasa kelu. Seluruh sendri tulangnya seakan mau copot. Sebelum dia jatuh pingsan, sempat terdengar ucapan pocongan itu, "Tolong pak. Antarkan aku pulang. Aku tidak mau disini...."
Ketika Saroji siuman, dia sudah mendapati dirinya berada di atas pembaringan dikerubuti isteri dan anaknya. Mereka terlihat sangat cemas. Mereka bertanya padanya, apa yang sebenarnya terjadi sampai dirinya pingsan di depan pintu.
Saroji enggan menceritakan apa yang telah menimpa dirinya, karena dia khawatir isterinya bakal tambah shock bila tahu dirinya semalam di datangi arwah Masroni. Demi menjaga perasaan keluarganya, Saroji tidak menceritakan hal sebenarnya. Dia mengaku kelelahan karena tidak pernah istirahat.
Tapi rupanya kejadian seperti malam itu bukan dirinya sendiri yang mengalaminya. Beberapa warga lainnya yang tinggal di kampung itu juga mengaku telah didatangi arwah Masroni.
Modus yang digunakan oleh arwah Masroni hampir sama, yakni mengetuk pintu-pintu rumah warga. Dalam keadaan masih memakai kain kafan yang membungkus tubuhnya, Masroni merintih dan meratap. Dia meminta dirinya dipulangkan.
Kontan saja peristiwa ini membuat seisi desa jadi heboh. Kabar tentang arwah penasaran Masroni tersebar kemana-mana. Warga desa jadi takut untuk keluar rumah pada malam hari. Mereka tidak berani membukakan pintu bila ada yang mengetuk. Mereka benar-benar dicekam kengerian dan ketakutan.
Kondisi ini tentu saja membuat sedih keluarga Saroji. Mereka tak mengerti, kenapa arwah Masroni jadi penasaran dan mengganggu warga desa. Padahal seumur hidupnya Masroni tidak pernah berbuat cacat cela. Dia juga anak yang rajin bekerja.
Apakah karena dia mati dalam keadaan tragis, terlindas ban truk, sehingga arwahnya menjadi tidak tenang, demikian pikir Saroji. Suasana menegangkan dan mencekam yang menyelimuti warga desa mencapai puncaknya tatkala pagi yang masih berselimut kabut, Masroni muncul di jalan desa. Dia berjalan sambil menenteng tas ransel menuju ke rumahnya. Banyak warga yang tercengang dan lari ketakutan. Mereka bersembunyi di dalam rumah masing-masing.
Sikap para tetangga yang tampak ketakutan melihat kehadirannya itu membuat Masroni jadi heran. Sesampai di rumah, Masroni juga menghadapi hal sama. Orang tua dan saudara-saudaranya tampak ketakutan. Mereka berteriak-teriak memintanya pergi.
"Ayo, pergi! Jangan gangguan kami!" seru Saroji, ketakutan
"Lho, Pak, Bu! Ada ada apa ini sebenarnya? Kenapa semua orang jadi ketakutan melihat saya? Saya ini Masroni, Pak. Saya baru datang dari Jakarta," tegas anak muda itu.
"Kamu bukan Masroni, kamu arwah gentayangan! Maroni anakkua sudah mati," kata Saroji.
"Astaghfirullah, Pak! Omongan macam apa ini? Saya benar-benar Masroni, anak Bapak. Coba Bapak perhatikan baik-baik, aku masih menginjak tanah. Lagi pula mana ada hantu gentayangan di hari yang sudah terang begini?"
Karena ucapan Masroni begitu meyakinkan, kedua orang tua itu baru sadar. Orang yang berdiri dihadapan mereka benar-benar Masroni. Mereka lalu menghambur memeluk Masroni dan menangis sejadi-jadinya. Mereka senang, karena Masroni ternyata belum mati.
Masroni merasa bingung dengan kejadian ini. Setelah tangis kedua orang tuanya reda, mereka baru bisa menceritakan apa yang telah terjadi. Masroni mendengarkan dengan seksama cerita orang tuanya sambil sesekali tampak terperangah.
"Wah, pantas semua orang takut melihat saya. Rupanya saya dikira sudah mati. Padahal semua itu tidak benar!" cetus Masroni agak geli.
"Kalau begitu, siapa mayat yang pernah kami kuburkan itu?" tanya Saroji, seperti menggumam.
"Yah, mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian yang saya alami, Pak. hari itu, sewaktu saya berangkat ke Jakarta menggunakan bus dan berhenti di daerah Semarang, saya turun sebentar untuk mencari makanan. Tiba-tiba ada orang yang menyenggol saya. Waktu itu saya tidak sadar. Baru ketika saya naik kembali ke dalam bus dan melanjutkan perjalanan saya baru tahu dompet saya kecopetan. Saya yakin dompet itu dicopet orang yang menyenggol saya waktu berhenti di Semarang. Kemungkinan korban kecelakaan yang dikira mayat saya, ya si pencopet itu," jelas Maroni sambil mengingat-ingat.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan kepada kami kalau kamu masih hidup? Setidaknya kamu kan bisa kirim kabar kalau sudah sampai di Jakarta?"
"Ya, saya mana tahu dengan kejadian di sini, Pak. Begitu sampai di Jakarta saya langsung ke rumah Pakle Hadi. Saya lalu menceritakan kejadian yang saya alami. Oleh Pakle saya disuruh tinggal sementara di rumahnya. Tapi entah kenapa, saya merasakan ada firasat aneh. Sepertinya ada yang membisikan saya untuk segera kembali ke kampung lagi. Soalnya semua uang yang saya bawa benar-benar ludes diambil oleh si pencopet. Saya tidak mau membebani Pakle kalau hanya hidup menumpang. Saya lalu nekad pinjam uang sama Pakle dan membeli tiket pulang ke kampung. Niat saya mau minta sangu lagi sama Bapak. E....tidak tahunya di sini telah terjadi kehebohan!"
Mendengar penuturan Masroni, hati Saroji dan isterinya merasa lega. Mereka bersyukur karena Masroni masih hidup. Tapi sejurus kemudian perasaan mereka jadi kecut karena masih menyimpan persolan dengan mayat asing yang telah mereka kuburkan.
"Lalu, bagaimana dengan mayat tak dikenal yang kita kuburkan itu? Kalau tidak segera diatasi, nanti arwahnya akan terus gentayangan mengganggu warga desa?" cetus Saroji cemas.
"Begini saja, Pak. Kita minta saran pada orang pintar yang mengetahui masalah seperti ini," usul Masroni.
Semua setuju. Mereka lalu menemui seorang Kyai di daerah itu yang sangat dihormati. Oleh Kyai disarankan untuk mengadakan prosesi ulng dalam menguburkan jenazah orang tak dikenal itu. Ini harus dilakukan karena sebelumnya mayat itu diatasnamakan orang yang masih hidup.
Disamping itu, harus dicari keluarga si mayat untuk mendapatkan keridhoan. Jika dimungkinkan, jenazah orang yang tak dikenal itu bisa dipindahkan ke tempat yang dikehendaki keluarganya. Kalau keluarga ikhlas jenazahnya tetap dikubur ditempat itu, pemindahan tak perlu dilakukan.
Soal mencari keluarga mayat tak dikenal itu diserahkan kepada polisi. Dan tampaknya tak begitu sulit bagi polisi mencari keluarga mayat tak dikenal itu. Seperti pengakuan Masroni bahwa dompetnya dicopet, polisi lalu menelusuri jejak sang pencopet. Mereka punya data tentang para pelaku kriminal di setiap daerah. Akhirnya, keluarga si pencopet ditemukan. Nama pencopet malang itu adalah Juned. Keluarga Juned mengaku sudah lebih seminggu Juned tidak pulang ke rumah.
Setelah dicocokan dengan data forensik di laboraturium, diketahui bahwa mayat tak dikenal itu adalah Juned. Atas keinginan pihak keluarga kuburan juned lalu dipindahkan ke kampung halamannya.
Begitulah. Sejak makam Juned dipindahkan, arwah gentayangan itu tidak pernah lagi muncul dan mengganggu warga desa. Tapi Masroni yang pernah dikabarkan meninggal masih tetap gentayangan sampai saat ini. Ya, dia memang masih berumur panjang!
Gara-gara salah menguburkan mayat korban kecelakaan, warga kampung itu dihebohkan dengan peristiwa mistis. Hampir setiap malam arwah itu mengetuk-ngetuk pintu rumah penduduk. Dia minta dipulangkan....
Peristiwa mistis yang sangat menghebohkan ini terjadi di sebuah desa di wilayah Kabupaten Wonogiri, beberapa waktu yang lalu. Meski sudah cukup lama kejadiannya, namun jika mengingatnya orang-orang di desa itu jadi ngeri. Mungkin juga bagi para Pembaca yang mengikuti kisahnya berikut ini.
Ketika itu, warga desa dimaksud diteror oleh kehadiran arwah gentayangan. Sang arwah hampir setiap malam mengetuk pintu-pintu rumah penduduk. Namun dari kejadian ini akhirnya warga menjadi tahu, telah terjadi kesalahan dalam menguburkan jenazah dimaksud.
Kejadian ini bermula ketika Masroni (nama samaran), hendak berangkat merantau ke Jakarta. Sebagaimana pemuda-pemuda lainnya di desa itu, Masroni ingin mengadu nasib di Ibu Kota. Hanya dengan berbekal ijazah SMP, Masroni berangkat ke Jakarta menggunakan angkutan bus. Sebelum berangkat, kedua orangtuanya memberikan banyak wejangan.
"Hati-hati ya, Le. Di kota itu keadaannya tidak sama dengan di desa. Jangan mudah terpedaya dan tertipu oleh bujuk rayu orang. Cari pekerjaan yang halal, jangan jadi pencuri atau maling!" demikian ujar Saroji, ayahnya.
"Kalau bawa uang juga hati-hati. Di kota banyak copet dan jambret!" sambung emaknya.
Masroni hanya mengangguk-angguk mendengar semua nasehat orangtuanya. Dia pun akhir berangkat dengan dilepas oleh kedua orangtuanya dengan deraian air mata. Maklumlah, baru kali ini Masroni pergi jauh dari orangtua. Namun begitu, Saroji dan isterinya berusaha tetap tabah. Mereka mendoakan anaknya agar diberi keselamatan.
Malangnya, baru sehari Masroni pergi, tiba-tiba keesokan harinya datang kabar bahwa Masroni meninggal karena kecelakaan. Dia tewas terlindas truk di daerah Semarang. Berita ini disampaikan langsung oleh petugas kepolisan yang menangani kasus kecelakaan itu. Mereka mengetahui alamat Masroni dari dompet yang ada di saku celananya. Di dalam dompet itu terdapat KTP dan tanda pengenal Masroni lainnya. Bahkan uang yang dibawanya dari rumah masih utuh.
Mendengar kabar tragis ini, kontan saja kedua orang tua Masroni shock bukan main. Emaknya menjerit histeris dan langsung jatuh pingsan. Sementara Saroji terduduk lemas, tak mampu lagi berdiri. Anak laki-laki yang menjadi tumpuan harapan mereka telah tiada.
Karena jenazah Maroni masih berada di rumah sakit yang ada di Semarang, maka polisi mengajak salah seorang keluarga Masroni untuk mengambilnya sekaligus untuk proses administrasi. Sarijan, adik Saroji, diutus oleh keluarga besar untuk mengambil jenazah Masroni. Ketika sampai di rumah sakit bersangkutan, Sarijan dibawa ke kamar mayat. Dia diberi kesempatan menengok jenazah Masroni yang sudah dimandikan dan ditutupi kain kafan.
Berhubung kondisi mayat Masroni yang terluka cukup parah, kepalanya remuk tak berbentuk, membuat Sarijan tidak bisa mengenalinya lagi. Sarijan pun tak bisa melihatnya lama-lama, karena hatinya miris, ditambah rasa takut. Tapi dia meyakini mayat laki-laki itu adalah keponakannya. Lagipula, dari bukti dompet yang ditemukan polisi sudah jelas bahwa mayat itu adalah jenazah Masroni.
Setelah menyelesaikan administrasi, jenazah Masroni dibawa ke kampung halamannya dengan menggunakan mobil ambulans. Sesampai di rumah jenazah Masroni yang sudah dimandikan, dikafani dan dimasukkan dalam peti mati di rumah sakit langsung diletakkan di tengah ruangan. Mengingat kondisi jenazah yang sangat parah, tidak seorang pun diperkenankan melihatnya. Bahkan orang tua Masroni hanya diberikan kesempatan melihat sekilas saja melalui celah peti mati. Karena dikhawatirkan akan menimbulkan shock berat. Mereka hanya tinggal mensholatinya saja.
Tanpa menunggu waktu lama, jenazah Maroni kemudian dikuburkan di pemakaman desa. Satu persatu pelayat yang mengantar kepergian Masroni kembali ke rumah masing-masing. Tapi pembicaraan tentang kematian Masroni akibat kecelakaan masih berlangsung di tengah warga kampung. Mereka tampaknya masih dibuat kaget dan tak percaya bila Masroni begitu cepat pergi.
Mulai malam sejak kematian Masroni hingga malam ke tujuh, di rumah Saroji diadakan acara tahlilan. Warga kampung banyak yang datang untuk mengikuti tahlilan. Mereka tidak takut dan tidak diliputi perasaan apa-apa, karena bagi mereka sudah hal biasa menghadapi acara kematian.
Tapi ketika menginjak malam ketiga sejak kematian Masroni, terjadi sebuah peristiwa yang sangat menghebohkan. Beberapa warga di kampung itu mengaku ditemui arwah Masroni. Bahkan, Saroji mengalami kejadian yang amat menyeramkan. Dia didatangi arwah anaknya.
Malam itu, setelah usai tahlilan, beberapa warga sudah pada pulang. Saroji lalu menutup pintu dan jendela. Isteri dan dua anaknya yang lain sudah berangkat tidur di kamar.
Tidak seperti biasanya perasaan Saroji malam itu tidak enak. Dia tidak bisa memajamkan matanya untuk tidur. Dia lalu duduk-duduk di ruang tengah sambil mengisap rokok lintingan.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu depan. Saroji pun kaget. Dia merasa aneh, karena tengah malam begini ada yang datang bertamu. Tapi mungkin itu orang yang tadi ikut tahlilan dan barangnya ketinggalan, pikirnya.
Tanpa menaruh prasangka apa-apa, Saroji lalu beranjak ke depan untuk membukakan pintu. Sebelum membuka pintu, Saroji sempat menanyai orang yang di luar.
"Sampeyan siapa?"
"Aku, Pak. Aku mau pulang...!" jawab satu suara.
Saroji mengerutkan alisnya. Dia merasakan ada yang aneh dari nada suara orang di luar. Karena penasaran, dia segera membuka pintu. Betapa kagetnya dia, melihat sosok pocongan yang hanya memperlihatkan separo raut wajahnya. Akibatnya, dia tak mampu berkata-kata, karena lidahnya terasa kelu. Seluruh sendri tulangnya seakan mau copot. Sebelum dia jatuh pingsan, sempat terdengar ucapan pocongan itu, "Tolong pak. Antarkan aku pulang. Aku tidak mau disini...."
Ketika Saroji siuman, dia sudah mendapati dirinya berada di atas pembaringan dikerubuti isteri dan anaknya. Mereka terlihat sangat cemas. Mereka bertanya padanya, apa yang sebenarnya terjadi sampai dirinya pingsan di depan pintu.
Saroji enggan menceritakan apa yang telah menimpa dirinya, karena dia khawatir isterinya bakal tambah shock bila tahu dirinya semalam di datangi arwah Masroni. Demi menjaga perasaan keluarganya, Saroji tidak menceritakan hal sebenarnya. Dia mengaku kelelahan karena tidak pernah istirahat.
Tapi rupanya kejadian seperti malam itu bukan dirinya sendiri yang mengalaminya. Beberapa warga lainnya yang tinggal di kampung itu juga mengaku telah didatangi arwah Masroni.
Modus yang digunakan oleh arwah Masroni hampir sama, yakni mengetuk pintu-pintu rumah warga. Dalam keadaan masih memakai kain kafan yang membungkus tubuhnya, Masroni merintih dan meratap. Dia meminta dirinya dipulangkan.
Kontan saja peristiwa ini membuat seisi desa jadi heboh. Kabar tentang arwah penasaran Masroni tersebar kemana-mana. Warga desa jadi takut untuk keluar rumah pada malam hari. Mereka tidak berani membukakan pintu bila ada yang mengetuk. Mereka benar-benar dicekam kengerian dan ketakutan.
Kondisi ini tentu saja membuat sedih keluarga Saroji. Mereka tak mengerti, kenapa arwah Masroni jadi penasaran dan mengganggu warga desa. Padahal seumur hidupnya Masroni tidak pernah berbuat cacat cela. Dia juga anak yang rajin bekerja.
Apakah karena dia mati dalam keadaan tragis, terlindas ban truk, sehingga arwahnya menjadi tidak tenang, demikian pikir Saroji. Suasana menegangkan dan mencekam yang menyelimuti warga desa mencapai puncaknya tatkala pagi yang masih berselimut kabut, Masroni muncul di jalan desa. Dia berjalan sambil menenteng tas ransel menuju ke rumahnya. Banyak warga yang tercengang dan lari ketakutan. Mereka bersembunyi di dalam rumah masing-masing.
Sikap para tetangga yang tampak ketakutan melihat kehadirannya itu membuat Masroni jadi heran. Sesampai di rumah, Masroni juga menghadapi hal sama. Orang tua dan saudara-saudaranya tampak ketakutan. Mereka berteriak-teriak memintanya pergi.
"Ayo, pergi! Jangan gangguan kami!" seru Saroji, ketakutan
"Lho, Pak, Bu! Ada ada apa ini sebenarnya? Kenapa semua orang jadi ketakutan melihat saya? Saya ini Masroni, Pak. Saya baru datang dari Jakarta," tegas anak muda itu.
"Kamu bukan Masroni, kamu arwah gentayangan! Maroni anakkua sudah mati," kata Saroji.
"Astaghfirullah, Pak! Omongan macam apa ini? Saya benar-benar Masroni, anak Bapak. Coba Bapak perhatikan baik-baik, aku masih menginjak tanah. Lagi pula mana ada hantu gentayangan di hari yang sudah terang begini?"
Karena ucapan Masroni begitu meyakinkan, kedua orang tua itu baru sadar. Orang yang berdiri dihadapan mereka benar-benar Masroni. Mereka lalu menghambur memeluk Masroni dan menangis sejadi-jadinya. Mereka senang, karena Masroni ternyata belum mati.
Masroni merasa bingung dengan kejadian ini. Setelah tangis kedua orang tuanya reda, mereka baru bisa menceritakan apa yang telah terjadi. Masroni mendengarkan dengan seksama cerita orang tuanya sambil sesekali tampak terperangah.
"Wah, pantas semua orang takut melihat saya. Rupanya saya dikira sudah mati. Padahal semua itu tidak benar!" cetus Masroni agak geli.
"Kalau begitu, siapa mayat yang pernah kami kuburkan itu?" tanya Saroji, seperti menggumam.
"Yah, mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian yang saya alami, Pak. hari itu, sewaktu saya berangkat ke Jakarta menggunakan bus dan berhenti di daerah Semarang, saya turun sebentar untuk mencari makanan. Tiba-tiba ada orang yang menyenggol saya. Waktu itu saya tidak sadar. Baru ketika saya naik kembali ke dalam bus dan melanjutkan perjalanan saya baru tahu dompet saya kecopetan. Saya yakin dompet itu dicopet orang yang menyenggol saya waktu berhenti di Semarang. Kemungkinan korban kecelakaan yang dikira mayat saya, ya si pencopet itu," jelas Maroni sambil mengingat-ingat.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan kepada kami kalau kamu masih hidup? Setidaknya kamu kan bisa kirim kabar kalau sudah sampai di Jakarta?"
"Ya, saya mana tahu dengan kejadian di sini, Pak. Begitu sampai di Jakarta saya langsung ke rumah Pakle Hadi. Saya lalu menceritakan kejadian yang saya alami. Oleh Pakle saya disuruh tinggal sementara di rumahnya. Tapi entah kenapa, saya merasakan ada firasat aneh. Sepertinya ada yang membisikan saya untuk segera kembali ke kampung lagi. Soalnya semua uang yang saya bawa benar-benar ludes diambil oleh si pencopet. Saya tidak mau membebani Pakle kalau hanya hidup menumpang. Saya lalu nekad pinjam uang sama Pakle dan membeli tiket pulang ke kampung. Niat saya mau minta sangu lagi sama Bapak. E....tidak tahunya di sini telah terjadi kehebohan!"
Mendengar penuturan Masroni, hati Saroji dan isterinya merasa lega. Mereka bersyukur karena Masroni masih hidup. Tapi sejurus kemudian perasaan mereka jadi kecut karena masih menyimpan persolan dengan mayat asing yang telah mereka kuburkan.
"Lalu, bagaimana dengan mayat tak dikenal yang kita kuburkan itu? Kalau tidak segera diatasi, nanti arwahnya akan terus gentayangan mengganggu warga desa?" cetus Saroji cemas.
"Begini saja, Pak. Kita minta saran pada orang pintar yang mengetahui masalah seperti ini," usul Masroni.
Semua setuju. Mereka lalu menemui seorang Kyai di daerah itu yang sangat dihormati. Oleh Kyai disarankan untuk mengadakan prosesi ulng dalam menguburkan jenazah orang tak dikenal itu. Ini harus dilakukan karena sebelumnya mayat itu diatasnamakan orang yang masih hidup.
Disamping itu, harus dicari keluarga si mayat untuk mendapatkan keridhoan. Jika dimungkinkan, jenazah orang yang tak dikenal itu bisa dipindahkan ke tempat yang dikehendaki keluarganya. Kalau keluarga ikhlas jenazahnya tetap dikubur ditempat itu, pemindahan tak perlu dilakukan.
Soal mencari keluarga mayat tak dikenal itu diserahkan kepada polisi. Dan tampaknya tak begitu sulit bagi polisi mencari keluarga mayat tak dikenal itu. Seperti pengakuan Masroni bahwa dompetnya dicopet, polisi lalu menelusuri jejak sang pencopet. Mereka punya data tentang para pelaku kriminal di setiap daerah. Akhirnya, keluarga si pencopet ditemukan. Nama pencopet malang itu adalah Juned. Keluarga Juned mengaku sudah lebih seminggu Juned tidak pulang ke rumah.
Setelah dicocokan dengan data forensik di laboraturium, diketahui bahwa mayat tak dikenal itu adalah Juned. Atas keinginan pihak keluarga kuburan juned lalu dipindahkan ke kampung halamannya.
Begitulah. Sejak makam Juned dipindahkan, arwah gentayangan itu tidak pernah lagi muncul dan mengganggu warga desa. Tapi Masroni yang pernah dikabarkan meninggal masih tetap gentayangan sampai saat ini. Ya, dia memang masih berumur panjang!
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)