BULUH PERINDU ASMARA
PAKET BULU PERINDU YANG MELEGENDA
Solusi asmara anda yang kandas,pacar di ambil orang,cinta bertepuk sebelah tangan, dan semua yang berhubungan dengan asmara ..
Bulu Perindu Asli Kalimantan
khasiatnya antara lain..
pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh, cocok untuk pria dan wanita dan mudah di bawa-bawa,cukup di letakkan di saku dompet,dan kopiah atau ikat pinggang,
dan sepasang bulu perindu akan di kirim lengkap bersama tata cara penggunaannya dan cara penyimpanannya.
mahar : Rp.300.000
Bulu Perindu dalam kemasan plastik
petunjuk dan tata cara pemakaian akan di kirimkan lengkap bersama paket
Bulu perindu.
Cara penggunaan bulu perindu tanpa minyak :
1.untuk memikat cewek cukup baca mantranya pada tengah malam sambil membayangkan wanita/pria yang di tuju.
2.Bulu Perindu direndam sebentar saja dalam segelas air, lalu air nya di minum kan ke istri/suami, pacar atau orang lain yang sengaja akan anda lunakkan atau dibuat simpati hatinya.
insyallah akan nurut, marah jadi senang, benci jadi rindu.
3. Bulu Perindu di rendam sebentar dalam bak/ember sekitar 1 menit, lalu airnya disiram atau dipercik kan disekitar tempat usaha (spanduk, toples, meja, kursi, pintu, kaca , jendela, pagar toko dll agar laris.
bisa juga diletak kan dalam Hand phone (dibelakang batere) agar bisnis lewat HP lancar, dan siapa saja yang mendengar suara atau membaca sms dari HP anda secara bawah sadar akan terpengaruh kagum dan terpesona.
petunjuk lengkapnya akan kami berikan setelah anda memesan produk kami
Tentang bulu perindu :
Bulu Perindu berbentuk seperti bulu yang agak keras/kaku berasal dari sarang burung elang yang berada di atas pohon - pohon yang paling tinggi di pedalaman pulau kalimantan.
Di tempat aslinya Bulu Perindu ini berfungsi untuk menjaga anak - anak burung elang supaya betah/kerasan tinggal di sarangnya sehingga terhindar dari bahaya jatuh dari atas pohon tinggi tempat sarangnya.
Ciri - ciri keaslian :
Jika di tetesi / dibasahi air dan di letakkan di atas lantai atau sehelai kertas, maka secara menakjub kan Bulu Perindu tersebut akan menggeliat - geliat laksana seekor cacing.
Sepasang Bulu Perindu jika di dekatkan / dipertemukan ujung - ujungnya, secara ajaib akan berangsur - angsur saling menjauh.
Sekedar informasi kami telah megirimkan bulu perindu sampai ke luar negeri,
dan semua produk bebas ongkos kirim kecuali ke luar negeri kena tambahan biaya 150.000,-
Alkisah seekor induk burung Rajawali/Elang, membuat sarang diatas pohon yg sangat tinggi sekali di Gunung Bondang. Ianya sedang mau beranak, dan tak ingin jika sudah melahirkan kelak, anak2nya pada jatuh dan pergi sebelum masanya dia menjadi besar dan kuat. untuk itulah sang induk Rajawali/Elang perlu satu bentuk "pegangan".
Maka mulailah ia mencari-cari, terbang berputar kesana kemari menyusuri sungai, dengan pandangan matanya yg fokus layaknya memiliki Infra Red. Tampaklah akhirnya dari ketinggian, sebentuk kecil tetumbuhan layaknya cacing. Nampak jelas tetumbuhan itu ada diatas air sungai, dan anehnya malah seolah hidup berenang melawan arus sungai yg deras.
Segera sang induk menukik tajam kebawah dan menangkapnya dengan paruhnya. Kemudian dibawa terbang dan diletakkan di sarangnya.
tenangnya. karena ia sangat meyakini, anak2nya akan terjaga dari pengaruh gaib si Bulu Perindu yg ada pada sarangnya tersebut.
Yg dengan bulu perindu itu, anak2nya pada betah dan tidak nakal untuk meloncat kesana kemari, sangat betah betah banget tinggal di sarangnya.
dengan mengunakan jasa JNE, TIKI DAN POS INDONSIA.
paket akan tiba dalam 3 hari kerja dan paling lambat 7 hari kerja.
Jangan tunggu sampai pacar anda lari diambil orang !!!
Harap juga di pahami tidak semua yang memakai bulu perindu ini berhasil, kita hanya berusaha semampu yang kita perbuat dan semuanya tentulah kembali kepada Allah SWT yang mengabulkan semua keinginan dan tugas kita adalah berikhtiar sesuai dengan kemampuan kita.
Tuesday, September 21, 2010
AKIBAT BERSETUBUH DI PANTAI KALAP UNTUK DAPATKAN KETURUNAN
Pantai Kalap yang angker itu dipercaya berpenghuni makhluk halus yang bisa diajak berkolaborasi dengan manusia. Salah satunya untuk mendapatkan anak. Caranya, dengan bersetubuh di areal pantai tersebut. Kisah mistis berikut ini salah satu contohnya....
Ini benar-benar aneh, tapi nyata. Sepasang suami isteri muda terpaksa harus kehilangan anaknya karena digondol makhluk gaib. Ini terjadi gara-gara mereka lupa akan nazarnya. Kisah ini dialami suami isteri yang tinggal di daerah Samuda, Kec. Hanau, Kab. Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Bagaimana kisah mistisnya? Berikut penuturan keluarga pelaku kepada Penulis....
Jauhari namanya. Pria ganteng yang bekerja di kantor swasta ini menikahi seorang dara cantik bernama Ida. Namun hingga beberapa tahun usia perkawinan mereka belum juga dikaruniai anak. Padahal mereka begitu mendambakan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga mereka.
Telah banyak dukun maupun dokter yang mereka hubungi, namun tak juga membuahkan hasil. Hingga akhirnya Jauhari berputus asa. Dia lebih banyak melamun daripada bekerja. Hal ini membuat Ida, isterinya jadi uring-uringan. Apalagi Jauhari sering bolos bekerja, sehingga terancam dipecat dan kehilangan penghasilan.
Untung saja atasan Jauhari masih mau mengerti dengan apa yang dirasakan oleh anak buahnya. Dengan niat tulus ingin membantu kesulitan karyawannya, suatu hari Jauhari dipanggil ke ruang kerja si Bos.
"Akhir-akhir ini aku lihat semangat kerjamu sangat menurun. Kau tahu, ini berdampak sangat tidak baik bagi perusahaan, mengingat kau menempati posisi penting di perusahaan ini. Ceritakanlah, apa sesungguhnya yang terjadi pada dirimu!" kata si Bos dengan sikap sangat familier.
"Maafkan saya, Pak! Saya memang ada masalah. Dan itu sangat mengganggu pikiran saya," jawab Jauhari. Dia menceritakan perihal yang membuat hatinya galau, yakni tentang keinginannya untuk segera mempunyai anak, tapi tidak juga kesampaian.
Mendengar itu sang Bos langsung tersenyum. "Aku punya cara untuk masalahmu ini. Tapi coba-coba dululah. Ini belum tentu berhasil," katanya.
"Cara bagaimana, Pak?" Jauhari langsung tertarik.
"Begini…," sang boss langsung mendekatkan mulutnya ke arah telinga Jauhari agar suaranya terdengar lebih jelas. ":Kau tahu lokasi Pantai Kalap kan? Lokasi yang selama ini dipandang angker tapi membawa berkah di daerah kita. Nah, kau bawalah istrimu ke sana, lalu lakukan persetubuhan. Sambil begitu kau memohonlah agar dikaruniai anak." Sang Bos lalu tersenyum. "Ini sudah dicoba oleh relasi bisnisku dulu, dan ternyata terbukti berhasil. Tapi ingat, sesudah itu kau ucapkan nazarmu apa yang akan kau lakukan kalau kau dikaruniai anak, lalu tepati janjimu itu!"
"Semudah itukah, Pak?" Jauhari terbelalak.
"Ya, kau cobalah dulu. Semoga berhasil!" Tandas si Bos.
Meski dengan hati setengah tak percaya Jauhari menuruti juga saran Bosnya. Saat hari libur tiba, dia mengajak istrinya ke tempat yang dimaksudkan.
Pagi hari itu juga mereka ke Pantai Kalap, tempat orang biasa melakukan ritual untuk berbagai macam hajat. Memang, sebagaian orang menganggap tempat ini merupakan sarang makhluk halus.
Setelah mereka sampai di Pantai Kalap yang letaknya sekitar 100 Km. dari kota Sampit, keduanya turun dari sepeda motor. Lalu, di semak-semak di pinggir pantai keduanya melakukan percumbuan hingga Jauhari terpancing gairahnya. Lalu dia melepas seluruh pakaiannya. Karuan saja hal ini membuat istrinya terbelalak sambil tersenyum geli. Tapi dia juga akhirnya melepas seluruh pakaiannya.
Begitulah, hari sudah menjelang sore ketika keduanya selesai berasik masyuk. Keduanya berkeringat dan terengah-engah. Lalu cepat-cepat memakai baju masing-masing.
"Apa benar kita akan segera punya anak, Bang?" tanya Ida, penuh harap.
"Mudah-mudahan saja. Kita hanya berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Yang penting kita harus banyak-banyak berdoa," jawab Jauhari.
Anehnya, sebulan sesudah peristiwa itu, ternyata Ida memang benar-benar hamil. Hal ini tentu saja membuat Jauhari bagaikan bermimpi. Dia terbelalak seakan-akan tidak percaya melihat hasil pemeriksaan di Rumah Sakit.
"Kamu benar-benar hamil, Dik!" cetusnya dengan rasa bangga.
"Iya, Bang! Aku benar-benar hamil! Dan itu berarti kita akan punya anak," kata Ida yang juga tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Alangkah bahagianya hati Jauhari dan isterinya saat itu.
"Kalau anakku lahir nanti, aku akan kelilingi pulau Kalimantan ini tujuh kali, Deh!" kata Jauhari sambil tertawa. Maksudnya cuma main-main. Tapi anehnya, bersamaan dengan ucapannya itu tiba-tiba petir menyambar. Keduanya kaget. Lalu mereka sama-sama terdiam.
"Suara apa itu, Bang?" Tanya Ida, cemas.
"Ya suara petir. Memangnya suara apa?" Jauhari bagai tidak peduli karena kegembiraan hatinya.
Hari-hari berikutnya, keduanya terus merasakan kegembiraan menanti kelahiran anak pertama. Akhirnya, anak pertama mereka lahir. Keduanya merasa sangat bersyukur karena mereka dikaruniai anak laki-laki. Yang lucu dan menggemaskan, yang kata sebagian orang sangat mirip dengan bapaknya.
"Selamat aku ucapkan kepada kalian! Kalian beruntung bisa mendapatkan anak setelah sekian lama dinanti-nantikan," kata sang Bos ketika mendengar berita kelahiran anak Jauhari.
"Kami memang sangat bersyukur. Ini berkat petunjuk Bapak. Lokasi Pantai Kalap itu benar-benar hebat, Pak! Sungguh luar biasa!” Kata Jauhari berapi-api.
"Husy, Abang jangan berkata begitu! Itu sirik namanya, Nang!" Ida coba mengingatkan.
Sang Bos malah tertawa. "Istrimu itu benar. Kau harus banyak-banyak bersyukur kepada Tuhan," katanya. “Tapi…ngomong-ngomong kau janji apa waktu itu di Pantai Kalap?” tanyanya setelah diam sejenak.
Sejenak hening di antara mereka. Jauhari sendiri bingung, sebab waktu itu dia tidak berjanji apa-apa.
"Kalau kau malu mengatakannya, ya tidak apa-apa. Tapi mesti diingat bahwa janjimu setelah berhajat di sana harus kau tepati," kata sang Bos lagi.
"Tapi kami tidak berjanji apa-apa," kata Jauhari spontan.
Jawaban ini membuat sang Bos mengerutkan alisnya. "Tidak berjanji apa-apa? Ah, tidak mungkin! Bagaimana anak kalian bisa lahir?” ujarnya, seperti bingung.
Jauhari dan istrinya kembali saling berpandangan. Namun, Ida tiba-tiba berucap, "Waktu mendapatkan tes positif kehamilanku Bang Jauhari cuma bilang, jika bayi kami lahir nanti Bang Jauhari akan berkeliling pulau Kalimantan sebanyak tujuh kali."
"Ah, tapi aku cuma main-main!" sahut Jauharu, cepat. Dia agak terlihat gugup di hadapan Bosnya.
"Mudah-mudahan tidak apa-apa. Tapi lain kali aku menyarankan kalian harus lebih hati-hati lagi jika mengucapkan janji. Apalagi yang menyangkut urusan Pantai Kalap," kata sang Boss.
***
Waktu terus berlalu. Tak terasa Jauhari dan Ida sudah tiga tahun merasakan kebahagiaan mempunyai seorang anak. Tak terasa pula Jauhari sudah melupakan janjinya di masa lalu, yang dia ucapkan sewaktu istrinya positif mengandung. Dan selama itu, ternyata tidak terjadi keanehan apa pun.
Memang, janji terkadang sulit ditepati. Apalagi janji yang menyangkut hal yang mustahil untuk kita laksanakan. Tapi itulah janji. Kadang-kadang, sebagian dari janji yang kita ingkari malah bisa membawa malapetaka bagi diri kita. Seperti halnya Jauhari yang telah mengingkari janjinya.
Hari masih pagi ketika Jauhari terkejut mendengar jeritan Ida, istrinya, “Baaang…Abaang!" Dia berteriak dari dalam rumah.
Jauhari bergegas mendatangi istrinya. "Ada apa? Pagi-pagi kok ribut," tanyanya.
Ida masih kelihatan bingung. "Si Ucit kemana? Tadi waktu aku ke dapur dia masih di kamar ini. Tapi waktu aku balik ke kamar, dia sudah tak ada lagi."
"Mana aku tahu! Mama lihat sendiri kan, dari tadi aku sedang asyik membersihkan halaman. Mungkin dia keluar sendiri dan bermain,: kata Jauhari. "Cobalah kita cari di halaman belakang. Siapa tahu si Ucit ada di sana.”
Keduanya jadi sibuk mencari-cari. Tapi si Ucit tidak juga mereka ketemukan. Bahkan keduanya menggeledah seisi rumah, sampai ke halaman tetangga segala.
"Kemana ya perginya anak itu? Tidak biasanya dia seperti ini,” keluh Ida, kian cemas. Keringatnya bercucuran. Dia mulai khawatir, jangan-jangan putranya menjadi korban penculikan.
Keduanya terus sibuk mencari-cari. Tapi hingga sore menjelang Ucit tak jua mereka ketemukan. Keduanya pun semakin panik. Ida malah sudah berkali-kali menangis.
Jauhari sendiri bingung harus berbuat apa. Untung saja para tetangga langsung berdatangan dan turut mencari di sekitar rumah. Setelah sekian lama mencari di mana keberadaan Ucit, tiba-tiba salah seorang tetangga yang bernama Parno berteriak, "Hei, anakmu ada di sini! Ada di dalam kamar ini!"
Semuanya tersentak mendatangi arah suara Parno. Aneh, di kamar itu mereka mendapati Ucit sedang asik bermain dengan mobil mainannya. Semuanya bingung. Bingung karena waktu mencari-cari tadi Ucit tidak berada di kamar itu, tapi sekarang tiba-tiba sudah berada di dalamnya. Padahal, entah sudah berapa kali kamar itu diobrak-abrik namun Ucit tidak ada di sana.
Ida menangis terisak-isak sambil memeluk anak itu. “Ucit, kami ke mana saja, Nak?" tanyanya sambil membelai-belai rambut Ucit yang lebat.
"Ucit diajak Bibi jalan-jalan," jawab Ucit dengan suara yang masih agak pelat. Dia sendiri tampak bingung melihat tetangga berdatangan. Semuanya mengerubung di dalam kamar itu.
"Bibi? Bibi yang mana?" bertanya Jauhari sambil mengerutkan keningnya.
"Bibi yang naik dan bisa terbang ke atas!" anak itu menunjuk ke langit-langit kamar. Semuanya menengadah ke sana. Tapi mereka tak menemukan sesuatu apapun.
"Bibi Dewi cantik sekali. Ucit suka sama dia!" anak itu terus berceloteh membuat yang hadir saling berpandangan.
"Perasaan di er-te kita ini tak ada warga yang bernama Dewi,” celetuk seorang tetangga bernama Ridwan.
Sementara itu, Jauhari merasakan hatinya berdesir aneh. "Ucit diajak kemana saja?" selidiknya.
"Jauh sekali, Ayah! Ucit ke istana. Uh, enak sekali. Ucit nanti sore mau dijemput Bibi lagi, disuruh tinggal di istana. Bibi Dewi baik...baik sekali!" jelas Ucit. Kemudian dia tertawa lucu sehingga membuat yang melihatnya ternganga.
"Astagfirullah! Jangan-jangan anakmu digondol dedemit, Jo!" Ridwan terbelalak ngeri.
"Ah, kamu jangan ngaco!" sergah Parno.
Tapi Jauhari merasakan hal yang sama. Dia menangkap suatu ketidakberesan telah terjadi di rumahnya. Anak kecil sebaya Ucit biasanya jarang sekali berbohong.
"Sudahlah! Yang penting anakku sudah ditemukan. Aku berterima kasih sekali kepada kalian. Hampir saja aku berpikir bahwa anakku menjadi korban penculikan," katanya berusaha mengakhiri perdebatan.
Pukul setengah lima sore para tetangga yang berkerumun itu membubarkan diri untuk masing-masing pulang ke rumahnya. Begitu para tetangga sepi, Jauhari dan Ida pun kembali melakukan aktivitasnya.
Namun, selesai menyiram bunga dan bermaksud akan berbalik ke dalam rumah, hidung Jauhari merasakan aroma seperti bunga kenanga. Harum semerbak.
"Bau darimana ini ya?" pikirnya. Saat dia mengambil sapu lidi di dalam rumah, bau aroma bunga itu semakin tajam. Bahkan menyengat hidung.
Jauhari tengok kanan- kiri mencari sumber asal bau itu. Baru saja dia akan masuk ke dalam rumah untuk menemui isterinya, tiba-tiba terdengar suara bernada tajam, "Kau sibuk mencariku bukan?"
Jauhari tersentak kaget. Dia cepat-cepat menoleh ke arah asal suara. Di belakangnya berdiri seorang perempuan bergaun merah. Cantik sekali, bagaikan bidadari dari kayangan. Jauhari terpana melihatnya.
"Si...si...siapa kau?” Jauhari tergagap. Dia mundur selangkah demi menyadari bahwa aroma bunga kenanga yang tercium tadi adalah berasal dari tubuh perempuan itu.
"Aku? Ah, rasanya kau tak perlu tahu! Tapi aku datang ke sini untuk mengingatkan kau akan janjimu dulu. Ingatlah, kau pernah berjanji apa sewaktu isterimu mengandung sebagai hasil hubungan intim yang kalian lakukan di Pantai Kalap, di beranda istanaku?"
"Aku…aku…," Jauhari semakin gagap.
"Kuingatkan, Jauhari! Waktu lima tahun bukanlah waktu yang singkat buat menepati sebuah janji!"
"Tapi aku…."
"Sudahlah! Aku sudah cukup memberi masa yang panjang untukmu. Sekarang tiba waktuku untuk mengambil anak itu!"
"Ja...jangan! Dia anakku, anakku satu-satunya!" Jauhari menjerit ketakutan. Keringat dingin di tubuhnya bercucuran. Dia bersimpuh di hadapan perempuan itu sambil menangis.
Saat itulah Ucit muncul di pintu. Dia menatap lucu ke arah perempuan jelita itu. "Hiii, Bibi Dewi datang. Asyiiik…!” cetusnya untuk kemudian menghambur ke pelukan perempuan cantik itu yang serta merta menggendongnya.
"Kita jalan-jalan ke istana lagi, yuk!" ajak Ucit dengan lugunya.
Sementara, Jauhari hanya melongo. Wajahnya pucat. “Ucit, jangan pergi, Nak!" pintanya sambil terus menangis.
"Kau jangan khawatir, Jauhari. Sewaktu-waktu Ucit masih bisa datang kepadamu. Terutama di malam Jum'at. Sediakanlah kopi pahit untuknya, juga sebutir telur ayam kampung. Dengan demikian dia akan selalu membantumu bilamana kau kesulitan. Percayalah!" kata perempuan itu.
Setelah itu dia menjentikkan jarinya. Seketika lenyap meninggalkan asap tipis yang membubung ke angkasa lalu menghilang tersapu angin.
Jauhari menggigil badannya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Dia baru sadar dari keterpukauannya ketika mendengar isterinya memanggil.
"Bang, Ucit ke mana lagi?" tanya Ida sambil terpaku.
Jauhari merasakan mulutnya sulit untuk digerakkan, "Dia… dia…!" kata-kata ini tak bisa diteruskannya. Saat isterinya mendekat, Jauhari sudah keburu jatuh pingsan!
***
Hari-hari yang menyedihkan! Bagitulah yang dirasakan Jauhari bersama Ida, isterinya. Mereka hanya bisa meratapi nasibnya karena kehilangan anak yang sangat mereka sayangi.
Namun, sesuai janji Dewi penguasa Pantai Kalai itu, di waktu-waktu tertentu Ucit memang masih mau mendatangi kedua orang tuanya. Namun dia telah berubah. Ucit yang dulu lucu kerap datang dalam wujud raksasa yang menakutkan, yang kemunculannya selalu ditandai dengan angin ribut di sekitar rumah Jauhari.
Angin ribut itu hingga kini dipercaya warga sekitarnya sebagai pertanda akan munculnya raksasa hasil perpaduan antara gaib dan nyata itu. Entah benar atau tidak. Yang pasti, masyarakat sekitarnya setiap malam Jum'at acapkali mendengar Jauhari dan isterinya bercakap-cakap dengan sesuatu yang tak nampak di mata mereka. Hal ini merupakan suatu pertanda bahwa biarpun si kecil Ucit telah berpindah ke alam gaib, namun tak akan pernah bisa melupakan kedua orang tuanya.
TUNTUTAN DARI ALAM KUBUR
Kisah mistis ini terjadi di sebuah desa terpencil di pesisir Banten. Untuk melindungi pravacy para pelakunya, baik nama pelaku maupun tepat kejadian sengaja kami rahasiakan....
Malam itu suasana desa di tepi pantai Selat Sunda itu terasa begitu mencekam. Udara dingin yang menggigit sekujur tubuh membuat sesosok lelaki bernama Haryadi meringkuk sambil memeluk sebuah guling. Dia tak pergi melaut malam ini. Dia merasa badannya kurang enak, seperti akan didera sakit.
Suasana begitu sepi, senyap tiada suara. Tiada rengekan manja sang isteri yang menggeluti dadanya saat memadu kasih. Tiada lagi desahan-desahan napas menggelora yang membawanya terbang ke angkasa. Haryadi kini merasa seorang diri di dunia yang fana ini.
Entah mengapa, malam yang semakin larut, membuat Haryadi semakin tersiksa oleh rasa sepi. Sayup-sayup suara jangkrik dan binatang malam di kejauhan sana seolah menertawakan kesunyian dirinya. Ingin dia berteriak, mengumpat dan memaki, tetapi kepada siapa umpatan dan makian itu harus ditujukan. Semua yang terjadi memang akibat usulnya yang edan, bahkan nyaris tak berperasaan.
Dan malam ini, adalah malam yang dijanjikan almarhumah isterinya agar dia menemuinya di tanah pekuburan. Bagaimana mungkin isterinya yang telah mati beberapa hari silam itu memintanya bertemu...?
Lelaki berotot kekar itu menerawang ke atas langit-langit gubuknya yang reyot di makan usia. Dia tak pernah merasa seperti ini. Dia tak merasa begitu tersiksa dengan masa lalunya. Dan dia tak pernah teringat pada isterinya yang mati dengan tragis itu.
Tapi, malam ini benar-benar terasa lain. Dalam kesunyian yang nyaris sempurna, lamat-lamat Haryadi malah seperti mendengar kembali suara isterinya, sebelum dia memaksanya untuk melakukan perbuatan nista itu.
"Bila anak kita ini lahir, apa yang Akang inginkan dariku?"
Haryadi tidak lekas menjawab. Hatinya tengah dipermainkan oleh suatu keingian yang aneh.
"Sulastri isteriku, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu," katanya saat itu.
Sulastri memandangi suaminya dengan bola matanya yang penuh dengan kemurnian cinta. Dia pasrah dan begitu tulus menyayangi Haryadi, pria yang telah berhasil merebut cintanya. Dia bahkan rela meninggalkan orang-orang yang dikasihinya demi cintanya yang tulus. Dia tak peduli dengan segala hujatan dan ultimatum dari kedua orang tuanya. Sulastri sama sekali tak mengira bahwa lelaki yang digila-gilakannya itu kelak justru akan menjatuhkan vonis kematian atas dirinya.
Malam itu, Haryadi masih ingat, ketika mereka lama saling terdiam. Bibir Sulastri yang ranum terbuka kecil menantikan gerangan apa yang akan disampaikan oleh lelaki yang telah menjadi suaminya, yang sebenarnya tidak disetuju oleh kedua orang tuanya itu. Sampai akhirnya terdengar suara lemah dari mulut Haryadi, setelah dia menarik nafas panjang.
"Lastri, sebelumnya aku minta maaf. Mungkin impianmu tidak akan menjadi kenyataan. Terpaksa ini harus kita lakukan. Bukan karena aku tidak mencintai kamu dan anak yang kini kau kandung itu, tapi sekali lagi aku terpaksa mengusulkan hal ini. Akang minta pengertianmu, Lastri?" Haryadi seperti ragu untuk mengungkapkan isi hatinya.
Sulastri bingung, "Apa sih sebanrnya yang Akang inginkan?" tanyanya sambil menatap wajah Haryadi dengan tatapan kosong. Dia sungguh tak mengerti dengan apa yang dimasud oleh suaminya. Dia hanya tahu bahwa suaminya sangat mencintainya.
Malam itu, Sulastri hanya diam dan menunggu. Sementara itu, Haryadi memperhatikan wajah isterinya dengan seksama seakan mencari tahu reaksi Sulastri. Setelah menenangkan sejenak gemuruh hatinya yang kian keras, barulah haryadi melanjutkan kata-katanya.
"Begini, Lastri! Oleh karena keadaan kita yang sungguh terjepit, aku minta kau sudi melakukannya untukku. Kamu mau kan?"
"Maksudmu melakukan apa?" tanya Sulastri gemetar, karena selama ini memang tak pernah membantah setiap kemauan suaminya.
"Bagaimana kalau kita gugurkan saja anak yang kau kandung itu?" jawab Haryadi lirih, seakan dia sendiri penuh keraguan untuk mengusulkn ide gila tersebut.
"Kang...oh..." hanya itu suara yang keluar dari bibir mungil milik Sulastri. Kemudian terdengar isakan halus dari rongga dadanya. Dia lari memeluk bantal. Haryadi mendekati dan membelai dengan lembut rambut Sulastri. Lelaki itu mengecup tengkuk isterinya, lalu membalikkan wajahnya.
"Lastri dengar dulu! Akang tahu perasaanmu. Aku pun sebenarnya tak mau melakukannya. Tapi keadaan kita Lastri...keadaan kita. Kau tahu betapa besar biaya yang harus kita keluarkan untuk merawat anak kita kelak. Kita masih sangat miskin, sedangkan kau tahu orang tuaku tak mungkin dapat membantu, keadaan mereka hampir tak berbeda dengan kita. Sementara orang tuamu jelas masih memusuhi kita," tutur Haryadi dengan suara parau.
"Lastri, bukankah lebih berdosa bila kita tak mampu merawat anak kita kelak? Nanti, setelah keuangan kita sudah memungkinkan, kita bisa memiliki selusin anak," tegasnya.
Haryadi sengaja menekan kata "selusin anak", untuk menunjukkan perasaannya sendiri yang sesungguhnya penuh dengan ketakutan. Dia melihat ke atas dan merasa Tuhan amat murka atas tindakannya. Namun, di pihak lain iblis terus membakar hatinya agar Haryadi lebih mengeraskan tekad jahatnya.
Pada akhirnya, Sulastri terbius oleh bujuk rayu suaminya. Meski ada rasa khawatir dengan kandungannya yang telah berusia empat bulan, tapi dia tak kuasa berbuat apa-apa. Dia tak mampu melawan kehendak suaminya yang takut menghadapi kenyataan. Ya, sebagai kepala rumah tangga yang tak memiliki pekerjaan tetap, Haryadi tiba-tiba memang menjadi seorang pengecut. Dia sepertinya tak percaya bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Adil atas semua makhlukNya. Haryadi memang picik, sehingga iblis menari-nari atas kemenangannya.
Tiga bulan silam, pagi-pagi sekali, Haryadi mengajak Sulanstri pergi ke rumah seorang dukun yang terkenal. Setelah sepasang suami isteri itu mengutarakan maksud kedatangannya, sang dukun menyodorkan semacam ramuan yang harus diminum Sulastri agar kendungannya ke luar sebelum saatnya. Walaupun rasanya sangat pahit dan sepat, Sulastri tetap memaksakan diri untuk meminumnya.
Memang, tanpa memerlukan waktu lama ramuan itu langsung bereaksi. Perutnya terasa mulas dan sakit luar biasa. Ingin dia menjerit, tapi dengan sekuat tenaga ditahannya. Sementara itu sang dukun terus memijit perutnya ke atas dan ke bawah.
Sekitar setengah jam setelah dipijat terus menerus oleh dukun itu, sakit di perut Sulastri agak berkurang. Sebelum sang dukun mengizinkan mereka pulang, Sulastri disodori ramuan yang haus diminumnya lagi di rumah.
Namun, ketika hari itu baru saja sampai di rumah, Sulastri kembali merasakan kesakitan yang lara biasa. Walau berusaha menahan, tapi erangannya makin lama makin melengking tinggi.
Melihat keadaan isterinya yang begitu rupa, Haryadi tentu saja menjadi sangat cemas. Cukup lama Sulastri bergulat dengan kesakitannya, sedangkan Haryadi hanya bisa bingung tanpa tahu apa yang harus dilakuaknya.
Keadaan Sulastri semakin parah ketika darah mengucur deras membanjiri kedua pangkal pahanya, disusul kemudian gumpalan darah kehitam-hitaman. Terdengar suaranya merintih pilu dan menyayat hati bagi siap pun yang mendengarnya. Tapi sesaat berselang Sulastri terdiam, dan tubuhnya tak bergerak-gerak lagi. Nafasnya yang tadi bergemuruh, kini lenyap dan berganti ketenangan yang tak berirama. Wajahnya tampak begitu pucat. Ya, Sulastri akhirnya mati karena kehabisan darah.
Melihat peristiwa tragis itu spontan Haryadi terpekik sambil menguncang-guncang tubuh isterinya. Dia menjerit-jerit memanggil nama isterinya, tapi Sulastri tetap terbujur kaku di tempatnya.
Haryadi merasa sangat menyesal dan berdosa. Dia merasa telah membunuh isterinya sendiri. Dalam hati Haryadi mengutuki dirinya sendiri, tapi penyesalannya memang tiada berguna lagi.
Tak lama kemudian sekitar rumahnya mulai berdatangan para tetangga, karena teriakan Haryadi memang menembus dinding-dinding bilik rumah mereka di malam pekat itu. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi, tapi Haryadi tak berani menjelaskan sebab musabab yang sesungguhnya. Orang kampung itu akhirnya hanya tahu bahwa Sulastri mati karena keguguran. Dan, mereka mencoba menghibur Haryadi sambil menyatakan bela sungkawa. Para tetangganya menyuruh Haryadi untuk bersabar dan tawakal, lantaran tak ada seorang manusia pun yang mampu mengelak diri dari takdir Illahi.
***
Malam itu, beberapa hari setelah isterinya meninggal, seorang lelaki bernama Hasan datang ke rumah Haryadi. Wajahnya tampak begitu pias seakan memendam ketakutan yang luar biasa. Dengan napas tersengal-sengal dia memanggil-manggil Haryadi.
"Ada apa, Dik Hasan?" tanya Haryadi sedikit kaget.
Dengan terbata-bata Hasan menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Pemuda itu baru saja melihat sosok Sulastri di kegelapan ujung jalan desa. Bahkan, almarhumah isteri Haryadi tersebut sempat berpesan kepada Hasan, agar Haryadi menemuninya di tanah pemakaman pada esok malam.
Serasa bagai disambar petir di siang bolong Haryadi mendengar cerita pemuda itu. Sungguh rasanya tak masuk di akal. Mana mungkin orang meninggal bisa bangkit lagi? Apalagi sampai ingin ditemui dikuburannya? Begitulah hati Haryadi bertanya-tanya.
Dan, malam itu haryadi semakin dilanda penyesalan dan ketakutan. Dia seakan merasa dikejar oleh bayangan yang tak berwujud.
Keesokkan harinya peristiwa itu telah menyebar ke seluruh pelosok kampung. Semua warga mempergunjikan kejadian aneh yang dialami oleh Hasan.
Lalu, apa yang terjadi dengan Haryadi?
Mulanya Haryadi tak mau memenuhi permintaan almarhumah isterinya. Namun, atas bujukan orang kampung, dengan penuh rasa takut plus bersalah yang luar biasa dia mau mengunjungi makam isterinya.
Malam itu udara agak lembab. Langit tampak hitam pekat, seakan bintang-bintang segan menampakkan diri. Angin bertiup agak kencang, membuat bulu kuduk Haryadi dan orang kampung pesisir Selat Sunda yang mengawalnya meremang tak terkendali. Batu-batu nisan di perkuburan itu bagaikan bayangan tangan setan yang siap mencengkeram siap saja. Lolongan anjing yang terdengar melengking panjang di kejauhan seolah memberi tanda bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang mengerikan.
Dengan penerangan obor, orang kampung mengantarkan Haryadi ke pemakaman Sulastri. Dari jarak sekitar tiga meter mereka melepaskan Haryadi yang dengan kaki gemetar terus mendekati makam Sulastri. Langkah Haryadi gemetaran karena diliputi rasa takut dan sesal yang amat dalam. Api obor yang dibawanya bergerak lemah ke kiri dan ke kanan, tertiup angin yang terasa lebih kencang.
Sementara itu, lolongan anjing kian jelas memecah kesunyian malam seperti memberi isyarat maut bagi Haryadi.
Sewaktu kaki Haryadi telah menginjak ujung makam, tiba-tiba tampak asap putih muncul dari kepala makam. Asap itu mulanya tipis saja, tapi kian lama kian menggumpal jelas. Beberapa detik berselang dari gumpalan asap tebal itu menjelma sosok Sulastri, berdiri dengan wajah sangat muram. Dia memandang Haryadi dengan mata penuh penyesalan dan pengharapan. Kemudian terdengar suaranya halus dan lirih.
"Kang, Lastri tidak tahan oleh azab kubur yang kini kualami. Lastri minta pengertian Akang. Lastri mohon agar Akang mau menemani Lastri untuk sama-sama merasakan penderitaan yang aku rasakan. Aku tidak sanggup menanggungnya seorang diri, Kang. Bukankah dulu Akang pernah berjanji mau merasakan suka dan duka bersamaku? Mau kan, Kang?"
Darah yang mengalir di tubuh Haryadi seolah berhenti seketika. Dia diam tak bersuara. Dia merasa tak mungkin mengabulkan pengharapan almarhumah isterinya. Sebenarnya, seperti itulah dulu perasaan Sulastri tatakala dituntut mengabulkan permintaan Haryadi untuk menggugurkan kandungannya.
Saat itu juga Haryadi ingin berlari jauh meninggalkan tanah pekuburan itu, tapi kakinya bagaikan diikat tambang, tak dapat digerakan walau sedikitpun.
Orang-orang kampung ingin menolong Haryadi. Namun sebelum mereka bisa mendekati Haryadi, tangan Sulastri sudah lebih dulu terulur dan menarik Haryadi dengan kuatnya. Dan, apa yang terjadi kemudian sungguh suatu fenomena yang sulit diterima akal sehat. Betapa tidak? Sulastri tiba-tiba lenyap dari pandangan. Dia meninggalkan suara cekikikan persis suara Mak Lampir, membuat semua bulu kuduk merinding.
Saat orang-orang mendekati tubuh Haryadi yang terkulai di kaki batu nisan Sulastri, ternyata laki-laki itu sudah tak bernyawa lagi. Sayup-sayup mereka masih sempat mendengar suara nyaring tawa Sulastri di kejauhan.
Malam itu terasa bagai malam yang amat panjang bagi penduduk kampung di pesisir Selat Sunda itu. Lolongan anjing yang bersahut-sahutan ditingkahi suara angin di area perkuburan itu seolah mengiringi kepergian Haryadi yang "dicabut" nyawanya oleh almarhumah isterinya sendiri. Barangkali memang demikian adanya Siapa yang beruat pasti akan menuai hasilnya.
Semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah mistis yang sangat aneh ini...
ULAR SILUMAN MENGHANCURKAN DESAKU
Kisah mistis ini dituturkan oleh Cecep Suryana. Seorang petani tanpa sengaja membunuh seekor ular bertubuh emas. Ternyata, si ular adalah putri di kerajaan Siluman Ular yang bernama Nagagini. Akibat kematiannya, para ular ular siluman menebar teror....
Peristiwa ini terjadi di sebuah kampung di daerah Situraja, Kab. Sumedang. Memang sudah puluhan tahun berlalu. Namun, kisah aneh yang diceritakan oleh Cecep Suryana, penduduk Jl. Talun, Kel. Talun Kidul, Sumedang ini sungguh amat menegangkan.
Cecap yang Pegawai Negeri Sipil itu bercerita tentang kejadian super misterius di kampungnya. Dia dan ayah, ibu, serta kakak perempuannya pernah melihat ular yang diduga binatang jadi-jadian. Ular siluman ini, konon mengamuk karena kehilangan pasangannya.
Pengalaman mengerikan dan menakutkan itu sampai kini masih membekas dalam benak Cecep. Berikut ini kisah yang dituturkannya kepada Misteri...:
Tak ada seorang pun yang menyangka kalau desaku akan dilanda malapetaka. Desa yang elok dan aman damai itu menjadi porak-poranda diamuk makhluk jejadian yang amat menakutkan. Makhluk itu berwujud ular. Keberadaan dan ulahnya sungguh mengharu-biru warga di kampungku.
Aku dilahirkan di sebuah desa yang amat asri. Nama desa itu Situraja, Kabupaten Sumedang. Desaku adalah desa yang aman tenteram dan subur.
Kebetulan, Ayahku adalah seorang Kuwu (kepala desa) di desa yang gemah ripah loh jiwani. Selaku Kuwu, Ayahku bagai "Raja Kecil" yang kekuasaannya cukup besar. Apalagi beliau juga kaya raya karena mendapat warisan dari nenekku, ditambah dengan sawah bengkok yang luas, sehingga kekayaannya makin berlimpah.
Ayah yang tampan dan bertubuh tinggi besar itu, setiap hari naik kuda kalau mengontrol kebun dan sawahnya yang sangat luas.
Kuda putihnya yang bernama Si Paser, merupakan binatang kesayangan kami sekeluarga. Dinamai Si Paser, karena larinya sangat kencang bagai anak panah lepas dari busurnya.
Aku juga senang bermain-main dengan Si Paser kalau kebetulan kuda asal Australia itu tidak dibawa oleh ayahku.
Meskipun terlahir sebagai anak orang kaya, namun aku tidak menjadi anak yang manja. Bahkan, aku tergolong anak yang berkelakuan baik sehingga disayang oleh Ayah Bundaku. Sejak kecil aku dididik menjadi anak yang santun. Bundaku yang cantik itu selalu mengajariku bagaimana menjadi anak yang baik, shaleh, serta berbakti kepada kedua orang tua.
Selain memiliki kuda putih yang bernama Si Paser, Ayahku juga memelihara seekor ular sanca yang sangat besar. Ular itu diselamatkan ayahku tiga tahun yang lalu dalam keadaan sekarat karena tertimbun batu yang longsor di sebuah areal berbukit yang disebut warga desa setempat dengan nama Batugulung.
Si Bencoy nama ular itu. Dia menjadi teman bermainku setiap hari. Ular ini sangat jinak. Makananya tikus dan bangkai ayam, atau kadang-kadang ikan yang dikail kakakku, kang Jana, dari sungai Cileuleuy.
Sejak berteman dengan Si Bencoy, aku menjadi senang bermain-main dengan ular. Ular jenis apapun menjadi temanku yang setia. Semula bunda melarangku berteman dengan ular-ular itu, karena takut terjadi sesuatu dengan diriku.
Namun, mungkin karena aku begitu menyayangi Si Bencoy, akhirnya Ibu membiarkanku bermain dengan ular-ular itu. Selain Si Bencoy, aku juga sangat sayang pada ular belang yang ditemukan ayahku di bawah batu besar di kawasan Batugulung. Ular yang kuberi nama Si Belang itu tampak bersahabat dengan Si Bencoy.
Si Belang tak berumur panjang. Binatang melata yang lucu itu mati karena menelan umpan yang telah ditaburi racun tikus. Tanpa sengaja Kang Jana memberikan umpan ini karena dia tahu kalau tikus yang diberikan kepada Si Belang ternyata ada racunnya. Aku sangat sedih kehilangan Si Belang.
Saat aku berusia 12 tahun, desa yang aman itu diterpa prahara. Sawah-sawah penduduk yang sebentar lagi akan dipanen rusak binasa. Padinya menjadi hampa, daunnya yang semula hijau royo-royo berubah menjadi cokelat kering seperti habis diterjang angin berapi. Sawah kedua orang tuaku yang luas pun habis binasa.
Melihat kenyataan ini, tentu saja semua penduduk desa menjadi prhatin. Banyak petani menangis histeris.
Begitu malam menjelang, warga desa cepat-cepat mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Siang hari pun jarang ada penduduk yang pergi ke ladang. Desa yang damai itu dalam sekejap berubah menjadi daerah mati.
Ayahku yang gagah, mendadak menjadi loyo dan tak bergairah. Sepertinya dia amat terpukul berat oleh bencana yang menimpa desanya. Dia tak berdaya mengatasi malapetaka yang dahsyat itu. Ayah memang sudah berusaha meminta tolong kepada orang pintar di kampungku dan kampung tetangga. Namun, orang-orang tua yang dianggap memiliki kemampuan gaib itu tak berdaya. Mereka angkat tangan, tak bisa mengatasi malapeta itu.
Ayah dan semua orang di kampungku berusaha mencari akar penyebab prahara yang menimpa. Karena, tak mungkin kampung kami yang semula aman damai mendadak menjadi daerah mati yang menakutkan, tanpa ada sesuatu yang menjadi penyebabnya. Akhirnya, penyebab bencana itu ketahuan juga.
Menurut informasi, beberapa hari yang lalu, seorang warga desa bernama Ukin, membunuh seekor ular aneh di kebunnya. Waktu itu, Mang Ukin sedang membersihkan rumpun alang-alang. Tiba-tiba dia melihat seekor ular berwarna kuning emas dengan kepala merah membara mendekatinya.
Ular sebear ibu jari kaki dan panjangnya lebih dari satu meter itu, menatap Mang Ukin dengan matanya yang menyala. Tubuhnya yang indah bercahaya keemasan begitu memukau.
Sejenak Mang Ukin terpana. Namun, tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Apalagi saat ular aneh itu membuka mulutnya yang bertaring tajam. Mang Ukin yang mendadak ketakutan mengira ular itu akan mematuknya. Sehingga, secara reflek parang yang dia pegang diayunkan ke tubuh ular aneh itu. Sekali tebas tubuh ular itu terpotong menjadi dua bagian.
Tapi, keanehan terjadi. Darah yang keluar dari tubuh ular yang terpotong jadi dua itu berwarna putih. Lebih aneh lagi, tercium bau harum dari darah itu. Entah bau harum bunga, dupa, atau kemenyan, Mang Ukin tidak tahu persis. Pasalnya, setelah membunuh ular aneh Mang Ukin kepalanya mendadak merasa pusing. Matanya berkunang-kungna. Dia limbung dan nyaris jatuh pingsan.
Namun, sebelum tubuhnya jatuh, Mang Ukin berusaha meraih batang pohon petai cina yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ketika itulah mata Mang Ukin menatap binatang yang baru saja dibunuhnya. Tampak tubuh ular aneh itu masih berkelojotan. Tetapi tak lama kemudian si ular tak bergerak. Mati!
Bersamaan dengan itu, bau harum yang diduga berasal dari darah yang keluar dari tubuh ular tersebut mendadak berubah menjadi bau busuk yang menyengat. Kepala Mang Ukin terasa berputar. Kemudian dia muntah-muntah. Dia pun terduduk lemas, tak berdaya.
Setelah tenaganya pulih dan rasa pening hilang, barulah Mang Ukin kemudian menguburkan bangkai ular emas itu dipinggir kebunnya. Namun, sakit kepalanya kembali datang lagi. Akhirnya dia menunda pekerjaannya. Dengan memaksakan diri Mang Ukin pulang ke rumahnya. Padahal, biasanya dia pulang saat menjelang senja.
Setibanya di rumah, Mang lalu menceritakan pengalaman anehnya kepada isterinya. Nyi Isah, isterinya, tampak khawatir mendengar cerita Mang Ukin. Apalagi ketika ida melihat tubuh suaminya menjadi seperti orang kedinginan dan kemudian muntah-muntah.
Memang, malam harinya, Mang Ukin menderita demam yang amat berat. Tubuhnya terus-menerus menggigil, dengan keringat dingin menetes sebesar kacang hijau. Wajahnya yang lelah itupun selalu berubah-ubah, sebentar pucat pasi seperti kapas, namuntak lama kemudian merah seperti udang rebus. Tak ada obat yang mampu menyembuhkan penyakitnya.
Saat demamnya meninggi, Mang Ukin mengigau tak karuan. Kadang-kadang dia menjerit-jerit minta ampunan. Entah kepada siapa. Tak ada seorang pun yang tahu. Namun, saat meminta mpunan ini kedua tangan Mang Ukin menggapai-gapai, seolah ingin meraih sesuatu. Yang tak kalah aneh, dari tubuhnya tericum bau busuk. Yang amat mencengangkan, tubuh Mang Ukin yang tinggi kekar itu dalam dua hari menjadi ciut. Kulitnya seakan berkerut dengan cepat. Dia menjadi lebih tua dari usia sebenarnya. Lelaki berumur sekitar 30-an itu tampak seperti kakek-kakek renta yang tak berdaya.
Melihat keanehan yang terjadi, para tetangga di sekeliling rumah Mang Ukin menyarankan agar dia dibawa ke rumah sakit. Karena Mang Ukin termasuk warga kurang mampu, maka untuk membawanya ke rumah sakit terpaksa harus menunggu persetujuan Ayahku sebagai seorang Kuwu.
Saat itu ayahku bersama Si Paser, kuda kesayangannya, sudah dua hari berangkat ke desa Cipancar, Sumedang Selatan, menengok adiknya, Mang Eman yang sedang sakit. Jadi rencana membawa Mang Ukin ke rumah sakit terpaksa harus ditunda.
Ny. Isah tak mau membawa Mang Ukin ke dokter tanpa persetujuan Kuwu. Apalagi, katanya, biasanya kalau ada salah seorang anggota keluarganya yang sakit, cukup diobati oleh orang pintar dan ternyata bisa sembuh.
Malang tak dapat ditolak, untuk tak dapat diraih. Esok harinya Mang Ukin, petani pendiam itu, meninggal dunia sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Anehnya, sekujur tubuhnya membiru seperti keracunan. Bau busuk juga keluar dari tubuhnya. Dan bau ini tak juga hilang meskipun nyawanya telah melayang.
Ayahku tak sempat melayat jenazahnya. Karena begitu dia datang melayat, Mang Ukin sudah bersatu dengan tanah alias sudah dimakamkan.
Malam hari setelah Mang Ukin dimakamkan, hujan turun dengan deras. Anehnya, baru kali ini hujan deras bercampur es menyiram desa kami. Suara butiran es yang jatuh di atap rumah seluruh warga sebenarnya enak didengar, namun suasana yang mencekam membuat bulu kuduk berdiri meremang.
Aku dilarang ibu membuka pintu rumah untuk melihat hujan es. Padahal, aku ingin sekali melihat es sebesar jagung yang bertebaran di halaman rumahku. Karena, seumur hidupku aku belum pernah mengalami hujan es.
Aku dan Ayah Bundaku, malam itu tak dapat memicingkan mata. Tengah malam kudengar suara ribut di halaman rumahku, seperti banyak orang sedang bercakap-cakap merundingkan sesuatu. Tubuhku merinding.
Ayah dan Ibu saling pandang. Dengan memberanikan diri Ibu coba mengintip dari sela-sela jendela. Suara riuh rendah itu mendadak berhenti. Sunyi menyungkup bumi. Menurut ibu, tak ada apa-apa di halaman rumah. Cuma yang ada kesunyian yang mencekam.
Esok paginya, dari sejumlah warga desa kudengar bahwa mereka juga pada malam hari tadi diganggu suara-suara aneh. Ada yang pintu rumahnya digedor keras-keras namun tak ada pelakunya. Ada yang gentingnya pecah dilempari batu, tapi tak tahu dari mana datangnya. Bahkan, ada yang atap rumahnya bolong seperti ditembus benda keras, namun ketika diperiksa tidak ada apa-apa. Hampir seluruh penduduk dicekam ketakutan.
Gangguan aneh seperti ini berlangsung hampir selama tiga malam terus-menerus. Anehnya,. dua hari kemudian Si Bencoy, sanca kesayangan Ayah mendadak mati. Aku juga heran, karena sehari sebelumnya, ular yang juga kesayanganku itu terlihat sehat, tak ada kelainan apapun. Hanya, kadang-kadang ular sanca ini terlihat mengibas-ngibas ekornya seperti gelisah. Untuk kedu kalinya aku kehilangan ular yang kusayangi setelah Si Belang mati keracunan.
Malam keempat, kembali suara hiruk-pikuk itu terdengar lagi. Malam itu, kalau tak salah malam Jum'at Kliwon. Aku ketakutan. Kupeluk tubuh Ibuku erat-erat. Kepalaku diusapnya dengan penuh kasih sayang. Keningku dikecup. Oh, Bunda yang penuh kasih! Kutatap matanya. Tak ada sinar ketakutan di sana, yang ada hanya pantulan sinar kemesraan dan kasih sayang.
Aku merasa terlindung. Rasa takutku berkurang. Kini giliran Ayahku yang mengintip dari balik jendela. Kulihat tubuhnya yang tinggi besar itu menggigil. Tak lama kemudian dia melambaikan tangannya ke arah Ibuku, yang kemudian juga ikut mengintip. Aku melihat tubuh Ibuku bergoyang, atau persisnya menggigil ketakutan.
Melihat kedua orang tuaku berulah seperti itu, aku jadi penasaran. Aku pun ikut mengintip bersama mereka. Apa yang terjadi?
Dari balik tirai jendela kulihat di luar sana, persisnya dibawah pohon rambutan, ada ratusan atau mungkin ribuan ekor ular berwarna kuning emas dibalut warna merah darah saling membelit sambil mengeluarkan suara aneh. Seperti rintihan berbaur dengan kemarahan.
Di tengah-tengah kumpulan ular itu, ternyata ada seekor ular besar berwarna merah dengan mata menyala. Mungkin, dia adalah raja dari hewan-hewan melata yang menjijikan itu.
Melihat pemandangan yang sama sekali tak lazim itu, tubuhku menggigil ketakutan. Bahkan, karena tak kuat lagi menahan rasa takut, tak lama kemudian aku jatuh pingsan.
Anehnya, ketika siuman aku melihat seorang lelaki tampan berpakaian sutera kuning gemerlapan tersenyum kepadaku. Dia mengaku bernama Ki Sanca Pertala. Tak hanya itu, lelaki yang bagai seorang pangeran dari kerajaan tempo dulu itu juga mengaku kalau kini dirinya sedang mencari isterinya yang hilang. Sang isteri disebutnya bernama Nyai Nagagini.
Setelah melihat kemunculan Ki Sanca Pertala yang menjelma sebagai seorang pangeran tampan itu, entah bagaimana aku kembali tak sadarkan diri. Setelah sadar, aku menceritakan kedatangan orang yang bernama Ki Sanca Pertala ini kepada Ayahku.
Ayah dan Ibu saling pandang demi mendengar ceritaku. Kemudian keduanya mengangguk-anggukan kepala, seolah memahami apa yang terjadi.
Pagi harinya, warga desa beramai-ramai menggali kuburan ular emas yang dibunuh oleh almarhum Mang Ukin. Aneh, tubu ular yang tadinya terpotong dua akibat sabetan parang Mang Ukin itu, ternyata sudah menyatu lagi. Yang tak kalah aneh, bangkai ular itu masih berbau harum, meski sudah lebih seminggu terkubur dalam tanah.
Atas saran seorang sesepuh kampung yang mengerti masalah gaib, Ayah kemudian meletakkan bangkai ular diatas talam atau nampan kuningan, berikut sesaji yang telah disiapkan oleh seorang pawang ular yang sengaja didatangkan khusus dari Karawang.
Kemudian, bangkai ualr siluman yang bernama Nyi Nagagini itu dibawa ke pinggir Sungai Cileuleuy, lalu dengan hati-hati dilarung ke sungai yang airnya sedang deras.
Sejak saat itu, gangguan siluman ular di desaku tak pernah terdengar lagi. Desa kami kembali menjadi desa yang aman dan tenteram.
Meskipun Ayah dan Bundaku telah lama berpulang ke alam baka, namun kisah aneh itu sampai kini masih membekas di benakku. Mungkin karena trauma melihat ribuan ular aneh pada malam itu, maka hingga kini aku paling takut dan jijik bila melihat ular
VAGINA ISTERIKU DIHUNI LINTAH HIJAU
Kisah mistis ini sungguh menggetarkan perasaan. Bagaimana bisa vagina seseorang dihuni oleh seekor binatang berupa Lintah Hijau? Apakah ini penyakit, atau mungkin kutukan...?
Ketika kakiku menginjak Bumi Lambung Mangkurat, hatiku langsung terpaut erat di sana. Alamnya yang gemerlap indah dan masih perawan, sungguh telah menawan hatiku. Sungai-sungai, hutan, rawa-rawa, dan bukit-bukitnya begitu elok dan membuatku serasa telah menemukan dunia baru.
Aku pun semakin terikat erat dengan Lambung Mangkurat begitu berkenalan dengan Emalia, seorang gadis Dayak Manyan yang telah merampas jiwaku. Aku begitu mencintai gadis ini, bahkan mungkin dialah cinta pertamaku yang sebenarnya. Karena itu aku ingin segera menikah dengan Emalia, tetapi kawan-kawanku melarang atau paling tidak memperingatkan agar aku berpikir ulang untuk mewujudkan niat itu.
"Emalia bukan seorang gadis, dia tidak perawan lagi!" kata Bonar, mengingatkan.
"Walau Emalia seorang janda, apa salahnya? Aku mencintainya," jawabku, tegas
"Masalahnya, dia telah menjanda empat kali. Kalau kau menikah dengannya, dia akan menajdi janda untuk kelima kalinya!" sahut Damai sambil menepuk bahku.
"Jadi, dia telah beberapa kali menikah?" tanyaku keheranan. Terus terang, baru kali ini aku mendengar informasi itu. Walau aku tahu Emilia berstatus sebagai janda, namun kupikir dia baru sekali menikah. Ya, dia cerai mati karena suaminya meninggal akibat suatu penyakit. Demikian yang pernah aku dengar.
"Kau ini selalu ketinggalan kereta. Makanya, sebelum kau memutuskan untuk menikahi Emilia, lebih baik cari dulu informasi agar kamu tidak terjemurus," tambah si Bonar pula.
"Dari mana kalian tahu semua ini?" tanyaku, penasaran.
"Ya, dari mulut ke mulut!" sahut Ripto yang sejak tadi hanya diam saja.
Ah, informasi mengenai status Emilia yang telah menjanda empat kali ini terus terang sangat mengganggu pikiranku. Aku tidak bisa tinggal diam. Emalia harus kuajak bicara mengenai hal ini. Sebab, jangan-jangan Bonar, Damai, dan juga Ripto hanya ingin memanas-manasiku. Ya, bisa saja mereka bercanda untuk menutup perasaan cemburu.. Kalau ini bernar, sungguh canda mereka sangat keterlaluan.
Hari itu, aku sengaja menemui Emilia dan mengajaknya bicara berdua. Biasanya kami berdua hanya berbincang-bincang di teras rumahnya. Tetapi sekarang aku diajak duduk di sebatang kayu ulin yang tergolek di samping rumah. Di tempat itu kami dapat berbicara tanpa diganggu oleh adik-adiknya yang sangat akrab denganku.
"Abang mau tahu tentan kehidupan masa laluku, bukan?" Emalia mulai membuka pembicaraan. Sepertinya dia sudah bisa membaca perasaanku.
"Bagaimana kau tahu?" tanyaku, heran.
"Setiap calon suami selalu ingin tahu masa lalu calon isterinya. Tidak terkecuali Abang. Ini suatu hal yang wajar, dan aku tidak perlu merasa tersinggung karenanya."
"Benar, Ema. Tapi sebelumnya aku mohon maaf. Semua ini terpaksa aku lakukan, karena aku tidak ingin masa lalumu menjadi kendala kehidupan rumah tangga kita nantinya," jawabku coba bersikap bijak.
"Apa yang ingin Abang ketahui?" tanya Emilia sambil menatapku.
Aku hanya diam tergugu. Batinku sungguh tak tega untuk menanyakan hal yang dipergunjingkan oleh teman-temanku semalam. Aku tak ingin melihat wanita cantik itu bersedih.
"Aku taku apa yang sedang berkecamuk di dalam hati Abang!" kata Emilia seperti menebak. "Ya, pasti Abang sudah mendengar cerita tentang aku yang sudah menikah empat kali? Itu, benar Bang. Aku tidak membantahnya. Dan kalau kita berjodoh, abang adalah suamiku yang kelima. Dan perlu Abang ketahui, keempat suamiku meninggal setelah menikahiku. Paling lama hanya tiga bulan. Itupun mereka hanya berhubungan badan denganku sekali saja. Itulah kisah tentang aku, Bang. Sekarang, terserang sikap Abang bagaimana!"
Seperti layaknya terbius, aku tetap diam seribu bahasa. Tenggorokanku seperti tercekat oleh perasaan yang begitu mengharu di dalam hatiku.
"Sekarang, apa yang Abang perlu ketahui lagi tentang diriku?" tanya Emilia seakan coba mencairkan suasana.
"Ema, apakah kamu punya ilmu atau apa yang dapat mencelakai para suamimu?" aku balik bertanya dengan suara yang agak gemetar. Aku sungguh tak mau menyakiti hatinya.
"Ilmu? Saya tidak punya, Bang! Tapi, semua ini mungkin karena tadirku yang buruk," jawabnya dengan nada sedih.
"Apakah di tubuhmu ada tanda atau semacam gambar seperti tato, misalnya?" pancingku.
"Mengapa Abang tanyakan itu?"
"Soalnya, di Jawa ada perempuan yang setiap kali menikah suaminya pasti meninggal. Mereka disebut Bahu Laweyan. Biasanya, di tubuh mereka ada semacam tato atau tanda bawaan sejak lahir," jawabku.
"Tidak. Tidak ada, Bang. Tubuh Ema mulus, kok. Nanti Abang bisa periksa. Atau kalau Abang mau sekarang juga boleh."
"Tidak, tidak usah. Abang percaya, kok!" jawabku agak kikuk.
Dengan pandangan menerawang, Emilia lalu berkata, "Terus terang, saya juga tidak senang dengan keadaan saya yang aneh ini, Bang. Kalau diibaratkan penyakit, Ema juga ingin sembuh. Ema tidak ingin hanya sebentar bersama Abang. Ema sangat mencintai Abang. Demi Tuhan, Ema takut nasib Abang akan sama seperti nasib suami-suami Ema terdahulu!" air mata Emilia mulia mengalir di atas wajahnya yang halus dan inosen itu.
"Apakah dengan suami-sumai terdahulu Ema tidak mencintainya?"
"Hidup manusia memang penuh misteri, Bang. Bahkan Ema menganggap seperti perjudian. Empat kali menikah, ada empat alasan mengapa Ema menganggap bahwa Abang adalah jodoh Ema. Sejak pertama kali melihat Abang, Ema percaya bahwa Abang adalah ayah dari anak-anak Ema nanti. Terus terang, pernikahan Ema sebelumnya adalah karena orang tua semata."
"Baiklah kalau begitu. Abang akan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi dalam dirimu. Kalau sudah ketemu penyebabnya pastilah ada jalan keluarnya," kataku sambil menyusut air matanya yang telah menganaksungai di atas wajah cantiknya. Untuk menenangkannya, kubiarkan Emilia larut dalam pelukanku.
***
Akhirnya, aku berpamitan pulang ke kampung halamanku di Jawa Tengah. Sebelum berpisah Ema menghadiahiku ciuman di pipi. Lembut dan sejuk. Ah, cinta yang teramat dalam membuatku begitu merasakan ketulusan di dalam hati Emilia. Dan tekadku kian mantap untuk mencari jalan keluar atas apa yang dialami oleh wanita yang sangat aku cintai itu.
Selama di kampung, waktu senggangku kuhabiskan untuk mencari tahu penyakit apa sebenarnya yang bersarang di tubuh calon isteriku itu. Namun hampir semua orang pintar yang kutanya selalu menggelengkan kepalanya. Tidak tahu apa yang ada dalam diri Ema. Alhasil, usahaku mencari tahu itu akhirnya gagal. Dan aku memutuskan untuk kembali ke Lambung Mangkurat. di tempat ini aku bekerja di perusahaan penebangan kayu yang beroperasi di pedalaman Kalimantan Tengah. Tepatnya di Tumbang Samba, beberapa kilometer sebelum Rantau Asem. Sedangkan Ema tinggal di Banjarmasin. Kami bertemu tiga bulan sekali di saat aku ke Kantor Pusat untuk menyampaikan laporan Triwulanan.
Aku tak ingin berputus asa. Setibanya kembali di Kalimantan, aku terus mencari informasi ke oang pintar di sana. Namun, sejumlah sesepuh orang Dayak di sepanjang Sungai Katingen yang sudah kutanyai, tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan.
Setelah berkeliling tanpa hasil, akhirnya aku nasib mempertemukanku dengan seorang Kyai di daerah Kota Kandangan. Menurut silsilahnya, beliau masih keturunan Kyai yang dulu datang dari Kerajaan Demak membantu Pangeran Samudera. Beliau adalah Kyai Abdullah Syafei.
"Saya heran. Setelah setelah sekian puluh tahun saya tidak mendengar adanya kasus seperti ini, sekarang muncul lagi di Banjarmasin," kata sang Kyai setelah mendengar suluruh rangkaian cerita yang aku tuturkan mengenai Emilia.
"Sebenarnya apa yang tengah dialami oleh calon isteri saya itu, Kyai. Penyakit atau kutukan?" tanyaku setengah mendesak.
"Begini, agar lebih jelas lagi, saya kira calon isterimu ajaklah kesini. Dengan demikian aku dapat memastikan apa yang tengah dialaminya," kata Kyai Abdullah Safei.
"Baiklah, Kyai. Besok Emalia akan saya ajak menghadap Kyai. Lebih cepat lebih baik." kataku menyanggupi.
Setelah berpermitan saya lalu kembali ke Banjarmasin. Setibanya di Banjarmasin, aku temui Emilia dan kuceritakan prihal pertemuanku dengan Kyai Abdullah. Akhirnya, Emalia mau berobat ke Kyai Abdullah di Kandangan.
Hari itu, kami kembali bertatap muka dengan Kyai Abdullah. Setelah berbincang-bincang sejenak, Emalia diminta untuk keluar sebentar. Setelah dia keluar, Kyai memintaku agar segera menikahi Emalia.
"Apakah tidak berbahaya, Kyai?" tanyaku sedikit kuatir.
"Tidak! Hanya kamu yang dapat menyembuhkan calon isterimu itu. Dengan menikahinya secara resmi, kamu telah menjadi suaminya, maka kamu dapat menghilangkan penyebab penyakit calon isterimu itu," jelas Kyai Abdullah.
"Bagaimana mungkin, Kyai?" desakku.
"Ketahuilah, di rahim calon isterimu itu dihuni oleh seekor binatang langka berwujud Lintah Hijau. Binatang itu suka sekali menghisap air mani. Dia akan menempel ke ujung penis yang masuk ke dalam, maaf, lubang vagina," jelas Kyai lagi.
"Kenikmatan yang luar biasa akan dirasakan oleh suami tanpa menyadari adanya bahaya yang mengancam jiwanya. Sewaktu menghisap sperma ludah Lintah Hijau yang sangat beracun itu memasuki tubuh korbannya melalui saluran sperma atau saluran kencing. Akibat pertama yang dialami korban adalah impotensi total. Bekerjanya racun itu sangat hebat dan cepat. Tidak lebih dari empat jam si korban sudah dibuat tidak berdaya. Kemudian menjalar ke seluruh tubuh dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh," tambahnya membuat bulu kudukku merinding.
"Bagaimana orang tega melakukan kekejaman seperti itu, Kyai?" tanyaku sambil menekan perasaan.
"Sebenarnya Lintah Hijau itu tadinya dimaksudkan untuk mencegah perselingkuhan. Siapa yang berhubungan dengan isterinya tanpa mengetahui bahwa isterinya dihuni Lintah Hijau, dalam waktu yang sangat singkat akan meninggal."
"Apakah Kyai tahu bagaimana Emalia memiliki itu?"
"Warisan orang tua. Ketika ibunya meninggal Emalia masih kecil. Lintah Hijau akan keluar dari sarangnya begitu yang dihuni meninggal. Maka oleh ayahnya Linta Hijau itu diambil dan dimasukkan ke dalam vagina anaknya. Sayang sekali sebelum sempat memberitahukan keberadan Lintah Hijau dan penangkalnya ayah Emalia menyusul isterinya. Meninggal."
"Apakah Kyai sudah punya penangkalnya?" tanyaku.
"Belum. Baru akan saya buat. Nanti akan kuberkan kepadamu menjelang kalian menikah."
Ringkas cerita, aku dan Emalia sudah menetapkan hari pernikahan. Satu minggu menjelang hari H, aku kembali ke Kandangan untuk mengambil penangkal Lintah Hijau itu. Aku tidak tahu terbuat dari bahan apa. Sepintas seperti fosfor. Ya, bubuk berwarna hijau. Bila di tempat gelap tampak menyala. Wadahnya berupa botol kaca bergaris tengah 5 cm dengan panjang 12 cm.
Akhirnya, kami menikah. Pestanya cukup meriah. Setelah pesta usai kami berdua mendapat kesempatan untuk menikmati malam pertama. Tentu saja aku punya tugas untuk membebaskan isteriku dari Lintah Hijau terkutuk itu.
"Demi kebahagian kita, turuti saja perintahku. Aku tidak mungkin membuatmu menderita," bisikku dengan mesra.
"Terserah Abang saja, asal Abang bahagia!" jawabnya dengan suara bergetar.
Aku mulai bereaksi sesuai petunjuk Kyai Abdullah. Lampu kamar kumatikan. Untuk sekejap aku tidak mampu melihat apapun. Kemudian aku naik ke ranjang. Kubisikan ke telinga isterku agar melapaskan pakaiannya. Ia menurutinya.
Kemudian kaki isteriku sedikit kutekuk, lalu kusuruh dia dalam posisi mengangkang. Dengan cepat botol yang berisi bubuk hijau itu kubuka tutupnya lalu kuletakkan di depan kemaluan isteriku. Di dalam gelap bubuk hijau tampak menyala.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, kulihat kemaluan isteriku memancarkan warna hijau terang. Dari lubang kemaluannya keluar seekor Lintah berwarna hijau terang. Makhlun aneh itu bergerak perlahan menuju ke botol yang kutaruh di depan kemaluan isteriku. Seorang tersedot oleh bubuk di dalam botol, makhluk itu terus masuk ke dalamnya.
Begitu Lintah itu memasuki botol sampai di tengah, segera kututup botol itu dan kumasukkan ke dalam kantong hitam yang sudah disiapkan oleh Pak Kyai. Lalu, kupeluk isteriku dengan penuh haru.
Semalaman itu kami hanya tidur sambil berpelukan. Tidak ada nafsu. Yang ada hanya cinta kasih dan sayang. Aku sangat bahagia sebab telah membebaskan isteriku dari "penyakit" atau boleh disebut sebagai "kutukan" yang maha dahsyat.
Setelah beberapa hari meminum ramuan dan membersihkan kemaluan air pemberian Kyai Abdullah, barulah kami dapat berhubungan badan. Dan kami hidup bahagia sampai sekarang...
KERASUKAN JIN
Kalau ada orang kerasukan jin selama 2 atau 3 jam, tentu hal biasa. Namun bagaimana jadinya bila ada orang yang kerasukan makhluk halus itu sampai 3 atau 4 hari, dan hal tersebut terjadi berulang-ulang selama 7 tahun? Tentu menarik untuk kita simak kisah mistisnya....
Nama aslinya adalah Wahyu Nengsry Widho Enggary. Anak gadis kelahiran Pangkal Pinang ini kerasukan jin saat berumur 14 tahun. Dia sempat dirasuki ratusan jin. Bahkan 50 jin di antaranya termasuk yang memiliki kekuatan tingkat tinggi.
Akibat keganjilan yang menimpanya, dia sempat diobati lebih dari 100 orang pintar. Bahkan tak hanya itu. Dia juga sempat masuk rumah sakit jiwa dan pernah mati suri selama 3 jam.
Ninggar, demikian dia akrab disapa, bukanlah keturunan orang yang berilmu tinggi. Dia adalah seorang anak gadis biasa, seperti halnya anak-anak sebayanya. Dan dia tidak pernah membayangkan akan mengalami peristiwa yang sangat musykil itu.
Awal ceritanya terjadi ketika dia masih berusia 14 tahun. Waktu itu dia sedang bermain petak umpet bersama teman-teman sebayanya.
Saat sedang mendapat giliran bersembunyi, entah mengapa Niggar merasa tertarik untuk bersembunyi di belakang pohon sawo besar yang usianya sudah sangat tua.
Entah mengapa, sepulang dari bermain petak umpet itulah badannya mendadak panas dingin. Awal mulanya Ibu Tien, Ibunda Ninggar, mengira anak gadisnya hanya terkena demam biasa. Namun malamnya Ninggar mengalami kejang-kejang. Bahkah matanya melotot sangat mengerikan. Yang aneh, Ninggar kemudian mengeluarkan suara umpatan yang bukan suara aslinya.
Melihat kenyataan ini, barulah sang Bunda paham kalau anak gadis itu kerasukan makhluk halus. Bersama Pak Tris, ayah Ninggar, sang Bunda pun segera membawa putrinya ke orang pintar.
Waktu diobati, jin yang merasuki badan Ninggar mengaku bernama Milah. Dia mengaku arwah dari seorang wanita yang mati bunuh diri dalam keadaan hamil muda, karena sang kekasih tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya.
Misteri sempat melakukan kroscek menyangkut hal ini. Ternyata memang benar. Beberapa puluh tahun yang lalu memang ada wanita hamil dengan nama seperti yang disebutkan tadi meninggal karena bunuh diri.
Waktu itu, ketika ditanya si dukun yang berusaha menyembuhkan Ninggar, arwah Milah mengaku suka dengan Ninggar yang polos. Dia juga merasa kasihan melihat Ninggar yang kerap diejek teman-teman sepermainannya.
Lewat bantuan orang pintar itu, Alhamdulillah arwah Milah mau keluar dari banda Ninggar.
"Dengan izin Allah, anak saya dapat diselamatkan. Menurut orang pintar itu, arwah Milah bermaksud menjadikan tubuh Ninggar sebagai rumahnya," tutur Pak Tris saat pertama kali Misteri mengunjungi kediamannya di Belinyu. "Awalnya saya berpikir kalau hal tersebut adalah akhir dari peristiwa yang dialami anak saya. Namun ternyata sebaliknya. Ini merupakan awal dari petaka yang lebih besar," tambah Pak Tris menuturkan kembali.
"Sejak kerasukan itu, arwah Milah malahan sering datang dan merasuki tubuh anak saya. Kejadian ini berlangsung sampai berulang-ulang kali. Setelah diobati, arwah itu pergi namun kemudian datang lagi. Bahkan belakangan bukan hanya arwah Milah yang sering merasuki badan Ninggar, tapi juga ada jin-jin lain yang seperti berebutan menempatinya," lanjutnya lagi.
Misteri menanyakan, jin apa saja yang sempat merasuki badan Ninggar.Pak Tris mengaku sudah tidak ingat lagi nama-nama mereka karena sudah sedemikian banyaknya.
"Hanya beberapa jenis makhluk halus saja yang masih saya ingat. Di antaranya arwah Milah, jin wanita tua, jin laki-laki tua, jin yang berbentuk manusia tinggi besar dengan badan dipenuhi bulu, sampai segala jenis jin berbentuk hewan. Kalau dihitung-hitung selama 7 tahun sudah lebih dari 50 jenis jin yang merasuki tubuh Ninggar. Jumlahnya pun sampai ratusan jin," ucapnya sambil menghela nafas panjang.
Menurut penuturan Pak Tris, setiap kali kerasukan tidak hanya berkisar 3 sampai 4 jam, melainkan bisa sampai berhari-hari lamanya. Ini yang membuat hati Pak Tris sekeluarga menjadi miris melihat keadaan anak gadisnya.
Penulis juga sempat mengkonfirmasikan banyak hal kepada Ninggar sebagai pelaku peristiwa. Lalu dia menceritakan bagaimana proses masuknya jin-jin itu ke dalam badannya.
"Yang saya rasakan pertama kali adalah hawa panas. Selanjutnya badan saya ikut panas. Saya merasa punya kekuatan lebih. Namun aneh, dalam keadaan kerasukan saya merasa kalau saya dalam keadaan sadar. Buktinya setelah kerasukan, saya bisa menceritakan semua yang saya lihat, rasakan, dan saya alami saat sedang kerasukan," papar Ninggar.
"Padahal, biasanya kalau orang kerasukan tidak akan tahu apa pun yang telah dia perbuat selama kerasukan," jelas Ninggar dengan penuh semangat.
Hal ini pun diakui oleh Pak Tris dan Ibu Tien sebagai orang yang paling dekat dan paling merasakan semua yang dialami oleh buah hati mereka.
Akibat keanehan yang dialami Niggar, maka mau tidak mau berdampak terhadap kesehatan dan kondisi fisiknya. Ninggar jadi sering sakit-sakitan, bahkan tubuhnya menjadi sangat kurus. Malangnya, dalam kondisi yang sangat lemah, dia pun tetap diganggu oleh jin-jin yang kerap merasuki tubuhnya itu sampai berulang-ulang. Hal ini yang membuat hati Pak Tris dan isterinya semakin teriris.
Sebagai orang tua, mereka tentu tidak ingin membiarkan buah hatinya menderita begitu saja. Semua pengobatan telah dijalani. Mulai dari pengobatan medis, pengobatan dengan hanya mengandalkan nalurinya sendiri sebagai seorang bapak, sampai pengobatan non medis melalui orang pintar baik yang ada di Bangka, Sumatera, Kalimantan, maupun Jawa.
"Mungkin belum jodoh, sehingga tidak ada yang bisa menyembuhkan Ninggar. Sampai kemudian saya kembalikan ke pengobatan medis. Waktu itu dokter menyarankan agar anak saya di rawat di rumah sakit jiwa karena menurut dokter dia mengalami gangguan psikis.
Namun sebagai seorang Bapak, naluri saya mengatakan kalau penyakit ini di luar masalah medis. Meksi begitu saya penuhi juga saran dokter karena saya benar-benar bingung dan sudah tidak punya pilihan lain," kisah Pak Tris.
Sejak saat itu, Ninggar menjalani hari-harinya di Rumah Sakit Jiwa Sungailiat. Setelah beberapa waktu berada di sana, ternyata terapi yang diberikan oleh pihak rumah sakit sama sekali tidak membawa perubahan berarti baginya. Di sana dia malah sering menunjukkan hal-hal yang aneh.
"Misalnya saja dia bisa merasakan apa yang akan terjadi di sekitar rumah sakit. Dia kerap memberikan peringatan kepada keluarga pasien tentang apa yang akan terjadi dengan keluarga mereka sesama pasien. Bahkan dia bisa melihat keberadaan makhluk halus yang berdiam di tempat itu, berbincang dengan mereka dan mengusirnya ketika ada pasien yang kerasukan," jelas Pak Tris lagi.
Masih menurut Pak Tris, pengobatan medis yang dilakukan kepada anaknya tidak memberikan pengaruh positif bagi kesehatan Ninggar. Bahkan saat berada di rumah sakit bobot tubuh Ninggar yang awalnya tidak sampai 40 Kg. berubah dratis menjadi 90 Kg.
"Saya tida tahu apakah ini pengaruh obat yang diberikan atau pengaruh makanan. Namun yang jelas badan Ninggar menjadi sedemikian gemuk," katanya sambil tersenyum.
Menyadari pengobatan medis tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, orang tua Ninggar pun memutuskan untuk membawa pulang anak mereka dan kembali menempuh pengobatan alternatif. Namun hal ini pun ternyata tak mudah bagi mereka.
Meski sudah tak terhitung lagi jumlah orang pintar yang dimintai pertolongan, namun belum juga terlihat tanda-tanda kesembuhan. Sampai kemudian Ninggar dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.
"Kejadian itu terjadi tahun 2000. Seperti biasa Ninggar kerasukan sampai 4 hari. Karena tubuhnya yang sangat lemah, dia hanya mengomel dengan omelan suara kakek-kakek. Itu berlangsung siang dan malam. Pada hari keempat dia tak lagi bergerak. Kami pun segera memanggil dokter. Dokter memastikan kalau anak kami telah tiada." Kali ini Ibu Ninggar yang bertutur tentang kematian anaknya.
"Waktu itu saya tidak sedang berada di rumah. Kebetulan saya sedang tugas ke luar kota. Begitu mendapat berita kalau anak saya meninggal, saya segera pulang ke rumah yang jaraknya lebih dari 200 Km," Pak Tris menambahkan.
"Setelah sampai di rumah, ternyata benar kalau anak saya sudah tidak ada lagi. Saat itu semua persiapan pemakaman akan segera dilaksanakan. Termasuk kain kafan dan kapur barus sudah dipersiapkan. Namun ketika hendak dimandikan saya sempat melihat keanehan, kalau jari-jari kaki anak saya semuanya dalam posisi menekuk. Saya ingat kata orang tua kalau ini adalah tanda bahwa seseorang sebenarnya belum meninggal melainkan hanya mati suri," lanjut Pak Tris sambil menghisap rokok dalam-dalam.
"Ternyata benar kalau anak kami memang belum mati. Setengah jam kemudian Ninggar siuman dan minta diambilkan air putih," kali ini Bu Tien yang menimpali.
Penulis kemudian menanyakan kepada Ninggar tentang apa yang dia alami selama mati suri.
"Saya merasa didatangi arwah kakek saya. Beliau mengatakan kalau akan membawa Ninggar pergi jauh meninggalkan alam dunia yang penuh kemaksiatan ini. Wajah kakek begitu teduh. Ninggar ikut saja apa kata kakek.
Kakek yang berpakian serba putih membawa Ninggar terbang ke angkasa. Ninggar merasa berada di taman bunga yang indah. Di sana banyak sekali puteri-puteri yang cantik jelita. Namun yang lebih hebat lagi, Ninggar bertemu dengan tokoh-tokoh yang sudah mendahului kita seperti Bung Karno dan Nabi Muhammad SAW. Mereka hanya tersenyum ke arah Ninggar tanpa berucap apa pun," cerita Ninggar dengan sangat gamblang.
"Tak lama kemudian, kami dihadang oleh sosok laki-laki tinggi besar. Dia mengatakan kalau Ninggar belum waktunya masuk kemari. Dia menyuruh Ninggar untuk kembali ke dunia dan mengingatkan keluarga dan siapa saja untuk kembali ke jalan Allah SWT.
Kakek yang membawa Ninggar pun segera mengembalikan Ninggar ke dalam jasad semula. Sebelum pergi kakek itu sempat berjanji kepada Ninggar kalau dia akan selalu mendampingi dan membantu Ninggar bila berada dalam kesulitan," papar Ninggar kemudian.
Sejak divonis mati itu, Ninggar tidak pernah lagi kesurupan. Bahkan dia mempunyai kemampuan melihat dan mengidentifikasikan keberadaan makhluk halus. Penulis sendiri sempat membuktikan kemampuan Ninggar yang langka ini.
Bukan hanya itu, Ninggar juga dianugrahi Allah SWT kemampuan mengobati penyakit. Bahkan Ninggar sempat diberikan setumpuk uang bernilai puluhan juta rupiah karena berhasil membantu pasangan yang telah tujuh tahun tidak mempunyai anak hanya dengan perantara segelas air putih. Namun Ninggar menolak semua pemberian itu.
Ketika Penulis menanyakan alasan penolakan tanda terima kasih yang diberikan pasien, dengan rendah hati, gadis remaja ini mengatakan kalau semua kelebihan yang dia miliki adalah anugerah Allah SWT yang harus diamalkan bukan untuk dikomersilkan.
Sebelum Penulis mohon diri, Ninggar sempat mengatakan kalau ada tiga makhluk halus terakhir yang menempati badannya, yaitu Jin Suster Cacat, Mecadin, dan jin dari Pak Kak Liang.
Menurut Ninggar, peristiwa kerasukan makhluk halus yang dia alami dikarenakan ketika itu dia tidak pernah mendirikan sholat. Karena itu dia mewanti-wanti Penulis agar jangan sekali-kali meninggalkan sholat. Insya Allah. Semoga saja!
WAJAH BENGKAK SEBELAH SETELAH DIGAMPAR JIN MUSLIM
Ini adalah kisah mistis yang benar-benar terjadi. Gara-gara tidur di masjid setelah mabuk-mabukkan, dia digampar Jin Muslim. Akibatnya, hingga kini wajahnya besar sebelah....
Kisah atau pengalaman mistis ini dialami seorang pengojek sepeda yang bernama lengkap Murtomo, atau yang akrab disapa Tomo. Dia tinggal di sekitar Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Awal kejadiannya, pada bulan Oktober 1986, hari Kamis malam Jum'at, di Masjid lingkungan tempat dia tinggal. Tomo memang hanya seorang pengojek, tapi penampilan serta kelakuannya tidak seperti teman-teman pengojek lainnya yang biasa mangkal di daerah itu. Dia mempunyai kebiasaan yang buruk yaitu gemar berjudi, mabuk-mabukan, dan main perempuan. Meskipun tinggal di dekat Masjid, Tomo tidak pernah menjalankan perintah Tuhan.
Suatu malam sepulang dari berudi dan dalam keadaan mabuk berat, Tomo sudah tidak kuat lagi melangkahkan kakinya untuk sampai ke rumah kontrakannya. Dia terus berjalan dengan cara merayap dari tembok rumah orang ke tembok sebelahnya, begitu seterusnya.
Sesampai di mulut gang, dia sudah tidak kuat lagi berjalan. Sampai-sampai dia terjatuh. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB, dan tidak ada seorangpun yang lewat, hanya suasana sepi dan sunyi.
Kurang lebih sekitar setengah jam, Tomo terbaring di jalan aspal yang dingin dan kotor. Ketika itu lewatlah seorang lelaki paruh baya yang sebut saja bernama Pak Irman. Dia memperhatikan Tomo yang tergeletak di tengah jalan. Karena mungkin merasa iba, akhirnya tubuh Tomo yang terbaring di jalan itu dipapah oleh Pak Irman agar bisa berjalan.
Setelah memapah Tomo beberapa puluh meter, Pak Irman sepertinya sudah tidak kuat lagi untuk memapah Tomo sampai rumah kontrakannya. Sebab, disamping tubuh Tomo lebih besar, dari mulutnya pun tercium aroma khas minuman keras yang sebelumnya diminum oleh Tomo, yang membuat kepala Pak Irman terasa pusing tujuh keliling.
Pak Irman akhirnya menaruh tubuh Tomo di depan rumahnya. Namun, ketika itu juga Tomo tersadar dari mabuknya. Dia meminta agar dipapah sampai ke masjid yang ada di sebelah rumah kontrakannya.
"Baiklah kalau itu permintaanmu!" kata Pak Irman dan segera membantu Tomo berdiri untuk mengantarkannya sampai ke masjid.
Pak Irman kemudian meninggalkan Tomo di beranda masjid. Setelah kepergiannya, dengan bersusah payah Tomo masuk kedalam mesjid, dan akhirnya jatuh tersungkur di ruang yang biasa digunakan sholat. Karena dalam keadaan mabuk berat, tak lama kemudian dia tertidur dengan pulasnya. Dalam tidur inilah dia bermimpi didatangi oleh sosok makhluk tinggi besar dan hitam.
"Hai manusia, kau tidak pantas ada di sini, pergi kau dari sini. Ingat ini peringatan pertama dan terakhir untukmu!" bentak makhluk itu.
Tomo menggigil ketakutan. Namun, antara sadar dan tidak, dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya untuk pergi meninggalkan ruangan masjid.
Sebelum adzan Subuh berkumandang, lantas Tomo dibangunkan oleh penjaga masjid. Si penjaga masjid menyuruhnya untuk pulang karena memang orang-orang sudah kenal dan hafal akan kelakukan pemuda yang satu ini.
Bangun dari masjid, dengan sedikit dongkol Tomo langsung pulang ke rumah kontrakan untuk meneruskan tidurnya. Siangnya Tomo bangun dan sadar. Setelah mandi dia lantas menyantap sarapan pagi dan mengeluarkan sepeda jangkinya yang biasa dia bawa untuk mengojek.
Saat kumpul-kumpul dengan pengojek yang lain, Tomo menceritakan apa yang dia alami semalam saat tidur dimasjid. Teman-temanya hanya tertawa mendengar cerita Tomo. Mana ada yang mau percaya cerita dari orang yang tukang mabuk.
Seminggu sudah berlalu dan sudah satu minggu Tomo tidak melakukan kebiasaan buruknya. Ternyata Tomo hanya sanggup satu minggu menahan hasrat kebiasaan buruknya itu.
Tepat malam Minggu, sekitar pukul 22.30 WIB, dia sudah terlihat berkumpul dengan teman-teman tongkrongannya. Dan kebetulan di gang sebelah tempat dia tinggal, sedang ada hajatan kawinan. Dan orang yang mengadakan hajatan itu nanggap orkes dangdut.
Entah kenapa timbul diotaknya untuk mabuk lagi karena orang yang mengadakan hajatan itu menyediakan minuman-minuman keras secara gratis. Dan kebetulan dia kenal akrab dengan tuan rumahm, juga pemuda-pemuda lainnya.
Waktu terus berjalan, suara orkes dangdut pun masih terdengar. Kira-kira pukul 02.00 musik pun berhenti, penyanyi serta pengiring orkes berkemas-kemas dan pamit pulang pada si empunya hajat. Tinggallah pemuda-pemuda yang kini dalam keadaan mabuk, termasuk Tomo yang ada disitu.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 03.00. Satu persatu pemuda yang sedang mabuk itu pulang kerumahnya masing-masing.
Namun, dikarenakan jarak rumah yang punya hajat agak jauh, terpaksa Tomo dibopong oleh kedua temannya yang tidak begitu parah mabuknya. Sesampainya di depan rumah, kedua pemuda yang mengantarnya lalu mengetuk pintu rumah Tomo. Karena tidak ada yang membuka dari dalam, terpakas kedua temannya itu menggeletakkan tubuh Tomo di depan pintu rumahnya.
Setelah kedua temannya pergi, Tomo terjaga dari tidurnya. Dia mengetuk pintu rumahnya, berharap teman-temannya yang tinggal satu kontrakan mau membukakan pintu. Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Entah sadar atau tidak, akhirnya Tomo melangkah ke masjid yang ada di sebelah rumahnya. Sesampainya di masjid, dia langsung membaringkan tubuhnya, dan tidur dengan lelap.
Karena mabuk, atau mungkin karena menganggap apa yang pernah dialaminya hanya sebagai mimpi, Tomo sepertinya tak mempedulikan lagi bahwa dirinya pernah diberi peringatan oleh jin penunggu masjid agar tidak tidur di masjid dalam keadaan mabuk..
Yang pasti, hanya sekitar setengah jam setelah Tomo tertidur, dengan mendadak tiba-tiba saja dia terjaga. Di saat yang bersamaan dia mendengar auara angin berdesir di depan teras masjid. Lalu dengan perlahan muncul sosok bayangan tinggi besar, dengan tubuh yang suluruhnya hitam. Sosok ini persis sekali dengan yang dulu pernah menegur Tomo dalam mimpinya.
Tomo tergagap dan berniat lari. Namun, seluruh tubuhnya terasa sangat lemas. Dia hanya bisa menatap sosok menakutkan itu dengan sekujur tubuh menggigil bagaikan terkena serangan demam mendadak.
Kali ini, sosok hitam tinggi besar dan bertampang garang itu sepertinya marah sekali kepada Tomo yang sudah pernah diberi peringatan olehnya, namun nyatanya tetap membandal.
"Hai manusia jadah! Bangunlah kau dari tempat suci ini!" bentak sosok misterius yang tak lain penjelmaan dari jin penjaga masjid.
Mendengar suara yang terdengar keras dan kencang, Tomo yang kondisinya masih dipengaruhi oleh minuman keras itu semakin menggigil ketakutan. Namun, dasar masih dalam keadaan mabuk, dia malam berbicara sekenanya, "Kenapa elo ngebangunin gua!"
Begitulah kata-kata yang meluncur dari mulut Tomo. Hal ini menyebabkan si jin semakin berang.
"Dasar manusia tak tahu diri. Sudah tidak pernah sholat, kau kotori tempat suci ini dengan najis dan tubuhmu yang bau alkohol yang sudah kau minum," bentak si jin lagi.
Mendengar nada suara yang besar dan agak membentak, tubuh Tomo mundur sedikit ke belakang. Sambil mengucek-ucek kelopak matanya, Tomo berusaha meyakinkan bahwa kali ini dia tidak sedang bermimpi.
"Rasakan ini!" bentak si jin. Lalu, terdengar suara seperti tangan besar menampar seorang anak kecil, Plak!
"Aduh sakit!" terdengar suara mengerang kesakitan dari mulut Tomo.
Sambil memegangi wajahnya, Tomo segera berlari ke rumahnya. Kebetulan sekali ketika itu sudah ada penghuni rumah yang bangun, sehingga dia lansung masuk ke rumahnya. Dasar pemabuk gila, setelah masuk ke rumah, di bangku panjang dia meneruskan kembali tidurnya tanpa memperdulikan wajahnya yang dia rasakan sakit.
Esok harinya, sekitar pukul 10.30, Tomo dibangunakn oleh salah seorang temannya. Si teman menanyakan kenapa wajahnya bengkak sebelah. Dengan tidak mengacuhkan pertanyaan temannya, Tomo langsung ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, dia bergegas memakai baju di kamar tidurnya. Alangkah kagetnya saat dia bercemin dilihatnya pipi yang sebelah kanan membesar, bengkak seperti habis dipukuli.
Menyadari keadaan dirinya, Tomo segera berlari menghampiri temannya yang tadi bertanya.. Dia pikir tadi temannya hanya bercanda menanyakan soal pipinya yang bengkak sebelah.
"Kenapa sebenarnya wajahmu itu, sampai bengkak sedemikian parah?" tanya sang teman.
Akhirnya, Tomo menceritakan kejadian yang menimpanya menjelang subuh tadi kepada temannya itu.
Siang harinya, di gang rumah tempat Tomo tinggal langsung santer berita mengenai pipi Tomo yang bengkak sebelah akibat digampar jin penunggu masjid. Kejadian aneh ini juga langsung ditanyakan ke orang tua yang mengerti akan hal gaib.
Memang, dari penjelasan orang tua bahwasanya Tomo telah diberi pelajaran oleh Jin Muslim yang menjaga masjid. Masih menurut orang tua tadi, Jin Muslim itu tidak senang tempat ibadah dikotori dan ditiduri oleh orang yang kotor.
Bukan hanya itu, Jin Muslim itu juga tidak senang kalau orang-orang yang tidak suka beribadah, tidur-tiduran apalagi tidur di dalam masjid.
Akhirnya, Tomo hanya bisa merenungi nasibnya. Dia sudah mecoba segala macam cara dan berobat kemana-mana untuk menyembuhkan pipinya yang bengkak itu. Namun, semuanya tak berubah keadaan. Hingga kini, wajah Tomo nampak besar sebelah, sehingga kelihatan tidak proporsional.
Kini pemuda itu terlah sadar. Dia tak lagi menarik ojek sepeda. Namun yang paling penting, Tomo sudah meninggalkan kebiasaannya yang senang mabuk-mabukan, judi dan main perempuan. Dia kini menjadi pemuda yang soleh. Dia bekerja dengan membuka reparasi elekronik dan masih tinggal di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Kejadian atau kisah mistis ini semoga bisa menjadikan kita menjadi manusia yang saleh, taat, beriman dan takwa, menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Seperti diceritakan oleh Mas Murtomo dibengkel prakteknya kepada Penulis.
Thursday, September 16, 2010
Pelet mahabbah ampuh
tiangtunggal@yahoo.com
Ijinkan saya @ tiangtunggal berbagi sedikit, “ Do’a Mahabbah Yang Ampuh“. Semoga bermanfaat kpd sesiapa jua yang masih belum ketemu jodohnya.
Dicintai dan mencintai itu adalah suatu hal yg sgt didambakan oleh setiap insan. Cinta yg sejati adalah cinta yg datang dari kerelaan dan niat yg ikhlas lagi suci. Maka bila anda hendak mencintai atau dicintai, selain dpd memiliki prilaku yg baik hendaklah juga mengamalkan do’a2 mahabbah sebagai berikut : -
Step 1
Pada malam tanggal 12, 13 & 14 bulan purnama hendaklah ia keluar memandang bulan seraya membaca Surah Al-Fatihah 7x, Surah Al-Ihklas 7x, Surah Al-Falaq 7x dan Surah An-Naas 7x pada kedua tapak tangan kemudian diusapkan ke mukanya. Insya Allah, ia akn sentiasa dipandang awet muda dan berseri2.
Step 2
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Niat ingsun adus Nur Cahaya
Nur Allah Nur Muhammad
Cahaya Allah Cahaya Muhammad
Berkat do’a laa ilaaha illallaah
Berkat do’a anna Muhammadar rasulullaah
@ Diamal dan dibaca sebanyak 3x di waktu mandi. Insya Allah cahaya cemerlang akan kelihatan pada badan dan wajah anda sehingga menarik simpati org yg melihat anda.
Step 3
Sebelum anda melangkah keluar dpd rumah untuk menyampaikan hasrat hati anda kepada si dia maka terlebih dahulu bacalah ayat berikut sebanyak 7x.
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Allaahumma ‘aththif quluubal ‘aalaamiin ….. bi asrihaa ‘alayya wa albisnil qobuula bi syalmahat.
Artinya :
Yaa Allah Tuhanku, condongkanlah semua hati makhluk di alam ini seluruhnya kepadaku dan berilah pakaian penerimaan kepadaku dgn Salmahat.
@ Niatkan nama si dia pada tanda ……
Step 4
Ketika bertentang mata dgn si dia, bacalah ayat di bawah sebanyak 3x. Insya Allah akan bertambah rasa cintanya terhadap anda sehingga tdk mudah terpengaruh oleh org lain.
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Inni roaitu ahada ‘asyaro kaukaban wasy syamsa wal qomaro roaituhum lii saajidiin. Wa alqoitu ‘alaika mahabbatan minni.
Step 5
Anda juga harus memilik suara yg merdu @sexy maka amalkan ayat di bawah ini secara istiqomah.
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Allaahumma inni as-aluka shautan khofiifan hasanan qawiyyan ka shauti Nabiyyinaa Daawuda ‘alaihis salaam
Artinya :
Yaa Allah, sesungguhnya aku minta kepadaMu suara yg ringan, bagus dan kuat spt suara Nabi Daud a.s.
@Dibaca 3x dalam senafas.
Step 6
Anda tentunya akan merasa rendah diri dan kurang selesa berhubungan ato berbicara dgn si dia disebabkan bau mulut anda tdk enak. Caranya baca shalawat di bawah sebanayak 11x dalam senafas. Tetapi shalawat ini haruslah diamalkan setiap malam secara istiqomah. Insya Allah, mulut anda tdk berbau lagi.
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Allaahumma sholli wasallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadinizh-zhoohir
Step 7
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Allaahumma Yaa Robbi anta hasbii ‘alaa Fulaanah Binti Fulaanah ‘aththif qolbahaa ‘alayya wa sakhkhir li qolbahaa wa dzallilhaa lii wa habbibnii ilaihaa hattaa ta’tiya ilayya khoodhi’atan dzaliilatan min ghoiri mahlatin wa asygholhaa bi mahabbatii innaka ‘alaa kulli syai’in qodiir.
Artinya:
Yaa Allah Tuhanku, Engkaulah yg mencukupi aku kepada Fulanah binti Fulanah (sebut nama wanita dan nama ibunya), cenderungkanlah hatinya kepadaku, dan paksakanlah hatinya untukku serta kasihanilah ia untukku dan cintakanlah aku kepadanya hingga ia dating kepadaku dengan sopan dan menaruh belas kasih tanpa menunda-nunda. Dan sibukkanlah ia dengan mencintaiku. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
@ Adapun cara mengamalkan do’a ini ialah berpuasa sunat senin dan khamis. Kemudian malamnya (malam juma’at) sekitar jam 3 malam bangun mengerjakan sholat sunat hajat. Pada raka’at pertama baca Surah Al-Insyirah dan pada raka’at kedua baca Surah Al-Kautsar. Setelah selesai sholat lalu membaca :
Fain tawallau faqul hasbiyallaahu laa ilaaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa roobul ‘arsyil ‘azhiim.
Dan diteruskan dgn membaca do’a di atas sebanyak 7x. Insya Allah, dlm waktu yg singkat anda akan mengahwininya tanpa kesulitan.
UNTUK RENUNGAN BERSAMA
Dipandang dari sudut ibadah, manusia ini dapat dibagikan ke pada 4 golongan :
Pertama : Org2 yg selalu beribadah dan selalu pula berdo’a. Inilah golongan yg paling mulia dan paling tinggi.
Kedua : Org yg tdk beribadah dan tdk pula berdo’a kpd Allah. Inilah serendah2 martabat manusia dlm pandangan Allah.
Ketiga : Golongan yg hanya beribadah saja tetapi tdk pernah berdo’a.
Keempat : Golongan yg tdk beribadah tetapi selalu berdo’a kepada Allah karena berpendapat bahawa Allah sajalah yg dpt mendatangkan manfaat dan mudharat, kebaikan atau keburukan terhadap manusia. Apa yg Allah kehendaki terjadi dan apa yg tdk dikehendaki Allah tdk mungkin akan terjadi. Sebab itu mereka selalu meminta dan bermohon sahaja tetapi tdk pernah beribadah menyembah Allah karena Allah itu tdk membutuhkan ibadah.
Saudara2ku… Seluruh makhluk di langit maupun di bumi termasuk manusia2 yg menjadi musuh2 Allah serta syaithon dan iblis memohon ato meminta2 kpdNya. Byk juga do’a2 org yg menjadi musuh2 Allah itu yg dikabulkan Nya. Dan di sinilah letak kelebihan Allah spt yg tersebut di dalam surah Al-Baqarah : 243).
Bagi org2 beriman pabila mendapat kurnia ato pemberian Allah akan menjadi semakin ingat dan bersyukur kpd Nya. Tetapi bagi org2 yg durhaka pula mereka akan menjadi semakin lupa dan menjauhkan diri dpd Allah.
Betapa banyaknya org yg berdo’a utk mendapatkan sesuatu lalu dikabulkanNya tetapi apa yg diperdapat mereka itu menjadikan mereka semakin jauh kpd Nya dan semakin dekat pula kpd neraka. Akhirnya membawa kecelakan bagi dirinya sendiri.
Sbb itu rasulullah s.a.w. melarang seseorg berdo’a meminta sesuatu yg blm tentu membawa kebajikan dan keselamatan baginya. Kalo ingin meminta juga maka do’anya hendaklah diiringi dgn istikhorah. Contoh do’a istikhorah utk mendapat si A sebagai isteri ato suami, spt yg disabdakan oleh rasulullah s.a.w. :
“ Hendaklah seorang menyembunyikan pinangan (lamaran), kemudian dia berwudhu’ sebaik2 wudhu’ lalu hendaklah ia sholat yg diwajibkan Allah baginya kemudian hendaklah ia memuji2 dan menyanjung2 akan Allah kemudian berdo’a : Yaa Allah, Engkau kuasa dan aku tdk kuasa, Engkau mengetahui dan aku tdk mengetahui dan Engkau sangat mengetahui segala rahasia. Jika Engkau melihat bahawa si…..(sebuta namanya) adalah baik bagiku, bagi agamaku, duniaku dan akhiratku maka takdirkanlah dia utkku dan jika selain dia yg lebih baik bagiku, bagi agamaku, duniaku dan akhiratku maka takdirkanlah bagiku “.(HR Ibnu Hibban dari Abu Ayyub al-Anshary r.a.)
Semoga bermanfaat dan membantu. Sekian,wassalam. @@@